Kota Bogor merupakan salah satu daerah Propinsi Jawa Barat yang kaya
akan keanekaragaman objek wisata, baik wisata alam, budaya maupun sejarah.
Industri pariwisata merupakan sektor yang dianggap sejalan dengan Visi Kota
Bogor, yaitu "Kota Jasa yang Nyaman dengan Masyarakat Madani dan
Pemerintahan Amanah". Restoran merupakan salah satu usaha sarana pendukung
industri pariwisata di Kota Bogor, sekaligus sebagai penyedia kebutuhan pangan.
Perkembangan jumlah restoran di Kota Bogor cukup pesat, dimana hingga
pada tahun 2006 terdapat 248 usaha restoran dengan peningkatan sebesar 11,71
persen dibandingkan tahun sebelumnya. Pertumbuhan restoran di Kota Bogor
berdampak baik pada perekonomian Kota Bogor, dengan kontribusi subsektor
restoran sebesar 5,34 persen terhadap total PDRB Kota Bogor.
Restoran Rice Bowl Botani Square merupakan usaha restoran yang pada
umumnya dikembangkan di pusat-pusat perbelanjaan (mall). Restoran ini
merupakan pionir dari konsep oriental semi fastfood and family restaurant.
Adanya pengenalan akan konsep baru ini tentu saja membutuhkan serangkaian
strategi pengembangan usaha yang tepat. Strategi yang tepat akan membantu
Restoran Rice Bowl Botani Square untuk tetap eksis dan unggul dalam
lingkungan persaingan industri yang dihadapinya.
Tujuan penelitian ini yaitu mengkaji strategi usaha yang telah dilakukan
oleh Restoran Rice Bowl Botani Square, menganalisis faktor eksternal dan
internal Restoran Rice Bowl Botani Square, dan mengkaji alternatif strategi yang
paling sesuai bagi restoran untuk mengembangkan usahanya.
Penelitian ini dilakukan pada Restoran Rice Bowl Botani Square, Bogor.
Penelitian dilakukan selama tiga bulan yaitu pada bulan Februari hingga April
2008. Pemilihan objek penelitian dilakukan secara sengaja (purposive), dengan
pertimbangan bahwa Restoran Rice Bowl Botani Square merupakan pionir
oriental semi fastfood restaurant di negara kita , dan merupakan satu-satunya
restoran cabang yang berada di Kota Bogor hingga saat ini.
Data yang digunakan dalam penelitian ini yaitu data primer dan
sekunder. Data primer berupa wawancara mendalam (indepth interview) secara
langsung kepada pihak manajemen Restoran Rice. Data sekunder diperoleh dari
Badan Pusat Statistik (BPS) Kota Bogor dan Jawa Barat, dari Dinas Informasi
Kepariwisataan dan Kebudayaan Kotamadya Bogor, literatur serta media terkait.
Metode analisis dan pengolahan data yang digunakan dalam penelitian ini
yaitu analisis deskriptif berupa analisis lingkungan umum dan industri
perusahaan. Selain itu dilakukan analisis tiga tahap formulasi strategi, yaitu tahap
masukan melalui Matriks Internal Factor Evaluation (IFE) dan External Factor
Evaluation (EFE), tahap pencocokan melalui analisis matriks IE (Internal
External) dan analisis SWOT (Strength, Weakness, Opportunity, Threat), serta
tahap keputusan melalui analisis QSPM (Quantitative Strategic Planning Matrix).
Rice Bowl berpedoman pada visi, misi dan nilai yang telah ditetapkan.
Visi restoran ini yaitu “Menjadi Restoran Keluarga yang Terkenal dan Terbaik
di negara kita ”, dan misinya yaitu “Rice Bowl mempunyai komitmen untuk
menyajikan masakan dengan kualitas dan citarasa tinggi, mutu pelayanan yang
memuaskan dan lingkungan yang menyenangkan”. Nilai-nilai perusahaan juga
sangat dipegang teguh oleh seluruh tim manajemen dan karyawan restoran, yaitu :
(1) Sense of belonging (rasa memiliki); (2) Sense of Responsible (rasa tanggung
jawab); (3) Openness (keterbukaan); (4) Team work (kerjasama); (5) Human
relation (supel dan familiar); (5) Trust (dapat dipercaya).
Analisis lingkungan eksternal menghasilkan sejumlah faktor peluang dan
ancaman. Faktor peluang yang dimiliki oleh Restoran Rice Bowl Botani Square
yaitu Visit West Java Year 2008, keamanan lingkungan Kota Bogor, pangsa
pasar semakin luas, perubahan gaya hidup masyarakat, event dan exhibition di
Botani Square, peningkatan pendapatan daerah dan daya beli masyarakat dan
perkembangan kemajuan dan inovasi teknologi. Faktor ancaman yang dihadapi
yaitu isu flu burung, kenaikan harga bahan makanan, kelangkaan bahan bakar
minyak tanah dan gas elpiji, tingkat inflasi yang berfluktuasi, persaingan dalam
industri restoran tinggi, hambatan masuk industri sangat kecil, produk substitusi
tersedia sangat banyak, dan kekuatan tawar menawar konsumen sangat tinggi.
Analisis lingkungan internal menghasilkan sejumlah faktor kekuatan dan
kelemahan yang dimiliki perusahaan. Faktor kekuatan yang dimiliki Restoran
Rice Bowl Botani Square yaitu nilai perusahaan dan konsep oriental semi
fastfood, Standar Operasional Perusahaan (SOP) yang jelas dan terarah, budaya
dan moto kerja yang unik, SDM yang berkualitas dan terlatih, keunggulan merk,
variasi menu unggulan oriental dari Hongkong Executive Chef, lokasi restoran
strategis dan mudah dijangkau, strategi penetapan harga, metode pengelolaan
barang dan bahan baku yang berkualitas dan keterjaminan modal dan sumber
keuangan. Faktor kelemahan restoran yaitu belum melakukan pengamatan dan
kajian lingkungan usaha secara optimal, belum memiliki sertifikasi halal MUI,
kegiatan promosi keluar kurang gencar dilakukan, keterbatasan kreativitas dan
kemampuan inovasi produk, pencapaian target pendapatan yang belum stabil,
layanan distribusi produk masih kurang dan pengelolaan situs website belum
optimal.
Kota Bogor merupakan salah satu daerah Propinsi Jawa Barat yang kaya
akan keanekaragaman objek wisata, baik wisata alam, budaya maupun sejarah.
Potensi pariwisata kota Bogor didukung oleh letaknya yang berada diantara
Jakarta-Bandung yang menjadikan Kota Bogor sebagai tempat transit wisatawan
asing maupun lokal. Selain itu, Bogor merupakan jalur favorit wisatawan yaitu
Jalur Puncak dengan banyak tempat wisata seperti Kebun Raya, Taman Safari,
Gunung Mas dan Taman Bunga. Kota Bogor juga berfungsi sebagai pusat
penelitian dan pengembangan sehingga banyak ditemukan museum-museum dan
bangunan bersejarah.
Peran penting sektor pariwisata ini mendorong adanya pengoptimalan
upaya pengembangan dan fungsi pariwisata Kota Bogor. Pemerintah Kota Bogor
mengeluarkan Peraturan Daerah Kota Bogor 2003-2004 Tentang Rencana
Strategis Pemerintahan Kota Bogor 2003-2008 yang bertujuan untuk
mengembangkan potensi pariwisata, seni dan budaya dan meningkatkan kualitas
dan kuantitas pelayanan kepada wisatawan secara bertahap guna meningkatkan
kunjungan wisatawan ke Kota Bogor. Industri pariwisata merupakan sektor yang
dianggap sejalan dengan Visi Kota Bogor, yaitu "Kota Jasa yang Nyaman dengan
Masyarakat Madani dan Pemerintahan Amanah".
Dukungan pemerintah dalam peningkatan daya tarik pariwisata Kota
Bogor diwujudkan dengan adanya “Visit West Java 2008”, yang merupakan upaya
pemerintah untuk mempromosikan Jawa Barat, termasuk Kota Bogor, kepada para
27
wisatawan. Pelaksanaan kegiatan ini mengacu pada upaya pemerintah negara kita
untuk meningkatkan daya tarik wisatawan untuk berkunjung ke negara kita melalui
“Visit negara kita Year 2008”.
Jumlah wisatawan yang berkunjung ke Kota Bogor, baik wisatawan
mancanegara maupun nusantara, dipengaruhi oleh stabilitas kondisi
perekonomian, politik maupun keamanan negara kita . Jumlah wisatawan yang
berkunjung ke Kota Bogor mengalami fluktuasi dari tahun ke tahun tergantung
kondisi keamanan nasional.
Terjadinya krisis moneter dan krisis multidimensi pada tahun 1997
menyebabkan kondisi negara kita sangat tidak aman untuk dikunjungi, terutama
oleh masyarakat nonpribumi. Hal ini berdampak pada penurunan jumlah
kunjungan wisatawan pada 1997-1999. Pada tahun 2000 mulai terjadi pemulihan,
dimana jumlah kunjungan wisatawan mencapai 1.828.661 orang dengan
persentase peningkatan sebesar 25,4 persen.
Pada tahun 2003, penurunan kembali terjadi akibat adanya tragedi bom
Bali pada Oktober 2003. Dampak bencana ini berpengaruh terhadap penurunan
jumlah wisatawan di seluruh wilayah negara kita , mengingat Bali merupakan
daerah tujuan wisata utama di negara kita . Bencana alam dan seringnya terjadi
kecelakaan sarana transportasi di negara kita selama tiga tahun terakhir (2005-
2007) menyebabkan menurunnya jumlah wisatawan yang berkunjung ke kota
Bogor. Akan tetapi dampaknya tidak terlalu besar karena Kota Bogor merupakan
salah satu daerah yang aman dari bencana. Penurunan ini lebih disebabkan oleh
banyaknya isu terjadinya bencana yang terjadi pada periode tersebut.
Perkembangan industri pariwisata di Kota Bogor menciptakan lingkungan
yang kondusif bagi usaha pendukungnya. Dalam kegiatannya, industri pariwisata
dibagi menjadi lima bidang pokok, yaitu hotel dan restoran, tour and travel,
transportasi, pusat wisata dan souvenir serta bidang pendidikan kepariwisataan.
Restoran merupakan salah satu usaha pendukung industri pariwisata di Kota
Bogor yang mengalami perkembangan cukup pesat.
Di daerah perkotaan, restoran telah menjadi gaya hidup yang menawarkan
pemenuhan kebutuhan pangan sekaligus kenyamanan dan rekreasi bagi
pengunjungnya. Restoran dianggap mampu memenuhi kebutuhan pangan
masyarakat perkotaan yang menyukai sesuatu yang praktis. Kesibukan masyarakat
khususnya di kota-kota besar dengan pekerjaan sehari-hari yang menyita banyak
waktu, menyebabkan mereka tidak memiliki cukup waktu untuk menyiapkan
makanan, sehingga menimbulkan kebiasaan baru yaitu makan diluar rumah
Ketersediaan sarana, prasarana dan faktor pendukung lainnya bagi
perkembangan usaha restoran di Kota Bogor berdampak nyata pada peningkatan
jumlah restoran di Kota Bogor. Pada Tabel 2 persentase pertumbuhan tertinggi
terjadi pada tahun 2002 sebesar 49,07 persen. Pada tahun 2002 kondisi
lingkungan bisnis negara kita mulai dianggap pulih dan terjamin setelah terjadinya
krisis moneter pada tahun 1997. Peningkatan terus terjadi dan hingga tahun 2006
terdapat 248 outlet restoran yang terdapat di Kota Bogor.
Pertumbuhan restoran di Kota Bogor yang semakin pesat berdampak baik
pada perekonomian Kota Bogor. Hal ini terlihat dari kontribusi subsektor restoran
pada PDRB Kota Bogor Atas Dasar Harga Konstan Tahun 2002-2006 (Tabel 3).
Tingkat pertumbuhan PDRB dari subsektor restoran meningkat dengan rata-rata
2,78 persen per tahun pada tahun 2002 hingga 2006. Walaupun demikian, perlu
adanya upaya peningkatan kualitas yang sejalan, melihat kontribusinya yang
cenderung menurun meski dalam persentase rendah. Dimana pada tahun 2002,
subsektor restoran berkontribusi sebesar 6,06 persen bagi PDRB Kota Bogor,
sedang tahun 2006 hanya sebesar 5,34 persen.
Pembangunan tempat perbelanjaan (mall) juga berdampak pada
pertumbuhan restoran di Kota Bogor. Mall merupakan salah satu bukti
modernisasi pada suatu daerah. Mall sebagai pusat perbelanjaan dengan konsep
one stop shopping memerlukan restoran sebagai salah satu komponen utamanya.
Mall merupakan tempat dimana konsumen dapat memenuhi berbagai macam
kebutuhan barang dan jasa seperti rekreasi, pakaian, makanan, barang elektronik
dan sebagainya, dengan hanya mengunjungi satu tempat saja.
Seiring dengan adanya modernisasi dan peningkatan jumlah wisatawan
yang berkunjung ke Kota Bogor, pertumbuhan restoran yang ada semakin
beragam dan bervariasi. Saat ini restoran dengan menu asing, seperti
internasional, kontinental dan oriental, mengalami perkembangan yang cukup
pesat. Daya tarik restoran dengan menu asing yaitu suasana dan atmosfer yang
dihadirkan di lokasi menyerupai negara atau daerah asal makanan tersebut.
Restoran Rice Bowl, Botani Square merupakan salah satu restoran yang
menyajikan menu oriental dengan konsep family restaurant. Rice Bowl
menawarkan konsep oriental semi fastfood dalam penyajian makanannya. Rice
Bowl merupakan pionir dalam pengembangan konsep tersebut. Pengkajian
strategi pengembangan yang tepat sangat penting bagi perusahaan, terutama
dalam menawarkan konsep atau ide baru. Strategi yang tepat akan menjadi
kekuatan Rice Bowl, Botani Square untuk memenangkan persaingan dalam bisnis
restoran di Kota Bogor.
1.2. Perumusan Masalah
Restoran Rice Bowl Botani Square berdiri pada bulan Agustus 2006, dan
merupakan satu-satunya restoran cabang yang ada di Kota Bogor. Di negara kita
saat ini terdapat 22 gerai Rice Bowl yang tersebar di wilayah Jakarta, Tangerang,
Bogor, Bandung, Surabaya, Pekanbaru dan Palembang. Pengembangan restoran
ini dikelola oleh PT. Batara Aulia Sejahtera dengan format bisnis waralaba
maupun nonwaralaba (cabang pusat). Rice Bowl Botani Square merupakan
restoran yang dikembangkan dengan format nonwaralaba, artinya restoran ini
merupakan restoran cabang pusat yang dikelola oleh owner.
Saat ini, Restoran Rice Bowl belum memiliki sertifikasi halal akan
produknya. Di negara kita , khususnya kota Bogor yang mayoritas penduduknya
beragama Islam, sertifikasi halal berperan penting sebagai jaminan keamanan
dalam mengkonsumsi makanan. Sertifikat halal juga menjamin suatu produk
diproduksi dengan cara yang beretika, sehat dan baik.
Restoran Rice Bowl juga senantiasa melakukan perubahan pada cara
penyajian menu yang ditawarkan. Porsi makanan Chinnese Food pada umumnya
terlalu banyak seringkali membatasi konsumen untuk memesan lebih dari satu
jenis makanan dan cepat merasa kenyang. Harga Chinnese Food yang cenderung
mahal juga membatasi konsumen dalam melakukan pembelian. Karena itu Rice
Bowl berusaha menawarkan menu makanan oriental dengan porsi yang pas, baik
untuk menu perorangan maupun menu keluarga.
Restoran Rice Bowl saat ini dihadapkan pada lingkungan persaingan yang
sulit. Pesaing-pesaing Rice Bowl merupakan restoran di luar Botani Square dan
yang berada di dalam Botani Square. Saat ini Restoran Rice Bowl mengalami
tantangan yang cukup berat dalam menghadapi lingkungan persaingan industri
restoran di dalam Botani Square. Tabel 4 menggambarkan peningkatan jumlah
restoran dengan beragam variasi makanan yang ditawarkan di Botani Square. Hal
ini menyebabkan kompetisi yang semakin ketat dalam merebut hati konsumen.
