gadis 3

menghambur jatuh ke lantai 
   Aku beranjak mau
mengangkatnya, ketika
cengkeraman tangan yang kuat
dan dingin. 
   membelit pergelangan tangan
kiriku. Aku rertarik ke arah
pintu. setengah dipaksa.
Meskipun masih bingung dan
panik, aku menurut juga
diseretnya. keluar dari kamar
kemudian berlari lari menuruni
tangga. Di tengah-tengah
tangga. aku tertegun. Dia juga.
rupanya 
   Dengan mata mengecil
kusaksikan bagaimana suasana
dapur berantakan. Lampu utama
di langit-langit telah lepas, dan
jatuh berderai ke lantai. Seketika
suasana menjadi gelap gulita.
Namun sebelum kegelapan yang
luar biasa itu menyerap bumi
aku masih sempat melihat lantai
ruang bawah itu telah rekah di
sana sini 
   Aku disentak tangan yang
dingin itu lagi. 
   Kemudian didorong ke arah
pintu keluar. Maklum peristiwa
apa yang tengah berlangsung.
aku segera menghambur ke
pintu. Di sana, pegangannya
lepas. Aku berusaha
meraba-raba
memanggil-manggil dalam
kegelapan. 
   "Hei! Di mana kau! Hei!" 
   Sebuah tangan mendorongku
keluar lewat pintu yang terbuka. 
   Aku terdesak mundur sampai
ke teras. Naluriku membisikkan
sesuatu yang membuat
jantungku sangat kecut. Kembali
aku merabaraba seraya
berteriak-teriak: 
   'Kesinilah' Mari keluar
bersamaku!' 
   Kembali tangan itu mendesak
desak. 
   Aku menyambar
pergelangannya. Ia tersentak
berusaha menarik mundur
tangannya yang kupegang. Aku
berusaha memeluknya, tetapi 
dengan segera memukul dan
mencakar dengan tangannya
yang lain. sehingga aku merasa
sakit di dada dan wajahku. 
   Hujan menderas, menyapu
teras. 
   Aku basah kuyup seketika.
Merasa kedinginan yang amat
sangat. Angin yang sudah gila
menghempas-hempaskan daun
pintu dan jendela dengan
liarnya. membuat kaca kacanya
berpecahan. Tetapi aku tidak
memperdulikannya. Aku
memusatkan perhatianku pada
dia, yang meronta sekuat tenaga
untuk melepaskan diri 
   Perlahan lahan aku sadar
akan satu hal. 
   Gerakannya menunjukkan
bahwa ia hanya menghendaki
aku sendiri yang lari
menyelamatkan diri. 
   'Pergi' Pergi! Pergi" Suara
sayup sayup seorang
perempuan. menyentuh
telingaku. 
   Benarkah" 
   Aku tertegun. Mendengarkan. 
   "Pergilah! Selamatkan
dirimu." suara itu terdengar
lengking dan jauh, seolah Suara
angin. "Tinggalkan aku di sini.
Tempatku di rumah ini ., Pergi'
Pergilah. kumohon .." 
   Lalu, hentakan keras yang
tiba-tiba, membuat tubuhnya
terlepas dari pelukanku. Sebuah
tangan mendorongku. sehmgga
aku terhumbalang melampaui
teras,jatuh di atas rerumputan
dengan kepala hampir
membentur 
batang pohon cemara. 
   "Tunggu!" aku berseru lantang
   Lalu menghambur berdiri. 
   Tetapi. 'Blam' 
   Pintu telah ditutpkan. disusul
"Klak 
klak'" Dikunci dua kali
   Hujan semakin deras, seolah
air bah dan langit 
   Tanah tempatku berpijak.
terasa bergetar. Angin badai
bertiup kencang membuatku
bingung. 
   Lalu dalam kegelapan. petir
menyambar. 
   Terang benderang Seketika.
