Tampilkan postingan dengan label Kulit singkong. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kulit singkong. Tampilkan semua postingan

Kulit singkong

 



Kulit umbi singkong mengandung senyawa toksin yang dapat meracuni tubuh apabila dikonsumsi. 

Senyawa berbahaya tersebut berupa hidrogen sianida (HCN). Proses pengolahan kulit singkong yang 

sesuai dapat memicu penurunan kadar sianida. Seperti halnya dengan pengolahan kulit singkong 

menjadi panganan lezat keripik kulit singkong. Tujuan  penelitian ini adalah mengetahui pengaruh 

variasi perendaman terhadap kadar hidrogen sianida (HCN) pada keripik kulit singkong (Manihot 

esculenta). Jenis penelitian ini adalah kuantitatif eksperimen. Metode penelitian yang digunakan 

adalah uji destilasi uap dan titrasi. Pemilihan sampel kulit singkong menggunakan teknik simple 

random sampling. Penelitian ini memiliki 3 perlakuan meliputi, P1: rendaman dengan air, P2: 

rendaman dengan air garam, P3: rendaman dengan air kapur. Setiap perlakuan diulang sebanyak 6 

kali. Teknik analisis data yang digunakan adalah analisis varian tunggal (one way anova) dengan taraf 

signifikansi 0.05. hasil penelitian menunjukkan terdapat pengaruh signifikan perlakuan variasi 

perendaman terhadap kadar hidrogen sianida (HCN) pada keripik kulit singkong dengan nilai Sig. 

0.000. Perlakuan perendaman air kapur selama 7 hari terbukti efektif dalam penurunan kadar sianida 

sebanyak 99,67%. 


 

kenaikan  1,37% dan berkontribusi hingga 12,98% terhadap pertumbuhan ekonomi nasional (Christyanto 

& Mayulu, 2021). Peningkatan hasil pertanian dapat menghasilkan bahan pangan berkualitas(Christyanto 

& Mayulu, 2021). Berbagai jenis hasil pertanian unggulan masyarakat Indonesia meliputi padi, kedelai, 

jagung, kacang tanah dan singkong (Burrahmad et al., 2021; Saputra et al., 2022; Zulkarnain et al., 2021). 

Singkong sering juga disebut sebagai ketela pohon. Singkong merupakan perdu tropis dan subtropis 

tahunan dari suku Euphorbiaceae yang termasuk umbi akar (Zulkarnain et al., 2021). Terdapat beberapa 

varietas singkong yang dapat ditemui seperti singkong mentega, singkong kuning, singkong ketan, dan 

singkong kirik (Puspitorini et al., 2016). Singkong banyak tumbuh di daerah dengan iklim yang lembab 

hangat dengan suhu 10-35℃. Umbi singkong memiliki karakteristik kulit singkong yang terdiri dari dua 

lapis, umbi singkong berwarna putih agak kekuningan dengan tekstur keras saat mentah (Silalahi et al., 

2019). 

Singkong menjadi panganan alternatif tinggi karbohidrat setelah padi dan jagung. Konsumsi 

masyarakat terhadap singkong semakin meningkat seiring dengan gaya hidup sehat untuk mengurangi 

konsumsi beras yang terkenal dengan indeks glikemik yang tinggi. Indeks glikemik nasi putih sebanyak 73 

dan indeks glikemik singkong sebesar 45 (Diyah et al., 2018). Hal ini dapat menurunkan stigma di 

masyarakat mengenai “tidak makan nasi tidak kenyang”. Selain itu, Singkong memiliki ragam manfaat 

seperti tinggi karbohidrat, panganan alternatif untuk penderita diabetes melitus, penambah energi, 

menurunkan kadar glukosa darah, dan mencegah sembelit (Dewi & Hapsari, 2019; Umbara, 2017). 

Singkong memiliki kandungan gizi yang beragam, pada 100 g umbi singkong mengandung karbohidrat 

38g, serat 1,8 g, gula 1,7 g, natrium 14 mg, kalium 271 mg, lemak 0,3 g, vitamin, mineral, zat besi dan 

protein (Feliana et al., 2014). Namun pada kulit umbi singkong mengandung senyawa toksin yang dapat 

meracuni tubuh apabila dikonsumsi. Senyawa berbahaya pada kulit umbi singkong berupa senyawa 

hidrogen sianida (HCN) (Novi Ariani et al., 2017). 

