Rice bowl

 




 Kota Bogor merupakan salah satu daerah Propinsi Jawa Barat yang kaya 

akan keanekaragaman objek wisata, baik wisata alam, budaya maupun sejarah. 

Industri pariwisata merupakan sektor yang dianggap sejalan dengan Visi Kota 

Bogor, yaitu "Kota Jasa yang Nyaman dengan Masyarakat Madani dan 

Pemerintahan Amanah". Restoran merupakan salah satu usaha sarana pendukung 

industri pariwisata di Kota Bogor, sekaligus sebagai penyedia kebutuhan pangan. 

Perkembangan jumlah restoran di Kota Bogor cukup pesat, dimana hingga 

pada tahun 2006 terdapat 248 usaha restoran dengan peningkatan sebesar 11,71 

persen dibandingkan tahun sebelumnya. Pertumbuhan restoran di Kota Bogor 

berdampak baik pada perekonomian Kota Bogor, dengan kontribusi subsektor 

restoran sebesar 5,34 persen terhadap total PDRB Kota Bogor. 

Restoran Rice Bowl Botani Square merupakan usaha restoran yang pada 

umumnya dikembangkan di pusat-pusat perbelanjaan (mall). Restoran ini 

merupakan pionir dari konsep oriental semi fastfood and family restaurant. 

Adanya pengenalan akan konsep baru ini tentu saja membutuhkan serangkaian 

strategi pengembangan usaha yang tepat. Strategi yang tepat akan membantu 

Restoran Rice Bowl Botani Square untuk tetap eksis dan unggul dalam 

lingkungan persaingan industri yang dihadapinya. 

Tujuan penelitian ini yaitu  mengkaji strategi usaha yang telah dilakukan 

oleh Restoran Rice Bowl Botani Square, menganalisis faktor eksternal dan 

internal Restoran Rice Bowl Botani Square, dan mengkaji alternatif strategi yang 

paling sesuai bagi restoran untuk mengembangkan usahanya. 

Penelitian ini dilakukan pada Restoran Rice Bowl Botani Square, Bogor. 

Penelitian dilakukan selama tiga bulan yaitu pada bulan Februari hingga April 

2008. Pemilihan objek penelitian dilakukan secara sengaja (purposive), dengan 

pertimbangan bahwa Restoran Rice Bowl Botani Square merupakan pionir 

oriental semi fastfood restaurant di negara kita , dan merupakan satu-satunya 

restoran cabang yang berada di Kota Bogor hingga saat ini.  

Data yang digunakan dalam penelitian ini yaitu  data primer dan 

sekunder. Data primer berupa wawancara mendalam (indepth interview) secara 

langsung kepada pihak manajemen Restoran Rice. Data sekunder diperoleh dari 

Badan Pusat Statistik (BPS) Kota Bogor dan Jawa Barat, dari Dinas Informasi 

Kepariwisataan dan Kebudayaan Kotamadya Bogor, literatur serta media terkait. 

Metode analisis dan pengolahan data yang digunakan dalam penelitian ini 

yaitu  analisis deskriptif berupa analisis lingkungan umum dan industri 

perusahaan. Selain itu dilakukan analisis tiga tahap formulasi strategi, yaitu tahap 

masukan melalui Matriks Internal Factor Evaluation (IFE) dan External Factor 

Evaluation (EFE), tahap pencocokan melalui analisis matriks IE (Internal 

External) dan analisis SWOT (Strength, Weakness, Opportunity, Threat), serta 

tahap keputusan melalui analisis QSPM (Quantitative Strategic Planning Matrix). 

Rice Bowl berpedoman pada visi, misi dan nilai yang telah ditetapkan. 

Visi restoran ini yaitu  “Menjadi Restoran Keluarga yang Terkenal dan Terbaik 

di negara kita ”, dan misinya yaitu  “Rice Bowl mempunyai komitmen untuk 

menyajikan masakan dengan kualitas dan citarasa tinggi, mutu pelayanan yang 

memuaskan dan lingkungan yang menyenangkan”. Nilai-nilai perusahaan juga 

sangat dipegang teguh oleh seluruh tim manajemen dan karyawan restoran, yaitu : 

(1) Sense of belonging (rasa memiliki); (2) Sense of Responsible (rasa tanggung 

jawab); (3) Openness (keterbukaan); (4) Team work (kerjasama); (5) Human 

relation (supel dan familiar); (5) Trust (dapat dipercaya). 

Analisis lingkungan eksternal menghasilkan sejumlah faktor peluang dan 

ancaman. Faktor peluang yang dimiliki oleh Restoran Rice Bowl Botani Square 

yaitu  Visit West Java Year 2008, keamanan lingkungan Kota Bogor, pangsa 

pasar semakin luas, perubahan gaya hidup masyarakat, event dan exhibition di 

Botani Square, peningkatan pendapatan daerah dan daya beli masyarakat dan 

perkembangan kemajuan dan inovasi teknologi. Faktor ancaman yang dihadapi 

yaitu  isu flu burung, kenaikan harga bahan makanan, kelangkaan bahan bakar 

minyak tanah dan gas elpiji, tingkat inflasi yang berfluktuasi, persaingan dalam 

industri restoran tinggi, hambatan masuk industri sangat kecil, produk substitusi 

tersedia sangat banyak, dan kekuatan tawar menawar konsumen sangat tinggi. 

Analisis lingkungan internal menghasilkan sejumlah faktor kekuatan dan 

kelemahan yang dimiliki perusahaan. Faktor kekuatan yang dimiliki Restoran 

Rice Bowl Botani Square yaitu  nilai perusahaan dan konsep oriental semi 

fastfood, Standar Operasional Perusahaan (SOP) yang jelas dan terarah, budaya 

dan moto kerja yang unik, SDM yang berkualitas dan terlatih, keunggulan merk, 

variasi menu unggulan oriental dari Hongkong Executive Chef, lokasi restoran 

strategis dan mudah dijangkau, strategi penetapan harga, metode pengelolaan 

barang dan bahan baku yang berkualitas dan keterjaminan modal dan sumber 

keuangan. Faktor kelemahan restoran yaitu  belum melakukan pengamatan dan 

kajian lingkungan usaha secara optimal, belum memiliki sertifikasi halal MUI, 

kegiatan promosi keluar kurang gencar dilakukan, keterbatasan  kreativitas dan 

kemampuan inovasi produk, pencapaian target pendapatan yang belum stabil, 

layanan distribusi produk masih kurang dan pengelolaan situs website belum 

optimal. 


Kota Bogor merupakan salah satu daerah Propinsi Jawa Barat yang kaya 

akan keanekaragaman objek wisata, baik wisata alam, budaya maupun sejarah. 

Potensi pariwisata kota Bogor didukung oleh letaknya yang berada diantara 

Jakarta-Bandung yang menjadikan Kota Bogor sebagai tempat transit wisatawan 

asing maupun lokal. Selain itu, Bogor merupakan jalur favorit wisatawan yaitu 

Jalur Puncak dengan banyak tempat wisata seperti Kebun Raya, Taman Safari, 

Gunung Mas dan Taman Bunga. Kota Bogor juga berfungsi sebagai pusat 

penelitian dan pengembangan sehingga banyak ditemukan museum-museum dan 

bangunan bersejarah. 

Peran penting sektor pariwisata ini mendorong adanya pengoptimalan 

upaya pengembangan dan fungsi pariwisata Kota Bogor. Pemerintah Kota Bogor 

mengeluarkan Peraturan Daerah Kota Bogor 2003-2004 Tentang Rencana 

Strategis Pemerintahan Kota Bogor 2003-2008 yang bertujuan untuk 

mengembangkan potensi pariwisata, seni dan budaya dan meningkatkan kualitas 

dan kuantitas pelayanan kepada wisatawan secara bertahap guna meningkatkan 

kunjungan wisatawan ke Kota Bogor. Industri pariwisata merupakan sektor yang 

dianggap sejalan dengan Visi Kota Bogor, yaitu "Kota Jasa yang Nyaman dengan 

Masyarakat Madani dan Pemerintahan Amanah". 

Dukungan pemerintah dalam peningkatan daya tarik pariwisata Kota 

Bogor diwujudkan dengan adanya “Visit West Java 2008”, yang merupakan upaya 

pemerintah untuk mempromosikan Jawa Barat, termasuk Kota Bogor, kepada para 

 27 

wisatawan. Pelaksanaan kegiatan ini mengacu pada upaya pemerintah negara kita  

untuk meningkatkan daya tarik wisatawan untuk berkunjung ke negara kita  melalui 

“Visit negara kita  Year 2008”.  

Jumlah wisatawan yang berkunjung ke Kota Bogor, baik wisatawan 

mancanegara maupun nusantara, dipengaruhi oleh stabilitas kondisi 

perekonomian, politik maupun keamanan negara kita . Jumlah wisatawan yang 

berkunjung ke Kota Bogor mengalami fluktuasi dari tahun ke tahun tergantung 

kondisi keamanan nasional. 

 

Terjadinya krisis moneter dan krisis multidimensi pada tahun 1997 

menyebabkan kondisi negara kita  sangat tidak aman untuk dikunjungi, terutama 

oleh masyarakat nonpribumi. Hal ini berdampak pada penurunan jumlah 

kunjungan wisatawan pada 1997-1999. Pada tahun 2000 mulai terjadi pemulihan, 

dimana jumlah kunjungan wisatawan mencapai 1.828.661 orang dengan 

persentase peningkatan sebesar 25,4 persen.  

Pada tahun 2003, penurunan kembali terjadi akibat adanya tragedi bom 

Bali pada Oktober 2003. Dampak bencana ini berpengaruh terhadap penurunan 

jumlah wisatawan di seluruh wilayah negara kita , mengingat Bali merupakan 

daerah tujuan wisata utama di negara kita . Bencana alam dan seringnya terjadi 

kecelakaan sarana transportasi di negara kita  selama tiga tahun terakhir (2005-

2007) menyebabkan menurunnya jumlah wisatawan yang berkunjung ke kota 

Bogor. Akan tetapi dampaknya tidak terlalu besar karena Kota Bogor merupakan 

salah satu daerah yang aman dari bencana. Penurunan ini lebih disebabkan oleh 

banyaknya isu terjadinya bencana yang terjadi pada periode tersebut. 

Perkembangan industri pariwisata di Kota Bogor menciptakan lingkungan 

yang kondusif bagi usaha pendukungnya. Dalam kegiatannya, industri pariwisata 

dibagi menjadi lima bidang pokok, yaitu hotel dan restoran, tour and travel, 

transportasi, pusat wisata dan souvenir serta bidang pendidikan kepariwisataan. 