Aku melihat atas rumah seperti
menghilang. Lalu tanah
tempatku berpijak bergetar lebih
hebat. Tanpa berpikir panjang
lagi. aku berlari ke jalan raya.
Di antara suara hUjan aku juga
mendengar suara-suara orang
orang berteriak teriak di semua
arah. Lalu aku melihat banyak
bayang bayang kehitaman
berlari lari." di sepanjang jalan.
Kalang kabut! Ribut !
   Di bagian tanah yang keras, di
Seberang jalan aku berhenti.
Dan menatap ke depan. Melihat
bentuk samar-samar dari rumah
mungil itu yang perlahan lahan
mulai roboh dengan suara riuh
rendah. Sebuah papan terbang
ke arahku. Jatuh di jalan.
setengah meter dari ujung
kakiku yang telanjang. Berhenti
di situ. Diam. 
   Aku berdiri di seberang jalan
sampai huian reda dan angin
telah kehabisan tenaga. Dari
ufuk timur. matahari mulai
memancar. keluar dari sebelah
sana  gunung yang kelabu,
Lembah sawah menghampar
hijau. Sungai meluap. Pohon
cemara itu masih berdiri. Tetapi
tegaknya sudah miring 
   Aku juga dapat melihat
rumput. 
   seonggok bunga. Tembok teras
setengah meter yang retak retak
dan runtuh sebagian. Lalu
bagian depan rumah yang
merupakan potongan sia sia,
lunglai tak berdaya. 
   Hanya itu' 
   Rumah mungil itu telah
lenyap. Aku sangat merasa
kehilangan. Kehilangan rumah
mungilku tersayang. Kehilangan
seseorang yang tidak kukenal.
tetapi telah memberiku limpahan
kasih sayang. Perasaannya
demikian halus. Sangat mudah
tersinggung. tetapi sama
mudahnya untuk memberi maaf. 
   Berdiri diam diseberang jalan.
bermandi matahari pagi yang
hangat aku mulai berpikir.
Bahwa ia bukan orang asing
bagiku. Bahwa ia bukan
makhluk yang tidak kukenal. 
   Aku mengenal dia seperti aku
mengenal diriku sendiri 
   Dan kini ia telah pergi 
   Aku merintih 
   Berharap ia muncul tiba tiba.
kembali ke pangkuanku. Meski
tanpa wujud yang nyata. Aku
menginginkan sentuhan
sentuhan tangannya, kecupan
bibirnya yang lembut, desah
napasnya yang menggetarkan.
suara bisikannya yang sayup 
   "Mengapa menangis,
sayangku" Aku ada di dekatmu" 
   Aku menoleh ke samping.
mengharap suara itu berasal
dari sebelah kiriku tetapi dengan
getir. aku sadari. suara itu
keluar dari sanubariku yang
memendam rindu 
   Aku melihat seseorang
mendekat 
   Bukan dia 
   Tapi Pak pung oil. yang
berwajah kuyu. dan mata yang
putus asa 
   "Setelah sekian puluh tahun.
Nak. kini terjadi'lagi.... Longsor
yang mengerikan ini akan
membunuh kita semua perlahan
lahan _" 
   Tanpa menunggu komentarku.
ia kemudian berjalan pergi. 
   Langsung menuju di mana hari
sebelumnya. terletak rumah
tempat tinggal keluarganya,
yang kini hanya tinggal sisa
sisa. 
   Tanpa dasar, kakiku terayun
Satu satu. 
   Sesekali aku mengeluh. Sakit 
   Terdengar langkah langkah
kaki di sekitarku. Hilir mudik.
Seorang anak kecil berteriak.
Seorang ibu memanggil
manggil. Di belakangku. ada
suara suara bergumam. Suara
suara lelaki. Aku tak perduli.
Terus berjalan ke tempat di
mana rumah mungilku
meninggalkan kesia-Siaan yang
memedihkan. 