Persaingan yang semakin tinggi mempengaruhi jumlah konsumen yang
berkunjung ke Restoran Rice Bowl. Tabel 5 menunjukkan bahwa jumlah
pengunjung Restoran Rice Bowl Botani Square mengalami penurunan. Pada bulan
Januari 2008, jumlah pengunjung restoran mengalami penurunan sebesar 21,46
persen. Penurunan yang cukup besar di awal tahun 2008 merupakan bukti
semakin beratnya persaingan yang dihadapi oleh Rice Bowl dengan semakin
beragamnya jenis restoran yang ada di Botani Square. Pihak manajemen harus
2 Hasil pengamatan langsung di Botani Square pada tanggal 28 Februari 2008.
mampu memanfaatkan lingkungan eksternal dan internalnya untuk melakukan
langkah yang tepat dalam mengembangkan usahanya.
Di tengah persaingan yang semakin tinggi, kemampuan restoran untuk
mempertahankan tingkat pendapatannya sangatlah penting. Restoran Rice Bowl
Botani Square belum mampu mencapai target return of investment (ROI) yang
ditetapkan setiap bulannya secara konsisten dan kontinu.
Strategi pengembangan usaha dibutuhkan untuk memantapkan konsep
oriental semi fastfood yang menjadi unggulannya. Untuk mendapatkan strategi
yang tepat sesuai dengan tujuan, Rice Bowl Botani Square harus mengetahui
kekuatan dan kelemahan, peluang dan ancaman serta pola reaksi perusahaan
terhadap pesaing. Pengenalan dan pemahaman yang baik terhadap lingkunga
perusahaan diharapkan dapat meningkatkan posisi bersaing Rice Bowl Botani
Square dalam industri.
Permasalahan yang dihadapi Restoran Rice Bowl Botani Square dapat
dirumuskan sebagai berikut :
1. Strategi-strategi apa saja yang sudah dilakukan oleh perusahaan ?
2. Faktor-faktor internal dan eksternal apa saja yang mempengaruhi restoran
dalam mengembangkan usahanya ?
3. Alternatif strategi apa saja yang paling sesuai bagi perusahaan untuk
mengembangkan usahanya ?
Restoran termasuk dalam industri jasa boga yang merupakan industri yang
bergerak dalam pengelolaan makanan siap santap (Fardiaz, 1994). Restoran
yaitu suatu tempat atau bangunan yang dikelola secara komersil yang
menyelenggarakan pelayanan dengan baik kepada semua tamunya, baik berupa
makanan maupun minuman. Menurut Mangkuwerdoyo (1987), berdasarkan
Keputusan Menteri Parpostel No. KM. 95/ KH.103/ MPDT – 87, definisi restoran
yaitu suatu jenis usaha yang permanen, dilengkapi dengan peralatan dan
perlengkapan untuk proses pembuatan, penyajian dan penjualan makanan dan
minuman bagi umum di tempat usahanya.
Restoran merupakan usaha yang tidak sekedar menawarkan produk
makanan dan minuman saja, namun juga jasa pelayanan pada para
pengunjungnya. Menurut Sugiarto (1999), kebutuhan masyarakat akan jasa boga
restoran berkaitan dengan tiga hal pokok, yaitu :
1. Physical product, yaitu kebutuhan akan makanan dan minuman
2. Psychological product, mencakup sensual benefit (cuci mata dan suasana
nyaman), sense of side (kebersihan, kerapian dan kesopanan), sense of
listening (musik)
3. Customer service product, mencakup kecepatan, reservasi dan kemudahan
transaksi.
Restoran yang baik harus memiliki proporsi yang seimbang dalam
makanan dan minuman, suasana, pelayanan, restoran dan harga (Soekresno,
2000). Menurut Mukhtar (2004), keberhasilan operasional restoran dapat dilihat
dari lima hal yang disebut G - factors, yaitu :
1. Good Food (G-1)
Makanan yang disajikan kepada tamu dalam keadaan segar dan sistem
pengelolaan yang baik, penyimpanan bahan baik, peralatan dan
pelengkapan berkualitas tinggi dan higienis, cita rasa makanan baik dan
sesuai dengan selera konsumen.
2. Good Location & Parking Fasilities (G-2)
Lokasi restoran harus strategis, dimana lokasi merupakan pedoman dalam
mendirikan restoran. Luas tempat parkir juga menentukan kenyamanan
konsumen. Oleh sebab itu restoran harus mudah terlihat, mudah dijumpai,
memiliki daya tarik dengan pemilihan warna atau ornamen khusus serta
letaknya tidak terlalu jauh dari pusat keramaian.
3. Good Atmosphere (G-3)
Suasana yang nyaman dan menyenangkan perlu diciptakan melalui
penampilan interior dan eksterior yang seimbang, dekorasi yang
digunakan, pemilihan warna dan fasilitas yang lengkap, seperti toilet,
kursi dan meja yang berkualitas baik, dan table set up yang lengkap.
4. Good Reputation (G-4)
Restoran harus memiliki reputasi yang baik yang meliputi pelayanan,
pengelolaan dan prestasi yang mempengaruhi pendapat masyarakat.
5. Good Pleasant & Courteous Service (G-5)
Tata saji dilakukan dengan begitu mengesankan, menyenangkan dan
memuaskan. Pramusaji harus mampu memberikan masukan bagi tamu
mereka yang kurang memahami keinginannya dan menyajikan makanan
dengan tata saji yang berkualitas, sopan dan ramah.
2.1.2. Jenis-Jenis Restoran
Perkembangan restoran yang sangat pesat tidak hanya terlihat dari
jumlahnya (kuantitas) saja, namun juga dari semakin bervariasinya jenis restoran
yang muncul saat ini. Setiap restoran berusaha menawarkan sesuatu yang baru
untuk menarik perhatian konsumen.
Berdasarkan tingkat keorisinalannya, restoran dibedakan menjadi 10 jenis
(Torsina, 2000), yaitu :
1. Family Conventional, yaitu restoran tradisional untuk keluarga. Restoran
ini mementingkan suasana yang nyaman dan harga terjangkau
dibandingkan pelayanan dan dekorasi.
2. Fast Food, yaitu restoran cepat saji dengan keterbatasan menu, ruang dan
dekorasi namun memiliki harga terjangkau. Meraih pelanggan sebanyak-
banyaknya merupakan hal yang paling diutamakan.
3. Cafetaria, yaitu restoran yang terdapat dalam gedung kantor atau pusat
perbelanjaan. Menu yang disajikan sering berganti dan harga terjangkau.
4. Gourmet, yaitu restoran kelas tinggi yang biasanya menyediakan wines
dan liquors, standar penyajiannya tinggi dan bergengsi.
5. Etnic, yaitu restoran yang menyajikan makanan dari daerah yang spesifik.
6. Buffet, yaitu restoran dengan konsep self service, dimana pengunjung bisa
makan sepuasnya apa yang disajikan. Namun untuk bir, wine dan liquor
biasanya dilayani secara khusus.
7. Coffee Shop, yaitu restoran yang biasanya berada di perkantoran dan pusat
perbelanjaan, berfungsi sebagai tempat makan siang dan coffee break.
8. Snack bar, yaitu restoran yang hanya menyajikan makanan ringan yang
memiliki konsep eat in (makan di tempat) dan take out (dibawa pulang).
9. Drive-in, yaitu restoran yang menyediakan layanan bagi para konsumen
untuk makan di mobil masing-masing. Makanan dikemas dengan praktis.
10. Speciality Restaurant, yaitu restoran yang letaknya jauh dari keramaian,
namun masakannya unik dan berkualitas.
2.1.3. Pelayanan Restoran
Restoran merupakan industri jasa boga yang mengutamakan pelayanan
yang baik dan memuaskan konsumennya. Pelayanan restoran menggambarkan
bagaimana sistem dan cara penyajian makanan dan minuman pada konsumen.
Model layanan yang diterapkan oleh tiap restoran berbeda-beda tergantung pada :
1. Kelompok tamu yang diharapkan akan datang ke restoran, baik kelompok
kebangsaannya, profesi ataupun status sosialnya
2. Jenis makanan yang akan ditawarkan serta harga yang akan ditetapkan
3. Spesifikasi jenis restoran yang akan dioperasikan.
Mukhtar (2004) mengklasifikasikan sistematika pelayanan di sebuah
restoran dapat dibedakan dalam empat kategori penyajian, yaitu :
1. Table Service, merupakan sebuah sistem penyajian pelayanan makanan di atas
meja yang disajikan oleh waiter atau waitress. Penyajian table service dapat
dibedakan atas empat jenis, yaitu :
a. American Service, yaitu sistem pelayanan yang bersifat sederhana, tidak
resmi, cepat dan persiapan porsi makanan dilakukan di dapur. Disebut
juga dengan ready plate service atau quick service. Penggunaannya
diterapkan di coffee shop, cafetaria dan sebagainya.
b. English Service (family style service), yaitu sistem pelayanan di mana
makanan datang dari dapur, diletakkan diatas platter yang besar dan
dioperasikan dari tamu yang satu ke tamu yang lainnya. Selain itu, platter
juga dapat diletakkan di tengah meja, sehingga tamu mengambil sendiri
makanan tersebut.
c. Russian Service (Platter Service), yaitu makanan dibawa dengan
memakai platter dan dipindahkan ke piring tamu dengan
memakai sepasang sendok dan garpu service yang disebut dengan
Clamp. Biasanya diterapkan pada restoran utama, seperti Grill Room,
Dining Room, Super Restaurant dan jamuan-jamuan yang bersifat resmi.
d. French Service (Gueridon Service), yaitu pelayanan yang biasanya
dilakukan dalam jamuan resmi. Pelayanan dilaksanakan oleh dua orang
pramusaji yang bertugas sebagai Chef de Rang (captain) dan Commis de
Rang (waiter) serta memakai alat bantu, yakni gueridon atau meja
atau kereta dorong.
e. Counter Service, merupakan suatu teknik pelayanan dengan penyajian
makanan dan minuman diletakkan di atas counter. Counter yaitu meja
panjang yang membatasi ruang restoran dengan ruang dapur.
2. Self Service (Buffet Service), yaitu suatu sistem pelayanan dimana pengunjung
dapat mengambil langsung makanan yang diinginkannya yang telah tersedia
di meja buffet, sedang untuk minuman panas biasanya disajikan oleh
pelayan.
3. Carry Out Service (Take Out Service), satu sistem pelayanan dimana
pengunjung datang untuk membeli makanan yang telah disiapkan
sebelumnya, kemudian dibungkus dalam kotak dan dibawa pulang oleh
pengunjung untuk dimakan di luar restoran. Pengunjung tidak makan di
tempat atau dalam ruang restoran
2.2. Masakan Oriental (Oriental Food)
Kata “oriental” berasal dari bahasa Latin yaitu “oriens” yang artinya east
(timur). Oriental food berarti makanan atau menu makanan yang berasal dari
daerah timur (Asia). Kawasan oriental terbagi atas Asia Tenggara (ASEAN), Asia
Tengah (India dan Timur Tengah) serta Asia Timur (Cina, Jepang, Korea).
Namun dalam perkembangan industri boga, oriental food lebih identik dengan
masakan Asia Timur dan sebagian Asia Tenggara (Vietnam, Thailand,
Singapura). Penyajian oriental food biasanya langsung pada menu utama (tanpa
makanan pembuka atau penutup). Berbeda dengan kontinental food yang disajikan
lengkap mulai appetizer (makanan pembuka), main dish (makanan utama) dan
dessert (makanan penutup).
Oriental food dapat diklasifikasikan menjadi lima kelompok berdasarkan
negara asalnya3, yaitu :
1. Japanese Cuisine, merupakan masakan yang memiliki kadar lemak rendah
karena biasanya diolah dengan metode kukus, rebus ataupun setengah matang.
Masakan Jepang baik dikonsumsi oleh orang yang sedang melakukan diet.
Japanese food yang paling sering dikonsumsi yaitu noodle (mie), sushi,
sashimi, tempura, yakitori dan shabu-shabu.
2. Singapore Cuisine, merupakan gabungan antara citarasa masakan Cina, India,
negara kita dan Malaysia. Keunikan masakan Singapura yaitu penggabungan
citarasa Asia Timur dan Asia Tenggara (Melayu), sehingga sering disebut
Southern Chinese Cuisine.
3. Thailand Cuisine, merupakan masakan yang banyak memakai ikan,
seafood dan tumbuh-tumbuhan. Hal ini dipengaruhi oleh mayoritas
penduduknya beragama Budha, sehingga mayoritas penduduknya pantang
mengkonsumsi daging. Pengolahan masakan Thailand masih dilakukan secara
tradisional dan identik dengan citarasa pedas, asam dan manis.
4. Vietnam Cuisine, merupakan kombinasi antara citarasa Asia dan Perancis. Sup
merupakan budaya masakan Vietnam yang mirip dengan budaya Perancis.
Masakan Vietnam memakai sedikit minyak, banyak memakai
seafood dan pengolahan biasanya dengan metode pemanggangan (stir-fry).
5. Chinese Cuisine, merupakan masakan yang berasal dari negara Cina, dapat
dibagi menurut regionalnya, yaitu :
a. Beijing Cuisine ( Northern Chinese Food), merupakan masakan bangsa
Mongolia dan Henan yang kaya akan gandum, roti dan daging bebek
b. Cantonese Cuisine, merupakan masakan yang mengandung sangat sedikit
minyak dan kaya akan bahan masakan seperti daging, ikan, tumbuhan.
c. Sichuan Cuisine, merupakan masakan dengan citarasa pedas
d. Huaiyang Cuisine, merupakan masakan dengan metode steam cooking
Lidia (2001) dalam penelitian yang berjudul “Evaluasi Pelaksanaan Pola
Waralaba dan Strategi Pengembangan Usaha Makanan Siap Saji (Fastfood) di CV
X”, melakukan analisa kuantitatif dan kualitatif untuk memberikan alternatif
strategi pengembangan bagi CV X. Analisis kuantitatif yang dilakukan berupa
analisa profitabilitas, matriks IFE dan matriks EFE. sedang analisis kualitatif
berupa analisa pelaksanaan pola waralaba, dampak pola waralaba dan perumusan
strategi alternatif dengan metode SWOT. Berdasarkan hasil analisis yang
dilakukan, CV X berada pada kondisi persaingan yang sangat sulit, sehingga
strategi yang dipilih yaitu strategi kombinasi, yaitu penggabungan strategi W-O
dengan strategi lain untuk meningkatkan kemampuan bersaing. Adapun strategi
yang menjadi prioritas yaitu peningkatan pengembangan karyawan, pemberian
kepercayaan pada pewaralaba dan pembelian peralatan produksi.
Rudianto (2002) dalam penelitian yang berjudul “ Strategi Pemasaran
Restoran Berbasis Preferensi Konsumen (Studi Kasus Restoran Larisa, Bogor),
melakukan analisis matriks SWOT dengan menganalisa variabel kekuatan,
kelemahan, peluang dan ancaman yang mempengaruhi restoran. Hasil penelitian
menunjukkan bahwa Restoran Larisa berada pada pertemuan antara isu strategis
kekuatan dan peluang. Pada kondisi ini peneliti merekomendasikan strategi
progresif atau strategi yang berorientasi kepada pertumbuhan melalui peningkatan
kapasitas produksi, pengembangan produk dan pasar. Dalam penelitian ini tidak
digunakan matriks IE dan QSPM sehingga tidak dapat diketahui secara mendalam
posisi internal dan eksternal restoran, serta prioritas strategi yang akan dipilih
untuk pengembangan restoran.
Desiranita (2004) dalam penelitian yang berjudul “Strategi Pengembangan
Bisnis Kecil pada Rumah Makan Saung Kiray” mengemukakan bahwa rumah
makan tradisional Sunda yang dikelola secara kekeluargaan ini mengalami
keterbatasan jumlah karyawan (SDM) serta sistem pengelolaan usaha yang masih
sangat sederhana. RM Saung Kiray memiliki karyawan sebanyak enam orang,
struktur organisasinya masih abstrak dan belum jelas, serta sistem pencatatan
keuangan yang masih sederhana. Dalam memberikan kenyamanan pada
pengunjung, RM Saung Kiray menyediakan perpustakaan mini sebagai fasilitas.
Analisis alternatif strategi pengembangan usaha dilakukan dengan analisis matriks
IFE, EFE, IE, SWOT dan QSPM. Melalui analisis faktor eksternal dan internal
yang digambarkan dalam matriks IE, terlihat bahwa posisi usaha ini berada pada
tahap hold and maintain dengan strategi alternatif berupa strategi penetrasi dan
pengembangan. Melalui analisis QSPM, alternatif strategi yang menjadi prioritas
yaitu meningkatkan usaha promosi melalui pemasangan spanduk di lokasi
strategis.
Luna (2005) dalam penelitian yang berjudul “Analisis Strategi Pemasaran
Restoran dengan Metode SWOT (Studi Kasus Restoran Raffles, Megamendung
Bogor) melakukan analisa faktor internal dan eksternal perusahaan serta
perumusan strategi dengan metode SWOT. Dalam penelitian ini dilakukan
pengujian kuesioner bagi para konsumen untuk mengetahui apa yang diinginkan
konsumen dari restoran Raffles.