Restoran merupakan salah satu usaha pendukung industri pariwisata di Kota 

Bogor yang mengalami perkembangan cukup pesat. 

Di daerah perkotaan, restoran telah menjadi gaya hidup yang menawarkan 

pemenuhan kebutuhan pangan sekaligus kenyamanan dan rekreasi bagi 

pengunjungnya. Restoran dianggap mampu memenuhi kebutuhan pangan 

masyarakat perkotaan yang menyukai sesuatu yang praktis. Kesibukan masyarakat 

khususnya di kota-kota besar dengan pekerjaan sehari-hari yang menyita banyak 

waktu, menyebabkan mereka tidak memiliki cukup waktu untuk menyiapkan 

makanan, sehingga menimbulkan kebiasaan baru yaitu makan diluar rumah 

Ketersediaan sarana, prasarana dan faktor pendukung lainnya bagi 

perkembangan usaha restoran di Kota Bogor berdampak nyata pada peningkatan 

jumlah restoran di Kota Bogor. Pada Tabel 2 persentase pertumbuhan tertinggi 

terjadi pada tahun 2002 sebesar 49,07 persen. Pada tahun 2002 kondisi 

lingkungan bisnis negara kita  mulai dianggap pulih dan terjamin setelah terjadinya 

krisis moneter pada tahun 1997. Peningkatan terus terjadi dan hingga tahun 2006 

terdapat 248 outlet restoran yang terdapat di Kota Bogor.  

 

 

Pertumbuhan restoran di Kota Bogor yang semakin pesat berdampak baik 

pada perekonomian Kota Bogor. Hal ini terlihat dari kontribusi subsektor restoran 

pada PDRB Kota Bogor Atas Dasar Harga Konstan Tahun 2002-2006 (Tabel 3). 

Tingkat pertumbuhan PDRB dari subsektor restoran meningkat dengan rata-rata 

2,78 persen per tahun pada tahun 2002 hingga 2006. Walaupun demikian, perlu 

adanya upaya peningkatan kualitas yang sejalan, melihat kontribusinya yang 

cenderung menurun meski dalam persentase rendah. Dimana pada tahun 2002, 

subsektor restoran berkontribusi sebesar 6,06 persen bagi PDRB Kota Bogor, 

sedang  tahun 2006 hanya sebesar 5,34 persen. 

 


Pembangunan tempat perbelanjaan (mall) juga berdampak pada 

pertumbuhan restoran di Kota Bogor. Mall merupakan salah satu bukti 

modernisasi pada suatu daerah. Mall sebagai pusat perbelanjaan dengan konsep 

one stop shopping memerlukan restoran sebagai salah satu komponen utamanya. 

Mall merupakan tempat dimana konsumen dapat memenuhi berbagai macam 

kebutuhan barang dan jasa seperti rekreasi, pakaian, makanan, barang elektronik 

dan sebagainya, dengan hanya mengunjungi satu tempat saja.  

Seiring dengan adanya modernisasi dan peningkatan jumlah wisatawan 

yang berkunjung ke Kota Bogor, pertumbuhan restoran yang ada semakin 

beragam dan bervariasi. Saat ini restoran dengan menu asing, seperti 

internasional, kontinental dan oriental, mengalami perkembangan yang cukup 

pesat. Daya tarik restoran dengan menu asing yaitu  suasana dan atmosfer yang 

dihadirkan di lokasi menyerupai negara atau daerah asal makanan tersebut. 

Restoran Rice Bowl, Botani Square merupakan salah satu restoran yang 

menyajikan menu oriental dengan konsep family restaurant. Rice Bowl 

menawarkan konsep oriental semi fastfood dalam penyajian makanannya. Rice 

Bowl merupakan pionir dalam pengembangan konsep tersebut. Pengkajian 

strategi pengembangan yang tepat sangat penting bagi perusahaan, terutama 

dalam menawarkan konsep atau ide baru. Strategi yang tepat akan menjadi 

kekuatan Rice Bowl, Botani Square untuk memenangkan persaingan dalam bisnis 

restoran di Kota Bogor. 

 

1.2.   Perumusan Masalah 

Restoran Rice Bowl Botani Square berdiri pada bulan Agustus 2006, dan 

merupakan satu-satunya restoran cabang yang ada di Kota Bogor. Di negara kita  

saat ini terdapat 22 gerai Rice Bowl yang tersebar di wilayah Jakarta, Tangerang, 

Bogor, Bandung, Surabaya, Pekanbaru dan Palembang. Pengembangan restoran 

ini dikelola oleh PT. Batara Aulia Sejahtera dengan format bisnis waralaba 

maupun nonwaralaba (cabang pusat). Rice Bowl Botani Square merupakan 

restoran yang dikembangkan dengan format nonwaralaba, artinya restoran ini 

merupakan restoran cabang pusat yang dikelola oleh owner. 

Saat ini, Restoran Rice Bowl belum memiliki sertifikasi halal akan 

produknya. Di negara kita , khususnya kota Bogor yang mayoritas penduduknya 

beragama Islam, sertifikasi halal berperan penting sebagai jaminan keamanan 

dalam mengkonsumsi makanan. Sertifikat halal juga menjamin suatu produk 

diproduksi dengan cara yang beretika, sehat dan baik.  

Restoran Rice Bowl juga senantiasa melakukan perubahan pada cara 

penyajian menu yang ditawarkan. Porsi makanan Chinnese Food pada umumnya 

terlalu banyak seringkali membatasi konsumen untuk memesan lebih dari satu 

jenis makanan dan cepat merasa kenyang. Harga Chinnese Food yang cenderung 

mahal juga membatasi konsumen dalam melakukan pembelian. Karena itu Rice 

Bowl berusaha menawarkan menu makanan oriental dengan porsi yang pas, baik 

untuk menu perorangan maupun menu keluarga. 

Restoran Rice Bowl saat ini dihadapkan pada lingkungan persaingan yang 

sulit. Pesaing-pesaing Rice Bowl merupakan restoran di luar Botani Square dan 

yang berada di dalam Botani Square. Saat ini Restoran Rice Bowl mengalami 

tantangan yang cukup berat dalam menghadapi lingkungan persaingan industri 

restoran di dalam Botani Square. Tabel 4 menggambarkan peningkatan jumlah 

restoran dengan beragam variasi makanan yang ditawarkan di Botani Square. Hal 

ini menyebabkan kompetisi yang semakin ketat dalam merebut hati konsumen. 

 

Persaingan yang semakin tinggi mempengaruhi jumlah konsumen yang 

berkunjung ke Restoran Rice Bowl. Tabel 5 menunjukkan bahwa jumlah 

pengunjung Restoran Rice Bowl Botani Square mengalami penurunan. Pada bulan 

Januari 2008, jumlah pengunjung restoran mengalami penurunan sebesar 21,46 

persen. Penurunan yang cukup besar di awal tahun 2008 merupakan bukti 

semakin beratnya persaingan yang dihadapi oleh Rice Bowl dengan semakin 

beragamnya jenis restoran yang ada di Botani Square. Pihak manajemen harus 

                                                  

2      Hasil pengamatan langsung di Botani Square pada tanggal 28 Februari 2008. 

mampu memanfaatkan lingkungan eksternal dan internalnya untuk melakukan 

langkah yang tepat dalam mengembangkan usahanya. 

 

Di tengah persaingan yang semakin tinggi, kemampuan restoran untuk 

mempertahankan tingkat pendapatannya sangatlah penting. Restoran Rice Bowl 

Botani Square belum mampu mencapai target return of investment (ROI) yang 

ditetapkan setiap bulannya secara konsisten dan kontinu.  

Strategi pengembangan usaha dibutuhkan untuk memantapkan konsep 

oriental semi fastfood yang menjadi unggulannya. Untuk mendapatkan strategi 

yang tepat sesuai dengan tujuan, Rice Bowl Botani Square harus mengetahui 

kekuatan dan kelemahan, peluang dan ancaman serta pola reaksi perusahaan 

terhadap pesaing. Pengenalan dan pemahaman yang baik terhadap lingkunga 

perusahaan diharapkan dapat meningkatkan posisi bersaing Rice Bowl Botani 

Square dalam industri.  

Permasalahan yang dihadapi Restoran Rice Bowl Botani Square dapat 

dirumuskan sebagai berikut : 

1. Strategi-strategi apa saja yang sudah dilakukan oleh perusahaan ? 

2. Faktor-faktor internal dan eksternal apa saja yang mempengaruhi restoran 

dalam mengembangkan usahanya ? 

3. Alternatif strategi apa saja yang paling sesuai bagi perusahaan untuk 

mengembangkan usahanya ? 

 

Restoran termasuk dalam industri jasa boga yang merupakan industri yang 

bergerak dalam pengelolaan makanan siap santap (Fardiaz, 1994). Restoran 

yaitu  suatu tempat atau bangunan yang dikelola secara komersil yang 

menyelenggarakan pelayanan dengan baik kepada semua tamunya, baik berupa 

makanan maupun minuman. Menurut Mangkuwerdoyo (1987), berdasarkan 

Keputusan Menteri Parpostel No. KM. 95/ KH.103/ MPDT – 87, definisi restoran 

yaitu  suatu jenis usaha yang permanen, dilengkapi dengan peralatan dan 

perlengkapan untuk proses pembuatan, penyajian dan penjualan makanan dan 

minuman bagi umum di tempat usahanya. 

Restoran merupakan usaha yang tidak sekedar menawarkan produk 

makanan dan minuman saja, namun juga jasa pelayanan pada para 

pengunjungnya. Menurut Sugiarto (1999), kebutuhan masyarakat akan jasa boga 

restoran berkaitan dengan tiga hal pokok, yaitu : 

1. Physical product, yaitu kebutuhan akan makanan dan minuman  

2. Psychological product, mencakup sensual benefit (cuci mata dan suasana 

nyaman), sense of side (kebersihan, kerapian dan kesopanan), sense of 

listening (musik) 

3. Customer service product, mencakup kecepatan, reservasi dan kemudahan 

transaksi. 

Restoran yang baik harus memiliki proporsi yang seimbang dalam 

makanan dan minuman, suasana, pelayanan, restoran dan harga (Soekresno, 

2000). Menurut Mukhtar (2004), keberhasilan operasional restoran dapat dilihat 

dari lima hal yang disebut G - factors, yaitu : 

1. Good Food (G-1) 

Makanan yang disajikan kepada tamu dalam keadaan segar dan sistem 

pengelolaan yang baik, penyimpanan bahan baik, peralatan dan 

pelengkapan berkualitas tinggi dan higienis, cita rasa makanan baik dan 

sesuai dengan selera konsumen.  

