Tampilkan postingan dengan label Kerupuk. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kerupuk. Tampilkan semua postingan

Kerupuk





Karak  atau  yang  biasa  disebut  dengan  kerupuk  nasi,  gendar  maupun  puli

merupakan  kerupuk  yang  sangat  familiar  dan  digemari  oleh  sebagian  warga 

negara kita   khususnya  warga   Jawa  Tengah  dan  Jawa  Timur.  Kerupuk  yang

memiliki  tekstur renyah dan gurih ini biasanya dikonsumsi sebagai tambahan lauk

pauk atau sebagai  camilan.  Pembuatan kerupuk ini  relatif  mudah dan murah bahan

yang  dipakai   juga  mudah  di  dapat.  Bahan  pokok  yang  dipakai   yaitu   nasi,

tapioka, garam dan bumbu lain. 

Bahan lokal yang sering dipakai  sebagai bahan baku atau campuran pada

berbagai macam produk makanan salah satunya yaitu tepung tapioka. Pada pembuatan

kerupuk  karak,  tepung  tapioka  memiliki   peranan  penting.  pemakaian   tepung

tapioka ini  memungkinkan kerupuk untuk mengembang 3 – 5 kali lipat pada saat 

digoreng. Sementara,  harga tepung tapioka hanyalah sebesar 60% - 75% dari harga

kulaitas  beras  menengah.  Sehingga  dengan  demikian,  pengeluaran  biaya  pada

pembuatan kerupuk karak dapat ditekan . Menurut Komposisi Bahan

Makanan (2010), unsurunsur gizi yang terkandung dalam 100 g tepung tapioka yaitu

Energi 352 (kal), Protein 0.5 (g), Lemak 0.3 (g) dan Karbohidrat 86,9 (g).

Tepung  tapioka  memiliki  daya  ikat  yang  tinggi  dan  kemampuannya  dalam

membentuk  struktur  sangat  kuat.  Adonan  tepung  tapioka  berbentuk  kental,  mudah

kering  dan  kadar  airnya  berkurang  sebab   tepung  tapioka  bersifat  higrokopis  dan

menyerap air. Tepung tapioka tersusun atas dua komponen yang tidak larut dalam air

yaitu amilosa 23% dan amilopektin 77%. Dua komponen ini dapat menyerap air dan

mengembang jika ditambahkan dengan air dan dilakukan pemanasanan. Proses ini 

disebut dengan gelatinisasi (Nanin, 2011). 

Amilosa  dan  amilopektin  memberikan  pengaruh  daya  kembang  terhadap

kerupuk.  Amilopektin  berfungsi  meningkatkan  daya  kembang  kerupuk,  sedang 

amilosa bersifat sebaliknya yaitu mengurangi daya kembang kerupuk (Nanin,2011). 

Bleng atau boraks yaitu  salah satu bahan tambahan yang dilarang dipakai 

dalam pangan. Boraks merupakan senyawa kimia yang yang berbentuk serbuk hablur

kristal  transparan  atau  granul  putih  tak  berwarna  dan tak  berbau  serta  agak  manis  Penambahan  boraks  pada  makanan  biasanya  untuk  meningkatkan

kekenyalan,  kerenyahan,  memberikan rasa gurih dan kepadatan terutama pada jenis

makanan  yang  mengandung  pati    Dalam  peraturan

Menteri  Kesehatan  No.  722/MenKes/Per/IX/88  boraks  dinyatakan  sebagai  bahan

berbahaya dan dilarang untuk dipakai  dalam pembuatan  makanan sebab  boraks

merupakan racun bagi semua sel sehingga dapat berpengaruh buruk bagi kesehatan

manusia. 

 Proses Pembuatan Kerupuk Beras


A. Alat

Berikut ini yaitu  alat-alat yang diperlukan untuk membuat kerupuk nasi:

   Baskom

   Saringan besar

   Centong

   Tampah

   Talenan

   Gilasan roti untuk menumbuk

   Plastik cling warp

   Sarung tangan plastik

   Minyak untuk menggoreng

B. Bahan 

Berikut yaitu  bahan yang di perlukan untuk membuat kerupuk nasi:

   3 piring nasi 

   5 sendok makan tapioka

   3 siung bawang putih

   1 sendok makan garam

   1 sendok makan ketumbar

Bahan-bahan dapat di tambahkan sesuai kebutuhan.


Berikut ini yaitu  langkah-langkah membuat kerupuk nasi:

   Nasi di simpan di kulkas hingga menggumpal

   Cuci dengan air mengalir

   Tiriskan agar air menetes

   Lalu kukus selama 20 menit

   Setelah 20 menit pindahkan nasi ke baskom

   Ulek bumbu sampai halus lalu masukan ke dalam nasi

   Tambahkan tepung tapioka

   Aduk menggunakan centong hingga tercampur rata

   Tumbuk nasi sampai bisa di bulati

   Jangan lupa gunakan sarung tangan plastik agar higienis dan olesi minyak

goreng agar tidak lengket

   Ambil 1 per 1 adonan yang telah di bulati lalu taruh di atas talenan

   Tutupi dengan plastik, lalu gilas hingga tipis


   Jemur di sinar matahari dan jangan lupa jika sudah setengah kering harus di

balik agar tidak lengket di tampah

   Biarkan sampai kering, jika cuca panas maka hanya membutuhkan waktu 2

hari maka kerupuk sudah kering dengan sempurna

   Jika sudah kering maka kerupuk siap di goreng

   Goreng dengan minyak yang banyak dan panas

   Kerupuk nasi gendar siap di nikmati


   Belanja alat 

Alat-alat yang di beli:

     Baskom = Rp. 15.000,-

     Saringan besar  = Rp. 60.000,-

     Centong kayu = Rp.15.000,-

     Tampah = Rp.33.000,-

     Talenan = Rp. 40.000,-

     Gilasan adonan = Rp. 32.000,-

     Plastik cling warp =Rp. 22.000,-

     Sarung tangan plastik = Rp. 5.000,-

     Minyak untuk menggoreng = Rp.15.000,-

   Jumlah alat = Rp. 237.000,-

   Belanja bahan = Rp.100.000,-

Bahan-bahannya yaitu:

     Tepung tapioka = Rp.6.000,-

     Bawang putih = Rp. 25.000,-

     Garam = Rp. 10.000,-

     Ketumbar bubuk = Rp. 12.000,-

     Beras 10kg =Rp. 130.000,-

   Jumlah bahan = Rp.183.000,-

   Jumlah modal = Rp. 420.000,-


   Harga jual per- bungkus ( satu kilo) =Rp. 15.000,-

   Jumlah kerupuk per- bungkus selama 3 hari = 30 bungkus

   Penghasilan per- tiga hari = Rp. 450.000,-

   Penghasilan per-minggu =Rp. 900.000,-

   Penghasilan per-bulan = Rp, 1.800.000,-

Tidak dihitung hari minggu sebab  pada hari minggu tidak menerima pesanan.