Fahrurozhi (2006) dalam penelitian yang berjudul “Strategi
Pengembangan Usaha Industri Kecil Tape Bondowoso di Kabupaten Bondowoso”
menganalisa faktor eksternal dan internal serta posisi perusahaan dengan metode
matriks IE dan SWOT . sedang untuk penetapan alternatif prioritas strategi
pengembangan memakai metode Analitycal Hierarcy Process (AHP).
Prioritas alternatif strategi yang disarankan yaitu : (1)meningkatkan mutu dan
kualitas pelayanan pada konsumen; (2) meningkatkan nilai tambah dan kualitas
produk; (3) memperluas daerah pemasaran; (4) melakukan pengembangan dan
diferensiasi produk; (5) melakukan kegiatan promosi; (6) meningkatkan kualitas
SDM, manajerial dan teknologi; (7) mengoptimalkan volume produksi perusahaan
dan (8) melakukan efisiensi biaya.
Secara umum, penelitian ini memiliki tujuan yang hampir sama dengan
penelitian-penelitian terdahulu, yaitu mengidentifikasi faktor-faktor eksternal dan
internal yang mempengaruhi perkembangan restoran dan menganalisa alternatif
strategi yang tepat bagi pengembangan usaha restoran. Perbedaan penelitian ini
dengan penelitian terdahulu yaitu lokasi dan konsep restoran yang menjadi objek
penelitian. Dalam hal ini restoran yang menjadi objek penelitian yaitu Restoran
Rice Bowl yang memiliki konsep oriental semi fastfood. Selain itu lokasi restoran
yang berada di dalam sebuah pusat perbelanjaan terbesar di kota Bogor, yaitu
Botani Square, juga mempengaruhi analisa alternatif strategi pengembangan yang
tepat bagi restoran.
No Judul Penelitian Tujuan Metode dan Alat Analisis
1. Lidia
(2001)
Evaluasi Pelaksanaan Pola Waralaba dan
Strategi Pengembangan Usaha Makanan
Siap Saji (Fastfood) di CV X
1. Mempelajari mekanisme dan
mengevaluasi pelaksanaan pola waralaba
pada usaha makanan siap saji
2. Mengidentifikasi faktor internal dan
eksternal
3. Merumuskan strategi pengembangan
usaha makanan siap saji CV X
(a) Analisa kuantitatif, berupa analisa profitabilitas,
matriks IFE dan matriks EFE, (b) Analisa kualitatif,
berupa analisa pelaksanaan pola waralaba, dampak
pola waralaba dan perumusan strategi alternatif
dengan metode SWOT
2. Desiranita
(2004)
Strategi Pengembangan Bisnis Kecil
pada Rumah Makan Saung Kiray
1.Menganalisis faktor eksternal dan
internal yang mempengaruhi
2.Memilih strategi pengembangan yang
sesuai dengan kondisi rumah makan
Saung Kiray
Identifikasi faktor internal dan eksternal, analisis
matriks IFE dan EFE, matriks IE, matriks SWOT,
dan QSPM
3. Luna (2005) Analisis Strategi Pemasaran Restoran
dengan Metode SWOT (Studi Kasus
Restoran Raffles, Megamendung Bogor)
Merumuskan strategi pemasaran bagi
Rstoran Raffles dalam rangka
mempertahankan dan meningkatkan
posisinya agar dapat bersaing dengan
jasa boga lainnya
1. Brainstorming melalui Focus Group Discussion
(FGD) untuk menentukan atribut penilaian restoran
oleh konsumen
2. Matriks IFE, EFE dan SWOT
4. Fahrurozhi
(2006)
Strategi Pengembangan Usaha Industri
Kecil Tape Bondowoso di Kabupaten
Bondowoso
Merumuskan alternatif strategi
pengembangan yang sesuai bagi industri
kecil Tape Bondowoso
Analisis matriks IE dan matriks SWOT serta analisis
prioritas strategi dengan Analytical Hierarcy Process
(AHP)
Strategi berasal dari bahasa Yunani yaitu “strategos” yang berasal dari
kata “stratos” yang berarti militer dan “ag” yang berarti memimpin. Kata strategi
pada awalnya merupakan istilah dalam bidang kemiliteran bukan manajemen.
Istilah strategi dalam bidang manajemen pertama kali diperkenalkan oleh Drucker
(1955) yang didefinisikan sebagai semua keputusan pada sasaran bisnis dan pada
cara untuk mencapai sasaran tersebut.
Secara umum, strategi dapat diartikan sebagai “sekumpulan pilihan kritis
untuk perencanaan dan penerapan serangkaian rencana tindakan dan alokasi
sumberdaya yang penting dalam mencapai tujuan dan sasaran, dengan
memperhatikan keunggulan kompetitif, komparatif, dan sinergis ideal
berkelanjutan sebagai arah, cakupan dan perspektif jangka panjang keseluruhan
yang ideal dari individu atau organisasi” (Triton,2007).
Manajemen strategis merupakan kumpulan keputusan dan tindakan yang
menghasilkan perumusan dan penerapan strategi yang didesain untuk mencapai
sasaran organisasi (Pearce dan Robinson, 1988). Menurut Nawawi (2003),
manajemen strategi merupakan perencanaan strategi yang berorientasi pada
jangkauan masa depan yang jauh (visi), dan ditetapkan sebagai keputusan
pimpinan tertinggi (keputusan yang bersifat mendasar dan prinsipil), agar
memungkinkan organisasi berinteraksi secara efektif (misi), dalam usaha
menghasilkan sesuatu (perencanaan operasional untuk menghasilkan barang
dan/atau jasa serta pelayanan) yang berkualitas, dengan diarahkan pada
optimalisasi pencapaian tujuan (tujuan strategis) dan berbagai sasaran organisasi.
Kajian manajemen strategis yang baik akan menghasilkan keputusan
strategis. Perbedaan keputusan strategis dengan keputusan-keputusan biasa yaitu
keputusan strategis senantiasa diletakkan dalam kerangka masa mendatang
dengan jangka waktu yang panjang untuk keberhasilan secara menyeluruh dari
organisasi maupun perusahaan (Triton, 2007).
Pengambilan keputusan strategis tidak dapat dilakukan dengan hanya
mengandalkan intuisi saja, melainkan dibutuhkan analisis mendalam dan terarah,
sehingga keputusan yang akan dilakukan benar-benar sesuai kebutuhan
perusahaan. Menurut Hickson, et.al (1986) keputusan strategis memiliki tiga
karakteristik, yaitu :
1. Rare, yaitu keputusan-keputusan strategis yang tidak biasa, khusus dan
tidak dapat ditiru
2. Consequential, yaitu keputusan-keputusan strategis yang memasukkan
sumberdaya penting dan menuntut banyak komitmen
3. Directive, yaitu keputusan-keputusan strategis yang menetapkan keputusan
yang dapat ditiru untuk keputusan-keputusan lain dan tindakan-tindakan
yang diperlukan di masa yang akan datang untuk keseluruhan organisasi.
Manajemen strategis membantu suatu perusahan atau organisasi untuk
memformulasikan strategi yang lebih baik dengan memakai pendekatan yang
lebih sistematik, logis dan rasional untuk pilihan strategis
Proses manajemen strategis lebih mengutamakan pendekatan proaktif
daripada pendekatan reaktif dalam pengambilan keputusan. Proses ini
menggambarkan pendekatan yang logis, sistematis dan objektif untuk menetapkan
arah masa depan perusahaan (David, 1998).
Model Komprehensif Manajemen Strategis pada Gambar 1
menggambarkan tahapan proses yang dilakukan dalam pengkajian manajemen
strategis. Tahapan yang dimaksud meliputi formulasi, implementasi dan evaluasi
strategi. Pada kenyataannya, proses yang berjalan tidak akan memiliki alur kaku
melainkan akan terjadi perubahan-perubahan yang dipengaruhi faktor internal dan
eksternal perusahaan. Semakin fleksibel dan adaptif proses manajemen strategis
yang dilakukan perusahaan maka semakin baik pula daya saing perusahaan di
dalam industri.
Formulasi strategi merupakan suatu tahapan untuk menentukan aktivitas-
aktivitas yang berhubungan dengan pencapaian tujuan atau disebut juga tahapan
perumusan strategi. Aktivitas-aktivitas yang dimaksud meliputi : (1)
pengembangan misi perusahaan; (2) mengenali peluang dan ancaman eksternal
perusahaan; (3) menetapkan kekuatan dan kelemahan internal; (4) menetapkan
objektif jangka panjang; (5) menetapkan strategi pokok yang perlu
diimplementasikan
Visi yaitu suatu pandangan yang jauh tentang perusahaan dan tujuan
perusahaan dan apa yang harus dilakukan untuk mencapai tujuan tersebut
(Dirgantoro, 2001). Pernyataan visi menjawab pertanyaan “Apa yang ingin kita
capai?”. Visi menggambarkan cita-cita perusahaan ke depan dan mengarahkan
misi perusahaan.
Misi yaitu pernyataan jangka panjang mengenai tujuan yang
membedakan suatu bisnis dari usaha lain yang serupa. Pernyataan misi menjawab
pertanyaan “Apa bisnis kita?”. Misi dijadikan sebagai standar dan pedoman dalam
melaksanakan kegiatan operasional perusahaan dalam mencapai tujuan organisasi.
Tujuan merupakan pusat dari kegiatan perusahaan yang digunakan sebagai
penilai prestasi perusahaan. Tujuan berperan penting dalam perumusan dan
implementasi strategi perusahaan, karena itu manajemen puncak haru mampu
merumuskan, melembagakan, mengkombinasikan dan menguatkan tujuan
perusahaan melalui perusahaan.
Lingkungan eksternal terdiri dari komponen atau variabel lingkungan
yang berada atau berasal dari luar perusahaan. Komponen tersebut berada di luar
jangkauan organisasi dan kendali perusahaan, sehingga perusahaan tidak dapat
melakukan intervensi serta diperlukan tingkat adaptasi yang tinggi terhadapnya.
Lingkungan eksternal dapat dibagi dalam dua kelompok, yaitu :
1. Lingkungan Umum
Lingkungan umum merupakan lingkungan jauh dari perusahaan dalam
tingkatan operasi perusahaan. Lingkungan umum dipengaruhi oleh faktor politik
dan hukum, ekonomi, sosial dan teknologi. Faktor-faktor ini dipengaruhi oleh
variabel-variabel yang dapat menjadi peluang maupun ancaman bagi perusahaan.
Faktor-faktor yang mungkin mempengaruhi lingkungan eksternal perusahan
2. Lingkungan Industri
Lingkungan industri merupakan tingkatan lingkungan eksternal perusahan
yang memiliki implikasi relatif lebih spesifik dan langsung terhadap operasional
perusahaan. Analisis lingkungan industri diperlukan dalam penentuan posisi
bertahan terbaik bagi suatu perusahaan dan lingkungannya.
Perumusan strategi bersaing menghubungkan perusahaan dan
lingkungannya. Lingkungan industri terdiri dari hambatan masuk, kekuatan
pembeli, ketersediaan substitusi dan persaingan antar perusahaan. Analisis
lingkungan industri dilakukan berdasarkan konsep Porter’s Competitive Strategy
atau Lima Kekuatan Bersaing
Michael Porter mengidentifikasi lima kekuatan yang menentukan struktur
persaingan dalam industri yang dihadapi perusahaan, yaitu :
1. Pesaing-pesaing industri
Persaingan yang tajam merupakan akibat dari sejumlah faktor struktural
yang saling berinteraksi, yaitu :
Pendatang baru potensial
(Ancaman mobilitas)
Pengganti/Substitusi
(Ancaman Substitusi)
Pembeli
(Kekuatan
Pembeli)
Pesaing-pesaing industri
(Rival segmen)
Pemasok
(Kekuatan
Pemasok)
a. Perkembangan industri, yang akan mempengaruhi tingkat persaingan
dalam merebut pasar
b. Biaya peralihan atau diferensiasi produk
c. Penambahan kapasitas dalam jumlah besar
d. Keragaman dan jumlah pesaing akan menciptakan perbedaan dalam tujuan
dan strategi masing-masing perusahaan
e. Hambatan penghalang keluar yang membuat perusahaan tetap bersaing
dalam bisnis, seperti faktor ekonomis, strategi dan emosional.
2. Ancaman pendatang baru potensial
Kemungkinan masuknya pendatang baru dalam suatu industri dipengaruhi
oleh hambatan memasuki industri dan reaksi dari perusahaan yang sudah ada.
Ada beberapa faktor yang menjadi hambatan memasuki industri, yaitu :
a. Skala ekonomi, yaitu skala yang menggambarkan turunnya biaya satuan
suatu produk apabila volume absolut per periode meningkat
b. Diferensiasi produk, merupakan perusahaan tertentu memiliki identifikasi
merk dan kesetiaan pelanggan
c. Kebutuhan modal, yaitu kebutuhan menanam sumberdaya keuangan
d. Biaya beralih ke pemasok (switching costs), yaitu biaya satu kali (one time
cost) yang harus dikeluarkan pembeli apabila pindah berlangganan dari
produk pemaasok tertentu ke produk pemasok lainnya
e. Akses ke saluran distribusi, yaitu kebutuhan pendatang baru untuk
mengamankan distribusi produknya
f. Biaya tak menguntungkan terlepas dari skala, yaitu beberapa faktor di luar
skala ekonomi pendatang baru seperti : teknologi produk milik sendiri,
penguasaan yang menguntungkan atas bahan baku, lokasi, subsidi
pemerintah, kurva belajar atau pengalaman.
3. Ancaman produk pengganti atau subsitusi
Ancaman produk pengganti dapat berupa harga dari produk pengganti
yang lebih murah, biaya peralihan kepada produk pengganti rendah dan
kecondongan pembeli untuk mencoba produk pengganti
4. Kekuatan tawar-menawar pembeli
Pembeli selalu menginginkan produk berkualitas tinggi, pelayanan yang
baik dan harga yang murah. Kekuatan tawar menawar pembeli akan
meningkat dalam situasi : keterbatasan jumlah pembeli, adanya substitusi,
biaya peralihan rendah, lokasi penjualan mudah dijangkau dan informasi
pembeli mudah dijangkau.
5. Kekuatan tawar-menawar pemasok
Pemasok mempengaruhi tingkat laba yang akan diperoleh perusahaan.
Pemasok memiliki tawar menawar yang kuat apabila menguasai diferensiasi
bahan pasokan, konsentrasi pemasok, kepentingan pelanggan lebih tinggi dan
volume pembelian dikuasai pemasok.
Lingkungan internal perusahaan terdiri dari kekuatan maupun kelemahan
yang dimiliki oleh perusahaan. Kedua faktor intern ini pasti dimiliki oleh tiap
organisasi atau perusahaan. Lingkungan internal mencakup seluruh komponen
yang terdapat dalam perusahaan dan dapat dikendalikan oleh perusahaan.
Pemahaman yang baik akan lingkungan internal perusahaan akan sangat
membantu dalam proses perencanaan strategi yang dibutuhkan.
Menurut David (2004), bidang fungsional yang menjadi variabel dalam
analisis internal yaitu :
1. Fungsi Manajemen, dilakukan dan diterapkan pada struktur organisasi
perusahaan secara keseluruhan, mencakup lima aktivitas dasar yaitu
perencanaan, pengorganisasian, pemberian motivasi, pengelolaan staf serta
pengendalian/kontrol.
2. Fungsi Pemasaran, yaitu proses mengidentifikasi, mengantisipasi,
menciptakan serta memenuhi kebutuhan pelanggan akan barang atau jasa,
mencakup tujuh fungsi dasar yaitu analisis pelanggan, penjualan produk/jasa,
perencanaan produk/jasa, penetapan harga, distribusi, riset pemasaran dana
analisis peluang.
3. Fungsi Keuangan, merupakan indikator terbaik posisi kompetitif dan daya
tarik perusahaan. Hal ini apat dilihat dari rasio keuangan perusahaan yang
mencakup rasio likuiditas, leverage, aktivitas, profitabilitas dan pertumbuhan.
4. Fungsi Produksi/Operasi, terdiri dari seluruh aktivitas yang mengubah input
menjadi barang atau jasa, mencakup lima fungsi dasar yaitu proses, kapasitas,
persediaan, tenaga kerja dan kualitas.
5. Fungsi Penelitian dan Pengembangan (Litbang), terdiri dari aktivitas yang
dilakukan untuk meningkatkan kemampuan kompetitif perusahaan, biasanya
diarahkan pada produk-produk baru.