2. Good Location & Parking Fasilities (G-2) 

Lokasi restoran harus strategis, dimana lokasi merupakan pedoman dalam 

mendirikan restoran. Luas tempat parkir juga menentukan kenyamanan 

konsumen. Oleh sebab itu restoran harus mudah terlihat, mudah dijumpai, 

memiliki daya tarik dengan pemilihan warna atau ornamen khusus serta 

letaknya tidak terlalu jauh dari pusat keramaian.  

3. Good Atmosphere (G-3) 

Suasana yang nyaman dan menyenangkan perlu diciptakan melalui 

penampilan interior dan eksterior yang seimbang, dekorasi yang 

digunakan, pemilihan warna dan fasilitas yang lengkap, seperti toilet, 

kursi dan meja yang berkualitas baik, dan table set up yang lengkap. 

4. Good Reputation (G-4)  

Restoran harus memiliki reputasi yang baik yang meliputi pelayanan, 

pengelolaan dan prestasi yang mempengaruhi pendapat masyarakat. 


5. Good Pleasant & Courteous Service (G-5) 

Tata saji dilakukan dengan begitu mengesankan, menyenangkan dan 

memuaskan. Pramusaji harus mampu memberikan masukan bagi tamu 

mereka yang kurang memahami keinginannya dan menyajikan makanan 

dengan tata saji yang berkualitas, sopan dan ramah. 

 

2.1.2. Jenis-Jenis Restoran 

Perkembangan restoran yang sangat pesat tidak hanya terlihat dari 

jumlahnya (kuantitas) saja, namun juga dari semakin bervariasinya jenis restoran 

yang muncul saat ini. Setiap restoran berusaha menawarkan sesuatu yang baru 

untuk menarik perhatian konsumen. 

Berdasarkan tingkat keorisinalannya, restoran dibedakan menjadi 10 jenis 

(Torsina, 2000), yaitu : 

1. Family Conventional, yaitu restoran tradisional untuk keluarga. Restoran 

ini mementingkan suasana yang nyaman dan harga terjangkau 

dibandingkan pelayanan dan dekorasi. 

2. Fast Food, yaitu restoran cepat saji dengan keterbatasan menu, ruang dan 

dekorasi namun memiliki harga terjangkau. Meraih pelanggan sebanyak-

banyaknya merupakan hal yang paling diutamakan. 

3. Cafetaria, yaitu restoran yang terdapat dalam gedung kantor atau pusat 

perbelanjaan. Menu yang disajikan sering berganti dan harga terjangkau. 

4. Gourmet, yaitu restoran kelas tinggi yang biasanya menyediakan wines 

dan liquors, standar penyajiannya tinggi dan bergengsi. 

5. Etnic, yaitu restoran yang menyajikan makanan dari daerah yang spesifik. 

6. Buffet, yaitu restoran dengan konsep self service, dimana pengunjung bisa 

makan sepuasnya apa yang disajikan. Namun untuk bir, wine dan liquor 

biasanya dilayani secara khusus. 

7. Coffee Shop, yaitu restoran yang biasanya berada di perkantoran dan pusat 

perbelanjaan, berfungsi sebagai tempat makan siang dan coffee break. 

8. Snack bar, yaitu restoran yang hanya menyajikan makanan ringan yang 

memiliki konsep eat in (makan di tempat) dan take out (dibawa pulang). 

9. Drive-in, yaitu restoran yang menyediakan layanan bagi para konsumen 

untuk makan di mobil masing-masing. Makanan dikemas dengan praktis. 

10. Speciality Restaurant, yaitu restoran yang letaknya jauh dari keramaian, 

namun masakannya unik dan berkualitas. 

 

2.1.3. Pelayanan Restoran 

Restoran merupakan industri jasa boga yang mengutamakan pelayanan 

yang baik dan memuaskan konsumennya. Pelayanan restoran menggambarkan 

bagaimana sistem dan cara penyajian makanan dan minuman pada konsumen. 

Model layanan yang diterapkan oleh tiap restoran berbeda-beda tergantung pada : 

1. Kelompok tamu yang diharapkan akan datang ke restoran, baik kelompok 

kebangsaannya, profesi ataupun status sosialnya 

2. Jenis makanan yang akan ditawarkan serta harga yang akan ditetapkan 

3. Spesifikasi jenis restoran yang akan dioperasikan. 

Mukhtar (2004) mengklasifikasikan sistematika pelayanan di sebuah 

restoran dapat dibedakan dalam empat kategori penyajian, yaitu : 

1. Table Service, merupakan sebuah sistem penyajian pelayanan makanan di atas 

meja yang disajikan oleh waiter atau waitress. Penyajian table service dapat 

dibedakan atas empat jenis, yaitu : 

a. American Service, yaitu sistem pelayanan yang bersifat sederhana, tidak 

resmi, cepat dan persiapan porsi makanan dilakukan di dapur. Disebut 

juga dengan ready plate service atau quick service. Penggunaannya 

diterapkan di coffee shop, cafetaria dan sebagainya.  

b. English Service (family style service), yaitu sistem pelayanan di mana 

makanan datang dari dapur, diletakkan diatas platter yang besar dan 

dioperasikan dari tamu yang satu ke tamu yang lainnya. Selain itu, platter 

juga dapat diletakkan di tengah meja, sehingga tamu mengambil sendiri 

makanan tersebut.  

c. Russian Service (Platter Service), yaitu makanan dibawa dengan 

memakai  platter dan dipindahkan ke piring tamu dengan 

memakai  sepasang sendok dan garpu service yang disebut dengan 

Clamp. Biasanya diterapkan pada restoran utama, seperti Grill Room, 

Dining Room, Super Restaurant dan jamuan-jamuan yang bersifat resmi.  

d. French Service (Gueridon Service), yaitu pelayanan yang biasanya 

dilakukan dalam jamuan resmi. Pelayanan dilaksanakan oleh dua orang 

pramusaji yang bertugas sebagai Chef de Rang (captain) dan Commis de 

Rang (waiter) serta memakai  alat bantu, yakni gueridon atau meja 

atau kereta dorong.  

e. Counter Service, merupakan suatu teknik pelayanan dengan penyajian 

makanan dan minuman diletakkan di atas counter. Counter yaitu  meja 

panjang yang membatasi ruang restoran dengan ruang dapur. 

2. Self Service (Buffet Service), yaitu suatu sistem pelayanan dimana pengunjung 

dapat mengambil langsung makanan yang diinginkannya yang telah tersedia 

di meja buffet, sedang  untuk minuman panas biasanya disajikan oleh 

pelayan. 

3. Carry Out Service (Take Out Service), satu sistem pelayanan dimana 

pengunjung datang untuk membeli makanan yang telah disiapkan 

sebelumnya, kemudian dibungkus dalam kotak dan dibawa pulang oleh 

pengunjung untuk dimakan di luar restoran. Pengunjung tidak makan di 

tempat atau dalam ruang restoran 

 

2.2. Masakan Oriental (Oriental Food) 

Kata “oriental” berasal dari bahasa Latin yaitu “oriens” yang artinya east 

(timur). Oriental food  berarti makanan atau menu makanan yang berasal dari 

daerah timur (Asia). Kawasan oriental terbagi atas Asia Tenggara (ASEAN), Asia 

Tengah (India dan Timur Tengah) serta Asia Timur (Cina, Jepang, Korea). 

Namun dalam perkembangan industri boga, oriental food lebih identik dengan 

masakan Asia Timur dan sebagian Asia Tenggara (Vietnam, Thailand, 

Singapura). Penyajian oriental food biasanya langsung pada menu utama (tanpa 

makanan pembuka atau penutup). Berbeda dengan kontinental food yang disajikan 

lengkap mulai appetizer (makanan pembuka), main dish (makanan utama) dan 

dessert (makanan penutup). 

Oriental food dapat diklasifikasikan menjadi lima kelompok berdasarkan 

negara asalnya3, yaitu : 

1. Japanese Cuisine, merupakan masakan yang memiliki kadar lemak rendah 

karena biasanya diolah dengan metode kukus, rebus ataupun setengah matang. 

Masakan Jepang baik dikonsumsi oleh orang yang sedang melakukan diet. 

Japanese food yang paling sering dikonsumsi yaitu  noodle (mie), sushi, 

sashimi, tempura, yakitori dan shabu-shabu.  

2. Singapore Cuisine, merupakan gabungan antara citarasa masakan Cina, India, 

negara kita  dan Malaysia. Keunikan masakan Singapura yaitu  penggabungan 

citarasa Asia Timur dan Asia Tenggara (Melayu), sehingga sering disebut 

Southern Chinese Cuisine. 

3. Thailand Cuisine, merupakan masakan yang banyak memakai  ikan, 

seafood dan tumbuh-tumbuhan. Hal ini dipengaruhi oleh mayoritas 

penduduknya beragama Budha, sehingga mayoritas penduduknya pantang 

mengkonsumsi daging. Pengolahan masakan Thailand masih dilakukan secara 

tradisional dan identik dengan citarasa pedas, asam dan manis. 

4. Vietnam Cuisine, merupakan kombinasi antara citarasa Asia dan Perancis. Sup 

merupakan budaya masakan Vietnam yang mirip dengan budaya Perancis. 

Masakan Vietnam memakai  sedikit minyak, banyak memakai  

seafood dan  pengolahan biasanya dengan metode pemanggangan (stir-fry).  

5. Chinese Cuisine, merupakan masakan yang berasal dari negara Cina, dapat 

dibagi menurut regionalnya, yaitu : 

                                                  

a. Beijing Cuisine ( Northern Chinese Food), merupakan masakan bangsa 

Mongolia dan Henan yang kaya akan gandum, roti dan daging bebek 

b. Cantonese Cuisine, merupakan masakan yang mengandung sangat sedikit 

minyak dan kaya akan bahan masakan seperti daging, ikan, tumbuhan. 

c. Sichuan Cuisine, merupakan masakan dengan citarasa pedas  

d. Huaiyang Cuisine, merupakan masakan dengan metode steam cooking  

Lidia (2001) dalam penelitian yang berjudul “Evaluasi Pelaksanaan Pola 

Waralaba dan Strategi Pengembangan Usaha Makanan Siap Saji (Fastfood) di CV 

X”, melakukan analisa kuantitatif dan kualitatif untuk memberikan alternatif 

strategi pengembangan bagi CV X. Analisis kuantitatif yang dilakukan berupa 

analisa profitabilitas, matriks IFE dan matriks EFE. sedang  analisis kualitatif 

berupa analisa pelaksanaan pola waralaba, dampak pola waralaba dan perumusan 

strategi alternatif dengan metode SWOT. Berdasarkan hasil analisis yang 

dilakukan, CV X berada pada kondisi persaingan yang sangat sulit, sehingga 

strategi yang dipilih yaitu  strategi kombinasi, yaitu penggabungan strategi W-O 

dengan strategi lain untuk meningkatkan kemampuan bersaing. Adapun strategi 

yang menjadi prioritas yaitu  peningkatan pengembangan karyawan, pemberian 

kepercayaan pada pewaralaba dan pembelian peralatan produksi. 