10

2.1.3 Analisi Laba / Rugi

   Hasil penjualan per-bulan - Modal bahan = Rp. 1.800.000,- Rp. 183.000 =

Rp. 1.617.000-

   Beras akan di beli setiap 1 bulan sekali atau sesuai pesanan

Laba / rugi = Rp.183.000,-


Usaha Mikro, Kecil dan Menengah (UMKM) dalam perekonomian nasional 
memiliki peran yang penting dan strategis. Namun demikian, UMKM masih memiliki 
kendala, baik untuk mendapat  pembiayaan maupun untuk mengembangkan 
usahanya. Dari sisi pembiayaan, masih banyak pelaku UMKM yang mengalami 
kesulitan untuk mendapat  akses kredit dari bank, baik karena kendala teknis, 
misalnya tidak mempunyai/tidak cukup agunan, maupun kendala non teknis, misalnya 
keterbatasan akses informasi ke perbankan. Dari sisi pengembangan usaha, pelaku 
UMKM masih memiliki keterbatasan informasi mengenai pola pembiayaan untuk 
komoditas tertentu. Di sisi lain, ternyata perbankan juga membutuhkan informasi 
tentang komoditas yang potensial untuk dibiayai.
Sehubungan dengan hal ini , dalam rangka menyediakan rujukan bagi 
perbankan untuk meningkatkan pembiayaan terhadap UMKM serta menyediakan 
informasi dan pengetahuan bagi UMKM yang bermaksud mengembangkan 
usahanya, maka menjadi kebutuhan untuk penyediaan informasi pola pembiayaan 
untuk komoditi potensial ini  dalam bentuk model/pola pembiayaan komoditas 
(lending model). Sampai saat ini, Bank negara kita  telah menghasilkan 88 judul buku pola 
pembiayaan komoditi pertanian, industri dan perdagangan dengan sistem pembiayaan 
konvensional dan 21 judul dengan sistem syariah. Dalam upaya menyebarluaskan 
lending model ini  kepada masyarakat maka buku pola pembiayaan ini telah 
dimasukkan dalam website Sistem Informasi Terpadu Pengembangan UKM (SI-PUK) 
yang terintegrasi dalam Data dan Informasi Bisnis negara kita  (DIBI) dan dapat diakses 
melalui internet di alamat www.bi.go.id. 
Dalam penyusunan buku pola pembiayaan ini, Bank negara kita  bekerjasama 
dengan Departemen Kelautan dan Perikanan Republik negara kita  (DKP) dan 
memperoleh masukan dari banyak pihak antara lain dari perbankan, lembaga/instansi 
ii POLA PEMBIAYAAN USAHA KECIL
terkait lainnya, asosiasi dan UMKM. Untuk itu, kami mengucapkan terima kasih atas 
segala bantuan dan kerjasamanya selama ini. 
Besar harapan kami bahwa buku ini dapat melengkapi informasi tentang pola 
pembiayaan komoditi potensial bagi perbankan dan sekaligus memperluas replikasi 
pembiayaan oleh UMKM pada komoditi ini .  
 
    
Udang merupakan kekayaan laut negara kita  yang melimpah dan merupakan 
bahan makanan yang tidak tahan lama (cepat busuk). Sehingga diperlukan penanganan 
untuk memperlama masa penggunaannya. Beberapa cara dapat dilakukan antara lain 
pembuatan terasi udang, pembuatan udang kering dan kerupuk udang. Pembuatan 
kerupuk udang selain menambah lamanya penggunaan udang juga merupakan 
salah satu cara untuk menambah variasi dari penggunaan udang, dimana udang 
adalah merupakan hewan yang mengandung protein yang sangat tinggi yang sangat 
dibutuhkan manusia. Dengan adanya kerupuk udang ini maka bagi orang yang tidak 
menyukai konsumsi udang seraca langsung dapat pula menikmati udang dengan 
adanya kerupuk udang. Kerupuk udang merupakan bahan makanan dengan bahan 
baku udang dan tepung sagu yang telah diawetkan dengan cara dijemur sehingga 
penggunaannya untuk jangka waktu yang lama, jika dijemur lagi setelah beberapa 
waktu maka akan memperlama masa penggunaannya.
Photo 1.1.  Kerupuk Udang
2 POLA PEMBIAYAAN USAHA KECIL
Usaha pembuatan kerupuk udang ini pada umumnya dalam skala kecil, 
hal ini dikarenakan dalam proses pembuatan kerupuk udang tidak membutuhkan 
modal yang besar. Namun jika usaha ini dikembangkan maka akan menjadi usaha 
menengah bahkan usaha besar. Minat masyarakat terhadap kerupuk udang juga 
cukup tinggi hal ini ditandai dengan tingginya permintaan akan kerupuk udang di 
daerah atau lokasi survei. Sehingga potensi pasar untuk usaha ini masih sangat besar 
untuk dikembangkan.
 Teknologi yang dipergunakan dalam pembuatan kerupuk udang ini masih 
mempergunakan teknologi yang sederhana terutama dalam proses pencampuran 
bahan-bahan dan pengolahan bahan hanya dengan mempergunakan tenaga 
manusia. Teknologi yang dipergunakan adalah pada proses penghancuran udang 
yaitu dengan menggunakan mesin penghancur udang, dan proses mencampur udang 
dengan bumbu-bumbu mempergunakan mixer khusus. Dalam proses pengeringan 
juga masih mengandalkan kekuatan sinar matahari, belum mempergunakan mesin 
pengering.  
 Gambaran tentang industri kerupuk udang yang disajikan dalam buku lending 
model berdasar  survei yang dilakukan di Provinsi Jambi ini meliputi aspek pasar dan 
pemasaran, aspek produksi, aspek keuangan, aspek ekonomi dan aspek lingkungan. 
Dalam rangka menyebarluaskan hasil-hasil penelitian kepada masyarakat luas, maka 
buku pola pembiayaan kerupuk udang ini akan ditransformasi dalam Sistem Informasi 
Terpadu Pengembangan Usaha Kecil (SI-PUK) yang dapat diakses melalui website 
Bank negara kita .

 Industri kerupuk udang merupakan salah satu jenis industri makanan yang 
umumnya berbentuk usaha perorangan dan usaha dagang berskala mikro dan kecil. 
Bahan baku yang dipergunakan dalam industri kerupuk udang ini adalah udang. Bahan 
baku lainnya adalah tepung sagu sebagai bahan baku tambahan untuk pembuatan 
kerupuk udang. 
 Di Kecamatan Tungkal Ilir Kabupaten Tanjung Jabung Barat merupakan 
penghasil udang terbesar di daerah Jambi, sehingga hal ini dipergunakan sebagai 
alasan mengapa banyak bermunculan industri-industri kecil yang menghasilkan 
kerupuk udang. Pengelola usaha ini umumnya adalah keluarga dengan pelaksana 
usaha dilakukan sendiri. Tiap pengusaha rata-rata memiliki 4 orang karyawan (tenaga 
kerja)  dan sebagian merupakan anggota keluarganya. Terdapat beberapa industri 
kecil yang tidak hanya membuat kerupuk udang, tetapi mereka juga membuat terasi 
udang, petis, dan udang kering. Tetapi proporsi kerupuk udang merupakan yang 
terbesar dibandingkan dengan produk lainnya. 
 Teknologi yang diperlukan untuk memproduksi kerupuk udang secara umum 
merupakan teknologi yang sederhana. Oleh karena itu tidak terdapat perbedaan 
pada proses hanya perbedaan bumbu-bumbu dan pelengkapnya saja, ada yang 
mempergunakan bumbu penyedap dan pelengkap daun seledri, cabe dan garam. 
Adapula yang mempergunakan pelengkap hanya cabe saja.
 Alasan para pengusaha UMKM yang bergerak di bidang kerupuk udang 
dalam menekuni usaha ini  adalah karena dari sisi pemasaran terjamin dalam 
artian sudah jelas pembelinya (biasanya adalah para pedagang yang akan menjual 
kembali ke daerah lain bahkan sampai ke Singapura). Pasar bagi kerupuk udang ini 
sudah jelas, jadi setiap berproduksi sudah ada yang memesan. Alasan lain adalah 
4 POLA PEMBIAYAAN USAHA KECIL
karena turun temurun dari para orang tua mereka yang sudah lama menekuni bisnis 
ini  sehingga dilanjutkan oleh anaknya, banyaknya sumberdaya yang mempunyai 
keterampilan dalam pembuatan kerupuk udang ini juga merupakan faktor banyaknya 
pengrajin kerupuk udang ini, serta dekatnya lokasi pabrik (industri) dengan sumber 
bahan baku dan ketersediaan bahan baku selalu ada.
 Penanganan industri kerupuk udang ini juga ditunjang dengan adanya sebuah 
koperasi yang bernama LEPP Mitra Mandiri. Koperasi ini  didirikan dengan 
maksud agar terjalin kerjasama yang baik antar sesama UMKM penghasil  kerupuk 
udang. Setiap pertemuan anggota akan membahas permasalahan-permasalahan 
yang muncul sehingga antar anggota mempunyai pendapat dalam penyelesaian 
masalah. Selain itu diharapkan dengan adanya koperasi ini akan memperluas daerah 
pemasaran dan memudahkan pembinaan dari Dinas Perikanan dan Kelautan, dimana 
koperasi ini sebagai tempat berkumpulnya para pengusaha UMKM yang mengolah 
hasil laut termasuk udang.
 Perkembangan industri kerupuk udang menjadikan para nelayan yang 
mendapat  hasil laut seperti udang, mudah untuk memasarkan karena setiap hari 
hasil laut yang didapat langsung dapat dipasarkan. Bahkan mereka tidak perlu jauh-
jauh memasarkan karena permintaan akan udang di Kuala Tungkal sangat tinggi, hal 
ini dikarenakan banyaknya industri pembuatan kerupuk udang. Jadi masing-masing 
kelompok pengrajin kerupuk udang sudah mempunyai pemasok yang tetap, sehingga 
mereka tidak kesulitan dalam pengadaan bahan bakunya. Seperti Kelompok Juwita 
yang memproduksi kerupuk udang setiap hari membutuhkan 20 kg udang segar. 
Untuk menjamin ketersediaan bahan baku, maka biasanya mereka menyimpan udang 
ini  dalam freezer, menyiasati pada saat musim-musim udang sepi, sehingga 
mereka bisa terus berproduksi.
 