6. Fungsi Sistem Informasi Manajemen (SIM), berguna untuk memperbaiki
kinerja perusahaan melalui perbaikan kualitas keputusan manajerial. SIM
berisi database catatan penting yang sangat berguna bagi perusahaan.
Matriks IE merupakan salah satu parameter yang meliputi kekuatan
internal dan pengaruh eksternal perusahaan untuk merumuskan alternatif strategi.
Matriks IE menggambarkan posisi perusahaan sehingga alternatif strategi yang
diusulkan sesuai dengan kondisi perusahaan. Matriks IE diperoleh melalui matriks
External Factor Evaluation (EFE) dan Internal Factor Evaluation (IFE). Matriks
IE sangat baik digunakan untuk merumuskan alternatif strategi karena tiap divisi
dalam perusahaan akan dianalisis secara detail.
Matriks IE merupakan gabungan matriks EFE dan IFE yang terdiri dari
sembilan macam sel yang memperlihatkan kombinasi total nilai terbobot dari
matriks EFE dan IFE. Matriks IE dibagi menjadi tiga daerah utama yang memiliki
implikasi strategi berbeda yaitu tumbuh-bina (growth and build), pertahankan-
pelihara (hold and maintain) serta panen atau divestasi (harvest or divest).
Analisis SWOT (Strength, Weakness, Opportunity, Threat) sangat berguna
dalam proses pembuatan keputusan strategis dalam berbagai situasi bisnis.
Analisis SWOT didasarkan pada logika yang dapat memaksimalkan kekuatan dan
peluang, tetapi secara bersamaan dapat meminimalkan kelemahan dan ancaman
(Rangkuti, 2000). Walaupun cenderung sederhana dan bersifat langsung dalam
penggunaannya, namun dapat menyajikan suatu analisis yang komprehensif dan
akurat tentang usaha yang dilaksanakan (Sulastiyono, 1999). Analisis ini
menyediakan kerangka yang baik dalam menggambarkan strategi, posisi dan arah
perusahaan.
Kekuatan merupakan keunggulan yang dimiliki perusahaan yang dapat
membuka peluang yang lebih luas bagi perusahaan untuk upaya pengembangan.
Kelemahan merupakan setiap kekurangan yang terdapat dalam sumberdaya
maupun keahlian yang dimiliki perusahaan.
Peluang atau kesempatan merupakan peristiwa-peristiwa di lingkungan
luar yang memungkinkan perusahaan untuk mendapatkan keuntungan. Ancaman
merupakan bahaya atau masalah yang dapat menghancurkan kedudukan
perusahaan. Sesuatu yang menjadi peluang bagi sebuah perusahaan dapat menjadi
ancaman bagi perusahaan lain, begitu juga sebaliknya.
Matriks Perencanaan Strategis Kuantitatif atau Quantitative Strategic
Planning Matrix (QSPM) merupakan suatu alat untuk melakukan evaluasi pilihan
alternatif secara objektif, menetapkan daya tarik relatif dari tindakan alternatif
yang layak dan memutuskan strategi mana yang terbaik. Matriks QSPM mampu
mengintegrasikan faktor internal dan eksternal yang relevan terhadap proses
keputusan.
Dalam beberapa hal, QSPM memiliki beberapa kelebihan dan kekurangan,
yaitu : (1) strategi dapat diperiksa secara berurutan atau bersamaan; (2) tidak ada
batas jumlah strategi yang dapat diperiksa atau dievaluasi; (3) membutuhkan
ketelitian dalam memadukan faktor-faktor eksternal dan internal yang terkait
dalam proses keputusan.
Dalam menjalankan kegiatan usahanya, Restoran Rice Bowl Botani
Square dihadapkan pada berbagai masalah baik internal maupun ekternal yang
berdampak pada biaya produksi dan penerimaan penjualan. Akan tetapi, restoran
ini juga memiliki peluang dan keunggulan yang dapat digunakan untuk
menghadapi masalah yang ada. Oleh karena itu, perlu dilakukan penyusunan
strategi dan tindakan nyata untuk menghadapi situasi tersebut dengan alat analisis
dan teori yang tepat dan sesuai.
Proses perumusan strategi pengembangan diawali dengan penetapan visi,
misi dan tujuan Restoran Rice Bowl. Pengenalan akan visi, misi dan tujuan
perusahaan akan membantu fokus dalam mengarahkan proses analisis pada
pencapaian tujuan akhir.
Tahap analisis selanjutnya yaitu mengidentifikasi permasalahan yang
dihadapi restoran saat ini, kemudian dilakukan analisis lingkungan eksternal dan
internal yang dimiliki oleh restoran dalam mencapai tujuannya. Analisis eksternal
mencakup lingkungan politik, ekonomi, sosial budaya dan teknologi. Analisis
lingkungan industri dilakukan dengan model lima kekuatan Porter. Analisis
lingkungan internal mencakup bidang fungsional perusahaan, yaitu manajemen,
pemasaran, produksi/operasi, keuangan, penelitian dan pengembangan serta
sumberdaya manusia.
Variabel-variabel eksternal dan internal yang telah dianalisis kemudian
akan dijabarkan dalam matriks EFE dan IFE. Total skor kedua matriks tersebut
dipadukan ke dalam matriks IE untuk mengetahui posisi perusahaan. Kemudian
dengan memakai analisis SWOT akan diperoleh alternatif-alternatif strategi
bagi pengembangan bisnis restoran.
Tahap terakhir yaitu pengambilan keputusan alternatif strategi yang
paling tepat bagi Restoran Rice Bowl yang sesuai dengan kondisi internal
perusahaan dengan memakai alat analisis QSPM. Hasil yang diperoleh
melalui QSPM akan menghasilkan urutan prioritas strategi-strategi pengembangan
yang dapat dilakukan Restoran Rice Bowl.
GAMBARAN UMUM PERUSAHAAN
PT Batara Aulia Sejahtera merupakan perusahaan yang bergerak dalam
bidang restoran yang mengelola Restoran Rice Bowl. Restoran Rice Bowl berada
dibawah naungan PT Rice Bowl negara kita (PT RBI) yang berdiri pada tahun
2002, dan merupakan usaha restoran milik lokal yang dikembangkan dengan
sistem pengelolaan owner (ditangani langsung oleh pusat). Hingga saat ini
terdapat 22 gerai Rice Bowl di seluruh negara kita yang tersebar di Jakarta,
Tangerang, Bogor, Bandung, Surabaya, Pekanbaru dan Palembang. Restoran Rice
Bowl yang dikelola secara waralaba dimulai pada tahun 2004 dengan jumlah
sembilan gerai hingga saat ini, sedang sisanya dikelola langsung oleh PT RBI
(owner).
Restoran Rice Bowl merupakan pionir restoran dengan konsep oriental
semi fastfood. Konsep ini diadopsi dari sebuah restoran oriental di Amerika
Serikat, yaitu Panda Express yang telah sukses memiliki 500 outlet. Minat
masyarakat negara kita terhadap makanan oriental dan kesibukan masyarakat
perkotaan yang semakin tinggi merupakan peluang besar yang mendorong
munculnya konsep oriental semi fastfood di negara kita . Ide inilah yang mendorong
Bapak Santo, Presiden Direktur PT Batara Aulia Sejahtera untuk mendirikan PT
RBI.
Restoran Rice Bowl Botani Square merupakan satu-satunya restoran
cabang
Bogor yang dikelola secara langsung oleh PT RBI. Restoran ini didirikan
46
pada bulan Agustus 2006, bersamaan dengan didirikannya Botani Square.
Restoran ini dipimpin oleh seorang store manager yang bernama Bapak Irpan
Dodi.
Dalam melakukan kegiatan usahanya, pihak manajemen Rice Bowl Botani
Square bertanggung jawab penuh pada PT RBI. Pihak manajemen Rice Bowl
Botani Square berhak melakukan upaya-upaya pengembangan bagi
perusahaannya dengan adanya persetujuan dari pusat dan sesuai dengan standar
operasional perusahaan (SOP).
5.2. Visi, Misi dan Nilai Perusahaan
Rice Bowl berpedoman pada visi dan misi yang telah ditetapkan dalam
menentukan arah dan tujuan kegiatan bisnis perusahaan. Visi restoran ini yaitu
“Menjadi Restoran Keluarga yang Terkenal dan Terbaik di negara kita ”, dan
misinya yaitu “Rice Bowl mempunyai komitmen untuk menyajikan masakan
dengan kualitas dan citarasa tinggi, mutu pelayanan yang memuaskan dan
lingkungan yang menyenangkan”.
Restoran Rice Bowl memiliki nilai-nilai yang menjadi dasar perilaku
perusahaan dalam menjalankan usahanya. Nilai-nilai ini sangat dipegang teguh
oleh seluruh tim manajemen dan karyawan restoran, yaitu : (1) Sense of belonging
(rasa memiliki); (2) Sense of Responsible (rasa tanggung jawab); (3) Openness
(keterbukaan); (4) Team work (kerjasama); (5) Human relation (supel dan
familiar); dan (6) Trust (dapat dipercaya).
Kemampuan Restoran Rice Bowl dalam menggerakkan usahanya
dikarenakan adanya komitmen tinggi pada visi, misi dan nilai-nilai perusahaan.
Ketekunan dan kerja keras telah membawa Rice Bowl menjadi salah satu bisnis
restoran yang paling menguntungkan di negara kita . Pada tahun 2006, PT. RBI
meraih penghargaan “Prospective Franchise & Business Concept 2006” dari
Majalah Info Franchise negara kita . Konsistensi dan fokus yang dimiliki
perusahaan yaitu hal yang utama dalam memperoleh kepercayaan konsumen.
5.3. Konsep Oriental Semi Fastfood
Restoran Rice Bowl merupakan pionir restoran dengan konsep oriental
semi fastfood. Nama Rice Bowl memiliki arti „mangkuk nasi‟ yang membawa
pesan yang jelas pada konsumen, bahwa Restoran Rice Bowl merupakan restoran
keluarga yang mayoritas menunya yaitu masakan oriental dan dapat dipesan
dengan penyajian dalam mangkuk yang khas.
Pengembangan usaha Restoran Rice Bowl sebagian besar berada di mall-
mall. Hal ini sengaja dikembangkan untuk mendukung konsep oriental
semifastfood tersebut, dimana mall dan restoran saat ini telah menjadi gaya hidup
masyarakat modern dalam memenuhi kebutuhannya.
Konsep oriental semi fastfood ala Rice Bowl berbeda dengan makanan
fastfood lainnya. Makanan hanya dimasak setelah ada pesanan konsumen,
sehingga makanan masih dalam keadaan baru matang dan fresh. Selain itu
penyajian makanan dilakukan dalam waktu kurang dari 20 menit. Konsep oriental
semi fastfood ini juga menyajikan makanan yang lebih sehat daripada American
fastfood (junk food) pada umumnya, karena rendah lemak dan kalori serta
mengandung banyak sayuran.
Restoran Rice Bowl Botani Square terletak di pusat perbelanjaan terbesar
di Kota Bogor yaitu Botani Square. Botani Square terletak di Baranangsiang, yang
merupakan pusat kota Bogor sekaligus pintu masuk kota Bogor. Restoran Rice
Bowl terdapat di ground floor Botani Square, tepatnya di depan Giant
Hypermarket. Lokasi usaha restoran yang berada di pusat perbelanjaan terbesar
(megamall) di Kota Bogor sangat mempengaruhi lingkungan usaha restoran.
Restoran Rice Bowl Botani Square merupakan restoran tipe independent,
yaitu restoran dengan luas tempat sebesar 300 m2. Ruangan ini memiliki kapasitas
pengunjung sebanyak 80 orang. Tingkat pergantian (turn over) pengunjung cukup
tinggi, yaitu sekitar 15-20 menit per meja. Restoran ini memiliki konsep open
kitchen sehingga seluruh kegiatan karyawan dapat dilihat oleh pelanggan, dan
table service untuk memudahkan konsumen dengan hanya melakukan pemesanan
di meja melalui menu yang tersedia.
Restoran Rice Bowl Botani Square menghadirkan konsep family
restaurant dengan konsep simple modern, sederhana dan santai. Ruangan restoran
ini sangat terbuka, tidak memiliki pintu masuk maupun dinding pembatas. Hal ini
menggambarkan bahwa Restoran Rice Bowl menyambut para pengunjung yang
datang dengan tangan terbuka dan penuh rasa kekeluargaan.
Fasilitas yang dimiliki restoran antara lain wastafel, hand dryer, dan fan
(kipas angin). Dekorasi ruangan juga ditampilkan dengan sederhana, yaitu lampu
hias serta dinding bagian depan dan belakang yang bergambarkan menu masakan
Rice Bowl. Konsep dekorasi yang minimalis ini cukup menggambarkan identitas
Restoran Rice Bowl sebagai restoran oriental food.
5.5. Struktur Organisasi Perusahaan
Struktur organisasi Restoran Rice Bowl Botani Square merupakan struktur
organisasi fungsional, dimana dilakukan pengelompokkan dan pembagian tugas
berdasarkan fungsi bisnis restoran. Struktur organisasi ini dijalankan oleh 31
orang karyawan yang terlatih. Bagan Struktur Organisasi Restoran Rice Bowl
Botani Square dapat dilihat pada Lampiran 1.
Setiap karyawan memiliki jobdesk masing-masing sesuai jabatannya.
Namun pada hari libur atau akhir pekan, setiap karyawan dapat melakukan
jobdesk lain bila dibutuhkan. Adapun susunan jobdesk karyawan Restoran Rice
Bowl Botani Square yaitu sebagai berikut :
1. Store Manager
Bertanggung jawab penuh kepada PT Rice Bowl negara kita untuk
melaporkan kondisi restoran baik operasional maupun keuangan
Sebagai pemimpin bagi seluruh tim manajemen Restoran Rice Bowl
Botani Square
Melakukan proses recruitment, training dan evaluasi bulanan karyawan
2. Assistant Store Manager
Menggantikan tugas dan tanggung jawab store manager bila sedang tidak
ada di tempat
Membantu store manager dalam membuat laporan kinerja maupun
keuangan restoran
Melakukan input data pemesanan dan penerimaan barang dan bahan baku
3. Captain
Mengawasi para karyawan dalam melakukan tugas dan tanggung jawab
Mengatur jadwal kerja (shift) karyawan
Membantu kasir dalam menyiapkan laporan kas harian
4. Chasier Pantry
Selalu standby di meja kasir untuk menghitung bill pesanan konsumen
Membuat laporan kas harian serta melakukan input data pengelauaran dan
pemasukan harian
5. Greeter
Membagikan leaflet bagi para pengunjung Botani Square
Menyambut dan menyapa pengunjung yang datang ke restoran, serta
mengantarkan pengunjung ke meja yang kosong
6. Waiter/ss
Melayani pesanan makanan/minuman konsumen
Mengantarkan pesanan ke meja konsumen dan memberikan bill pesanan
7. Chief Cook
Kepala bagian dapur yang memimpin kegiatan karyawan bagian dapur
Memasak makanan yang rumit dan perlu keahlian khusus
8. Cook
Memasak menu makanan yang dipesan oleh konsumen
9. BBQ
Memanggang atau membakar daging bebek atau ayam
10. Butcher
Karyawan yang bekerja untuk menyiapkan pesanan konsumen yang
berupa minuman atau dessert
11. Cook Helper
Membantu karyawan cook, terutama pada waktu pengunjung sangat ramai
Mengerjakan garnish atau topping pada makanan untuk siap disajikan
12. Food Checker
Memilah-milah makanan dan minuman ke dalam nampan sesuai pesanan
konsumen
Memastikan pesanan yang akan diantarkan sesuai dengan pesanan
13. Dishwasher
Membersihkan meja pengunjung yang telah selesai digunakan
Mencuci peralatan makan maupun peralatan dapur
Rice Bowl Botani Square sangat mementingkan keterampilan dan keahlian
karyawan restoran. Karyawan yang berkualitas, terampil dan terlatih merupakan
salah satu modal dasar perusahaan untuk mempertahankan pelanggan dan
memenangkan persaingan. Perekrutan karyawan Rice Bowl Botani Square
dilakukan sepenuhnya oleh store manager, dan hak training calon karyawan
diambil sepenuhnya oleh training centre PT RBI. Dalam melakukan perekrutan
karyawan, pihak manajemen Rice Bowl Botani Square dapat memberikan
rekomendasi ataupun menyerahkan sepenuhnya kepada PT RBI untuk merekrut
karyawan baru sesuai persyaratan yang dibutuhkan.