Rudianto (2002) dalam penelitian yang berjudul “ Strategi Pemasaran 

Restoran Berbasis Preferensi Konsumen (Studi Kasus Restoran Larisa, Bogor), 

melakukan analisis matriks SWOT dengan menganalisa variabel kekuatan, 

kelemahan, peluang dan ancaman yang mempengaruhi restoran. Hasil penelitian 

menunjukkan bahwa Restoran Larisa berada pada pertemuan antara isu strategis 

kekuatan dan peluang. Pada kondisi ini peneliti merekomendasikan strategi 

progresif atau strategi yang berorientasi kepada pertumbuhan melalui peningkatan 

kapasitas produksi, pengembangan produk dan pasar. Dalam penelitian ini tidak 

digunakan matriks IE dan QSPM sehingga tidak dapat diketahui secara mendalam 

posisi internal dan eksternal restoran, serta prioritas strategi yang akan dipilih 

untuk pengembangan restoran.  

Desiranita (2004) dalam penelitian yang berjudul “Strategi Pengembangan 

Bisnis Kecil pada Rumah Makan Saung Kiray” mengemukakan bahwa rumah 

makan tradisional Sunda yang dikelola secara kekeluargaan ini mengalami 

keterbatasan jumlah karyawan (SDM) serta  sistem pengelolaan usaha yang masih 

sangat sederhana. RM Saung Kiray memiliki karyawan sebanyak enam orang, 

struktur organisasinya masih abstrak dan belum jelas, serta sistem pencatatan 

keuangan yang masih sederhana. Dalam memberikan kenyamanan pada 

pengunjung, RM Saung Kiray menyediakan perpustakaan mini sebagai fasilitas. 

Analisis alternatif strategi pengembangan usaha dilakukan dengan analisis matriks 

IFE, EFE, IE, SWOT dan QSPM. Melalui analisis faktor eksternal dan internal 

yang digambarkan dalam matriks IE, terlihat bahwa posisi usaha ini berada pada 

tahap hold and maintain dengan strategi alternatif berupa strategi penetrasi dan 

pengembangan. Melalui analisis QSPM, alternatif strategi yang menjadi prioritas 

yaitu  meningkatkan usaha promosi melalui pemasangan spanduk di lokasi 

strategis.  

Luna (2005) dalam penelitian yang berjudul “Analisis Strategi Pemasaran 

Restoran dengan Metode SWOT (Studi Kasus Restoran Raffles, Megamendung 

Bogor) melakukan analisa faktor internal dan eksternal perusahaan serta 

perumusan strategi dengan metode SWOT. Dalam penelitian ini dilakukan 

pengujian kuesioner bagi para konsumen untuk mengetahui apa yang diinginkan 

konsumen dari restoran Raffles. 

Fahrurozhi (2006) dalam penelitian yang berjudul “Strategi 

Pengembangan Usaha Industri Kecil Tape Bondowoso di Kabupaten Bondowoso” 

menganalisa faktor eksternal dan internal serta posisi perusahaan dengan metode 

matriks  IE dan SWOT . sedang  untuk penetapan alternatif prioritas strategi 

pengembangan memakai  metode Analitycal Hierarcy Process (AHP). 

Prioritas alternatif strategi yang disarankan yaitu  : (1)meningkatkan mutu dan 

kualitas pelayanan pada konsumen; (2) meningkatkan nilai tambah dan kualitas 

produk; (3) memperluas daerah pemasaran; (4) melakukan pengembangan dan 

diferensiasi produk; (5) melakukan kegiatan promosi; (6) meningkatkan kualitas 

SDM, manajerial dan teknologi; (7) mengoptimalkan volume produksi perusahaan 

dan (8) melakukan efisiensi biaya. 

Secara umum, penelitian ini memiliki tujuan yang hampir sama dengan 

penelitian-penelitian terdahulu, yaitu mengidentifikasi faktor-faktor eksternal dan 

internal yang mempengaruhi perkembangan restoran dan menganalisa alternatif 

strategi yang tepat bagi pengembangan usaha restoran. Perbedaan penelitian ini 

dengan penelitian terdahulu yaitu  lokasi dan konsep restoran yang menjadi objek 

penelitian. Dalam hal ini restoran yang menjadi objek penelitian yaitu  Restoran 

Rice Bowl yang memiliki konsep oriental semi fastfood. Selain itu lokasi restoran 

yang berada di dalam sebuah pusat perbelanjaan terbesar di kota Bogor, yaitu 

Botani Square, juga mempengaruhi analisa alternatif strategi pengembangan yang 

tepat bagi restoran. 


No  Judul Penelitian Tujuan Metode dan Alat Analisis 

1.  Lidia 

(2001) 

Evaluasi Pelaksanaan Pola Waralaba dan 

Strategi Pengembangan Usaha Makanan 

Siap Saji (Fastfood) di CV X 

1. Mempelajari mekanisme dan 

mengevaluasi pelaksanaan pola waralaba 

pada usaha makanan siap saji  

2. Mengidentifikasi faktor internal dan 

eksternal 

3. Merumuskan strategi pengembangan 

usaha makanan siap saji CV X  

(a) Analisa kuantitatif, berupa analisa profitabilitas, 

matriks IFE dan matriks EFE, (b) Analisa kualitatif, 

berupa analisa pelaksanaan pola waralaba, dampak 

pola waralaba dan perumusan strategi alternatif 

dengan metode SWOT 

2. Desiranita  

(2004) 

Strategi Pengembangan Bisnis Kecil 

pada Rumah Makan Saung Kiray 

1.Menganalisis faktor eksternal dan 

internal yang mempengaruhi  

2.Memilih strategi pengembangan yang 

sesuai dengan kondisi rumah makan 

Saung Kiray 

Identifikasi faktor internal dan eksternal, analisis 

matriks IFE dan EFE, matriks IE, matriks SWOT, 

dan QSPM 

3. Luna (2005) Analisis Strategi Pemasaran Restoran 

dengan Metode SWOT (Studi Kasus 

Restoran Raffles, Megamendung Bogor) 

Merumuskan strategi pemasaran bagi 

Rstoran Raffles dalam rangka 

mempertahankan dan meningkatkan 

posisinya agar dapat bersaing dengan 

jasa boga lainnya 

1. Brainstorming melalui Focus Group Discussion 

(FGD) untuk menentukan atribut penilaian restoran 

oleh konsumen 

2. Matriks IFE, EFE dan SWOT 

4. Fahrurozhi 

(2006) 

Strategi Pengembangan Usaha Industri 

Kecil Tape Bondowoso di Kabupaten 

Bondowoso 

Merumuskan alternatif strategi 

pengembangan yang sesuai bagi industri 

kecil Tape Bondowoso 

Analisis matriks IE dan matriks SWOT serta analisis 

prioritas strategi dengan Analytical Hierarcy Process 

(AHP) 

 

Strategi berasal dari bahasa Yunani yaitu “strategos” yang berasal dari 

kata “stratos” yang berarti militer dan “ag” yang berarti memimpin.  Kata strategi 

pada awalnya merupakan istilah dalam bidang kemiliteran bukan manajemen. 

Istilah strategi dalam bidang manajemen pertama kali diperkenalkan oleh Drucker 

(1955) yang didefinisikan sebagai semua keputusan pada sasaran bisnis dan pada 

cara untuk mencapai sasaran tersebut.   

Secara umum, strategi dapat diartikan sebagai “sekumpulan pilihan kritis 

untuk perencanaan dan penerapan serangkaian rencana tindakan dan alokasi 

sumberdaya yang penting dalam mencapai tujuan dan sasaran, dengan 

memperhatikan keunggulan kompetitif, komparatif, dan sinergis ideal 

berkelanjutan sebagai arah, cakupan dan perspektif jangka panjang keseluruhan 

yang ideal dari individu atau organisasi” (Triton,2007).  

  

Manajemen strategis merupakan kumpulan keputusan dan tindakan yang 

menghasilkan perumusan dan penerapan strategi yang didesain untuk mencapai 

sasaran organisasi (Pearce dan Robinson, 1988).  Menurut Nawawi (2003), 

manajemen strategi merupakan perencanaan strategi yang berorientasi pada 

jangkauan masa depan yang jauh (visi), dan ditetapkan sebagai keputusan 

pimpinan tertinggi (keputusan yang bersifat mendasar dan prinsipil), agar 

memungkinkan organisasi berinteraksi secara efektif (misi), dalam usaha 

menghasilkan sesuatu (perencanaan operasional untuk menghasilkan barang 

dan/atau jasa serta pelayanan) yang berkualitas, dengan diarahkan pada 

optimalisasi pencapaian tujuan (tujuan strategis) dan berbagai sasaran organisasi. 

Kajian manajemen strategis yang baik akan menghasilkan keputusan 

strategis. Perbedaan keputusan strategis dengan keputusan-keputusan biasa yaitu  

keputusan strategis senantiasa diletakkan dalam kerangka masa mendatang 

dengan jangka waktu yang panjang untuk keberhasilan secara menyeluruh dari 

organisasi maupun perusahaan (Triton, 2007).   

Pengambilan keputusan strategis tidak dapat dilakukan dengan hanya 

mengandalkan intuisi saja, melainkan dibutuhkan analisis mendalam dan terarah, 

sehingga keputusan yang akan dilakukan benar-benar sesuai kebutuhan 

perusahaan.  Menurut Hickson, et.al (1986) keputusan strategis memiliki tiga 

karakteristik, yaitu : 

1. Rare, yaitu keputusan-keputusan strategis yang tidak biasa, khusus dan 

tidak dapat ditiru 

2. Consequential, yaitu keputusan-keputusan strategis yang memasukkan 

sumberdaya penting dan menuntut banyak komitmen 

3. Directive, yaitu keputusan-keputusan strategis yang menetapkan keputusan 

yang dapat ditiru untuk keputusan-keputusan lain dan tindakan-tindakan 

yang diperlukan di masa yang akan datang untuk keseluruhan organisasi. 