2.2. Pola Pembiayaan
 Pola pembiayaan usaha kerupuk udang dapat berasal dari pengusaha sendiri, 
dana bergulir dari dinas terkait seperti Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) maupun 
dari kredit bank dengan proporsi yang sangat beragam antar pengusaha. Dana bergulir 
PROFIL USAHA DAN POLA PEMBIAYAAN
5BANK negara kita 
INDUSTRI KERUPUK UDANG
yang rata-rata diterima oleh para pengusaha UMKM kerupuk udang adalah berkisar 
Rp 5.000.000 – Rp 10.000.000, dimana proses pengembaliannya adalah dalam jangka 
waktu 5 tahun, namun tidak ditentukan secara pasti cicilan per bulannya, karena 
tergantung dari perolehan pendapatan pengusaha. Sebagian besar dana bergulir 
ini  dipergunakan untuk modal kerja. DKP selain memberikan dana bergulir 
juga memberikan pinjaman alat berupa mesin penggiling. Sedangkan investasi yang 
lain sebagian besar berasal dari modal sendiri. Pengembalian dana bergulir biasanya 
dilakukan setiap bulan sekali, mereka diwajibkan membuat pencatatan, berapa 
banyak kerupuk yang diproduksi dan dijual, kemudian berapa nilai penjualan, berapa 
biaya produksi dan berapa keuntungan yang diperoleh. 
 Adapun persayaratan UMKM yang mendapat bantuan dana bergulir adalah 
kelompok yang sudah memiliki usaha, merupakan binaan DKP dan selalu mengikuti 
pembinaan, menjadi anggota koperasi dan khusus untuk mesin penggiling adalah 
untuk pengusaha kerupuk udang, namun karena jumlah mesin penggiling baru 
tersedia 15 sehingga baru 15 kelompok yang mendapat pinjaman mesin penggiling.
 Skim kredit yang tersedia pada lokasi usaha antara lain skim kredit usaha 
Kecil (KUK) dan KMKP dari BPR Tanggo Radjo yang merupakan BPR yang dimiliki oleh 
Kabupaten Tanjung Jabung Barat telah memberikan kredit kepada beberapa pengrajin 
kerupuk udang. Skim KUK yang diberikan adalah untuk kredit modal kerja dan atau 
modal investasi. Bank juga mempunyai persepsi bahwa usaha ini layak dibiayai karena 
prospeknya sangat baik. 
 berdasar  pengalaman beberapa pengusaha UMKM kerupuk udang 
yang sudah mendapat  kredit selama ini belum pernah terjadi penunggakan 
pembayaran angsuran kreditnya. Dengan adanya pinjaman ini para pengusaha 
UMKM kerupuk udang dapat meningkatkan produksinya, sehingga meningkatkan 
pula penjualannya.
Bank tidak mensyaratkan secara khusus untuk usaha kerupuk udang ini, jadi 
prosedur sama dengan pengajuan pinjaman lainnya. Adapun beberapa prosedur yang 
harus dilalui dalam calon nasabah memperoleh kredit, adapun prosedur yang harus 
dilalui adalah sebagai berikut :
6 POLA PEMBIAYAAN USAHA KECIL
Calon debitur mengajukan surat pengajuan kredit  kepada pihak bank.1. 
Pengumpulan data (karakter debitur, data keuangan dan jaminan).2. 
Analisa kredit oleh  3. Account Officer. 
Jika sudah terpenuhi semua persyaratan diatas maka segera dicairkan, 4. 
biasanya dalam waktu 5 – 10 hari.
Persyaratan lain yang perlu dilakukan oleh debitur adalah mereka harus 
mempunyai rekening di bank ini , hal ini untuk mempermudah pencairan 
dan pembayaran pinjaman. Biaya yang ditanggung oleh debitur adalah biaya 
pengikatan jaminan yang besarnya antara Rp100.000 – Rp210.000, biaya provisi 
sebesar 1%, biaya administrasi sebesar 0,5% dan biaya notaris. Kriteria yang menjadi 
pertimbangan bank dalam melakukan analisis kredit kepada debitur adalah 5C yaitu 
Character (watak), capacity (kemampuan), capital (permodalan), collateral (jaminan) 
dan condition (kondisi). 

 Permintaan produk ini sangat besar, hal ini ditandai dengan banyaknya pesanan 
yang datang kepada para pengrajin kerupuk udang. Para pengrajin kerupuk udang lebih 
banyak menerima pesanan dibandingkan dengan produksi untuk persediaan. Hanya 
terdapat satu UMKM yang membuat dalam jumlah yang banyak selain dari pesanan 
yang ada. Dalam industri ini terdapat beberapa kelompok kerja. Salah satu kelompok 
kerja dalam industri ini yang bernama Juwita setiap hari memproduksi dengan kapasitas 
29 kg dimana merupakan hasil pencampuran 20 kg udang dan 20 kg tepung sagu. 
Data mengenai permintaan kerupuk udang secara kuantitatif belum dilakukan, 
sehingga permintaan lebih banyak karena para pengusaha setiap hari berproduksi dan 
setelah menjadi kerupuk udang kering sudah datang para pemesan dan pedagang 
yang akan membawa produk mereka ke luar dari Kuala Tungkal. berdasar  data 
pesanan yang datang kepada para pengusaha UMKM kerupuk udang dari tahun 2003 
– 2007 semakin meningkat, dari mulai 100 kg per bulan menjadi 350 di tahun 2007, 
sedangkan tahun 2008 meningkat menjadi 580 kg per bulan (Grafik 1). Kenaikan 
permintaan kerupuk udang di tahun 2008 disebabkan permintaan dari pusat oleh-
oleh dan intensifnya keikutsertaan pengusaha dalam pameran diluar daerah dengan 
pembinaan dari Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP). Para pengusaha UMKM kerupuk 
udang setiap berproduksi selalu habis terjual karena sebagian besar adalah pesanan.

 Analisa pasar terhadap penawaran kerupuk udang secara langsung masih 
belum dilakukan secara nasional. Perhitungan tidak langsung dapat dilakukan dengan 
memperkirakan prosentase jumlah produksi kerupuk udang dari para pengrajin. 
Kebanyakan dari pengusaha kerupuk udang adalah menerima pesanan dari 
para pemesan yang biasanya adalah para pedagang, pusat oleh-oleh, instansi dan 
perusahaan. Mereka seringkali memesan kerupuk udang asli dari Kuala Tungkal, karena 
memang dari komposisi dan rasa sangat berbeda dengan di daerah lain. Beberapa 
pengrajin sudah secara tetap menerima pesanan dari beberapa perusahaan seperti 
perusahaan kertas, mereka memesan untuk dibagikan kepada para karyawan. 
Karena sebagian besar pengusaha berproduksi berdasar  pesanan maka 
dari sisi penawaran tidak berbeda jauh dari permintaan, hanya terdapat beberapa 
pengusaha yang membuat kerupuk udang untuk persediaan, apalagi menjelang 
bulan Ramadhan biasanya permintaan sangat tinggi, sehingga penawarannya pun 
mengikuti tinggi pula selama masih dalam kapasitas maksimal yang dapat dilakukan 
oleh pengusaha. 
3.1.3. Analisis Persaingan dan Peluang Pasar
Persaingan bisnis diantara para pengusaha UMKM kerupuk udang tidak 
terlalu tinggi, karena masing-masing sudah memiliki pelanggan tetap. Masing-masing 
ASPEK PASAR DAN PEMASARAN
INDUSTRI KERUPUK UDANG
9BANK negara kita 
pengusaha sudah memiliki pemesan dan pelanggan yang loyal maka diantara mereka 
bahkan saling mendukung, disamping itu mereka juga dalam pembinaan instansi 
yang sama yaitu Dinas Kelautan dan Perikanan Kabupaten Tanjung Jabung Barat. 
Perluasan pasar umumnya dilakukan dengan pencarian pelanggan baru. Hal 
ini dilakukan dengan cara mengikuti pameran yang sering dilakukan oleh dinas-
dinas terkait seperti Dinas Kelautan dan Perikanan, dan Dinas Koperasi. Pameran 
yang dilakukan sampai ke luar Propinsi Jambi seperti di Batam, Jakarta, dan kota-
kota lainnya untuk memperkenalkan kerupuk udang ini ke luar Jambi. Hal ini terbukti 
setelah banyak pameran yang dilakukan banyak pesanan dari daerah. Disamping itu 
yang menjadi keunggulan adalah karena rasa kerupuk udang Jambi sangat berbeda 
dengan di daerah lain.