5.6. Kegiatan Operasional dan Budaya Kerja Perusahaan
Restoran Rice Bowl Botani Square mulai buka pada pukul 08.00 WIB
sampai dengan pukul 22.00 WIB setiap hari Senin hingga Minggu. Jam kerja
karyawan dibagi atas tiga shift, yaitu shift I dimulai pukul 08.00 WIB sampai
14.00, shift II dimulai pukul 11.00 sampai 17.00 dan shift III dimulai pukul 16.00
WIB sampai 22.00 WIB. Setiap karyawan diwajibkan datang maksimal 20 menit
sebelum shift-nya dimulai. Karyawan diwajibkan tiba dalam kondisi siap untuk
bekerja.
Restoran Rice Bowl Botani Square memiliki disiplin tinggi dalam
menetapkan dan menjalankan tata tertib karyawan. Setiap karyawan wajib hadir
tepat waktu, dan bila terlambat akan dikenakan denda tergantung waktu
keterlambatan. Selain itu, setiap karyawan memperoleh hari libur (day off) satu
kali dalam seminggu dari hari Senin sampai Jumat. Setiap karyawan operasional
wajib masuk dan bekerja pada hari Minggu atau libur nasional. Peraturan ini
ditetapkan mengingat jumlah pengunjung lebih banyak pada hari Minggu dan hari
libur, sehingga dibutuhkan tenaga kerja lebih banyak.
Restoran Rice Bowl Botani Square memiliki moto yang menjadi panduan
bagi karyawan dalam bekerja. Moto “CERIA” yang dimiliki ini terdiri dari lima
teladan sikap karyawan dalam bekerja, yaitu : 1) Cepat, yaitu bergerak cepat
dalam melayani customer dan mengantisipasi keadaan; 2) Enerjik, yaitu semangat,
positive thinking, dan excellence performance dalam bekerja; 3) Ramah, yaitu
sabar, sopan dan ramah; 4) Inisiatif, yaitu selalu memperhatikan kebutuhan
customer dan membantu tim; 5) Aku Senyum, yaitu selalu tersenyum dengan
tulus selama berbicara dan berinteraksi dengan customer.
Budaya kerja yang diterapkan Restoran Rice Bowl Botani Square yaitu
DQSC (Discipline, Quality, Service, Cleanliness). Budaya disiplin mecakup
disiplin diri, disiplin waktu dan disiplin prosedur kerja. Kualitas yang dijaga
perusahaan mencakup kualitas SDM, bahan baku dan peralatan. Service
(pelayanan) mencakup eleman people (manusia), process (proses) dan product
(produk). Cleanliness (kebersihan) mencakup kebersihan diri, peralatan kerja dan
area kerja.
Restoran Rice Bowl Botani Square memiliki Standar Operasional
Prosedur (SOP) yang jelas dan terarah. Adanya SOP membantu pihak manajemen
dan karyawan untuk mencapai visi dan misinya. SOP berisi seluruh standar
prosedur yang harus dilakukan karyawan, baik tentang kualitas barang dan bahan
baku, sikap kepemimpinan, cara melayani konsumen hingga standar penetapan
porsi menu.
5.7. Strategi Pengembangan Usaha Restoran Rice Bowl Saat Ini
Selama kurun waktu dua tahun berdirinya Restoran Rice Bowl Botani
Square, store manager memiliki peranan terpenting dalam proses pengambilan
keputusan pelaksanaan strategi pengembangan usaha restoran. Strategi
pengembangan yang selama ini dilakukan oleh restoran hingga saat ini masih
sangat terbatas.
Restoran Rice Bowl Botani Square menyadari potensi pasar yang ada di
Kota Bogor. Potensi pasar yang semakin besar serta didukung dengan adanya
pertumbuhan mall di Kota Bogor mendorong pihak manajemen untuk
mengembangkan usahanya. Hal ini bertujuan untuk memperluas jangkauan
konsumen di Kota Bogor.
Pihak manajemen Restoran Rice Bowl Botani Square cenderung
melakukan strategi pengembangan usaha hanya dalam lingkungan internalnya
saja. Strategi yang dilakukan dengan memanfaatkan lingkungan eksternalnya
masih cenderung minim. Sebelumnya, pihak Restoran Rice Bowl pernah
membuka outlet restoran di Bogor Trade Mall pada tahun 2002. Akan tetapi,
pengelolaan yang kurang baik serta kurangnya daya tarik BTM sebagai pusat
perbelanjaan menyebabkan outlet tersebut harus gulung tikar.
Pihak manajemen Restoran Rice Bowl Botani Square hingga saat ini
melakukan strategi pengembangan yang berfokus pada pemasaran di dalam
Botani Square saja. Strategi yang dilakukan yaitu strategi promosi harga melalui
paket menu murah, serta strategi promosi iklan melalui penyebaran leaflet bagi
pengunjung Botani Square.
Analisis lingkungan bisnis perusahaan merupakan suatu cara untuk
mendapatkan suatu kemampuan strategis dengan mengintegrasikan antara
peluang-peluang yang ada dengan kemampuan atau kekuatan yang dimiliki
perusahaan, untuk dapat mengantisipasi adanya ancaman dari luar perusahaan dan
mengatasi kelemahan-kelemahan yang ada (Wheelen dan Hunger, 1992).
Restoran Rice Bowl Botani Square dipengaruhi oleh lingkungan eksternal
dan internal yang ada di sekitarnya. Hasil analisis penelitian ini menggambarkan
kondisi eksternal dan internal yang mempengaruhi jalannya operasional
perusahaan dan mempengaruhi perencanaan strategis yang sesuai dengan kondisi
lingkungan tersebut.
6.1. Analisis Lingkungan Eksternal
6.1.1. Lingkungan Umum
Lingkungan umum yaitu faktor lingkungan eksternal yang merupakan
lingkungan jauh operasional perusahaan. Lingkungan umum dipengaruhi oleh
faktor politik dan hukum, sosial, ekonomi dan teknologi.
1) Lingkungan Politik dan Hukum
Kota Bogor termasuk dalam wilayah Jabotabek yang memiliki kedudukan
yang sangat penting. Dalam Instruksi Presiden No. 13 Tahun 1976, disebutkan
bahwa Jabotabek merupakan kawasan yang mempunyai arti dan kedudukan
strategis pada tata ruang nasional. Peran Jabotabek yaitu sebagai Megacity
dengan fungsinya sebagai pusat kegiatan perdagangan dan jasa, permukiman,
industri, pariwisata dengan skala pelayanan internasional dan regional
Seiring dengan peningkatan jumlah usaha pendukung industri pariwisata
di kota Bogor, pemerintah menetapkan peraturan izin usaha dan retribusi. Pasal 12
Perda Kota Bogor Nomor 8 Tahun 2004 tentang Penyelenggaraan Usaha
Kepariwisataan mengatur perizinan badan usaha atau perorangan yang
mengajukan usaha kepariwisataan wajib dikenakan retribusi. Peraturan ini
dilaksanakan berdasarkan UU No.34 Tahun 2000 tentang Pajak Retribusi Daerah,
dimana tarif yang dikenakan pada konsumen sebesar 10 persen dari total pesanan.
Adanya peraturan dan perundang-perundangan yang jelas, serta dukungan
besar pemerintah terhadap usaha restoran telah mampu menciptakan atmosfer
lingkungan politik dan hukum yang aman bagi usaha restoran. Keamanan dan
lingkungan Kota Bogor yang kondusif sangat mendukung pertumbuhan usaha
restoran.
Dukungan pemerintah Jawa Barat terhadap industri pariwisata
ditunjukkan dengan adanya Visit West Java Year 2008. Kegiatan ini merupakan
salah satu upaya pemerintah untuk mempromosikan Jawa Barat, termasuk Kota
Bogor sebagai daerah wisata bertaraf internasional. Tentu saja untuk mencapai
tujuan ini, pemerintah sangat mendukung perkembangan dan pembangunan sarana
pariwisata, termasuk restoran.
2) Lingkungan Sosial, Budaya dan Demografi
Jumlah penduduk kota Bogor mengalami pertumbuhan setiap tahunnya.
Tabel 12 menunjukkan, bahwa hingga tahun 2006 jumlah penduduk mencapai
879.138 jiwa dengan kepadatan penduduk 7,419 jiwa/km2. Pertumbuhan
penduduk ini memperluas pangsa pasar usaha restoran di kota Bogor.
Kota Bogor merupakan wilayah dengan mayoritas penduduk bersuku
bangsa Sunda. Namun saat ini, keanekaragaman suku bangsa penduduk Kota
Bogor semakin meningkat. Hal ini didukung oleh letak Kota Bogor yang dekat
dengan ibukota dan berfungsi sebagai penyangga ibukota, sehingga dijadikan
sebagai alternatif pemukiman yang nyaman dan tenang. Perkembangan Kota
Bogor saat ini sangat pesat, berbagai macam fasilitas umum semakin banyak
dibangun untuk memenuhi kebutuhan hidup masyarakat Kota Bogor yang
semakin meningkat.
Cara hidup masyarakat Kota Bogor saat ini sudah sangat modern dan
praktis. Minat masyarakat Bogor terhadap mall sebagai pusat perbelanjaan one
stop shopping saat ini semakin tinggi. Masyarakat lebih menyukai segala sesuatu
yang praktis dan mall dipandang mampu memenuhi berbagai macam kebutuhan
dengan hanya mendatangi satu tempat saja. Perubahan gaya hidup masyarakat
kota Bogor merupakan peluang usaha bagi Restoran Rice Bowl Botani Square.
Animo masyarakat Kota Bogor terhadap event dan exhibition yang sering
diadakan di Botani Square sangat tinggi, terutama bila terdapat penampilan artis
maupun tokoh terkenal. Event dan exhibition yang diadakan di Botani Square
sangat beranekaragam, baik untuk kalangan anak-anak, dewasa maupun umum.
Peningkatan jumlah pengunjung yang dapat mencapai tiga kali lipat merupakan
peluang besar bagi usaha restoran yang berada di Botani Squre.
Isu flu burung yang masih marak hingga saat ini juga menjadi salah satu
ancaman usaha restoran di Kota Bogor. Walaupun hampir seluruh restoran sudah
menjamin keamanan produknya untuk dikonsumsi, namun ketakutan masyarakat
cenderung lebih besar sehingga menghindari konsumsi unggas. Dampak isu flu
burung berdampak pada penurunan tingkat penjualan hampir di sebagian besar
restoran.
3) Lingkungan Ekonomi
Pendapatan dan Daya Beli Masyarakat Kota Bogor
Kinerja perekonomian kota Bogor digambarkan oleh PDRB Kota Bogor
atas dasar harga konstan tahun 2000. Tabel 13 menunjukkan bahwa pada periode
2003-2006 laju pertumbuhan PDRB per kapita Kota Bogor rata-rata mengalami
peningkatan sebesar 3,29 persen setiap tahunnya. Peningkatan pendapatan
masyarakat kota Bogor ini menunjukkan daya beli masyarakat yang semakin
meningkat pula.
Peningkatan pendapatan masyarakat kota Bogor mendorong pertumbuhan
usaha restoran di Kota Bogor. Sektor perdagangan, hotel dan restoran merupakan
lapangan usaha yang memberikan kontribusi pendapatan daerah terbesar bagi
kota Bogor (Tabel 14). Berdasarkan harga berlaku maupun harga konstan,
subsektor restoran mampu memberikan kontribusi rata-rata 5,3 persen per tahun
terhadap total PDRB Kota Bogor.
Kenaikan Harga Bahan Makanan dan BBM
Terjadinya kenaikan harga akan berdampak pada biaya produksi yang
semakin tinggi sehingga akan mengurangi tingkat keuntungan yang dihasilkan.
Kenaikan harga bahan makanan yang meningkat tajam sejak Desember hingga
Januari menyebabkan sebagian usaha restoran mengurangi jumlah produksinya.
Kondisi ini merupakan salah satu ancaman yang dihadapi usaha restoran hingga
saat ini, mengingat bahan makanan sebagai bahan baku usaha mereka sangat
sensitif terhadap perubahan harga.
Kelangkaan bahan bakar minyak tanah dan gas elpiji menghambat
keberlangsungan kegiatan produksi restoran. Kelangkaan ini menyebabkan
kenaikan harga yang dapat menjadi ancaman usaha restoran. Pada Desember
2007, harga elpiji tabung 50 kg dan elpiji curah sebesar 5.852 rupiah per kg.
Kenaikan harga terjadi pada bulan Januari 2008, dimana harga elpiji tabung 50 kg
menjadi 9.131 rupiah per kg dan elpiji curah sebesar 8.928 rupiah per kg. Tentu
saja kenaikan harga elpiji yang mencapai 54 persen ini sangat berdampak pada
peningkatan biaya produksi usaha restoran3.
Tingkat Inflasi dan Suku Bunga
Tingkat inflasi yang ada juga turut mempengaruhi kemampuan
berkembang usaha restoran. Pada triwulan pertama 2008 ini, tekanan inflasi di
negara kita terlihat meningkat. Kenaikan harga bahan makanan yang terjadi
meningkat tajam pada Desember hingga Januari serta kenaikan harga minyak
tanah yaitu penyebab utama tingginya inflasi yang terjadi.
Pada bulan Maret 2008, tingkat inflasi mencapai 0,95 persen. Walaupun
nilai ini lebih kecil daripada angka inflasi pada Januari sebesar 1,77 persen,
namun angka tersebut jauh diatas rata-rata tingkat inflasi yang biasanya terjadi di
bulan Maret. Biasanya pada bulan Maret, tingkat inflasi mulai menurun dengan
dimulainya masa panen beras. Namun tahun ini dampak penurunan harga beras
tidak cukup kuat untuk menekan dampak kenaikan harga bahan makanan lainnya.
3 Harian Kompas, 7 April 2008 halaman 27, Kolom Metropolitan. Penurunan Harga
Elpiji 50 Kg Dipertanyakan”.
Tingginya tingkat inflasi ini merupakan salah satu ancaman bagi usaha restoran,
karena akan mengurangi daya beli masyarakat terhadap produk yang ditawarkan4.
Tingkat inflasi yang berfluktuasi dalam perekonomian negara kita
mempengaruhi usaha pengembangan restoran. Fluktuasi ini menimbulkan kondisi
ketidakpastian ekonomi. Seringkali pelaku usaha maupun pihak manajemen yang
ingin mengembangkan usahanya mengalami kesulitan dalam memprediksi tingkat
keuntungan yang akan diperolehnya.
4) Lingkungan Teknologi
Kemajuan teknologi saat ini mengubah produk, jasa, pasar, pemasok,
distributor, pesaing, pelanggan, proses manufaktur, posisi persaingan dan lainnya.
Adaptasi tinggi terhadap perubahan teknologi akan membantu usaha restoran
untuk menciptakan pasar baru, pengembangan produk, pengefektifan biaya serta
keunggulan tersendiri (distinctive competitive) diantara pesaingnya.
Perkembangan teknologi saat ini merupakan peluang besar bagi
pengembangan usaha restoran. Saat ini, restoran tidak hanya berfungsi sebagai
tempat makan, namun juga sebagai tempat berkumpul atau “nongkrong”. Karena
itu banyak restoran yang menawarkan berbagai macam fasilitas, termasuk
teknologi, untuk membuat pengunjung nyaman dan merasa betah. Perkembangan
teknologi yang umumnya dipakai dalam restoran antara lain internet hotspot,
music player, serta teknologi dalam administrasi dan manajemen.
4 Harian Kompas, 7 April 2008 halaman 10, Kolom Bisnis dan Keuangan. “Analisis
Danareksa : Suku Bunga Tidak Harus Naik “.
62
6.1.2. Lingkungan Industri
Lingkungan industri menggambarkan posisi perusahaan di tengah
persaingan yang ada di dalam industri yang digelutinya. Lingkungan ini
dijelaskan oleh Model Lima Kekuatan Porter melalui kombinasi lima kekuatan,
yaitu pendatang baru potensial, pesaing-pesaing industri, adanya produk
pengganti/substitusi, kekuatan tawar menawar pemasok dan kekuatan tawar
menawar pembeli.
1) Persaingan Antar Industri
Hingga tahun 2006 terdapat 248 buah usaha restoran dalam berbagai
bentuk pengelolaan di Kota Bogor. Di Botani Square sendiri, jumlah cafe dan
restoran terus meningkat. Cafe, restoran serta usaha makanan yang berada di
dalam Botani Square yaitu pesaing utama Restoran Rice Bowl. Jumlah ini
diperkirakan akan semakin meningkat sehubungan dengan adanya perluasan
gedung Botani Square.
Jumlah restoran yang semakin banyak menyebabkan tingkat persaingan
usaha restoran semakin tinggi. Kondisi ini merupakan ancaman bagi Restoran
Rice Bowl Botani Square yang akan mempengaruhi jumlah konsumen restoran.