Manajemen strategis membantu suatu perusahan atau organisasi untuk 

memformulasikan strategi yang lebih baik dengan memakai  pendekatan yang 

lebih sistematik, logis dan rasional untuk pilihan strategis  

Proses manajemen strategis lebih mengutamakan pendekatan proaktif 

daripada pendekatan reaktif dalam pengambilan keputusan.  Proses ini 

menggambarkan pendekatan yang logis, sistematis dan objektif untuk menetapkan 

arah masa depan perusahaan (David, 1998).   

Model Komprehensif Manajemen Strategis pada Gambar 1 

menggambarkan tahapan proses yang dilakukan dalam pengkajian manajemen 

strategis. Tahapan yang dimaksud meliputi formulasi, implementasi dan evaluasi 

strategi. Pada kenyataannya, proses yang berjalan tidak akan memiliki alur kaku 

melainkan akan terjadi perubahan-perubahan yang dipengaruhi faktor internal dan 

eksternal perusahaan. Semakin fleksibel dan adaptif proses manajemen strategis 

yang dilakukan perusahaan maka semakin baik pula daya saing perusahaan di 

dalam industri. 

 

 

Formulasi strategi merupakan suatu tahapan untuk menentukan aktivitas-

aktivitas yang berhubungan dengan pencapaian tujuan atau disebut juga tahapan 

perumusan strategi. Aktivitas-aktivitas yang dimaksud meliputi : (1) 

pengembangan misi perusahaan; (2) mengenali peluang dan ancaman eksternal 

perusahaan; (3) menetapkan kekuatan dan kelemahan internal; (4) menetapkan 

objektif jangka panjang; (5) menetapkan strategi pokok yang perlu 

diimplementasikan 


Visi yaitu  suatu pandangan yang jauh tentang perusahaan dan tujuan 

perusahaan dan apa yang harus dilakukan untuk mencapai tujuan tersebut 

(Dirgantoro, 2001). Pernyataan visi menjawab pertanyaan “Apa yang ingin kita 

capai?”. Visi menggambarkan cita-cita perusahaan ke depan dan mengarahkan 

misi perusahaan. 

Misi yaitu  pernyataan jangka panjang mengenai tujuan yang 

membedakan suatu bisnis dari usaha lain yang serupa. Pernyataan misi menjawab 

pertanyaan “Apa bisnis kita?”. Misi dijadikan sebagai standar dan pedoman dalam 

melaksanakan kegiatan operasional perusahaan dalam mencapai tujuan organisasi. 

Tujuan merupakan pusat dari kegiatan perusahaan yang digunakan sebagai 

penilai prestasi perusahaan. Tujuan berperan penting dalam perumusan dan 

implementasi strategi perusahaan, karena itu manajemen puncak haru mampu 

merumuskan, melembagakan, mengkombinasikan dan menguatkan tujuan 

perusahaan melalui perusahaan. 

 

Lingkungan eksternal terdiri dari komponen atau variabel lingkungan 

yang berada atau berasal dari luar perusahaan. Komponen tersebut berada di luar 

jangkauan organisasi dan kendali perusahaan, sehingga perusahaan tidak dapat 

melakukan intervensi serta diperlukan tingkat adaptasi yang tinggi terhadapnya.  

Lingkungan eksternal dapat dibagi dalam dua kelompok, yaitu : 

1.  Lingkungan Umum 

Lingkungan umum merupakan lingkungan jauh dari perusahaan dalam 

tingkatan operasi perusahaan. Lingkungan umum dipengaruhi oleh faktor politik 

dan hukum, ekonomi, sosial dan teknologi. Faktor-faktor ini dipengaruhi oleh 

variabel-variabel yang dapat menjadi peluang maupun ancaman bagi perusahaan. 

Faktor-faktor yang mungkin mempengaruhi lingkungan eksternal perusahan 


2.  Lingkungan Industri 

Lingkungan industri merupakan tingkatan lingkungan eksternal perusahan 

yang memiliki implikasi relatif lebih spesifik dan langsung terhadap operasional 

perusahaan. Analisis lingkungan industri diperlukan dalam penentuan posisi 

bertahan terbaik bagi suatu perusahaan dan lingkungannya. 

Perumusan strategi bersaing menghubungkan perusahaan dan 

lingkungannya. Lingkungan industri terdiri dari hambatan masuk, kekuatan 

pembeli, ketersediaan substitusi dan persaingan antar perusahaan. Analisis 

lingkungan industri dilakukan berdasarkan konsep Porter’s Competitive Strategy 

atau Lima Kekuatan Bersaing 

 

Michael Porter mengidentifikasi lima kekuatan yang menentukan struktur 

persaingan dalam industri yang dihadapi perusahaan, yaitu : 

1. Pesaing-pesaing industri 

Persaingan yang tajam merupakan akibat dari sejumlah faktor struktural 

yang saling berinteraksi, yaitu : 

Pendatang baru potensial  

(Ancaman mobilitas) 

Pengganti/Substitusi 

(Ancaman Substitusi) 

 Pembeli 

(Kekuatan 

Pembeli) 

Pesaing-pesaing industri 

(Rival segmen) 

Pemasok 

(Kekuatan 

Pemasok) 


a. Perkembangan industri, yang akan mempengaruhi tingkat persaingan 

dalam merebut pasar 

b. Biaya peralihan atau diferensiasi produk 

c. Penambahan kapasitas dalam jumlah besar 

d. Keragaman dan jumlah pesaing akan menciptakan perbedaan dalam tujuan 

dan strategi masing-masing perusahaan 

e. Hambatan penghalang keluar yang membuat perusahaan tetap bersaing 

dalam bisnis, seperti faktor ekonomis, strategi dan emosional. 

2. Ancaman pendatang baru potensial 

Kemungkinan masuknya pendatang baru dalam suatu industri dipengaruhi 

oleh hambatan memasuki industri dan reaksi dari perusahaan yang sudah ada. 

Ada beberapa faktor yang menjadi hambatan memasuki industri, yaitu : 

a. Skala ekonomi, yaitu skala yang menggambarkan turunnya biaya satuan 

suatu produk apabila volume absolut per periode meningkat 

b. Diferensiasi produk, merupakan perusahaan tertentu memiliki identifikasi 

merk dan kesetiaan pelanggan 

c. Kebutuhan modal, yaitu kebutuhan menanam sumberdaya keuangan 

d. Biaya beralih ke pemasok (switching costs), yaitu biaya satu kali (one time 

cost) yang harus dikeluarkan pembeli apabila pindah berlangganan dari 

produk pemaasok tertentu ke produk pemasok lainnya 

e. Akses ke saluran distribusi, yaitu kebutuhan pendatang baru untuk 

mengamankan distribusi produknya 

f. Biaya tak menguntungkan terlepas dari skala, yaitu beberapa faktor di luar 

skala ekonomi pendatang baru seperti : teknologi produk milik sendiri, 

penguasaan yang menguntungkan atas bahan baku, lokasi, subsidi 

pemerintah, kurva belajar atau pengalaman. 

3. Ancaman produk pengganti atau subsitusi 

Ancaman produk pengganti dapat berupa harga dari produk pengganti 

yang lebih murah, biaya peralihan kepada produk pengganti rendah dan 

kecondongan pembeli untuk mencoba produk pengganti  

4. Kekuatan tawar-menawar pembeli 

Pembeli selalu menginginkan produk berkualitas tinggi, pelayanan yang 

baik dan harga yang murah. Kekuatan tawar menawar pembeli akan 

meningkat dalam situasi : keterbatasan jumlah pembeli, adanya substitusi, 

biaya peralihan rendah, lokasi penjualan mudah dijangkau dan informasi 

pembeli mudah dijangkau. 

5. Kekuatan tawar-menawar pemasok 

Pemasok mempengaruhi tingkat laba yang akan diperoleh perusahaan. 

Pemasok memiliki tawar menawar yang kuat apabila menguasai diferensiasi 

bahan pasokan, konsentrasi pemasok, kepentingan pelanggan lebih tinggi dan 

volume pembelian dikuasai pemasok. 

  

Lingkungan internal perusahaan terdiri dari kekuatan maupun kelemahan 

yang dimiliki oleh perusahaan. Kedua faktor intern ini pasti dimiliki oleh tiap 

organisasi atau perusahaan. Lingkungan internal mencakup seluruh komponen 

yang terdapat dalam perusahaan dan dapat dikendalikan oleh perusahaan. 

Pemahaman yang baik akan lingkungan internal perusahaan akan sangat 

membantu dalam proses perencanaan strategi yang dibutuhkan.  

Menurut David (2004), bidang fungsional yang menjadi variabel dalam 

analisis internal yaitu  : 

1. Fungsi Manajemen, dilakukan dan diterapkan pada struktur organisasi 

perusahaan secara keseluruhan, mencakup lima aktivitas dasar yaitu 

perencanaan, pengorganisasian, pemberian motivasi, pengelolaan staf serta 

pengendalian/kontrol. 

2. Fungsi Pemasaran, yaitu  proses mengidentifikasi, mengantisipasi, 

menciptakan serta memenuhi kebutuhan pelanggan akan barang atau jasa, 

mencakup tujuh fungsi dasar yaitu analisis pelanggan, penjualan produk/jasa, 

perencanaan produk/jasa, penetapan harga, distribusi, riset pemasaran dana 

analisis peluang. 

3. Fungsi Keuangan, merupakan indikator terbaik posisi kompetitif dan daya 

tarik perusahaan. Hal ini apat dilihat dari rasio keuangan perusahaan yang 

mencakup rasio likuiditas, leverage, aktivitas, profitabilitas dan pertumbuhan. 

4. Fungsi Produksi/Operasi, terdiri dari seluruh aktivitas yang mengubah input 

menjadi barang atau jasa, mencakup lima fungsi dasar yaitu proses, kapasitas, 

persediaan, tenaga kerja dan kualitas. 

5. Fungsi Penelitian dan Pengembangan (Litbang), terdiri dari aktivitas yang 

dilakukan untuk meningkatkan kemampuan kompetitif perusahaan, biasanya 

diarahkan pada produk-produk baru. 

6. Fungsi Sistem Informasi Manajemen (SIM), berguna untuk memperbaiki 

kinerja perusahaan melalui perbaikan kualitas keputusan manajerial. SIM 

berisi database catatan penting yang sangat berguna bagi perusahaan. 


Matriks IE merupakan salah satu parameter yang meliputi kekuatan 

internal dan pengaruh eksternal perusahaan untuk merumuskan alternatif strategi. 