 Harga dari kerupuk udang semakin tahun semakin naik, hal ini dikarenakan 
kenaikan dari bahan baku dan bahan pembantu. Kenaikan harga berkisar Rp 5.000 – 
Rp10.000 per tahun (Tabel 3.1). Kenaikan harga pada tahun 2008 lebih dipicu karena 
kenaikan bahan bakar.
Tabel 3.1. Perkembangan Harga Kerupuk Udang
Tahun Bentuk Kerupuk Harga
2005
Batang Korek Api- 
Bulat- 
Rp15.000
2006
Batang Korek Api- 
Bulat- 
Rp20.000
2007
Batang Korek Api- 
Bulat- 
Rp25.000
2008
Batang Korek Api- 
Bulat- 
Rp35.000
10 POLA PEMBIAYAAN USAHA KECIL
3.2.2. Jalur Pemasaran Produk
Jalur pemasaran kerupuk udang mempergunakan dua pola, yaitu langsung 
dan tidak langsung. Penjualan kerupuk udang ini dapat dilakukan sendiri oleh 
pengusaha maupun melalui jasa agen penjualan, dengan pembeli konsumen 
langsung, perusahaan dan perkantoran. Pola pemasaran kerupuk udang ini secara 
umum terbagi tiga, yaitu :
Pengusaha menjual langsung produknya ke konsumen akhir yaitu rumah a. 
tangga dan biasanya adalah konsumen langsung yang dekat dengan tempat 
memproduksi kerupuk udang ini, tetapi beberapa konsumen rumah tangga 
membawa kerupuk udang ini sebagai oleh-oleh untuk keluar daerah. 
Pengusaha bekerja sama dengan beberapa pusat oleh-oleh d para pedagang b. 
untuk memasarkan produknya.  
Pemesanan langsung dari perkantoran dan beberapa perusahaan besar seperti c. 
perusahaan yang menghasilkan kertas biasanya seringkali memesan kerupuk 
udang untuk para karyawan dan relasi.  
Dari ketiga jenis pemasaran di atas, di daerah penelitian selama ini para 
pengusaha tidak dikenakan biaya transportasi, karena para pemesan dan konsumen 
akhir langsung datang ke tempat produksi kerupuk udang ini.  Namun bisa juga pada 
saat pelanggan tidak bisa mengambil maka produk diantar ke tempat si pemesan, 
sehingga memerlukan biaya transportasi. Pembayaran yang dilakukan oleh para 
pemesan biasanya memberikan uang muka sebesar 30% dari total harga pesanan, 
kemudian sisanya akan dibayar setelah produk diterima. Jalur pemasaran kerupuk 
udang secara rinci dapat dilihat pada gambar 3.1.

3.2.3. Kendala Pemasaran
Kendala pemasaran yang dihadapi oleh industri kerupuk udang adalah adanya 
para pedagang yang mengambil kerupuk udang dan dijual kembali dengan merek 
dari para pedagang sehingga daerah asal pembuatan kerupuk udang tidak dikenal 
oleh konsumen akhir. Di samping itu belum banyak agen penjualan di luar Propinsi 
Jambi, sehingga daerah pemasaran belum terlalu luas, maka biasanya disiasati oleh 
para pengrajin dengan mengikuti pameran yang dilakukan di luar Propinsi Jambi 
untuk memperkenalkan produknya, namun masih kurang efektif karena frekuensi 
dari pameran masih kurang, dalam satu tahun hanya 2 – 4 kali saja.