Hidrogen sianida atau molekul HCN adalah senyawa toksik yang umumnya berwujud cair tak 

berwarna (Noerwijati & Budiono, 2018). Titik didih HCN sedikit di atas suhu ruangan (Husna & Zainul, 

2020). Hidrogen sianida (HCN) terdapat pada sekitar 2650 jenis tanaman termasuk ubi kayu dan dihasilkan 

oleh Senyawa glikosida sianogenik (Purwati et al., 2016). Kadar HCN pada umbi kayu sebesar 15-100 

mg/kg (Nurhidayanti et al., 2021). Konsumsi HCN dalam kadar diatas normal dapat menyebabkan 

keracunan, mual, muntah, pusing, alergi dan bahkan menimbulkan kematian dalam beberapa menit saja 

(Noerwijati & Budiono, 2018). Namun sebagian besar HCN akan hilang pada proses pencucian, pemanasan 

maupun pengeringan (Indra Saraswati et al., 2022). 

Proses pengolahan singkong yang sesuai dapat memicu penurunan kadar sianida pada kulit singkong. 

Seperti halnya dengan pengolahan kulit singkong menjadi panganan lezat keripik kulit singkong. Proses 

pengolahan keripik kulit singkong melibatkan tahapan pencucian, perendaman dan pemanasan dengan 

digoreng. Proses pengolahan kulit singkong menjadi keripik kulit singkong dapat dimaksimalkan dengan 

tambahan proses perendaman dengan beberapa variasi larutan perendam (Arianto et al., 2014). Air, air 

garam dan air kapur dapat menjadi alternatif pilihan larutan perendam kulit singkong sebagai upaya 

 


menurunkan kadar sianida. Sejalan dengan penelitian (Yanti, 2022) bahwa salah satu sifat dari asam sianida 

mudah bereaksi dengan NaCl pada proses perendaman. Air kapur dan lama perendaman juga memiliki 

peran signifikan dalam penurunan kadar HCN (Hasan & Taufiq, 2022). Tujuan  penelitian ini adalah 

mengetahui pengaruh variasi perendaman terhadap kadar hidrogen sianida (HCN) pada keripik kulit 

singkong (Manihot esculenta). 

METODE  

Jenis penelitian ini adalah kuantitatif eksperimen. Metode penelitian yang digunakan adalah uji 

destilasi uap dan titrasi yang dilakukan di laboratorium terpadu Universitas Trunojoyo Madura. Alat yang 

dibutuhkan adalah  Pisau, wadah, panci, spatula, kompor, keranjang. Alat destilasi, alat titrasi, labu kjeldahl, 

neraca analitik, Erlenmeyer 250 ml, pipet tetes, buret mikro, gelas ukur 100 ml, gelas ukur 10 ml, gelas 

arloji, spatula, corong. Bahan yang dibutuhkan yaitu Air, garam, bawang putih, ketumbar, gula merah, 

minyak goreng, AgNO3 0,02 M, NaOH 6 M, NH4OH 6 M, KI 5%, aquadest, larutan air kapur. 

Pemilihan sampel kulit singkong menggunakan teknik simple random sampling. Teknik 

pengumpulan data dimulai dari pembuatan keripik kulit singkong, proses perendaman dan penentuan kadar 

HCN dengan uji destilasi uap. Proses pembuatan keripik kulit singkong dilakukan dengan cara manual atau 

tanpa peralatan industri. Pertama membersihkan kulit singkong, selanjutnya merebus 500 gr kulit singkong 

dengan api kecil sampai kulit singkong berwarna, kemudian meniriskan kulit singkong sampai dingin, 

Memotong kulit singkong sesuai selera dan merendam kulit singkong sesuai perlakuan. Menjemur kulit 

singkong selama 1-2 jam, terakhir menggoreng kulit singkong yang sudah dijemur.Variabel bebas dalam 

penelitian ini adalah variasi perendaman, sedangkan variabel terikatnya adalah kadar HCN keripik kulit 

singkong. Penelitian ini memiliki 3 perlakuan meliputi, P1: rendaman dengan air, P2: rendaman dengan air 

garam, P3: rendaman dengan air kapur. Setiap perlakuan diulang sebanyak 6 kali. Teknik analisis data yang 

digunakan adalah analisis varian tunggal (one way anova) dengan taraf signifikansi 0.05. 