Matriks IE menggambarkan posisi perusahaan sehingga alternatif strategi yang 

diusulkan sesuai dengan kondisi perusahaan. Matriks IE diperoleh melalui matriks 

External Factor Evaluation (EFE) dan Internal Factor Evaluation (IFE). Matriks 

IE sangat baik digunakan untuk merumuskan alternatif strategi karena tiap divisi 

dalam perusahaan akan dianalisis secara detail. 

Matriks IE merupakan gabungan matriks EFE dan IFE yang terdiri dari 

sembilan macam sel yang memperlihatkan kombinasi total nilai terbobot dari 

matriks EFE dan IFE. Matriks IE dibagi menjadi tiga daerah utama yang memiliki 

implikasi strategi berbeda yaitu tumbuh-bina (growth and build), pertahankan-

pelihara (hold and maintain) serta panen atau divestasi (harvest or divest). 

  

Analisis SWOT (Strength, Weakness, Opportunity, Threat) sangat berguna 

dalam proses pembuatan keputusan strategis dalam berbagai situasi bisnis. 

Analisis SWOT didasarkan pada logika yang dapat memaksimalkan kekuatan dan 

peluang, tetapi secara bersamaan dapat meminimalkan kelemahan dan ancaman 

(Rangkuti, 2000). Walaupun cenderung sederhana dan bersifat langsung dalam 

penggunaannya, namun dapat menyajikan suatu analisis yang komprehensif dan 

akurat tentang usaha yang dilaksanakan (Sulastiyono, 1999). Analisis ini 

menyediakan kerangka yang baik dalam menggambarkan strategi, posisi dan arah 

perusahaan.  

Kekuatan merupakan keunggulan yang dimiliki perusahaan yang dapat 

membuka peluang yang lebih luas bagi perusahaan untuk upaya pengembangan. 

Kelemahan merupakan setiap kekurangan yang terdapat dalam sumberdaya 

maupun keahlian yang dimiliki perusahaan.  

Peluang atau kesempatan merupakan peristiwa-peristiwa di lingkungan 

luar yang memungkinkan perusahaan untuk mendapatkan keuntungan. Ancaman 

merupakan bahaya atau masalah yang dapat menghancurkan kedudukan 

perusahaan. Sesuatu yang menjadi peluang bagi sebuah perusahaan dapat menjadi 

ancaman bagi perusahaan lain, begitu juga sebaliknya.  

 Matriks Perencanaan Strategis Kuantitatif atau Quantitative Strategic 

Planning Matrix (QSPM) merupakan suatu alat untuk melakukan evaluasi pilihan 

alternatif secara objektif, menetapkan daya tarik relatif dari tindakan alternatif 

yang layak dan memutuskan strategi mana yang terbaik. Matriks QSPM mampu 

mengintegrasikan faktor internal dan eksternal yang relevan terhadap proses 

keputusan. 

Dalam beberapa hal, QSPM memiliki beberapa kelebihan dan kekurangan, 

yaitu : (1) strategi dapat diperiksa secara berurutan atau bersamaan; (2) tidak ada 

batas jumlah strategi yang dapat diperiksa atau dievaluasi; (3) membutuhkan 

ketelitian dalam memadukan faktor-faktor eksternal dan internal yang terkait 

dalam proses keputusan. 

 

  

Dalam menjalankan kegiatan usahanya, Restoran Rice Bowl Botani 

Square dihadapkan pada berbagai masalah baik internal maupun ekternal yang 

berdampak pada biaya produksi dan penerimaan penjualan. Akan tetapi, restoran 

ini juga memiliki peluang dan keunggulan yang dapat digunakan untuk 

menghadapi masalah yang ada. Oleh karena itu, perlu dilakukan penyusunan 

strategi dan tindakan nyata untuk menghadapi situasi tersebut dengan alat analisis 

dan teori yang tepat dan sesuai. 

Proses perumusan strategi pengembangan diawali dengan penetapan visi, 

misi dan tujuan Restoran Rice Bowl. Pengenalan akan visi, misi dan tujuan 

perusahaan akan membantu fokus dalam mengarahkan proses analisis pada 

pencapaian tujuan akhir. 

Tahap analisis selanjutnya yaitu  mengidentifikasi permasalahan yang 

dihadapi restoran saat ini, kemudian dilakukan analisis lingkungan eksternal dan 

internal yang dimiliki oleh restoran dalam mencapai tujuannya. Analisis eksternal 

mencakup lingkungan politik, ekonomi, sosial budaya dan teknologi. Analisis 

lingkungan industri dilakukan dengan model lima kekuatan Porter. Analisis 

lingkungan internal mencakup bidang fungsional perusahaan, yaitu manajemen, 

pemasaran, produksi/operasi, keuangan, penelitian dan pengembangan serta 

sumberdaya manusia. 

Variabel-variabel eksternal dan internal yang telah dianalisis kemudian 

akan dijabarkan dalam matriks EFE dan IFE. Total skor kedua matriks tersebut 

dipadukan ke dalam matriks IE untuk mengetahui posisi perusahaan. Kemudian 

dengan memakai  analisis SWOT akan diperoleh alternatif-alternatif strategi 

bagi pengembangan bisnis restoran. 

Tahap terakhir yaitu  pengambilan keputusan alternatif strategi yang 

paling tepat bagi Restoran Rice Bowl yang sesuai dengan kondisi internal 

perusahaan dengan memakai  alat analisis QSPM. Hasil yang diperoleh 

melalui QSPM akan menghasilkan urutan prioritas strategi-strategi pengembangan 

yang dapat dilakukan Restoran Rice Bowl. 

 

GAMBARAN UMUM PERUSAHAAN 

  

PT Batara Aulia Sejahtera merupakan perusahaan yang bergerak dalam 

bidang restoran yang mengelola Restoran Rice Bowl. Restoran Rice Bowl berada 

dibawah naungan PT Rice Bowl negara kita  (PT RBI) yang berdiri pada tahun 

2002, dan merupakan usaha restoran milik lokal yang dikembangkan dengan 

sistem pengelolaan owner (ditangani langsung oleh pusat). Hingga saat ini 

terdapat 22 gerai Rice Bowl di seluruh negara kita  yang tersebar di Jakarta, 

Tangerang, Bogor, Bandung, Surabaya, Pekanbaru dan Palembang. Restoran Rice 

Bowl yang dikelola secara waralaba dimulai pada tahun 2004 dengan jumlah 

sembilan gerai hingga saat ini, sedang  sisanya dikelola langsung oleh PT RBI 

(owner). 

Restoran Rice Bowl merupakan pionir restoran dengan konsep oriental 

semi fastfood. Konsep ini diadopsi dari sebuah restoran oriental di Amerika 

Serikat, yaitu Panda Express yang telah sukses memiliki 500 outlet. Minat 

masyarakat negara kita  terhadap makanan oriental dan kesibukan masyarakat 

perkotaan yang semakin tinggi merupakan peluang besar yang mendorong 

munculnya konsep oriental semi fastfood di negara kita . Ide inilah yang mendorong 

Bapak Santo, Presiden Direktur PT Batara Aulia Sejahtera untuk mendirikan PT 

RBI.  

Restoran Rice Bowl Botani Square merupakan satu-satunya restoran 

cabang 


Bogor yang dikelola secara langsung oleh PT RBI. Restoran ini didirikan 

 46 

pada bulan Agustus 2006, bersamaan dengan didirikannya Botani Square. 

Restoran ini dipimpin oleh seorang store manager yang bernama Bapak Irpan 

Dodi.  

Dalam melakukan kegiatan usahanya, pihak manajemen Rice Bowl Botani 

Square bertanggung jawab penuh pada PT RBI. Pihak manajemen Rice Bowl 

Botani Square berhak melakukan upaya-upaya pengembangan bagi 

perusahaannya dengan adanya persetujuan dari pusat dan sesuai dengan standar 

operasional perusahaan (SOP). 

 

5.2. Visi, Misi dan Nilai Perusahaan 

Rice Bowl berpedoman pada visi dan misi yang telah ditetapkan dalam 

menentukan arah dan tujuan kegiatan bisnis perusahaan. Visi restoran ini yaitu  

“Menjadi Restoran Keluarga yang Terkenal dan Terbaik di negara kita ”, dan 

misinya yaitu  “Rice Bowl mempunyai komitmen untuk menyajikan masakan 

dengan kualitas dan citarasa tinggi, mutu pelayanan yang memuaskan dan 

lingkungan yang menyenangkan”.  

Restoran Rice Bowl memiliki nilai-nilai yang menjadi dasar perilaku 

perusahaan dalam menjalankan usahanya. Nilai-nilai ini sangat dipegang teguh 

oleh seluruh tim manajemen dan karyawan restoran, yaitu : (1) Sense of belonging 

(rasa memiliki); (2) Sense of Responsible (rasa tanggung jawab); (3) Openness 

(keterbukaan); (4) Team work (kerjasama); (5) Human relation (supel dan 

familiar); dan (6) Trust (dapat dipercaya). 

Kemampuan Restoran Rice Bowl dalam menggerakkan usahanya 

dikarenakan  adanya komitmen tinggi pada visi, misi dan nilai-nilai perusahaan. 

Ketekunan dan kerja keras telah membawa Rice Bowl menjadi salah satu bisnis 

restoran yang paling menguntungkan di negara kita . Pada tahun 2006, PT. RBI 

meraih penghargaan “Prospective Franchise & Business Concept 2006” dari 

Majalah Info Franchise negara kita . Konsistensi dan fokus yang dimiliki 

perusahaan yaitu  hal yang utama dalam memperoleh kepercayaan konsumen. 

 

5.3. Konsep Oriental Semi Fastfood 

Restoran Rice Bowl merupakan pionir restoran dengan konsep oriental 

semi fastfood. Nama Rice Bowl memiliki arti „mangkuk nasi‟ yang membawa 

pesan yang jelas pada konsumen, bahwa Restoran Rice Bowl merupakan restoran 

keluarga yang mayoritas menunya yaitu  masakan oriental dan dapat dipesan 

dengan penyajian dalam mangkuk yang khas. 

Pengembangan usaha Restoran Rice Bowl sebagian besar berada di mall-

mall. Hal ini sengaja dikembangkan untuk mendukung konsep oriental 

semifastfood tersebut, dimana mall dan restoran saat ini telah menjadi gaya hidup 

masyarakat modern dalam memenuhi kebutuhannya. 