 Lokasi usaha pembuatan kerupuk udang pada umumnya lebih memilih 
kedekatan dengan bahan baku atau pasar. Para Pengusaha UMKM kerupuk udang 
di daerah Jambi lebih memilih kedekatan dengan bahan baku, hal ini dikarenakan 
bahan baku dari kerupuk udang ini tidak dapat bertahan lama jika tidak disimpan 
dalam lemari pendingin. Alasan lainnya adalah para pengusaha lebih memilih 
mempergunakan udang segar dibandingkan dengan udang yang sudah dibekukan 
demi mempertahankan mutu kerupuk udangnya. Alasan lain kedekatan dengan 
sumber bahan baku adalah harga bahan bakunya tidak terlalu mahal karena jika 
jauh maka akan dibebani dengan biaya transportasi. Di Kecamatan Tungkal Ilir 
adalah daerah yang paling banyak pengusaha UMKM kerupuk udang, karena laut 
di Kecamatan Tungkal Ilir banyak menghasilkan udang dibandingkan dengan daerah 
lain. Sebagian besar pengusaha kerupuk udang tinggal di sekitar pantai. Dalam 
pembuatan kerupuk udang tidak banyak air yang dibutuhkan, sehingga kedekatan 
dengan adanya air bersih tidak menjadi hal yang utama. Keberadaan listrik untuk 
usaha ini sangat dibutuhkan terutama untuk lemari es sebagai penyimpan udang 
segar dan penggunaan alat mixer dalam menghaluskan udang. Kemudahan sarana 
transportasi dibutuhkan pada saat pengantaran produk, namun karena selama ini 
para pedagang dan pemesan yang langsung mengambil sehingga tidak menjadi 
hal yang utama, namun tetap dibutuhkan sarana transportasi untuk memperlancar 
distribusi produk.
4.2. Fasilitas Produksi dan Peralatan
 Fasilitas produksi dan peralatan yang diperlukan dalam memproduksi 
kerupuk udang adalah meliputi :
14 POLA PEMBIAYAAN USAHA KECIL
ASPEK TEKNIS PRODUKSI
Tabel 4.1. Fasilitas Produksi dan Peralatan
No Alat Fungsi
I Fasilitas Produksi
1. Bangunan Tempat Proses Produksi
2. Meja
Tempat mengaduk bahan baku dan memotong 
batangan kerupuk udang
3. Rak Jemur Tempat menjemur kerupuk udang
4. Kulkas Tempat menyimpan udang segar
II Peralatan
1. Kipas Untuk mendinginkan batangan kerupuk udang 
2. Wajan Besar bertutup Untuk mengukus batangan kerupuk udang
3. Kompor Untuk mengukus batangan kerupuk udang
4. Pisau Untuk memotong batangan kerupuk udang 
5. Mesin giling Untuk menggiling udang
6. Baskom Tempat mengaduk bahan baku
7. Mixer Untuk menghaluskan udang giling
8. Sealer Untuk pengemasan
4.3. Bahan Baku
Bahan baku utama industri kerupuk udang adalah udang dan tepung sagu. 
Untuk bahan baku udang diperoleh atau dibeli dari para nelayan yang baru pulang 
dari laut dan langsung memasarkan udangnya dalam bentuk udang kupas, namun 
ada juga para nelayan yang menjual udang belum dikupas kepada beberapa pengrajin 
kerupuk udang. Untuk menjaga mutu dari kerupuk udang yang dihasilkan, maka 
bahan baku kerupuk udang umumnya berupa udang segar dan tepung sagu yang 
memiliki kualitas baik. Karena kualitas dari udang dan tepung sagu akan sangat 
mempengaruhi kualitas dari kerupuk udang itu sendiri. Adapun bahan penolong 
dalam pembuatan kerupuk udang ini adalah bumbu-bumbu, cabe, dan seledri. 
INDUSTRI KERUPUK UDANG
15BANK negara kita 
Standar mutu udang segar adalah bahan baku harus bersih, bebas dari 
setiap bau yang menandakan pembusukan, bebas dari tanda dekomposisi dan 
pemalsuan, bebas dari sifat-sifat alamiah lain yang dapat menurunkan mutu serta 
tidak membahayakan kesehatan. Secara organoleptik bahan baku harus mempunyai 
karakteristik kesegaran seperti berikut :
Tabel 4.2. Standar Mutu Bahan Baku Kerupuk Udang
Kriteria Ciri-ciri
Kenampakan Bening, cemerlang, antar ruas kokoh
Bau Segar
Tekstur Elastis, padat, dan kompak
Sumber : SNI 01-2728.2-2006. 
Untuk penyimpanan udang segar harus disimpan dalam wadah yang baik dan 
tetap dipertahankan suhunya dengan menggunakan es curai sehingga suhu bahan 
baku mencapai suhu maksimal 50C, saniter dan higienis (SNI 01-2728.3-2006).
Peralatan yang digunakan dalam pengolahan udang segar harus memiliki 
persyaratan mempunyai permukaan yang halus dan rata, tidak mengelupas, tidak 
berkarat, tidak merupakan sumber cemaran jasad renik, tidak retak dan mudah 
dibersihkan. Semua peralatan dalam keadaan bersih, sebelum, selama dan sesudah 
digunakan. 
4.4. Tenaga Kerja
Tenaga kerja yang terlibat dalam industri kerupuk udang sebanyak 2 sampai 
4 orang dengan upah Rp 25.000 per hari/produksi.  Pada umumnya tenaga kerja 
ini  berasal dari daerah sekitar lokasi usaha (ada ikatan keluarga atau tetangga). 
Hal ini menjadikan pengangguran di daerah sekitar industri berkurang. Tenaga kerja 
yang terlibat tidak harus memiliki keterampilan khusus, karena sebagian besar adalah 
untuk bagian pemotongan dan pengemasan sehingga tidak memerlukan keahlian 
khusus. Disamping itu sangat mudah mendapat  tenaga kerja di daerah sekitar 
industri kerupuk udang ini.
16 POLA PEMBIAYAAN USAHA KECIL
4.5. Teknologi 
 Teknologi yang diterapkan dalam pembuatan kerupuk udang adalah semi 
mekanik. Teknologi yang diterapkan dalam pembuatan kerupuk udang adalah pada 
teknik penghancuran udang dan menghaluskan udang agar lebih halus. Sebagian 
besar mempergunakan mesin penggiling untuk langkah awal penghancuran udang, 
kemudian untuk memperhalus udang dengan menggunakan mixer sebelum akhirnya 
udang yang sudah dihaluskan akan dicampur dengan tepung sagu dan bumbu-
bumbu lainnya. Namun ada beberapa pengrajin yang tidak menggunakan mixer untuk 
menghaluskan udang tetapi menggunakan alat tradisional dengan cara ditumbuk. 
 Teknik yang paling cepat untuk menghaluskan udang adalah dengan 
menggunakan alat mixer khusus sehingga tidak sama dengan mixer yang dipergunakan 
untuk membuat kue. Berbeda dari sisi ukurannya. Jika menggunakan mixer proses 
menghaluskan udang menjadi singkat hanya membutuhkan waktu sekitar 20 menit 
untuk satu kali adonan.
4.6. Proses Produksi
 Proses pembuatan kerupuk udang pada umumnya adalah menggunakan 
bahan baku udang dengan ditambah bumbu-bumbu/bahan pembantu lainnya 
dengan melalui proses pengadonan, pencetakan, pengukusan, pemotongan dan 
pengeringan. Fungsi dari teknoloi pembuatan kerupuk udang adalah sebagai upaya 
untuk mendapat  produk hasil perikanan yang mempunyai rasa renyah dan gurih 
serta dapat memenuhi selera masyarakat. Komposisi kerupuk udang pada umumnya 
adalah 1 : 3, jika satu kg udang maka tepung sagu 3 kg.
Proses produksi dalam pembuatan kerupuk udang di daerah penelitian agak 
sedikit berbeda dalam hal komposisi, dimana perbandingan antara udang dengan 
tepung sagu adalah 1 : 1. Proses pembuatan kerupuk udang ini dimulai dengan 
penyiapan bahan baku, proses pencampuran dengan bahan pendukung yang lain 
serta bumbu-bumbu yang diperlukan. Secara keseluruhan dalam pembuatan kerupuk 
udang dari mulai pencampuran bahan baku sampai kerupuk udang dikemas dan siap 
ASPEK TEKNIS PRODUKSI
INDUSTRI KERUPUK UDANG
17BANK negara kita 
dipasarkan adalah 4-5 hari. Untuk proses penjemuran karena mengandalkan sinar 
matahari sehingga dapat 2 hari atau bahkan sampai 4 hari, tergantung dari panas 
atau teriknya sinar matahari. Untuk lebih jelasnya seperti terlihat dalam gambar 4.1. 
Proses produksi kerupuk udang adalah sebagai berikut :
Udang segar dikupas.1. 
Udang segar yang berasal dari laut yang merupakan hasil tangkapan para 
nelayan dibersihkan dan dikupas, dengan cara dibuang kulitnya dan dicuci 
bersih. Sebagian besar pengusaha membeli udang kupas.
Udang segar dibekukan jika tidak langsung diproses, jika langsung maka 2. 
udang segar digiling.
Jika udang yang sudah dikupas dan dicuci bersih tidak langsung hari itu 
diproses, maka akan disimpan di freezer terlebih dahulu. Namun jika 
setelah dikupas dan dicuci bersih akan langsung diproses, maka tidak 
perlu dilakukan penyimpanan di freezer. 
Penghancuran udang dengan mesin penggiling.3. 
Setelah udang dikupas dan dicuci dengan bersih, maka udang ini  
akan dihancurkan dengan mesin penggiling. Penggilingan udang ini 
membutuhkan waktu sekitar 20 menit. Mesin penggiling yang dimiliki 
oleh para pengusaha adalah merupakan bantuan dari dana bergulir Dinas 
Kelautan dan Perikanan.
Photo 4.1. Mesin Penggiling
18 POLA PEMBIAYAAN USAHA KECIL
Gambar 4.1. Diagram Alir Proses Pembuatan Kerupuk Udang
ASPEK TEKNIS PRODUKSI
udang segar
udang dibersihkan dan 
dibuang kulitnya
pembekuan udang
penggilingan udang
pencampuran udang giling dan 
bumbu dengan mixer
Pengadonan  dengan tepung dan 
pengalusan adonan  kerupuk
Pembuatan batangan kerupuk
Pendinginan
Pemotongan
Penjemuran/Pengeringan
Pengemasan Kerupuk
INDUSTRI KERUPUK UDANG
19BANK negara kita 
Pencampuran udang dengan bumbu.4. 
Setelah udang dihancurkan dengan mesin penggiling maka proses 
selanjutnya dalam pembuatan kerupuk udang adalah udang dicampur 
dengan bumbu-bumbu dan bahan pelengkap lainnya seperti cabe, daun 
seledri dan penyedap. Proses pencampuran ini dengan mempergunakan 
mixer khusus (berbeda dengan yang biasanya dipergunakan untuk 
membuat kue), agar udang lebih lembut dan lebih hancur, sehingga 
akan menyatu pada saat nanti dicampur dengan tepung sagu. Proses 
pencampuran udang dengan bumbu-bumbu ini memerlukan waktu 20 
menit dengan mempergunakan tenaga manusia (laki-laki). Tenaga kerja 
yang menangani proses ini tidak memerlukan keahlian khusus.
 Photo 4.2. Proses Pencampuran Udang dengan Bumbu dan Bahan Pelengkap
Pencampuran udang yang sudah dicampur bumbu dengan tepung sagu.5. 
Setelah udang dicampur dengan bumbu dan bahan pelengkap lainnya 
dengan mempergunakan mixer kurang lebih selama 20 menit maka 
campuran udang dengan bumbu tadi akan dicampur dengan tepung 
sagu. Proses pencampuran tepung sagu dengan udang dimulai dengan 
20 POLA PEMBIAYAAN USAHA KECIL
menambahkan 2 buah es batu ke dalam tepung dengan cara diaduk-
aduk dengan menggunakan tangan sampai tepung agak rekat, lalu 
dicampur dengan udang yang sudah dicampur bumbu dan bahan 
pelengkap lainnya, proses ini pun menggunakan tenaga manusia. Diaduk 
terus sampai bisa dibuat bulatan panjang. Proses ini membutuhkan waktu 
sekitar 30 menit. 
Photo  4.3. Proses Pencampuran Udang Berbumbu dengan Tepung  Sagu
 
Penghalusan adonan.6. 
Adonan yang merupakan campuran antara udang berbumbu dengan 
tepung sagu kemudian diaduk dan diuleni supaya menjadi adonan yang 
halus agar dapat dibentuk bulatan panjang. Proses ini juga menggunakan 
tenaga manusia. Disamping itu proses ini adalah agar semua bahan 
tercampur dengan merata sehingga rasa dari semua kerupuk udang sama. 
Proses ini membutuhkan waktu 20 menit.
Pembentukan adonan menjadi bulat panjang.7. 
Adonan yang sudah halus akan dibentuk menjadi batangan panjang. Hal 
ini untuk mempermudah dalam proses pemotongan. 