2) Pendatang baru potensial
Pendatang baru dalam industri restoran di kota Bogor cenderung dapat
masuk dengan mudah tanpa hambatan yang berarti dan reaksi yang kurang dari
restoran yang telah ada. Kemunculan pendatang baru menjadi ancaman bagi usaha
restoran yang telah ada.
Untuk industri restoran di kota Bogor dapat dianalisis sebagai berikut :
a. Pendatang baru rata-rata memiliki skala ekonomis yang cukup besar
b. Permodalan bagi usaha restoran sangat mudah, terutama di kota Bogor.
Kemunculan sistem pengelolaan restoran dengan konsep waralaba
memberi penawaran bagi masyarakat untuk mendirikan restoran dengan
biaya yang rendah dan tingkat pengembalian tinggi.
c. Regulasi pemerintah sangat mendukung pengembangan usaha restoran di
kota Bogor. Hal ini didukung sejumlah kebijakan dan program Pemerintah
Daerah untuk meningkatkan potensi pariwisata kota Bogor.
d. Biaya beralih pembeli tidak ada, karena konsumen bebas untuk pindah dan
mencoba pemasok (restoran) lain.
e. Pendatang baru memiliki kemudahan akses distribusi. Usaha restoran di
kota Bogor memiliki saluran distribusi yang sangat luas, sehingga
pendatang baru dapat masuk ke saluran distribusi.
3) Ancaman Produk Pengganti / Substitusi
Restoran Rice Bowl Botani Square merupakan restoran penyedia makanan
dengan menu oriental. Ancaman produk pengganti yang diperhitungkan oleh
restoran ini yaitu restoran tradisional dan restoran dengan masakan khas
negara kita . Produk pengganti dalam lingkungan usaha restoran ini yaitu Restoran
Solaria dan Mister Baso. Selain itu produk substitusi dapat berupa restoran
American fastfood seperti KFC serta A&W.
4) Kekuatan Tawar Menawar Pemasok
Restoran Rice Bowl Botani Square memperoleh pasokan bahan bakunya
dari dua sumber, yaitu PT Frozen Food Pahala dan pasar tradisional di kota
Bogor. Kekuatan tawar menawar pemasok tinggi, karena Restoran Rice Bowl
Botani Square tidak pernah berganti ke pemasok lain untuk menjaga kualitas
bahan baku.
5) Kekuatan Tawar Menawar Pembeli
Kekuatan tawar menawar pembeli sangat tinggi, karena jumlah alternatif
restoran yang tersedia di kota Bogor sangat banyak, penawaran tinggi, biaya
beralih ke restoran lain juga rendah. Konsumen bebas memilih restoran yang
sesuai dengan kebutuhannya.
6.2. Analisis Lingkungan Internal
6.2.1. Manajemen dan Sumberdaya Manusia
Restoran Rice Bowl Botani Square memiliki sistem manajemen yang
terstruktur. Saat ini restoran memiliki 31 orang karyawan dibawah pimpinan
Bapak Irpan Dodi sebagai store manager. Seluruh karyawan memiliki tingkat
pendidikan lulusan SMU dengan umur rata-rata 21-30 tahun. Restoran ini sangat
mengutamakan karyawan yang loyal serta terlatih. Karena itu, faktor utama yang
menjadi pertimbangan dalam perekrutan karyawan yaitu kemauan untuk belajar
dan keterampilan, bukan tingkat pendidikan.
Restoran Rice Bowl Botani Square melakukan perekrutan karyawan
melalui dua sumber, yaitu :
1. Sumber internal, yaitu karyawan berasal dari dalam perusahaan sendiri berupa
alih tugas (tour of duty) atau alih tempat tugas (tour of area). Sumber internal
merupakan PT RBI atau Restoran Rice Bowl lainnya. Karyawan yang berasal
dari sumber internal biasanya tidak perlu mengalami masa training lagi atau
sudah dalam kondisi siap bekerja.
2. Sumber eksternal, yaitu perekrutan karyawan dilakukan sendiri oleh Restoran
Rice Bowl Botani Square. Karyawan yang direkrut dengan sistem ini akan
mengikuti training class di kantor pusat selama satu hingga dua minggu,
kemudian akan training on store di outlet masing-masing. Proses training
karyawan biasanya selama tiga bulan, namun dapat dipercepat tergantung
keterampilan dan peningkatan prestasi karyawan training.
Upah karyawan (selain bidang managerial) yaitu sebesar 973.000
rupiah/bulan dan untuk karyawan training sebesar 37.000 rupiah/hari yang
dibayarkan sesuai kehadiran. Upah karyawan terdiri dari gaji pokok, tunjangan
makan, tunjangan transpor dan tunjangan jabatan (untuk jabatan tertentu). Selain
itu setelah masa kerja selama tiga bulan, karyawan akan mendapatkan tunjangan
kesehatan yang akan dibayarkan bersama upah bulanan. Karyawan juga
mendapatkan tunjangan untuk kelahiran maupun bantuan uang duka maksimal
sebesar satu juta rupiah. Karyawan dengan masa kerja diatas satu tahun juga
berhak mendapatkan cuti tahunan maupun cuti khusus.
Pembagian tugas dan tanggung jawab dalam manajemen Restoran Rice
Bowl sudah cukup baik. Setiap karyawan memiliki tugas masing-masing tanpa
ada tumpang tindih pekerjaan. Namun pada waktu-waktu sibuk, seperti akhir
pekan dan hari libur, biasanya para karyawan dapat melakukan banyak pekerjaan
sesuai kebutuhan. Manajemen Restoran Rice Bowl Botani Square juga memiliki
Standar Operasional Perusahaan (SOP) yang jelas dan terarah.
Restoran Rice Bowl Botani Square dihadapkan pada kondisi persaingan
yang semakin ketat. Karena itu dibutuhkan adanya strategi khusus untuk
memasarkan produknya sehingga lebih unggul diantara pesaingnya. Saat ini,
manajemen restoran belum memiliki divisi riset pemasaran, seluruh kebijakan
pemasaran diputuskan oleh PT RBI dan store manager. Hal ini kurang efektif
mengingat karakteristik lingkungan usaha yang dihadapi tiap outlet berbeda-beda.
Produk (product)
Restoran Rice Bowl Botani Square merupakan pionir restoran oriental
semi fastfood di negara kita . Berdasarkan konsep ini, konsumen akan mendapatkan
pesanannya dalam waktu singkat namun dalam keadaan fresh (baru matang). Saat
ini Rice Bowl merupakan salah satu restoran dengan citra merk yang unggul.
Menu yang ditawarkan oleh Restoran Rice Bowl terdiri dari tiga jenis,
yaitu food (makanan), beverages (minuman) dan dessert (makanan penutup).
Menu makanan juga dikelompokkan menjadi tiga jenis menurut cara
penyajiannya, yaitu : 1) Ala rice bowl, yaitu nasi dan lauk dihidangkan dalam satu
mangkuk; 2) Ala BBQ, yaitu daging ayam atau bebek panggang; dan 3) Ala Sapo,
yaitu makanan dimasak dan disajikan langsung dalam wadah yang terbuat dari
tanah liat. Menu oriental yang ditawarkan di restoran ini merupakan menu-menu
andalan Hongkong Executive Chef yang telah berpengalaman selama puluhan
tahun.
Sebagian besar konsumen melakukan pesanan dine-in (makan di tempat).
Menu andalan restoran ini yaitu BBQ, bebek dan seafood. Menu andalan ini
merupakan ciri khas dari Restoran Rice Bolw di seluruh negara kita . Selain itu,
terdapat pula menu favourites, yaitu menu yang paling banyak dipesan oelh
pengunjung dan jenisnya pasti berbeda untuk tiap outlet. Menu favourites di
Restoran Rice Bowl Botani Square dapat dilihat pada Lampiran 2.
Penyajian produk memakai mangkuk dan peralatan makan ala
oriental. Untuk makanan yang dibawa pulang (take away), kemasan memakai
lunch box yang terbuat dari bahan plastik yang memiliki daya tahan baik dan
water resistant. Kemasan take away dilengkapi label restoran dan nama menu
pesanan. Restoran ini juga memberikan jaminan produk bagi konsumen, dimana
konsumen boleh mengembalikan atau tidak perlu membayar apabila konsumen
merasa tidak puas.
Restoran Rice Bowl Botani Square juga menyediakan layanan outside
catering untuk rapat dan pesta ulangtahun. Untuk waktu tertentu selain akhir
pekan dan hari libur, restoran juga menyedikan tempat untuk penyelenggaraan
acara khusus, misalnya pesta ulangtahun anak-anak. Layanan ini belum
dipublikasikan meluas pada konsumen, sehingga biasanya dilakukan bila
konsumen bertanya dan ada permintaan.
Restoran Rice Bowl Botani Square belum memiliki sertifikasi halal dari
MUI sebagai jaminan kehalalan produknya. Menurut pihak manajemen, hal ini
tidak terlalu mempengaruhi niat konsumen untuk datang ke restoran. Jaminan
keamanan konsumsi pangan ditunjukkan Restoran Rice Bowl melalui label
“Tidak Mengandung Babi” pada bagian depan. Selain itu, konsep open kitchen
juga membuktikan pada konsumen akan keamanan produksi makanan yang
dilakukan oleh restoran selama ini,
Harga (price)
Harga produk yang ditawarkan ditentukan oleh PT RBI dan berlaku umum
di seluruh outlet Restoran Rice Bowl di seluruh negara kita . Akan tetapi, setiap
outlet dapat menetapkan kebijakan harga tertentu untuk produk tertentu sesuai
kebutuhan masing-masing. Harga ditampilkan dengan jelas pada daftar menu.
Konsumen akan dikenakan pajak sebesar 10 persen dari total harga pesanan.
Penetapan harga yang dilakukan Restoran Rice Bowl yaitu penetapan
harga psikologis. Hal ini merupakan strategi yang dilakukan untuk mempengaruhi
pikiran konsumen bahwa harga produk tidak terlalu mahal. Menurut pihak
manajemen, harga menu oriental yang ditawarkan di Rice Bowl tergolong lebih
murah diantara restoran sejenis. Strategi harga ini menjadi kekuatan bersaing
restoran diantara para pesaingnya.
Dalam penetapan harga dilakukan proses planning product. Dalam proses
ini, PT RBI akan meramalkan kondisi perekonomian untuk satu tahun ke depan,
sehingga harga yang ditetapkan akan mampu memberi keuntungan pada jangka
waktu tertentu. Perubahan harga akan dilakukan setiap periode satu tahun bila
diperlukan.
Promosi (promotion)
Restoran Rice Bowl Botani Square hingga saat ini belum melakukan
strategi khusus untuk mempromosikan restoran. Sejak awal berdiri pada tahun
2006, restoran ini mengaku tidak kesulitan dalam menarik perhatian konsumen.
Hal ini merupakan keuntungan dari letaknya yang berada di pusat perbelanjaan
terbesar di kota Bogor, sehingga tidak dibutuhkan promosi yang terlalu besar.
Kegiatan promosi yang aktif dilakukan hingga saat ini yaitu penyebaran
leaflet bagi para pengunjung di depan pintu masuk Botani Square. Restoran juga
menawarkan potongan harga (diskon) pada menu atau paket makanan tertentu.
Salah satunya yaitu Program Red Spot bekerjasama dengan Telkomsel, dimana
konsumen mendapatkan potongan harga 25 persen dengan menunjukkan short
message service (sms) promo yang diterima. Promo ini berlaku untuk seluruh
outlet Rice Bowl di negara kita .
70
Restoran Rice Bowl Botani Square saat ini juga memberikan menu Paket
Sensasi, yaitu menyediakan menu makanan perorangan dengan harga 6969 rupiah
(belum termasuk pajak). Potongan harga juga diberikan bagi para pemegang kartu
anggota Restoran Rice Bowl sebesar 15 persen. Promosi harga yang ditawarkan
tidak dapat digabungkan dengan promosi lainnya.
Kegiatan promosi yang dilakukan Restoran Rice Bowl Botani Square
hingga saat ini cenderung masih bergantung pada PT RBI. Restoran ini belum
memiliki strategi untuk mempromosikan produknya secara meluas bagi
masyarakat kota Bogor, misalnya menjadi sponsor pada acara tertentu,
pemasangan spanduk atau billboard, serta pemasangan iklan pada surat kabar,
majalah atau radio.
Distribusi (place)
Restoran Rice Bowl Botani Square menawarkan produknya secara
langsung pada konsumen. Pesanan dine in maupun take away diambil langsung
oleh konsumen ke restoran. Restoran ini sebenarnya sudah memiliki layanan
delivery service, akan tetapi layanan ini hanya dilakukan jika ada pesanan pada
waktu dan jarak tertentu. Jangkauan wilayah delivery service berada di sekitar
wilayah Baranangsiang saja. Akan tetapi layanan delivery service ini belum benar-
benar dimantapkan, dan hanya dilakukan jika ada konsumen yang meminta.
Layanan distribusi produk di luar restoran masih kurang dan cenderung
hanya sebagai fasilitas tambahan saja, sehingga pelaksanaannya belum dilakukan
dengan serius. Padahal saat ini kebutuhan layanan di luar restoran sangat tinggi,
mengingat waktu konsumen yang terbatas untuk datang ke restoran. Letaknya
71
yang sangat strategis dan mudah dijangkau menjadi kekuatan restoran dalam
melakukan distribusinya.
Restoran Rice Bowl Botani Square tidak kesulitan dalam memperoleh
bahan baku. Bahan baku utama, seperti daging bebek, saus dan bumbu oriental
diperoleh dari PT. Frozen Food Pahala yang juga merupakan sister company dari
PT RBI. Bahan baku lainnya, seperti daging ayam, telur, sayuran, es krim dan
bumbu dapur, diperoleh dari pasar tradisional di Bogor. Sistem penyimpanan
bahan baku yang dimiliki juga sudah memadai.
6.2.3. Produksi dan Operasi
Pemesanan dan Penerimaan Barang dan Bahan Baku
Restoran Rice Bowl Botani Square memenuhi kebutuhan bahan baku
melalui PT Frozen Food Pahala dan pasar tradisional di kota Bogor. PT Frozen
Food Pahala yaitu pemasok bahan baku utama bagi selururuh outlet Rice Bowl
di negara kita . Bahan baku utama yaitu bahan baku yang menjadi ciri khas
Restoran Rice Bowl, sehingga kualitas dan standarnya harus benar-benar terjaga.
Bahan baku utama antara lain daging bebek, saus dan rempah-rempah oriental
khas Rice Bowl (condiment). Pemesanan bahan baku utama dilakukan dua kali
seminggu, jumlah pesanan dilakukan sesuai kebutuhan Restoran Rice Bowl
Botani Square.
Bahan baku lainnya seperti daging ayam, sayuran, buah-buahan dan
bumbu dapur, diperoleh dari pasar tradisional di kota Bogor. Pemesanan
dilakukan melalui seorang pemasok lokal setiap hari. Untuk es krim dipesan dua
kali seminggu, dan minuman botol dipesan melalui perusahaan masing-masing.
Pemesanan dilakukan dengan metode inventory fast assets control (IFAC), yaitu
kuantitas yang dipesan ditentukan berdasarkan jumlah bahan baku yang habis
pada hari sebelumnya. Seluruh bahan baku yang dipesan akan dimasukkan dalam
bon faktur, yang kemudian dibayarkan oleh PT RBI.
Bahan baku yang datang dari supplier akan melalui proses sortir, yaitu
pemilahan bahan baku sesuai ketentuan yang berlaku. Pemeriksaan ini bertujuan
untuk memastikan bahwa pesanan yang datang telah sesuai dengan standar
kualitas dan kuantitas yang diinginkan.
Penyimpanan dan Penggunaan Bahan Baku
Restoran Rice Bowl Botani Square sangat memperhatikan prosedur
penyimpanan bahan baku. Penggunaan bahan baku memakai metode first in
first out (FIFO). Bahan baku dan barang yang datang terlebih dahulu harus
diproses paling awal. Penyimpanan barang dan bahan baku juga disesuaikan
dengan jenis, bentuk dan fungsinya masing-masing. Metode ini disebut decoy
system. Barang dan bahan baku yang kadaluarsa, tidak layak pakai karena salah
penanganan, atupun sisa dari persiapan penjualan harus dievaluasi untuk
meminimalisir kontribusi negatif terhadap pencapaian food cost yang ada. Proses
ini disebut left over.
Bahan baku daging, seafood, saus maupun bumbu dapur setengah jadi
akan disimpan dalam freezer dengan suhu penyimpanan -17 sampai -23
o
C
(pembekuan). Sementara bahan lain seperti sayuran, buah dan telur disimpan
dalam chiller dengan suhu 3 sampai 7 oC (pendinginan). Untuk bahan kering
disimpan dalam box dengan suhu ruangan 25oC. Untuk es krim disimpan dalam
ice bin, dan es batu diproduksi secara kontinu dengan alat khusus ice maker.