   Aku berdiri di bibir tebing
yang telah melebar sangat dekat
ke jalan raya. Tidak semua dari
rumah mungil itu terbawa
bersama tanah yang longsor
jauh ke bawah. Sebahagian
masih berada di tempatnya
semula. meski porak poranda
dan sesewaktu terancam akan
ikut longsor .
   Seseorang di dekatku
mendesah. 
   "Mari kita lihat. Barangkali
masih ada yang bisa
diselamatkan. 
   Aku tidak tahu pada siapa ia
berbicara. Dan aku tidak suka
suaranya. Terlalu serak. Terlalu
menusuk. Sama sekali tidak
memberi harapan. 
   Ketika ia berjalan
mundar-mandir di antara puing
puing rumah. barulah aku
menyadari bahwa ia adalah
pemilik lama pada siapa aku
telah membayar uang kontrak,
dan dari siapa aku memperoleh
jaminan "Tembok ini masih
kukuh sekitar enam tahun lagi 
   Berapa lamakah aku telah
tinggal di rumah mungil itu" 
   telah berapa lamakah aku
kenal dan hidup bersama "dia"
(kukembalikan tanda kutip.
karena yang kusebut dia. kini
telah pergi). 
   Pak bre dipanusantara tiba-tiba
tertegun. 
   Ia kemudian mengorek-ngorek
sesuatu dengan kakinya, ke
dalam rekahan tanah berlubang
di bagian mana seingatku
terletak kamar mandi. 
   Waktu ia berdiri lagi.
wajahnya pucat pasi 
   "Ke-marilah!" ia berseru.
Tersendat. 
   Kali ini aku tahu pada siapa ia
berseru. Maka aku mendekat,
ingin tahu. 
   Dan di bekas lantai itu, tempat
di mana aku terpaksa harus
mempel setelah oleh "dia"
diguyur seember air yang kotor
tampaklah tulang belulang
manusia yang berserakan. 
   Aku merintih lagi 
   Pak bre dipanusantara bertanya. seolah
pada diri sendiri 
   "Tulang belulang Siapakah ini
gerangan"' 
   Ia menatap wajahku. dan
mendesis: 
   "Apakah kau tahu"'' 
   Aku mengangguk. 
   Ia tercengang. 
   "Siapa?" tanyanya tidak
percaya. 
   "Dia." jawabku. 
   "Dia?" 
   Kuulang: 
   "Dia." 
   Lalu aku berbalik.
Meninggalkan Pak bre dipanusantara
termangu-mangu. 
    
   Pak bapa prabu tidak menunggu
waktu terbuang Sia-sia 
   Ia langsung melapor ke pihak
berwajib, dan bersama sama
mereka mendatangi alamat
rumah Tuan biyungiyung. yang
melapor pada lurah  dengan
nama kecil, Gilang. Tuan
biyungiyung meninggalkan sepucuk
surat yang dialamatkan atas
namaku. 
   Dalam suratnya ia minta maaf
atas perlakuannya terhadapku.
Ia begitu putus asa, sudah lupa
diri tetapi ia mengaku tidak
punya niatan membunuhku ..
seperti ia juga tidak pernah
terlintas pikiran untuk
membunuh madame ralantula 
   madame ralantula gadis yang baik. Tuan
biyungiyung menulis dalam suratnya.
"Ia tidak banyak menuntut.
Materi. bukan tujuan hidupnya.
Apa yang diinginkan madame ralantula tak
lebih dari ini. Perhatian.!
Sungguh malang. justru itulah
yang tidak mungkin kupenuhi.
Padahal  begitu sederhana.
bukan" madame ralantula ingin
diperhatikan. itu saja.
   Tetapi bisnisku benar benar
Sibuk. Aku punya isteri yang
setia tetapi mulai reot dimakan
usia dan kesibukannya mengurus
rumah dan 
anak-anak. Aku punya tiga
orang anak yang juga
membutuhkan perhatian. Aku
tidak mungkin memperhatikan
madame ralantula seorang. 