Photo 4.4. Proses Pembentukan Batangan Kerupuk Udang
Pengukusan adonan yang sudah dibentuk bulat panjang.8. 
Proses selanjutnya setelah adonan dibentuk bulat panjang adalah adonan 
ini  dikukus dengan menggunakan wajan yang satu paket dengan 
tutupnya. Dalam proses pengukusan pada pinggiran tutup wajan diberi 
kain agar uapnya tidak keluar karena akan menyebabkan adonan jadi 
lembek dan akan sulit dibentuk. Untuk pengukusan adonan kerupuk 
udang ini membutuhkan waktu 60 menit.
Photo 4.5. Proses Pengukusan Batangan Kerupuk Udang
22 POLA PEMBIAYAAN USAHA KECIL
Pendinginan.9. 
Adonan yang dikukus dan sudah matang diangkat lalu diletakkan di 
tempat yang dekat dengan tempat pengukusan. Pada umumnya untuk 
mempercepat proses pendinginan digunakan kipas angin, karena jika 
tidak dibantu dengan kipas angin akan membutuhkan waktu yang lama. 
Setelah didinginkan di tempat terbuka dengan menggunakan alas yang 
berupa anyaman dari bambu, maka batangan ini  akan dibekukan 
di lemari pendingin (kulkas) sebelum dilakukan pemotongan. Biasanya 
pemotongan dilakukan keesokan harinya.
Photo 4.6. Proses Pendinginan Batangan Kerupuk Udang
Proses pemotongan.10. 
Setelah batangan kerupuk udang dibekukan di lemari pendingin, maka 
proses selanjutnya adalah pemotongan. Untuk proses pemotongan 
karena masih manual yaitu menggunakan pisau dapur biasa sehingga 
dibutuhkan beberapa tenaga kerja. Pada umumnya tenaga kerja yang 
dibutuhkan adalah untuk proses pemotongan dan pengemasan. Biasanya 
4 tenaga kerja untuk proses pemotongan ini. Bentuk potongan kerupuk 

udang ini ada dua bentuk yaitu bentuk bulat dan bentuk batangan seperti 
batangan korek api. Keduanya sangat disukai oleh para konsumen, karena 
mereka tidak melihat bentuk tetapi lebih terhadap rasa. Sebenarnya 
terdapat pisau pemotong yang merupakan bantuan dari Dinas Kelautan 
dan Perikanan yang diharapkan dapat mempercepat proses pemotongan. 
Namun menurut pengusaha pisau pemotong ini  sulit digunakan 
bahkan bentuk kerupuk jadi rusak. Sehingga sebagian besar alat ini  
tidak digunakan.
Photo 4.7. Pisau Pemotong Kerupuk Udang
Proses penjemuran/pengeringan.11. 
Setelah batangan kerupuk udang dipotong dengan dua bentuk yaitu 
bulat dan batang korek api, maka proses selanjutnya adalah penjemuran/
pengeringan. Proses penjemuran ini masih mengandalkan sinar matahari, 
belum ada pengusaha yang menggunakan mesin pengering. Proses 
pengeringan ini biasanya memakan waktu antara 2 sampai 4 hari 
tergantung dari panas tidaknya sinar matahari.

Photo 4.8. Proses Penjemuran/Pengeringan Kerupuk Udang
Proses pengemasan.12. 
Proses terakhir sebelum kerupuk udang siap dijual adalah proses 
pembungkusan atau pengemasan. Kemasan yang biasanya dibuat adalah 
kemasan 1 kg dan ½ kg, tetapi proporsi yang lebih banyak adalah kemasan 
1 kg. Untuk pengemasan diperlukan alat yaitu sealer untuk menutup 
plastik sehingga kerupuk dapat tahan lama.
Photo 4.9. Sealer

4.7. Jumlah, Jenis dan Mutu Produksi
 Kerupuk udang yang diproduksi oleh pengusaha sebagian besar tergantung 
dari permintaan atau pesanan dari para konsumennya. Walaupun ada beberapa 
pengusaha selain make to order (MTO) mereka juga melakukan make to stock (MTS). 
berdasar  penelitian dan pengamatan di lapang  rata-rata sekali berproduksi 
pengusaha menghasilkan 29 kg kerupuk udang kering yang siap dipasarkan, rata-
rata mereka melakukan proses produksi dalam satu bulan adalah 20 kali sehingga 
total kerupuk yang diproduksi dalam satu bulan adalah 580 kg.
4.8.  Produksi Optimum
Tingkat produksi ditentukan oleh ketersedian bahan baku. Bahan baku kerupuk 
udang adalah udang yang ketersediaannya sangat tergantung dari hasil tangkapan 
nelayan dan musim. Jika air laut pasang maka biasanya  nelayan tidak melaut, sehingga 
pasokan bahan baku sedikit berkurang. Secara teknis berdasar  skala usaha yang 
ada maka produksi kerupuk udang sebanyak 580 kg per bulan menjadi produksi 
optimum usaha ini. 
4.9.  Kendala Produksi
Faktor kritis industri kerupuk udang ini adalah ketersediaan dan kontinuitas 
bahan baku, dimana bila terjadi air pasang dan dalam jangka yang panjang maka 
akan sangat  mengganggu kelancaran dalam pembuatan kerupuk udang. Dengan 
adanya kelangkaan udang pada saat air pasang akan menyebabkan harga udang 
juga naik, sehingga sangat dibutuhkan keberadaan lemari es/pendingin sebagai 
penyimpan udang. Walaupun udang segar ini dapat disimpan dalam lemari es, 
namun memiliki keterbatasan waktu, pada saat udang sudah tercium bau busuk 
maka tidak bisa digunakan untuk membuat kerupuk udang ini. Karena hal ini akan 
sangat mempengaruhi mutu dari kerupuk udang ini .

5.1. Pemilihan Pola Usaha
 Pembuatan kerupuk udang dilakukan dalam skala rumah tangga, masih 
dalam skala usaha kecil dengan produksi per bulan 580 kg kerupuk udang. Usaha ini 
dilakukan oleh 4 orang tenaga kerja yang terdiri dari 2 orang tenaga kerja produksi 
dan 2 orang tenaga pengemasan.  Satu kali produksi kerupuk udang membutuhkan 
bahan baku utama 20 kg tepung sagu dan 20 kg udang yang akan menghasilkan 29 
kg kerupuk udang. Pengolahan dilakukan tidak setiap hari, rata-rata hanya 20 hari 
produksi. Pembiayaan dari usaha ini dilakukan dari modal sendiri, baik untuk investasi 
maupun untuk modal kerja. 
5.2. Asumsi dan Parameter Untuk Analisis Keuangan
Untuk penyusunan pola pembiayaan usaha kecil diperlukan adanya beberapa 
asumsi mengenai parameter teknologi proses maupun biaya. Beberapa asumsi dalam 
penentuan parameter didasarkan pada hasil pengamatan di lapangan, masukan dari 
instansi terkait dan pustaka yang mendukung. Asumsi ini  dapat dilihat pada 
Tabel 5.1. 
Tabel 5.1. Asumsi Untuk Analisis Keuangan
No Asumsi Satuan Nilai / Jumlah
1 Periode proyek tahun 3
2 Hari kerja per bulan hari 20
3 Bulan kerja per tahun tahun bulan 12
4 Output, Produksi dan Harga:   
 a. Produksi kerupuk udang per bulan kg 580
 b. Produksi kerupuk udang per tahun kg 6.960
 c. Harga penjualan kerupuk udang Rp/kg 35.000
5 Suku Bunga per Tahun % 14%
6 Jangka Waktu Kredit   
 a. Investasi tahun 3
 b. Modal Kerja tahun 1