Bahan baku yang disimpan dalam freezer dan chiller memiliki masa
tenggang (holding time). Rata-rata holding time bahan baku yang disimpan di
freezer yaitu 6 bulan, sedang bahan baku di chiller hanya bertahan 48 jam.
Untuk daging ayam dan bebek di freezer memiliki holding time hanya 7 hari, dan
secara holding time rata-rata bahan baku lain di Rice Bowl yaitu 20-40 menit.
Seluruh bahan baku yang disimpan akan diberi label nama dan tanggal
kedatangan. Untuk bahan baku yang telah dibuka atau dithawing harus disertakan
tanggal kadaluarsanya.
Pengolahan Bahan Makanan
Restoran Rice Bowl Botani Square mengolah bahan baku menjadi
makanan siap saji yang dalam keadaan fresh. Artinya seluruh bahan masakan
tersebut hanya akan dimasak setelah ada pesanan konsumen. Sebelum beroperasi
setiap hari, karyawan melakukan persiapan penjualan yang dilakukan pada malam
sebelumnya.
Proses pengolahan menu restoran harus melalui serangkaian tahap yang
telah diatur dalam SOP, yaitu :
b. Proses soaking, yaitu proses perendaman peralatan makan dan minum dengan
air hangat setelah dibersihkan dan dicuci. Proses ini dilakukan selama 8-12
jam untuk menjaga kesterilan peralatan tersebut. Setelah disoaking, peralatan
tersebut kembali dicuci dan dikeringkan.
c. Proses thawing, yaitu proses melunakkan suatu bahan beku menjadi
fresh/lunak agar siap diolah menjadi makanan, dengan cara menaikkan suhu
sesuai waktu yang ditentukan. Jumlah bahan beku yang dithawing diprediksi
untuk mencukupi kebutuhan keesokan harinya. Proses thawing dilakukan
dengan memindahkan bahan beku ke chiller selama 8-12 jam.
d. Proses dusting, yaitu pelapisan daging dan seafood dengan tepung tapioka.
e. Proses parting dan boneless, yaitu proses pemotongan atau pembagian bahan
baku yang disesuaikan dengan jenis potongan yang akan diproses. Boneless
yaitu pemotongan daging bebek dan ayam tanpa tulang. Hasil akhir proses
parting dan boneless harus sesuai dengan SOP yang berlaku.
f. Proses saute, yaitu proses memasak bahan baku dalam kuali teflon dengan
minyak goreng sedikit selama 5-15 menit.
g. Proses duck and chicken roaster, yaitu memanggang daging bebek dan ayam.
h. Proses topping, yaitu bahan jadi, potongan daging matang, kacang tanah
goreng maupun es krim yang diletakkan diatas makanan atau minuman.
i. Proses garnish, yaitu potongan beberapa jenis bahan baku yang dibentuk
sedemikian rupa dan diletakkan diatas atau disamping makanan jadi.
Bertujuan untuk memperindah penampilan makanan jadi.
Proses produksi yang dilakukan Restoran Rice Bowl Botani Square sangat
terjamin keamanan dan kebersihannya. Hal ini diatur dalam SOP perusahaan yang
juga mengatur standar kebersihan lingkungan dan karyawannya.
Pelayanan Konsumen
Konsumen yang datang akan disambut oleh greeter dan diantarkan ke
meja kosong yang tersedia sesuai jumlah konsumen. Kemudian pemesanan akan
dilayani oleh waiter/ss dengan layanan table service. Waiter/ss akan menuju kasir
dan menunjukkan bill pesanan. Bon pesanan terdiri dari tiga rangkap, yaitu untuk
bagian makanan, minuman dan konsumen. Sistem pengolahan pesanan
memakai metode first order first served. Bill (tagihan) akan diantarkan
setelah konsumen selesai makan dan langsung dibayarkan pada waiter/ss.
Dalam kegiatan operasionalnya, terkadang pihak manajemen
mendapatkan keluhan dari konsumen. Apabila ada complain dari konsumen,
misalnya kesalahan taking order atau konsumen menunggu terlalu lama, akan
langsung ditangani oleh store manager.
6.2.4. Keuangan
Restoran Rice Bowl Botani Square memiliki kondisi keuangan yang baik.
Sebagai restoran yang dikelola dengan sistem owner, modal pendirian usaha
sepenuhnya ditanggung oleh PT RBI. Modal usaha awal untuk restoran tipe
independent ini sebesar 900 juta rupiah. Hal ini sangat menguntungkan karena
Restoran Rice Bowl dapat melakukan kegiatan operasionalnya tanpa terkendala
dengan masalah pembayaran hutang modal usaha.
PT RBI memegang hak penuh untuk keberadaan dana Restoran Rice Bowl
Botani Square. Pihak manajemen restoran ini hanya bertanggung jawab untuk
melaporkan kondisi keuangan restoran dalam bentuk laporan, serta menetapkan
target penjualan yang akan dicapai dalam periode satu tahun.
Pihak manajemen Restoran Rice Bowl Botani Square memberi laporan
keuangan setiap bulan pada PT RBI. Laporan keuangan yang disampaikan terdiri
dari beberapa jenis laporan, yaitu :
1. Laporan Kas Harian dan Slip Setoran Sales
Laporan Kas Harian yaitu form data transaksi penjualan harian yang
telah diinput oleh kasir. Laporan ini dilengkapi dengan slip setoran sales
berupa bukti pembayaran memakai voucher, kartu kredit, maupun
pembayaran dengan uang tunai. Laporan ini dikerjakan oleh kasir dibantu
oleh captain.
2. Petty Cash, Laporan Kas Kecil dan Bukti Pembelian Cash
Petty Cash yaitu pencatatan jumlah uang receh (uang logam) yang
dimiliki oleh restoran. Laporan Kas Kecil yaitu form transaksi pembelian
bahan baku maupun kebutuhan restoran yang harus disertai dengan bukti
pembelian cash. Laporan kas kecil merupakan laporan kegiatan pembelian
atau pengeluaran yang dilakukan oleh restoran.
Saat ini Restoran Rice Bowl Botani Square memiliki return of investment
(ROI) yang cukup tinggi. Restoran ini telah mencapai break even point (BEP),
dengan rata-rata peningkatan ROI yaitu 18 persen per tahun. Namun tingkat
pendapatan per bulan cenderung berfluktuasi dan tidak stabil. Menurut pihak
manajemen, hal ini disebabkan oleh terjadinya peningkatan jumlah restoran di
Botani Square. Store manager menetapkan target peningkatan penjualan sebesar
15 persen untuk tahun ini. Pencapaian target pendapatan yang belum stabil ini
menjadi kelemahan Restoran Rice Bowl Botani Square.
Sebagai restoran yang dikelola dengan sistem owner, Restoran Rice Bowl
Botani Square sangat terjamin kondisi keuangannya. Segala kebutuhan dan
pengeluaran ditanggung oleh PT RBI, sehingga restoran ini cukup leluasa dalam
mengembangkan usahanya tanpa takut akan terkendala masalah uang. Hal inilah
yang menjadi salah satu kekuatan restoran ini.
6.2.5. Penelitian dan Pengembangan
Pihak manajemen Restoran Rice Bowl Botani Square diberi kepercayaan
oleh PT RBI untuk melakukan pengembangan usaha Restoran Rice Bowl di Kota
Bogor. Dalam hal ini, pihak manajemen Restoran Rice Bowl Botani Square
seharusnya melakukan pengamatan dan kajian mengenai lingkungan usaha di
Kota Bogor. Akan tetapi, hingga saat ini belum ada upaya yang kontinu untuk
mencapai tujuan tersebut.
Pihak manajemen restoran pernah membuka outlet di BTM, namun gagal
dan tidak berproduksi lagi. Karena kegagalan ini, pihak manajemen sangat
berhati-hati dalam membuat keputusan untuk mengembangkan usaha. Akibatnya
hingga saat ini, pihak manajemen belum melakukan pengamatan dan kajian
lingkungan usaha di Kota Bogor secara optimal. Hal ini menjadi kelemahan
restoran, karena cukup menghambat restoran dalam mengembangkan usahanya.
6.2.6. Sistem Informasi Manajemen
Kemajuan teknologi dewasa ini menimbulkan perubahan besar-besaran
dalam hidup manusia. Manusia dapat mengakses segala sesuatu dan memenuhi
kebutuhannya dengan cepat. Industri pariwisata merupakan salah satu industri
yang sangat peka akan perubahan teknologi, termasuk restoran.
Restoran Rice Bowl Botani Square memiliki website yang berfungsi untuk
memberikan informasi secara cepat pada konsumen. Website ini dapat diakses
melalui situs www.ricebowl.com. Akan tetapi, situs ini belum dikelola dengan
baik oleh, banyak menu yang kosong dan informasi tidak tersedia. Dengan
demikian, website ini belum dapat memberikan manfaat yang optimal bagi
restoran dalam penggunaannya.
Formulasi strategi atau sering disebut perencanaan strategis merupakan
proses penyusunan perencanaan jangka panjang. Formulasi strategi diperoleh
melalui analisis visi misi perusahaan serta lingkungan eksternal dan internal
perusahaan. Pengembangan visi misi perusahaan serta pengenalan akan faktor
eksternal dan internal perusahaan akan menghasilkan strategi pokok yang perlu
diimplementasikan oleh perusahaan.
7.1. Tahap Masukan (Input)
7.1.1. Identifikasi Faktor Eksternal dan Internal
1. Visi, Misi dan Nilai Perusahaan
Visi Restoran Rice Bowl Botani Square yaitu “Menjadi Restoran
Keluarga yang Terkenal dan Terbaik di negara kita ”, dan misinya yaitu “Rice
Bowl mempunyai komitmen untuk menyajikan masakan dengan kualitas dan
citarasa tinggi, mutu pelayanan yang memuaskan dan lingkungan yang
menyenangkan”.
Restoran Rice Bowl memiliki nilai-nilai yang menjadi dasar perilaku
perusahaan dalam menjalankan usahanya. Nilai-nilai ini sangat dipegang teguh
oleh seluruh tim manajemen dan karyawan restoran, yaitu : (1) Sense of belonging
(rasa memiliki); (2) Sense of Responsible (rasa tanggung jawab); (3) Openness
(keterbukaan); (4) Team work (kerjasama); (5) Human relation (supel dan
familiar); (5) Trust (dapat dipercaya). Kemampuan Restoran Rice Bowl dalam
79
menggerakkan usahanya dikarenakan adanya komitmen tinggi pada visi, misi dan
nilai-nilai perusahaan.
2. Identifikasi Peluang, Ancaman, Kekuatan dan Kelemahan
Faktor peluang dan ancaman merupakan lingkungan eksternal perusahaan
yang keberadaannya tidak dapat dikendalikan. Restoran Rice Bowl Botani Square
harus mampu memanfaatkan peluang yang ada serta selalu siap untuk
mengantisipasi ancaman. Tabel 16 menggambarkan faktor eksternal yang
mempengaruhi perkembangan Restoran Rice Bowl Botani Square.
a. Peluang (Opportunities)
O1 Visit West Java Year 2008. Kegiatan ini merupakan kesempatan bagi
restoran, sebagai salah satu sarana pendukung industri pariwisata, di
kota Bogor untuk mempromosikan usahanya.
O2 Keamanan lingkungan Kota Bogor. Peran Pemda Kota Bogor
terhadap industri pariwisata dan sarana pendukungnya terlihat melalui
peraturan dan perundang-undangan yang jelas. Hal ini menciptakan
kondisi lingkungan usaha yang aman dan terjamin.
O3 Pangsa pasar semakin luas. Jumlah penduduk kota Bogor yang
semakin tinggi merupakan peluang bagi restoran untuk
mengembangkan pangsa pasarnya ke skala yang lebih luas.
O4 Perubahan gaya hidup masyarakat. Minat masyarakat terhadap
kepraktisan dan perilaku belanja di mall mendorong pertumbuhan
usaha restoran di kota Bogor.
O5 Event dan exhibition di Botani Square. Kegiatan ini mampu
mendatangkan pengunjung dalam jumlah jauh lebih besar, sehingga
berdampak pada peningkatan penjualan produk restoran di Botani
Square.
O6 Peningkatan pendapatan daerah dan daya beli masyarakat.
Pendapatan daerah kota Bogor yang semakin tinggi menggambarkan
kesejahteraan rakyat yang semakin meningkat serta meningkatkan
daya beli masyarakat.
81
O7 Perkembangan kemajuan dan inovasi teknologi. Perkembangan
teknologi yang semakin pesat banyak dimanfaatkan restoran untuk
menciptakan keunggulan dibandingkan pesaingnya.
b. Ancaman (Threats)
T1 Isu flu burung yang masih marak hingga saat ini. Isu flu burung
mempengaruhi kepercayaan konsumen akan keamanan dalam
mengkonsumsi unggas.
T2 Kenaikan harga bahan makanan. Kondisi ini akan menyebabkan
kenaikan biaya produksi restoran, sehingga berdampak pada
penurunan tingkat keuntungan dan pengurangan jumlah produksi.
T3 Kelangkaan bahan bakar minyak tanah dan gas elpiji. Kondisi
menjadi hambatan bagi kegiatan produksi restoran. Kelangkaan ini
juga mengakibatkan kenaikan harga bahan bakar minyak dan elpiji.
T4 Tingkat inflasi yang berfluktuasi. Tingkat inflasi dalam
perekonomian negara kita yang berfluktuasi menimbulkan kondisi
ketidakpastian. Hal ini menyulitkan usaha restoran dalam
mengembangkan usahanya.
T5 Persaingan dalam industri restoran tinggi. Peningkatan jumlah
restoran di kota Bogor yang semakin tinggi menciptakan lingkungan
persaingan yang semakin kompetitif.
T6 Hambatan masuk industri sangat kecil. Pendatang baru dalam
industri restoran dapat dengan mudah mendapatkan akses untuk
masuk dalam industri.
T7 Produk substitusi tersedia sangat banyak. Produk substitusi bagi
restoran ini yaitu restoran tradisional dan American fastfood.
T8 Kekuatan tawar menawar konsumen sangat tinggi. Konsumen
bebas memilih sesuai dengan kebutuhannya tanpa ada biaya peralihan.
Faktor kekuatan dan kelemahan perusahaan merupakan faktor internal
yang menjadikan suatu usaha berbeda dari pesaingnya. Tabel 17 menggambarkan
faktor internal yang menjadi kekuatan dan kelemahan Restoran Rice Bowl Botani
Square.
c. Kekuatan (Strenghts)
S1 Nilai perusahaan dan Konsep Oriental Semi Fastfood. Nilai-nilai
yang dianut perusahaan serta konsep oriental semi fastfood merupakan
keunggulan dan keunikan yang membedakan Restoran Rice Bowl dari
usaha sejenis lainnya.
S2 Standar Operasiona
Perusahaan (SOP) yang jelas dan terarah.
Adanya SOP perusahaan menjadi acuan bagi karyawan dalam bekerja
sehingga diharapkan dapat menjada standar kualitas perusahaan.
S3 Budaya dan moto kerja yang unik. Budaya kerja DQSC dan moto
“CERIA” yaitu pemicu semangat karyawan dalam bekerja.
S4 SDM yang berkualitas dan terlatih. Adanya proses training
karyawan yang dilakukan merupakan salah satu bentuk tanggung
jawab restoran terhadap pengembangan kualitas karyawannya.
S5 Keunggulan merk. Rice Bowl merupakan pionir restoran oriental
fastfood. Hingga saat ini Rice Bowl memiliki citra merk yang unggul
dan memiliki kualitas yang sangat baik.
S6 Variasi menu unggulan oriental dari Hongkong Executive Chef.
Menu yang disajikan di restoran ini sangat bervariasi, serta memiliki
kekhasan dan ciri khas tersendiri.
S7 Lokasi restoran strategis dan mudah dijangkau. Lokasi restoran di
megamall Botani Square yang terletak di pusat kota Bogor,
Baranangsiang merupakan mampu menarik banyak konsumen.
S8 Strategi penetapan harga. Penetapan harga produk secara psikologis
melalui proses planning product menjadikan Rice Bowl sebagai
restoran yang memiliki daya tarik dari segi harga.
S9 Metode pengelolaan barang dan bahan baku yang berkualitas.
Pengelolaan barang dan bahan baku mencakup pemesanan,
penyimpanan serta pengolahan dilakukan secara profesional.