Konsep oriental semi fastfood ala Rice Bowl berbeda dengan makanan 

fastfood lainnya. Makanan hanya dimasak setelah ada pesanan konsumen, 

sehingga makanan masih dalam keadaan baru matang dan fresh. Selain itu 

penyajian makanan dilakukan dalam waktu kurang dari 20 menit. Konsep oriental 

semi fastfood ini juga menyajikan makanan yang lebih sehat daripada American 

fastfood (junk food) pada umumnya, karena rendah lemak dan kalori serta 

mengandung banyak sayuran. 

 

Restoran Rice Bowl Botani Square terletak di pusat perbelanjaan terbesar 

di Kota Bogor yaitu Botani Square. Botani Square terletak di Baranangsiang, yang 

merupakan pusat kota Bogor sekaligus pintu masuk kota Bogor. Restoran Rice 

Bowl terdapat di ground floor Botani Square, tepatnya di depan Giant 

Hypermarket. Lokasi usaha restoran yang berada di pusat perbelanjaan terbesar 

(megamall) di Kota Bogor sangat mempengaruhi lingkungan usaha restoran.  

Restoran Rice Bowl Botani Square merupakan restoran tipe independent, 

yaitu restoran dengan luas tempat sebesar 300 m2. Ruangan ini memiliki kapasitas 

pengunjung sebanyak 80 orang. Tingkat pergantian (turn over) pengunjung cukup 

tinggi, yaitu sekitar 15-20 menit per meja. Restoran ini memiliki konsep open 

kitchen sehingga seluruh kegiatan karyawan dapat dilihat oleh pelanggan, dan 

table service untuk memudahkan konsumen dengan hanya melakukan pemesanan 

di meja melalui menu yang tersedia. 

Restoran Rice Bowl Botani Square menghadirkan konsep family 

restaurant dengan konsep simple modern, sederhana dan santai. Ruangan restoran 

ini sangat terbuka, tidak memiliki pintu masuk maupun dinding pembatas. Hal ini 

menggambarkan bahwa Restoran Rice Bowl menyambut para pengunjung yang 

datang dengan tangan terbuka dan penuh rasa kekeluargaan.  

Fasilitas yang dimiliki restoran antara lain wastafel, hand dryer, dan fan 

(kipas angin). Dekorasi ruangan juga ditampilkan dengan sederhana, yaitu lampu 

hias serta dinding bagian depan dan belakang yang bergambarkan menu masakan 

Rice Bowl. Konsep dekorasi yang minimalis ini cukup menggambarkan identitas 

Restoran Rice Bowl sebagai restoran oriental food. 

 

5.5. Struktur Organisasi Perusahaan 

Struktur organisasi Restoran Rice Bowl Botani Square merupakan struktur 

organisasi fungsional, dimana dilakukan pengelompokkan dan pembagian tugas 

berdasarkan fungsi bisnis restoran. Struktur organisasi ini dijalankan oleh 31 

orang karyawan yang terlatih. Bagan Struktur Organisasi Restoran Rice Bowl 

Botani Square dapat dilihat pada Lampiran 1. 

Setiap karyawan memiliki jobdesk masing-masing sesuai jabatannya. 

Namun pada hari libur atau akhir pekan, setiap karyawan dapat melakukan 

jobdesk lain bila dibutuhkan. Adapun susunan jobdesk karyawan Restoran Rice 

Bowl Botani Square yaitu  sebagai berikut : 

1. Store Manager 

 Bertanggung jawab penuh kepada PT Rice Bowl negara kita  untuk 

melaporkan kondisi restoran baik operasional maupun keuangan 

 Sebagai pemimpin bagi seluruh tim manajemen Restoran Rice Bowl 

Botani Square 

 Melakukan proses recruitment, training dan evaluasi bulanan karyawan 

2. Assistant Store Manager 

 Menggantikan tugas dan tanggung jawab store manager bila sedang tidak 

ada di tempat 

 Membantu store manager dalam membuat laporan kinerja maupun 

keuangan restoran 

 Melakukan input data pemesanan dan penerimaan barang dan bahan baku 

3. Captain 

 Mengawasi para karyawan dalam melakukan tugas dan tanggung jawab 

 Mengatur jadwal kerja (shift) karyawan 

 Membantu kasir dalam menyiapkan laporan kas harian 

4. Chasier Pantry 

 Selalu standby di meja kasir untuk menghitung bill pesanan konsumen 

 Membuat laporan kas harian serta melakukan input data pengelauaran dan 

pemasukan harian 

5. Greeter 

 Membagikan leaflet bagi para pengunjung Botani Square 

 Menyambut dan menyapa pengunjung yang datang ke restoran, serta 

mengantarkan pengunjung ke meja yang kosong 

6. Waiter/ss 

 Melayani pesanan makanan/minuman konsumen 

 Mengantarkan pesanan ke meja konsumen dan memberikan bill pesanan 

7. Chief Cook 

 Kepala bagian dapur yang memimpin kegiatan karyawan bagian dapur 

 Memasak makanan yang rumit dan perlu keahlian khusus 

8. Cook 

 Memasak menu makanan yang dipesan oleh konsumen 

9. BBQ 

 Memanggang atau membakar daging bebek atau ayam 

10. Butcher 

 Karyawan yang bekerja untuk menyiapkan pesanan konsumen yang 

berupa minuman atau dessert 


11. Cook Helper 

 Membantu karyawan cook, terutama pada waktu pengunjung sangat ramai 

 Mengerjakan garnish atau topping pada makanan untuk siap disajikan 

12. Food Checker 

 Memilah-milah makanan dan minuman ke dalam nampan sesuai pesanan 

konsumen 

 Memastikan pesanan yang akan diantarkan sesuai dengan pesanan  

13. Dishwasher 

 Membersihkan meja pengunjung yang telah selesai digunakan 

 Mencuci peralatan makan maupun peralatan dapur 

Rice Bowl Botani Square sangat mementingkan keterampilan dan keahlian 

karyawan restoran. Karyawan yang berkualitas, terampil dan terlatih merupakan 

salah satu modal dasar perusahaan untuk mempertahankan pelanggan dan 

memenangkan persaingan. Perekrutan karyawan Rice Bowl Botani Square 

dilakukan sepenuhnya oleh store manager, dan hak training calon karyawan 

diambil sepenuhnya oleh training centre PT RBI. Dalam melakukan perekrutan 

karyawan, pihak manajemen Rice Bowl Botani Square dapat memberikan 

rekomendasi ataupun menyerahkan sepenuhnya kepada PT RBI untuk merekrut 

karyawan baru sesuai persyaratan yang dibutuhkan. 

 

5.6. Kegiatan Operasional dan Budaya Kerja Perusahaan 

Restoran Rice Bowl Botani Square mulai buka pada pukul 08.00 WIB 

sampai dengan pukul 22.00 WIB setiap hari Senin hingga Minggu. Jam kerja 

karyawan dibagi atas tiga shift, yaitu shift I dimulai pukul 08.00 WIB sampai 

14.00, shift II dimulai pukul 11.00 sampai 17.00 dan shift III dimulai pukul 16.00 

WIB sampai 22.00 WIB. Setiap karyawan diwajibkan datang maksimal 20 menit 

sebelum shift-nya dimulai. Karyawan diwajibkan tiba dalam kondisi siap untuk 

bekerja. 

Restoran Rice Bowl Botani Square memiliki disiplin tinggi dalam 

menetapkan dan menjalankan tata tertib karyawan. Setiap karyawan wajib hadir 

tepat waktu, dan bila terlambat akan dikenakan denda tergantung waktu 

keterlambatan. Selain itu, setiap karyawan memperoleh hari libur (day off) satu 

kali dalam seminggu dari hari Senin sampai Jumat. Setiap karyawan operasional 

wajib masuk dan bekerja pada hari Minggu atau libur nasional. Peraturan ini 

ditetapkan mengingat jumlah pengunjung lebih banyak pada hari Minggu dan hari 

libur, sehingga dibutuhkan tenaga kerja lebih banyak. 

Restoran Rice Bowl Botani Square memiliki moto yang menjadi panduan 

bagi karyawan dalam bekerja. Moto “CERIA” yang dimiliki ini terdiri dari lima 

teladan sikap karyawan dalam bekerja, yaitu : 1) Cepat, yaitu bergerak cepat 

dalam melayani customer dan mengantisipasi keadaan; 2) Enerjik, yaitu semangat, 

positive thinking, dan excellence performance dalam bekerja; 3) Ramah, yaitu 

sabar, sopan dan ramah; 4) Inisiatif, yaitu selalu memperhatikan kebutuhan 

customer dan membantu tim; 5) Aku Senyum, yaitu selalu tersenyum dengan 

tulus selama berbicara dan berinteraksi dengan customer. 

Budaya kerja yang diterapkan Restoran Rice Bowl Botani Square yaitu  

DQSC (Discipline, Quality, Service, Cleanliness). Budaya disiplin mecakup 

disiplin diri, disiplin waktu dan disiplin prosedur kerja. Kualitas yang dijaga 

perusahaan mencakup kualitas SDM, bahan baku dan peralatan. Service 

(pelayanan) mencakup eleman people (manusia), process (proses) dan product 

(produk). Cleanliness (kebersihan) mencakup kebersihan diri, peralatan kerja dan 

area kerja.  

 Restoran Rice Bowl Botani Square memiliki Standar Operasional 

Prosedur (SOP) yang jelas dan terarah. Adanya SOP membantu pihak manajemen 

dan karyawan untuk mencapai visi dan misinya. SOP berisi seluruh standar 

prosedur yang harus dilakukan karyawan, baik tentang kualitas barang dan bahan 

baku, sikap kepemimpinan, cara melayani konsumen hingga standar penetapan 

porsi menu.  

 

5.7. Strategi Pengembangan Usaha Restoran Rice Bowl Saat Ini 

Selama kurun waktu dua tahun berdirinya Restoran Rice Bowl Botani 

Square, store manager memiliki peranan terpenting dalam proses pengambilan 

keputusan pelaksanaan strategi pengembangan usaha restoran. Strategi 

pengembangan yang selama ini dilakukan oleh restoran hingga saat ini masih 

sangat terbatas.  

Restoran Rice Bowl Botani Square menyadari potensi pasar yang ada di 

Kota Bogor. Potensi pasar yang semakin besar serta didukung dengan adanya 

pertumbuhan mall di Kota Bogor mendorong pihak manajemen untuk 

mengembangkan usahanya. Hal ini bertujuan untuk memperluas jangkauan  

konsumen di Kota Bogor. 