     Pemilihan periode proyek selama 3 tahun berdasar  umur ekonomis 
peralatan yang digunakan dalam proses produksi. Hari kerja produktif adalah selama 
20 hari, Kerusakan produk selama proses produksi adalah sebesar 0%, hal ini 
dikarenakan kerupuk udang dijemur sampai kering. Asumsi dan parameter keuangan 
secara lebih rinci terdapat pada Lampiran 1.
5.3. Komponen dan Struktur Biaya Investasi dan Biaya Operasional 
5.3.1. Biaya Investasi
Biaya investasi yang dibutuhkan untuk memulai usaha kerupuk udang 
meliputi perizinan, tanah dan bangunan serta mesin dan peralatan. Biaya investasi 
harus dikeluarkan pada tahun ke 0 sebelum melakukan usaha. Jumlah biaya investasi 
yang diperlukan adalah sebesar Rp 57.860.000. Komponen terbesar adalah tanah 
yaitu sebesar 35%. Sedangkan untuk perizinan sebesar 4% (Tabel 5.2.). Kebutuhan 
biaya investasi usaha kerupuk udang secara rinci terdapat pada Lampiran 2.
Tabel 5.2. Komposisi Biaya Investasi (Rp)
No Komponen Biaya Jumlah Prosentase
1 Perizinan 2.500.000 4
2 Bangunan 12.500.000      22
3 Tanah 20.000.000 35
4 Alat Produksi dan Pengemas 12.860.000 22
5 Alat Transportasi 10.000.000 17
Jumlah 57.860.000 100
5.3.2. Biaya Operasional
Biaya operasional merupakan biaya yang diperlukan dalam memproduksi 
produk kerupuk udang. Komponen biaya operasional ini meliputi biaya variabel dan 
biaya tetap. Biaya variabel terdiri dari biaya bahan baku, biaya bahan pembantu, biaya 
INDUSTRI KERUPUK UDANG
29BANK negara kita 
bahan pengemas dan biaya tenaga kerja langsung. Biaya tetap meliputi biaya listrik, 
telepon, ATK, perawatan alat dan ruangan, serta biaya lainnya sebesar 8,41% dari 
biaya tetap.  Biaya lainnya ini meliputi, iuran kebersihan, PBB, dan untuk sumbangan. 
Total biaya tetap per bulan adalah sebesar Rp.830.000. Besarnya biaya operasional 
per bulan dengan kapasitas 100% dapat dilihat pada Tabel 5.3.
Tabel 5.3. Komposisi Biaya Operasional per Bulan
No Uraian Total Biaya
1 Biaya Variabel
- Biaya bahan baku             10.800.000 
- Biaya bahan pembantu             3.580.000 
- Biaya bahan pengemas               96.000 
- Biaya tenaga kerja langsung             1.500.000 
2 Biaya Tetap         830.000 
 Jumlah             16.806.000 
 
 Pada Tabel 5.3 di atas, terlihat bahwa komponen biaya paling besar adalah 
biaya bahan baku yang besarnya mencapai 64% dari seluruh biaya operasional. 
Rincian biaya variabel per tahun dapat dilihat pada Lampiran 4 dan rincian biaya tetap 
per tahun dapat dilihat pada Lampiran 5.
5.4. Kebutuhan Dana Investasi dan Modal Kerja 
Kebutuhan dana usaha kerupuk udang terdiri dari dana investasi dan modal 
kerja yang diperoleh dari dana sendiri. Kebutuhan investasi usaha kerupuk udang 
adalah sebesar Rp 57.860.000 diasumsikan 60% berasal dari kredit (Rp 34.716.000) 
dan sebesar 40% berasal dari modal sendiri (Rp 23.144.000). Sedangkan untuk 
kebutuhan modal kerja dibutuhkan dana sebesar Rp 16.806.000 diasumsikan 60% 
berasal dari kredit  (Rp 10.083.600) dan sebesar 40% (Rp6.722.400) berasal dari modal 
sendiri. Kebutuhan modal kerja yang diperlukan selama 1 bulan produksi dengan 
pertimbangan penerimaan hasil penjualan diterima setelah 2-3 minggu. Dengan 
30 POLA PEMBIAYAAN USAHA KECIL
ASPEK KEUANGAN
pertimbangan ini  kebutuhan bantuan modal kerja bulan-bulan berikutnya dapat 
dipenuhi dari hasil penjualan pada bulan pertama. Rincian komponen dan struktur 
biaya proyek dapat dilihat pada Tabel 5.4.
Tabel 5.4. Komponen dan Struktur Biaya Proyek
No Komponen Biaya Proyek Persentase Total Biaya
1 Biaya Investasi   
 -     Bersumber dari kredit 60% 34.716.000
 -     Dari dana sendiri 40% 23.144.000
 Total Biaya Investasi  57.860.000
2 Biaya Modal Kerja   
 -     Bersumber dari kredit 60% 10.083.600
 -     Dari dana sendiri 40%  6.722.400
 Total Biaya Modal Kerja  16.806.000
3 Total Dana Proyek   
 -     Bersumber dari kredit 60% 44.799.600
 -     Dari dana sendiri 40% 29.866.400
 Jumlah Dana Proyek  57.860.000
       
5.5. Produksi dan Pendapatan
Produksi kerupuk udang per bulan adalah sebesar 580 kg.  Produksi dan 
pendapatan usaha diproyeksikan dengan asumsi bahwa pada tahun 1 usaha 
beroperasi (berproduksi) pada kapasitas 80%, tahun ke 2 kapasitas  90%, tahun 
ke 3 beroperasi pada kapasitas 100%.  
Proyeksi pendapatan dengan harga jual Rp 35.000 per kg, maka diperoleh 
pendapatan pada tahun 1 adalah sebesar Rp 194.880.000, pada tahun 2 adalah 
sebesar Rp 219.240.000, pada tahun ke 3 adalah sebesar Rp 243.600.000. Proyeksi 
pendapatan selama 3 tahun dapat dilihat pada Tabel 5.5.
INDUSTRI KERUPUK UDANG
31BANK negara kita 
Tabel 5.5. Proyeksi Produksi dan Pendapatan Usaha
No Uraian
Tahun
1 2 3
1 Kapasitas 80% 90% 100%
2 Penerimaan (Rp) 194.880.000 219.240.000 243.600.000
5.6. Proyeksi Rugi Laba Usaha dan Break Even Point
Hasil proyeksi rugi laba menunjukkan usaha kerupuk udang dapat 
menghasilkan laba bersih pada tahun 1 pada kapasitas 80% sebesar Rp 29.880.920 
dengan nilai profit on sales 15,33%. Laba di tahun 1 lebih tinggi dibandingkan laba 
ditahun 2 dan 3 karena beban operasional satu bulan dikeluarkan di tahun ke 0. 
Dengan memperhitungkan hasil penjualan, biaya variabel, dan biaya tetap industri 
kerupuk udang diperoleh rata-rata BEP sebesar Rp 87.730.631 atau setara dengan 
2.507 kg kerupuk udang. Potensi laba bersih ini  terus meningkat setiap tahun, 
hingga tahun ke 3 diperoleh laba sebesar Rp 27.820.888 dengan profit on sales 
mencapai 11,42%. 
Rata-rata laba bersih usaha kerupuk udang selama periode proyek adalah 
Rp 26.578.383 dengan rata-rata profit on sales sebesar12,27%. berdasar  informasi 
yang disajikan pada Lampiran 8, secara garis besar proyeksi laba rugi usaha dan BEP 
usaha dapat dilihat pada Tabel 5.6.
32 POLA PEMBIAYAAN USAHA KECIL
Tabel 5.6. Proyeksi Pendapatan dan Laba Rugi Usaha (Rp)
No Uraian
Tahun
1 2 3
1 Total  Penerimaan 194.880.000 219.240.000 243.600.000
 2 Total Pengeluaran 159.725.976 193.318.423 210.869.543
3 R/L Sebelum Pajak 35.154.024 25.921.577 32.730.457
4 Pajak (15%) 5.273.104 3.888.237 4.909.569
5 Laba Setelah Pajak 29.880.920 22.033.340 27.820.888
6 Profit on Sales 15,33% 10,05% 11,42%
7  BEP:    Rupiah 75.707.185 97.545.271 89.939.438
8              Kg 2.163 2.787 2.570
5.7. Proyeksi Arus Kas dan Kelayakan Proyek
Analisis keuangan digunakan untuk menganalisa kelayakan suatu proyek 
dari segi keuangan. Proyek dikatakan layak dari segi keuangan, jika dapat memenuhi 
kewajiban finansial serta dapat mendatangkan keuntungan yang layak bagi 
perusahaan. Untuk mengkaji kemampuan usaha memenuhi kewajiban finansialnya 
disusun proyeksi arus kas yang dapat dilihat pada Lampiran 9. 
Analisis kelayakan finansial dilakukan dengan menilai kriteria investasi untuk 
mengukur kelayakan pendirian usaha kerupuk udang yaitu NPV (Net Present Value), 
IRR (Internal Rate of Return), Net B/C (Net Benefit/Cost) Ratio. Nilai NPV usaha kerupuk 
udang ini adalah Rp 19.167.531. Nilai IRR adalah 26,45%, yang menunjukkan usaha 
ini masih layak sampai pada tingkat suku bunga mencapai 26,45%. Nilai Net B/C 
Ratio adalah 1,26 dengan Pay Back Period (PBP) 2,23 tahun, sehingga usaha ini layak 
untuk dilaksanakan. Secara ringkas kriteria kelayakan dan nilainya dapat dilihat pada 
Tabel 5.7.