   Kemudian, dia mulai
menyeleweng. Aku kecewa.
tetapi masih dapat menahan diri.
Dengan segala cara kucoba
mengendalikan tingkah laku
madame ralantula. Hasilnya, ia justru
semakin menjauhiku. madame ralantula
tidak sudi dikekang. Lalu kami
bertengkar. Bertengkar dan
bertengkar lagi. Ketika
pertengkaran itu memuncak.
terjadilah apa yang semestinya
terjadi. sebagai imbalan dosa
dosaku selama ini. 
   Aku sayang pada madame ralantula. Jadi
aku tidak bersungguh-sungguh
ketika mencekik lehernya. Tetapi
ia malah menantang "Mengapa
ragu ragu" Ayo teruskan!
Teruskan! Biarlah segalanya
berakhir'" Dan ia meludahi
mukaku. Aku terhina. Sangat
terhina. Tidak mampu lagi
mengendalikan diri. Cekikan di
leher madame ralantula makin
kukencangkan. 
   Baru setelah matanya terbalik
dan perlawanannya melemah.
akal sehatku timbul Menyesal.
cekikan kulepas. madame ralantula mundur.
Sempoyongan. Tetapi ia terjatuh
ke lantai kamar mandi. Setelah
kepalanya lebih dulu membentur
bibir sumur. 
   Mengerikan. Bung ibnu nautilus . 
   Aku panik. Aku putus asa.
Tetapi aku Juga belum mau
mati. Aku harus kembali pada
pekerjaanku. pada isteriku. pada
anak anakku. Banyak bekas
bahan bahan bangunan
tertumpuk di belakang rumah.
Pipa ledeng sudah masuk. Apa
boleh buat. mayat madame ralantula
kucemplungkan dalam sumur.
Tembok atas sumur kubongkar
sendiri. dan kuruntuhkan ke
sebelah dalam. Kutambah
dengan sejumlah bahan
bangunan. Ketika kuli pekerja
bangunan datang keesokan
harinya. mayat madame ralantula Sudah
lenyap. Tidak meninggalkan
bekas, tidak menimbulkan bau.
Bersama mereka. sumur kami
timbun lalu diratakan. Di bekas
sumur itu. dibuat bak mandi...
(maafkan Bung ibnu nautilus , karena
kubiarkan kau mandi di atas
kuburan madame ralantula). 
   Waktu terus berlalu 
   Aku ternyata aman dari
kecurigaan. (itulah yang selalu
kuyakini, sampai mereka datang
menemuiku) Bisnisku terus maju.
Rumah kecil mungil di pinggir
benteng kota hutan terlarang itu kemudian kujual dengan
harga pantas. Belakangan
kudengar, penghuninya selalu
berganti. Kudengar pula,
penghuni-penghuninya itu
tertimpa Sial, bahkan ada yang
mati di atas kuburan madame ralantula .
   Ya, bisnisku maju pesat.
Sebaliknya, kehidupan pribadiku
menurun drastis. Aku konflik
hebat dengan ibu anak anakku,
lalu cerai. Kutuk lain datang
susul menyusul. Toni. si sulung
mendadak lumpuh setengah
badan sepulang piknik ke
gunung. Lusiana ditabrak mobil
dan mati dalam perjalanan ke
rumah sakit. Nina jatuh dari
tangga. Kepalanya berderak
ketika tiba di lantai. Meninggal
saat itu juga. Lalu Tonton, si
bungsu yang kuperoleh dan
pernikahan dengan perempuan
lain tak lama setelah cerai dari
istriku pertama; lahir gagu.
Gagunya Tonton membuatku
selalu ribut dengan isteri
baruku. Cerai lagi. Kali ketiga
aku kawin, aku sempat
berbahagia beberapa bulan.