Populasi dan Sampel  

Populasi dalam penelitian ini adalah Singkong (Manihot esculenta) di kota Sumenep. Sampel kulit 

Singkong (Manihot esculenta) dari industri keripik di desa Manding Sumenep yang selanjutnya diolah 

menjadi keripik kulit singkong. 

HASIL DAN PEMBAHASAN  

Kadar HCN (Hidrogen Sianida) pada keripik kulit singkong dengan perlakuan perendaman air, air 

garam dan air kapur ditabulasikan pada tabel 1. 

Tabel 1. Hasil kadar HCN keripik kulit singkong 

Perlakuan Pengulangan (mg/kg)  Rata-rata HCN 

(mg/kg) 

1 2 3 4 5 6 

P1 0,752 0,986 0,906 0.961 0,953 0,729 0,881 

P2 0,612 0,586 0,616 0,761 0,885 0,718 0,696 

P3 0,552 0,686 0,666 0,661 0,575 0,529 0,611 

 


 

  

Keterangan: 

P1: perendaman dengan air 

P2: rendaman dengan air garam 

P3: rendaman dengan air kapur 

 

Berdasarkan data hasil kadar HCN keripik kulit singkong pada tabel 1, didapatkan bahwa terdapat 

perbedaan diantara 3 perlakuan yang dilakukan, rata-rata hasil kadar HCN paling tinggi adalah pada 

perlakuan P1 yaitu dengan perlakuan perendaman air biasa sebesar 0,881 mg/kg. Rata-rata kadar HCN pada 

keripik kulit singkong terendah ialah pada perlakuan P3 dengan perendaman air kapur yaitu sebesar 0,611 

mg/kg. perbedaan hasil kadar HCN pada keripik kulit singkong dapat disebabkan oleh beberapa faktor 

seperti lama perendaman dan larutan perendam. Untuk melihat pengaruh variasi larutan perendam terhadap 

kadar HCN keripik kulit singkong maka perlu melihat data hasil uji one way anova sebagai berikut.  

 

Tabel 2. Hasil uji Anova kadar HCN keripik kulit singkong 

ANOVA 

Kadar HCN   

 Sum of Squares df Mean Square F Sig. 

Between Groups 11.271 2 5.636 577.876 .000 

Within Groups .146 15 .010   

Total 11.417 17    

 

Berdasarkan hasil uji normalitas data dan uji one way anova kadar HCN keripik kulit singkong 

didapatkan bahwa data normal dan menunjukkan terdapat pengaruh signifikan perlakuan variasi 

perendaman terhadap kadar hidrogen sianida (HCN) pada keripik kulit singkong. Pada perlakuan P1 yaitu 

perendaman kulit singkong menggunakan air selama 7 hari didapatkan nilai rata-rata kadar HCN sebanyak 

0,881 mg/kg. nilai ini merupakan nilai aman kadar sianida pada makanan, menurut dosis letal pada manusia 

yaitu 3.5 mg/kg. dosis letal adalah dosis atau jumlah suatu bahan yang diberikan sekaligus yang 

menyebabkan kematian hingga 50% (Putu et al., 2017).  

Berdasarkan Standar Nasional Indonesia (SNI) tentang persyaratan bahan tambahan pangan dan 

penggunaan dalam produk pangan, batas maksimum penggunaan sianida pada makanan dan minuman tidak 

melebihi 1 mg/kg (Standar Nasional Indonesia, 2006). Perendaman dengan air membantu dalam 

menghilangkan kadar HCN pada kulit singkong. Semakin lama perendaman dengan air maka akan mudah 

melarutkan kotoran dan kandungan HCN pada kulit singkong karena asam sianida (HCN) bersifat mudah 

larut dalam air (Siqhny et al., 2020). Perendaman dengan air selama 7 hari juga ikut membantu 

mempercepat turunnya kadar HCN pada kulit singkong. Kadar HCN kulit singkong keseluruhan adalah 

 

 

472,8 mg/kg (Noerwijati & Budiono, 2018). Perlakuan perendaman air selama 7 hari mampu menurunkan 

kadar HCN sebanyak 470,09 mg/kg atau sekitar 99,42 %. 