Tabel 5.7. Kelayakan Industri Kerupuk Udang
Kriteria kelayakan Nilai
Justifikasi 
Kelayakan 
NPV (20%)  Rp  19.167.531 > 0
IRR 26,45% > 14 %
Net B/C Ratio                 1,26 > 1,00
PBP (Tahun)                   2,44 < 3
5.8. Analisis Sensitivitas Kelayakan Usaha
Analisis sensitivitas dilakukan untuk melihat seberapa jauh proyek dapat 
dilaksanakan mengikuti perubahan harga, baik biaya produksi maupun harga jual 
produk ataupun kelemahan estimasi hasil produksi. Analisis sensitivitas dilakukan 
pada tiga skenario. Skenario I penurunan harga jual kerupuk udang sementara biaya 
investasi dan biaya variabel tetap; skenario II, kenaikan biaya produksi (biaya variabel) 
sementara biaya investasi dan penjualan tetap dan skenario III kompilasi skenario I 
dan II (kenaikan biaya variabel dan penurunan harga jual kerupuk udang).
Pada skenario I, Pada penurunan pendapatan proyek layak sampai 
pendapatan kerupuk udang turun sebesar 5%. Penurunan pendapatan lebih besar 
dari 5% menyebabkan proyek sudah tidak layak dilaksanakan.   Seperti dapat dilihat 
pada Tabel 5.8, penurunan pendapatan kerupuk udang sebesar 6% menyebabkan 
nilai NPV negatif, IRR lebih kecil dari 14% dan Net B/C lebih kecil dari 1. 
Tabel 5.8.  Hasil Analisis Sensitivitas Penurunan Pendapatan
No Kriteria Turun 5% Turun 6%
1 NPV (Rp) 3.155.887 -1.477.914
2 IRR (%) 16,11 13,01
3 Net B/C Ratio 1,04 0,98
4 Pay Back Period (tahun) 3,11 3,37
34 POLA PEMBIAYAAN USAHA KECIL
Pada skenario II, pada saat biaya variabel naik sebesar 7%, sementara 
pendapatan tetap, proyek masih layak dilaksanakan. Kenaikan biaya variabel di atas 
7% menyebabkan proyek tidak layak lagi dilaksanakan.  Pada tabel 5.9 dapat dilihat 
kenaikan biaya variabel sebesar 8% menyebabkan nilai NPV negatif, IRR lebih kecil 
dari 14%, Net B/C kecil dari 1 dan PBP melebihi umur proyek.
Tabel 5.9.  Hasil Analisis Sensitivitas Kenaikan Biaya Variabel
No Kriteria Naik 7% Naik 8%
1 NPV (Rp) 1.137.621 - 2.450.469
2 IRR (%) 14,77 12,34
3 Net B/C Ratio 1,02 0,97
4 Pay Back Period (tahun) 3,23 3,45
Pada skenario III, pada saat penurunan pendapatan kerupuk udang dan 
kenaikan biaya variabel masing-masing sebesar 3%, usaha ini  masih layak 
dilaksanakan. Pada tabel 5.10 dapat dilihat jika penurunan pendapatan kerupuk 
udang turun dan biaya variabel naik masing-masing sebesar 4%, maka usaha ini tidak 
layak dilaksanakan karena NPV negatif, IRR lebih kecil dari suku bunga yaitu  14%, 
Net B/C Ratio kurang dari satu dan PBP melebihi umur proyek. 
Tabel 5.10.  Hasil Analisis Sensitivitas Kombinasi
No Kriteria
Biaya variabel 
naik 3% dan 
pendapatan turun 
3%
Biaya variabel 
naik 4% dan 
pendapatan turun 
4% 
1 NPV (Rp) 1.420.456  -  6.801.435
2 IRR (%) 14,96 9,38
3 Net B/C Ratio 1,02 0,91
4 Pay Back Period (tahun) 3,21 3,75

6.1. Aspek Ekonomi dan Sosial
Dilihat dari aspek ekonomis, keberadaan industri kerupuk udang di Kabupaten 
Tanjung Jabung Barat (Kuala Tungkal) telah membawa dampak positif bagi masyarakat 
sekitar, walaupun industri kerupuk udang ini bukanlah usaha yang banyak menyerap 
tenaga kerja, karena pada umumnya masih berskala mikro. Di Kuala Tungkal industri 
kerupuk udang merupakan usaha yang telah dijalani sebagian masyarakat secara 
turun temurun. Untuk masyarakat anggota masyarakat sekitarnya juga memperoleh 
dampak positif baik penyerapan tenaga kerja dan peningkatan pendapatan. Secara 
ekonomis usaha industri kerupuk udang cukup menguntungkan, dengan demikian 
pada dasarnya industri kerupuk udang merupakan alternatif pekerjaan yang baik, 
karena bahan baku udang pada dasarnya sangat mudah diperoleh di daerah ini. 
6.2 Aspek Dampak Lingkungan 
Berbeda dengan industri lainnya, industri kerupuk udang di Kuala Tungkal 
ini hampir tidak menghasilkan limbah, karena pada umumnya mereka membeli 
udang yang telah di kupas kulitnya, walaupun kadang ada juga udang yang belum 
di kupas kulit dan kepalanya dapat dijual lagi pada pengusaha lain untuk di jadikan 
terasi, petis dan sebagainya. Maka dari sudut pandang lingkungan, industri ini tidak 
membahayakan karena tidak menghasilkan limbah yang berbahaya.

a. Potensi pengembangan industri kerupuk udang di Kuala Tungkal, cukup besar 
karena tersedia bahan baku udang yang melimpah di daerah ini. Sampai saat ini 
pola pengelolaan industri kerupuk udang umumnya masih bersifat usaha kecil 
dengan pola tradisional. Hal ini disebabkan untuk mencapai usaha yang lebih 
maju diperlukan modal yang relatif besar.
b. Di wilayah penelitian (Kuala Tungkal) ada satu bank yang memberikan kredit 
untuk usaha kerupuk udang yakni BPR Tanggo Radjo. Namun demikian pemberian 
kredit ini  masih belum sepenuhnya berdasar  industri kerupuk udang 
tetapi kredit umum, yakni kredit yang mensyaratkan adanya barang jaminan. 
c. Peluang pasar masih sangat terbuka untuk dikembangkan karena kerupuk 
udang di Kuala Tungkal ini mempunyai rasa yang khas karena perbandingan 
tepung dan udang 1 : 1, jadi rasa udangnya sangat terasa.
d. Secara teknis, industri kerupuk udang masih sederhana. Lebih mengutamakan 
tenaga manusia. 
e. berdasar  analisis kelayakan finansial terhadap industri kerupuk udang 
dengan discount rate 14% memberikan NPV sebesar Rp 19.167.531, IRR 
sebesar 26,45%, Net B/C ratio sebesar 1,26, dan Pay Back Period ratio selama 
2,23 tahun. Hal ini menunjukkan bahwa usaha ini layak untuk dibiayai kredit. 
f. Untuk analisis sensitivitasnya, pada sisi pendapatan, usaha ini sensitif pada 
penurunan pendapatan kerupuk udang sampai 5%. Sedangkan dari sisi kenaikan 
biaya variabel, usaha ini sensitif pada kenaikan biaya variabel sampai 3%. Pada 

penurunan pendapatan yang juga diikuti oleh kenaikan biaya variabel usaha 
ini sensitif sampai penurunan pendapatan dan kenaikan biaya variabel masing-
masing sebesar 3%.
g.      Industri kerupuk udang ini tidak menghasilkan limbah berbahaya. 
 
a. Industri kerupuk udang memerlukan bantuan modal dalam mengembangkan 
usahanya, karena selama ini para pengusaha kesulitan mendapat  bantuan 
modal dari perbankan.
b. Peran pemerintah daerah masih sangat diperlukan dalam pemberian bantuan 
peralatan dan penerapan gugus kendali mutu, sehingga pengrajin dapat bekerja 
secara efisien dan efektif.
c. Diperlukan sarana yang bisa menghubungkan produsen dan konsumen secara 
langsung, karena biasanya produksi dari kerupuk ini di beli langsung oleh 
pedagang tertentu dan di buatkan merek tertentu lalu di jual ke pasaran. 
d.     Diperlukan promosi yang mampu menguatkan daya tawar produk kerupuk 
udang Kuala Tungkal karena dari segi kualitas tidak kalah dari produk-produk 
daerah lainnya.