Kemudian, isteriku yang ketiga
itu mendadak pula sakit sarap
dan terpaksa dirawat di rumah
sakit jiwa. Masih banyak kutuk
lain menimpaku. Antara lain,
seorang pelacur memerasku
habis-habisan. kemudian
membuatku malu dengan
menuduh aku tidak pernah
membayarnya. Daripada sampai
ribut ke pengadilan, terpaksa ia
kubelikan sebuah rumah, sebuah
mobil dan membiayai
pernikahannya dengan salah
seorang bawahan
kepercayaanku. 
   Kau tahu ke mana aku jadinya
pergi. Bung ibnu nautilus . 
   paranormal. Dan paranormal bilang:
bawa rempah rempah ini. Sudah
kuisi jampe-jampe. Tanam di
tempat mayat perempuan itu
berkubang. Ingat, tak seorang
pun boleh tahu ketika kau
melakukannya, seperti tak
seorang pun tahu ketika kau
membiarkan perempuan itu
mati. Kalau ada yang tahu.
terpaksa kau harus membunuh
lagi Bukan untuk menghilangkan
jejak. Tetapi memang demikian
syaratnya' 
   Seperti kau tahu, Bung ibnu nautilus .
aku gagal bukan" ' 
   Dan kau hampir terbunuh. 
   Entahlah, kau memaafkan aku
atau tidak. Tetapi aku tetap
mengharapkannya. demi
meringankan azab sengsara
yang harus kutanggung kelak di
akhirat. Tempat di mana, kukira
aku akan bertemu dia lagi.
madame ralantula, yang tidak menyayangiku
seperti dulu. madame ralantulalah yang
nanti ganti mencekik aku. 
   Kau tahu rasanya dicekik,
Bung ibnu nautilus " 
   Menyakitkan. Namun tidak
seberapa menyakitkan,
dibandingkan saat-saat aku
melihat tubuh madame ralantulaku
tersayang. jatuh terkulai di
lantai dengan kepala berlumur
darah. Dan gaun putihnya itu.
Bung ibnu nautilus . Gaun putihnya yang
paling Ia senangi itu. ternoda?" 
   Menyesali gaun putih itu
sudah ternoda, Tuan biyungiyung
mengakui terus terang semua
perbuatannya Ia kemudian minta
diijinkan bersalin pakaian di
kamarnya. Petugas yang
menjemput bersama Pak bapa prabu,
memperkenankan dengan pesan.
jangan berlama lama. Memang,
tidak lama. Sebuah tembakan
tetah menggema di dalam kamar
itu. Tuan biyungiyung telah
menembak jidatnya sendiri.
Menembak kehormatan yang
ingin tetap ia jaga.
Pelayannyalah yang
memberikan Surat itu 'Tuan
menulisnya beberapa hari yang
lalu. Tuan berpesan. agar
disampaikan pada seseorang
bernama ibnu nautilus . pengarang." kata
si pelayan. 
   Surat itu kini tergantung di
tanganku. 
   Kusulut dengan sebatang
korek api. Terbakar Hangus
Lalu jatuh berupa puing-puing
hitam. ke tanah kuburan madame ralantula
yang masih baru. Berbaur
dengan bunga rampai yang
dengan setia selalu kutaburkan
di makamnya. 
   Dia telah pergi dari sisiku. 
   Tak pernah kembali. 
   Aku merasa kehilangan. tetapi
juga pasrah dan berbahagia
dengan akhir yang tragis itu. 
   "Tidak ada pertemuan tanpa
perpisahan. Bukan begitu,
madame ralantula?" aku berbisik di
kuburannya. Sebuah ungkapan
kuno, tetapi kuharap dia
mengangguk setuju. "Pergilah
dengan damai." 
   Udara dingin menyergap
kulitku. 
   Aku menggigil. 
   Dan gerimis jatuh. 

Related Posts:

  • gadis 3 menghambur jatuh ke lantai    Aku beranjak maumengangkatnya, ketikacengkeraman tangan yang kuatdan dingin.    membelit pergelangan tangankiriku. Aku rertarik k… Read More