S10 Keterjaminan modal dan sumber keuangan. PT RBI sangat
bertanggung jawab dalam memberikan kebutuhan modal maupun dana
yang dibutuhkan Restoran Rice Bowl Botani Square dalam
mengembangkan usahanya.
d. Kelemahan (Weakness)
W1 Belum melakukan pengamatan dan kajian lingkungan usaha
secara optimal.
W2 Belum memiliki sertifikasi halal MUI. Walaupun bukan suatu
keharusan, namun adanya sertifikasi halal merupakan salah satu
bentuk tanggung jawab restoran sebagai jaminan keamanan konsumsi
produknya.
W3 Kegiatan promosi keluar kurang gencar dilakukan. Kegiatan
promosi yang dilakukan belum meluas di seluruh kota Bogor dan
masih terkonsentrasi di dalam Botani Square saja.
W4 Keterbatasan kreativitas dan kemampuan inovasi produk.
W5 Pencapaian target pendapatan yang belum stabil. Tingkat
persaingan yang semakin tinggi mempengaruhi kemampuan untuk
85
mencapai target. Akibatnya pencapaian target pendapatan seringkali
tidak sesuai yang diharapkan.
W6 Layanan distribusi produk masih kurang. Distribusi produk ke
konsumen masih sangat terbatas dan kurang meluas.
W7 Pengelolaan situs website belum optimal. Dalam situs website banyak
informasi yang tidak tersedia, sehingga pemanfaatannya masih kurang.
7.1.2. Matriks External Factor Evaluation (EFE) dan Internal Factor
Evaluation (IFE)
Pada Restoran Rice Bowl Botani Square, penilaian dilakukan oleh tiga
orang responden, yaitu Store Manager, Assistant Store Manager dan Captain.
Ketiga responden merupakan pihak manajemen restoran yang paling mengetahui
kondisi internal dan eksternal perusahaan, selain itu ketiganya merupakan pihak
yang berwenang dan bertanggung jawab dalam pelaksanaan kebijakan dan strategi.
a. Matriks EFE
Matriks EFE diperoleh melalui penilaian responden mengenai sejauh mana
faktor-faktor strategis eksternal berpengaruh terhadap perusahaan. Setiap
responden (pakar) memberikan penilaian bobot dan rating terhadap masing-masing
faktor strategis eksternal perusahaan.
Berdasarkan Tabel 18, analisis Matriks EFE yang dilakukan menghasilkan
nilai tertimbang sebesar 2,545. Peluang utama dalam lingkungan usaha restoran ini
ditunjukkan oleh faktor peluang dengan nilai tertimbang terbesar, yaitu event dan
exhibition di Botani Square dengan nilai tertimbang sebesar 0,320. sedang
86
ancaman utama ditunjukkan oleh faktor ancaman dengan nilai tertimbang terkecil,
yaitu kelangkaan bahan bakar minyak dan gas elpiji dengan nilai 0,112.
b. Matriks IFE
Matriks IFE diperoleh melalui penilaian responden mengenai sejauh mana
faktor-faktor strategis internal berpengaruh terhadap perusahaan. Setiap responden
(pakar) memberikan penilaian bobot dan rating terhadap masing-masing faktor
strategis internal perusahaan.
Berdasarkan Tabel 19, analisis matriks IFE menghasilkan total nilai
tertimbang sebesar 2,770. Total nilai tertimbang IFE ini mengindikasikan bahwa
kemampuan restoran dalam merespon lingkungan internalnya masih rata-rata.
Kekuatan utama dari restoran ini yaitu lokaasi restoran yang strategis dan mudah
dijangkau, dengan nilai tertimbang tertinggi sebesar 0,244. sedang kelemahan
utama restoran yaitu pencapaian target pendapatan yang belum stabil, dengan
nilai tertimbang ancaman terkecil sebesar 0,070.
7.2. Tahap Pencocokan
7.2.1. Analisis Matriks Internal External (IE)
Analisis Matriks IE digunakan untuk mengetahui posisi perusahaan saat ini.
Matriks IE didasarkan pada nilai tertimbang yang diperoleh pada matriks EFE dan
IFE. Nilai tertimbang sebesar 2,545 diperoleh dari matriks EFE yaitu , sedang
matriks IFE menghasilkan nilai tertimbang sebesar 2,770. Melalui nilai tertimbang
dalam matriks EFE dan IFE, maka dapat digambarkan posisi perusahaan dalam
matriks IE dibawah ini.
Pada analisis matriks IE Restoran Rice Bowl Botani Square (Gambar 6),
posisi perusahaan terletak pada sel V (hold and maintain). Sel V menggambarkan
kemampuan perusahaan dalam merespon lingkungan eksternal dan internalnya
masih dalam tingkat rata-rata.
Posisi Restoran Rice Bowl Botani Square dalam tahap hold and maintain
(jaga dan pertahankan) menentukan strategi yang akan diterapkan perusahaan.
Strategi yang sebaiknya diterapkan restoran pada posisi ini yaitu strategi penetrasi
pasar dan pengembangan produk. Strategi penetrasi merupakan upaya peningkatan
pangsa pasar untuk produk atau jasa melalui upaya pemasaran yang lebih besar.
Strategi pengembangan produk merupakan upaya peningkatan penjualan dengan
memperbaiki atau memodifikasi produk atau jasa saat ini (David, 2006).
Strategi penetrasi pasar dan pengembangan produk merupakan strategi
intensif, artinya dibutuhkan usaha yang intensif dan kontinu untuk unggul dalam
lingkungan kompetitif perusahaan. Strategi yang diperoleh melalui matriks IE
bersifat umum. Karena itu dilakukan analisis Matriks SWOT untuk mendapatkan
strategi yang lebih spesifik dan nyata.
7.2.2. Analisis Matris SWOT
Analisis Matriks SWOT disusun berdasarkan identifikasi faktor lingkungan
eksternal dan internal Restoran Rice Bowl Botani Square. Analisis Matriks SWOT
yang dilakukan menghasilkan delapan macam strategi yang dikelompokkan dalam
empat sel, yaitu Strategi S-O, Strategi S-T, Strategi W-O dan Strategi W-T.
Strategi S-O
1) Strategi SO-1, yaitu membuka outlet baru di pusat perbelanjaan lain di kota
Bogor. Kualitas SDM dan keterjaminan modal dan keuangan menjadi kekuatan
bagi restoran untuk memperluas pangsa pasarnya. Strategi ini didukung oleh
pesatnya pertumbuhan pusat perbelanjaan di kota Bogor.
2) Strategi SO-2, yaitu mensponsori event atau exhibition di Botani Square. Event
dan exhibition yang sering diadakan di Botani Square merupakan peluang besar
bagi Restoran Rice Bowl untuk menarik konsumen lebih banyak. Mensponsori
event atau exhibition di Botani Square merupakan salah satu strategi untuk
meningkatkan penjualan serta sebagai upaya promosi yang efektif.
Strategi W-O
1) Strategi WO-1, yaitu menyediakan layanan pesan antar dan paket menu khusus.
Strategi ini bertujuan untuk menjangkau pangsa pasar yang lebih luas dan lebih
praktis. Penyediaan paket menu khusus juga sebagai salah satu upaya
90
diversifikasi produk, misalnya paket untuk anak-anak atau paket hari raya
tertentu.
2) Strategi WO-2, yaitu mengoptimalkan kegiatan promosi melalui iklan, media
dan website. Strategi ini merupakan upaya promosi yang sebaiknya dilakukan
lebih intensif oleh Restoran Rice Bowl Botani Square. Misalnya dengan
pemasangan spanduk, billboard, iklan di majalah serta pengoptimalan fungsi
website dalam memberikan informasi bagi konsumen.
Strategi S-T
1) Strategi ST-1, yaitu mempertahankan strategi penetapan harga. Target pasar
Restoran Rice Bowl yaitu konsumen golongan menengah keatas. Strategi
penetapan harga psikologis yang dilakukan selama ini mampu menciptakan
harga yang tepat bagi konsumen. Dimana strategi ini mempengaruhi pikiran
dan pendapat konsumen bahwa harga produk Rice Bowl tidak tergolong mahal.
2) Strategi ST-2, yaitu menjaga hubungan baik dengan pemasok untuk menjaga
kualitas bahan baku. Restoran Rice Bowl saat ini telah memiliki pemasok yang
mampu menyediakan kebutuhan barang dan bahan baku berkualitas. Kualitas
barang dan bahan baku yang digunakan merupakan faktor kunci kualitas
produk yang dihasilkan oleh Rice Bowl. Strategi ini mampu menjamin
ketersediaan dan kontinuitas bahan baku sesuai SOP.
3) Strategi ST-3, yaitu menjaga kualitas produk makanan dan pelayanan
konsumen. Strategi ini merupakan salah satu cara untuk mempertahankan
loyalitas konsumen kepada Rice Bowl. Produk yang bermutu dan pelayanan
yang memuaskan akan membuat konsumen merasa nyaman dan aman dengan
suasana restoran.
Strategi W-T
1) Strategi WT-1, yaitu melakukan evaluasi dan kajian kemampuan restoran
dalam menghadapi persaingan. Evaluasi ini dapat dilakukan oleh pihak
manajemen restoran secara berkala, misalnya bulanan atau kuartalan. Dengan
evaluasi dan kajian yang dilakukan, diharapkan pihak manajemen akan mampu
senantiasa melakukan perbaikan kelemahan dan kekurangan restoran secara
kontinu. Strategi ini juga membantu restoran dalam mengenali kondisi
lingkungan eksternal, internal serta kondisi persaingan yang ada di sekitarnya.
7.3. Tahap Keputusan
Tahap keputusan merupakan tahapan membuat peringkat strategi untuk
menghasilkan daftar berprioritas (David, 2006). Dalam penelitian ini digunakan
Analisis Quantitative Strategic Planning Matrix (QSPM) sebagai tahap keputusan
dalam perumusan strategi pengembangan Restoran Rice Bowl Botani Square.
7.3.1. Quantitative Strategic Planning Matrix (QSPM)
Analisis QSPM mampu menentukan daftar prioritas pelaksanaan strategi
dengan menentukan daya tarik relatif (Attractiveness Score-AS) dari alternatif
tindakan yang layak. Teknik ini secara objektif mengindikasikan alternatif strategi
mana yang terbaik untuk dilakukan perusahaan.
Analisis QSPM dilakukan berdasarkan delapan alternatif strategi yang ada.
Penilaian dilakukan oleh tiga orang responden yang memiliki pengaruh terbesar
dalam perusahaan dalam pengambilan keputusan. Hasil total TAS dari setiap
responden untuk masing-masing strategi akan dirata-ratakan untuk menentukan
urutan prioritas strategi yang akan dilaksanakan.
93
Berdasarkan hasil analisis QSPM pada Tabel 21, terlihat bahwa strategi
yang menjadi prioritas untuk dilakukan saat ini yaitu menjaga kualitas produk
makanan dan layanan konsumen dengan total TAS tertinggi sebesar 5,897. Urutan
prioritas strategi pengembangan Restoran Rice Bowl Botani Square yaitu sebagai
berikut :
1. Menjaga kualitas produk makanan dan layanan konsumen (TAS = 5,979)
2. Melakukan evaluasi dan kajian kemampuan restoran dalam menghadapi
persaingan (TAS = 5,313)
3. Mengoptimalkan kegiatan promosi melalui iklan, media, website (TAS =
5,256)
4. Mensponsori event dan exhibition di Botani Square (TAS = 5,159)
5. Menyediakan layanan pesan antar dan paket menu khusus (TAS = 5,042)
6. Membuka outlet baru di pusat perbelanjaan lain di kota Bogor (TAS = 4,553)
7. Mempertahankan strategi penetapan harga (TAS = 4,306)
8. Menjaga hubungan baik dengan pemasok untuk menjaga kualitas bahan baku
(TAS = 4,148).
1. Restoran Rice Bowl Botani Square merupakan pionir oriental semi
fastfood restaurant. Hingga saat ini restoran masih cenderung terlalu
berhati-hati dalam melakukan upaya pengembangan usaha. Selain itu,
restoran juga belum memanfaatkan lingkungan usahanya dengan
optimal. Strategi yang selama ini dilakukan sebagian besar berupa
strategi promosi harga melalui paket menu murah. Selain itu dilakukan
juga promosi melalui pembagian leaflet.
2. Faktor peluang yang dimiliki oleh Restoran Rice Bowl Botani Square
yaitu Visit West Java Year 2008, keamanan lingkungan Kota Bogor,
pangsa pasar semakin luas, perubahan gaya hidup masyarakat, event
dan exhibition di Botani Square, peningkatan pendapatan daerah dan
daya beli masyarakat dan perkembangan kemajuan dan inovasi
teknologi. sedang faktor ancaman yang dihadapi yaitu isu flu
burung, kenaikan harga bahan makanan, kelangkaan bahan bakar
minyak tanah dan gas elpiji, tingkat inflasi yang berfluktuasi,
persaingan dalam industri restoran tinggi, hambatan masuk industri
sangat kecil, produk substitusi tersedia sangat banyak, dan kekuatan
tawar menawar konsumen sangat tinggi.
3. Faktor kekuatan yang dimiliki Restoran Rice Bowl Botani Square
yaitu nilai perusahaan dan konsep oriental semi fastfood, Standar
Operasional Perusahaan (SOP) yang jelas dan terarah, budaya dan
95
moto kerja yang unik, SDM yang berkualitas dan terlatih, keunggulan
merk, variasi menu unggulan oriental dari Hongkong Executive Chef,
lokasi restoran strategis dan mudah dijangkau, strategi penetapan
harga, metode pengelolaan barang dan bahan baku yang berkualitas
dan keterjaminan modal dan sumber keuangan. sedang faktor
kelemahannya yaitu belum melakukan pengamatan dan kajian
lingkungan usaha secara optimal, belum memiliki sertifikasi halal
MUI, kegiatan promosi keluar kurang gencar dilakukan, keterbatasan
kreativitas dan kemampuan inovasi produk, pencapaian target
pendapatan yang belum stabil, layanan distribusi produk masih kurang
dan pengelolaan situs website belum optimal.
4. Berdasarkan total nilai tertimbang pada matriks EFE sebesar 2,545
dan matriks IFE sebesar 2,770 diperoleh gambaran posisi perusahaan
saat ini dalam pemetaan matriks IE. Restoran berada pada sel V, yaitu
tahap hold and maintain (jaga dan pertahankan), dengan alternatif
strategi penetrasi pasar dan pengembangan produk. Analisis SWOT
menghasilkan delapan buah strategi yang diurutkan prioritas
pelaksanaannya dengan analisis QSPM. Urutan prioritas strategi yang
dilaksanakan yaitu menjaga kualitas produk makanan dan layanan
konsumen (TAS = 5,979), melakukan evaluasi dan kajian kemampuan
restoran dalam menghadapi persaingan (TAS =5,313),
mengoptimalkan kegiatan promosi melalui iklan, media, website (TAS
= 5,256), mensponsori event dan exhibition di Botani Square (TAS =
5,159), menyediakan layanan pesan antar dan paket menu khusus
96
(TAS = 5,042), membuka outlet baru di pusat perbelanjaan lain di kota
Bogor (TAS = 4,553), mempertahankan strategi penetapan harga
(TAS = 4,306) dan menjaga hubungan baik dengan pemasok untuk
menjaga kualitas bahan baku (TAS = 4,148).
8.2. Saran
1. Restoran Rice Bowl Botani Square sebaiknya tetap mempertahankan
kualitas produk dan layanan konsumen yang menjadi keunggulannya
hingga saat ini. Strategi ini mampu mengatasi salah satu kelemahan
utama restoran, yaitu belum memiliki sertifikasi halal MUI. Akan
tetapi untuk jangka panjang, ada baiknya pihak manajemen
mengusahakan adanya label sertifikasi halal. Adanya sertifikasi halal
MUI akan menjamin keamanan pangan, sehingga konsumen akan
benar-benar yakin akan produk yang ditawarkan.
2. Menggencarkan upaya promosi dan iklan, baik di dalam maupun di
luar lingkungan Botani Square. Langkah-langkah yang dapat
dilakukan antara lain pemasangan billboard dan spanduk di tempat-
tempat strategis, iklan di surat kabar atau majalah serta melakukan
promosi pada radio-radio kota Bogor.
3. Pemanfaatan SDM dan manajemen sebaiknya dilakukan lebih optimal.
Mengingat keterbatasan dalam inovasi produk, sebaiknya Restoran
Rice Bowl Botani Square kreatif dalam menciptakan paket menu atau
variasi menu yang membedakannya dari restoran sejenis. Paket menu
yang dapat diciptakan antara lain paket khusus anak-anak (kids menu),
paket hemat dengan beragam jenis menu serta paket khusus hari raya.