Berdasarkan table 1, perlakuan P2 memperoleh rata-rata kadar HCN sebanyak 0,696 mg/kg. nilai ini 

merupakan kadar yang cukup rendah pada sianida dalam bahan pangan. Perlakuan P2 menggunakan 

perendaman air garam (NaCl 8%). Penggunaan NaCl 8% efektif dalam penurunan kadar HCN karena 

kandungan garam dapat memicu terjadinya proses fermentasi secara cepat (Yanti, 2022). Perendaman 

selama 2-3 hari juga mengakibatkan kulit singkong semakin melunak, struktur membran sel yang melunak 

dapat memudahkan larutan mengalami perpindahan, sehingga sianida yang berada dalam sel akan keluar 

dan larut dalam air (Oman et al., 2022). Larutan  NaCl juga dapat memecah ikatan glikosida sianogenik 

pada HCN (Arianto et al., 2014). Selain lama perendaman dan jenis larutan perendam, penurunan kadar 

sianida pada keripik kulit singkong juga disebabkan oleh ukuran keripik kulit singkong itu sendiri, semakin 

kecil dan tipis luas permukaan keripik singkong maka memudahkan senyawa HCN berkontak langsung 

dengan pelarut NaCl.  

Sedangkan pada table 1 perlakuan P3 yaitu perendaman dengan air kapur memiliki rata-rata kadar 

HCN sebanyak 0,611 mg/kg. Perlakuan perendaman air kapur selama 7 hari terbukti efektif dalam 

penurunan kadar sianida sebanyak 99,67%. Penurunan ini merupakan penurunan yang terbilang besar. lama 

waktu perendaman menjadi salah satu faktor penentu. Perendaman selama 7 hari dengan penggantian air 

kapur setiap 24 jam sekali terbukti mampu mempercepat penurunan kadar HCN. Perendaman irisan umbi 

dalam waktu yang lama dalam  larutan kapur menyebabkan lemahnya ikatan jaringan antar sel sehingga 

HCN dapat larut dan berdifusi keluar (Hasan & Taufiq, 2022). Selain waktu perendaman, hal yang tak kalah 

penting adalah larutan perendam seperti air kapur Ca(OH)2 dapat melisiskan sel dan merusak dinding sel 

karena kenaikan pH menjadi basa. Proses rusaknya dinding sel inilah yang membantu keluarnya kandungan 

HCN dari kulit singkong (Siqhny et al., 2020). Perendaman dengan air kapur juga dapat mempercepat reaksi 

dengan ion sianida yang bersifat sangat reaktif (Apsari et al., 2018).  

Penggunaan dan konsumsi produk pangan yang mengandung sianida lebih dari 1 mg/kg setiap hari 

dapat memicu berbagai kekhawatiran. Sianida merupakan racun protoplasmik. Ion sianida bersifat reaktif 

dan mudah berikatan  dengan enzim dan membawa oksigen yang dapat menghambat aktivitas sel dan 

menjadi ancaman terhadap fungsi vital tubuh (Husna & Zainul, 2020). Konsumsi sianida pada makanan 

dan minuman juga dapat memicu gejala keracunan yang ditandai dengan sesak nafas, mual, muntah, pusing 

sampai tidak sadarkan diri. Akumulasi sianida yang terlanjur masuk ke dalam tubuh juga dapat memicu 

kerusakan kronik pada organ tubuh seperti organ pernapasan, ginjal dan jantung (Putu et al., 2017). 

Perlakuan variasi perendaman terbukti berpengaruh terhadap penurunan kadar hidrogen sianida (HCN) 

pada keripik kulit singkong. Penelitian ini mampu memberikan alternatif pengolahan pangan dari limbah 

kulit singkong yang tidak terolah sebelumnya. Sehingga diharapkan mampu menambah keanekaragaman 

bahan pangan yang bergizi dan bernilai secara ekonomi khususnya di daerah kota Sumenep. 

 


Penelitian menunjukkan bahwa terdapat pengaruh signifikan perlakuan variasi perendaman terhadap 

kadar hidrogen sianida (HCN) pada keripik kulit singkong. Perlakuan perendaman air kapur selama 7 hari 

terbukti efektif dalam penurunan kadar sianida sebanyak 99,67%. Selain waktu perendaman, hal yang tak 

kalah penting adalah larutan perendam seperti air kapur Ca(OH)2 dapat melisiskan sel dan merusak dinding 

sel karena kenaikan pH menjadi basa. Proses rusaknya dinding sel inilah yang membantu keluarnya 

kandungan HCN dari kulit singkong. Penelitian ini bisa dilanjutkan dengan membahas mengenai total 

karakteristik fisikokimia keripik kulit singkong.