Pihak manajemen Restoran Rice Bowl Botani Square cenderung 

melakukan strategi pengembangan usaha hanya dalam lingkungan internalnya 

saja. Strategi yang dilakukan dengan memanfaatkan lingkungan eksternalnya 

masih cenderung minim. Sebelumnya, pihak Restoran Rice Bowl pernah 

membuka outlet restoran di Bogor Trade Mall pada tahun 2002. Akan tetapi, 

pengelolaan yang kurang baik serta kurangnya daya tarik BTM sebagai pusat 

perbelanjaan menyebabkan outlet tersebut harus gulung tikar.  

Pihak manajemen Restoran Rice Bowl Botani Square hingga saat ini 

melakukan strategi pengembangan yang berfokus pada pemasaran di dalam 

Botani Square saja. Strategi yang dilakukan yaitu  strategi promosi harga melalui 

paket menu murah, serta strategi promosi iklan melalui penyebaran leaflet bagi 

pengunjung Botani Square.   

   

 

 

Analisis lingkungan bisnis perusahaan merupakan suatu cara untuk 

mendapatkan suatu kemampuan strategis dengan mengintegrasikan antara 

peluang-peluang yang ada dengan kemampuan atau kekuatan yang dimiliki 

perusahaan, untuk dapat mengantisipasi adanya ancaman dari luar perusahaan dan 

mengatasi kelemahan-kelemahan yang ada (Wheelen dan Hunger, 1992). 

Restoran Rice Bowl Botani Square dipengaruhi oleh lingkungan eksternal 

dan internal yang ada di sekitarnya. Hasil analisis penelitian ini menggambarkan 

kondisi eksternal dan internal yang mempengaruhi jalannya operasional 

perusahaan dan mempengaruhi perencanaan strategis yang sesuai dengan kondisi 

lingkungan tersebut. 

 

6.1. Analisis Lingkungan Eksternal 

6.1.1. Lingkungan Umum 

Lingkungan umum yaitu  faktor lingkungan eksternal yang merupakan 

lingkungan jauh operasional perusahaan. Lingkungan umum dipengaruhi oleh 

faktor politik dan hukum, sosial, ekonomi dan teknologi. 

 

1) Lingkungan Politik dan Hukum 

Kota Bogor termasuk dalam wilayah Jabotabek yang memiliki kedudukan 

yang sangat penting. Dalam Instruksi Presiden No. 13 Tahun 1976, disebutkan 

bahwa Jabotabek merupakan kawasan yang mempunyai arti dan kedudukan 

strategis pada tata ruang nasional. Peran Jabotabek yaitu  sebagai Megacity 

dengan fungsinya sebagai pusat kegiatan perdagangan dan jasa, permukiman, 

industri, pariwisata dengan skala pelayanan internasional dan regional

Seiring dengan peningkatan jumlah usaha pendukung industri pariwisata 

di kota Bogor, pemerintah menetapkan peraturan izin usaha dan retribusi. Pasal 12 

Perda Kota Bogor Nomor 8 Tahun 2004 tentang Penyelenggaraan Usaha 

Kepariwisataan mengatur perizinan badan usaha atau perorangan yang 

mengajukan usaha kepariwisataan wajib dikenakan retribusi. Peraturan ini 

dilaksanakan berdasarkan UU No.34 Tahun 2000 tentang Pajak Retribusi Daerah, 

dimana tarif yang dikenakan pada konsumen sebesar 10 persen dari total pesanan. 

Adanya peraturan dan perundang-perundangan yang jelas, serta dukungan 

besar pemerintah terhadap usaha restoran telah mampu menciptakan atmosfer 

lingkungan politik dan hukum yang aman bagi usaha restoran. Keamanan dan 

lingkungan Kota Bogor yang kondusif sangat mendukung pertumbuhan usaha 

restoran. 

 Dukungan pemerintah Jawa Barat terhadap industri pariwisata 

ditunjukkan dengan adanya Visit West Java Year 2008. Kegiatan ini merupakan 

salah satu upaya pemerintah untuk mempromosikan Jawa Barat, termasuk Kota 

Bogor sebagai daerah wisata bertaraf internasional. Tentu saja untuk mencapai 

tujuan ini, pemerintah sangat mendukung perkembangan dan pembangunan sarana 

pariwisata, termasuk restoran. 

 

2) Lingkungan Sosial, Budaya dan Demografi 

Jumlah penduduk kota Bogor mengalami pertumbuhan setiap tahunnya. 

Tabel 12 menunjukkan, bahwa hingga tahun 2006 jumlah penduduk mencapai 

879.138 jiwa dengan kepadatan penduduk 7,419 jiwa/km2. Pertumbuhan 

penduduk ini memperluas pangsa pasar usaha restoran di kota Bogor. 

 

Kota Bogor merupakan wilayah dengan mayoritas penduduk bersuku 

bangsa Sunda. Namun saat ini, keanekaragaman suku bangsa penduduk Kota 

Bogor semakin meningkat. Hal ini didukung oleh letak Kota Bogor yang dekat 

dengan ibukota dan berfungsi sebagai penyangga ibukota, sehingga dijadikan 

sebagai alternatif pemukiman yang nyaman dan tenang. Perkembangan Kota 

Bogor saat ini sangat pesat, berbagai macam fasilitas umum semakin banyak 

dibangun untuk memenuhi kebutuhan hidup masyarakat Kota Bogor yang 

semakin meningkat. 

Cara hidup masyarakat Kota Bogor saat ini sudah sangat modern dan 

praktis. Minat masyarakat Bogor terhadap mall sebagai pusat perbelanjaan one 

stop shopping saat ini semakin tinggi. Masyarakat lebih menyukai segala sesuatu 

yang praktis dan mall dipandang mampu memenuhi berbagai macam kebutuhan 

dengan hanya mendatangi satu tempat saja. Perubahan gaya hidup masyarakat 

kota Bogor merupakan peluang usaha bagi Restoran Rice Bowl Botani Square. 

Animo masyarakat Kota Bogor terhadap event dan exhibition yang sering 

diadakan di Botani Square sangat tinggi, terutama bila terdapat penampilan artis 

maupun tokoh terkenal. Event dan exhibition yang diadakan di Botani Square 

sangat beranekaragam, baik untuk kalangan anak-anak, dewasa maupun umum. 

Peningkatan jumlah pengunjung yang dapat mencapai tiga kali lipat merupakan 

peluang besar bagi usaha restoran yang berada di Botani Squre. 

Isu flu burung yang masih marak hingga saat ini juga menjadi salah satu 

ancaman usaha restoran di Kota Bogor. Walaupun hampir seluruh restoran sudah 

menjamin keamanan produknya untuk dikonsumsi, namun ketakutan masyarakat 

cenderung lebih besar sehingga menghindari konsumsi unggas. Dampak isu flu 

burung berdampak pada penurunan tingkat penjualan hampir di sebagian besar 

restoran. 

 

3) Lingkungan Ekonomi 

Pendapatan dan Daya Beli Masyarakat Kota Bogor 

Kinerja perekonomian kota Bogor digambarkan oleh PDRB Kota Bogor 

atas dasar harga konstan tahun 2000. Tabel 13 menunjukkan bahwa pada periode 

2003-2006 laju pertumbuhan PDRB per kapita Kota Bogor rata-rata mengalami 

peningkatan sebesar 3,29 persen setiap tahunnya. Peningkatan pendapatan 

masyarakat kota Bogor ini menunjukkan daya beli masyarakat yang semakin 

meningkat pula. 

 

Peningkatan pendapatan masyarakat kota Bogor mendorong pertumbuhan 

usaha restoran di Kota Bogor. Sektor perdagangan, hotel dan restoran merupakan 

lapangan usaha yang memberikan kontribusi pendapatan daerah terbesar bagi  

kota Bogor (Tabel 14). Berdasarkan harga berlaku maupun harga konstan, 

subsektor restoran mampu memberikan kontribusi rata-rata 5,3 persen per tahun 

terhadap total PDRB Kota Bogor. 

 

Kenaikan Harga Bahan Makanan dan BBM 

Terjadinya kenaikan harga akan berdampak pada biaya produksi yang 

semakin tinggi sehingga akan mengurangi tingkat keuntungan yang dihasilkan. 

Kenaikan harga bahan makanan yang meningkat tajam sejak Desember hingga 

Januari menyebabkan sebagian usaha restoran mengurangi jumlah produksinya.  

Kondisi ini merupakan salah satu ancaman yang dihadapi usaha restoran hingga 

saat ini, mengingat bahan makanan sebagai bahan baku usaha mereka sangat 

sensitif terhadap perubahan harga. 

Kelangkaan bahan bakar minyak tanah dan gas elpiji menghambat 

keberlangsungan kegiatan produksi restoran. Kelangkaan ini menyebabkan 

kenaikan harga yang dapat menjadi ancaman usaha restoran. Pada Desember 

2007, harga elpiji tabung 50 kg dan elpiji curah sebesar 5.852 rupiah per kg. 

Kenaikan harga terjadi  pada bulan Januari 2008, dimana harga elpiji tabung 50 kg 

menjadi 9.131 rupiah per kg dan elpiji curah sebesar 8.928 rupiah per kg. Tentu 

saja kenaikan harga elpiji yang mencapai 54 persen ini sangat berdampak pada 

peningkatan biaya produksi usaha restoran3. 

 

Tingkat Inflasi dan Suku Bunga 

Tingkat inflasi yang ada juga turut mempengaruhi kemampuan 

berkembang usaha restoran. Pada triwulan pertama 2008 ini, tekanan inflasi di 

negara kita  terlihat meningkat. Kenaikan harga bahan makanan yang terjadi 

meningkat tajam pada Desember hingga Januari serta kenaikan harga minyak 

tanah yaitu  penyebab utama tingginya inflasi yang terjadi.  

Pada bulan Maret 2008, tingkat inflasi mencapai 0,95 persen. Walaupun 

nilai ini lebih kecil daripada angka inflasi pada Januari sebesar 1,77 persen, 

namun angka tersebut jauh diatas rata-rata tingkat inflasi yang biasanya terjadi di 

bulan Maret. Biasanya pada bulan Maret, tingkat inflasi mulai menurun dengan 

dimulainya masa panen beras. Namun tahun ini dampak penurunan harga beras 

tidak cukup kuat untuk menekan dampak kenaikan harga bahan makanan lainnya. 

                                                  

3         Harian Kompas, 7 April 2008 halaman 27, Kolom Metropolitan. Penurunan Harga 

Elpiji 50 Kg Dipertanyakan”. 

Tingginya tingkat inflasi ini merupakan salah satu ancaman bagi usaha restoran, 

karena akan mengurangi daya beli masyarakat terhadap produk yang ditawarkan4. 

Tingkat inflasi yang berfluktuasi dalam perekonomian negara kita  

mempengaruhi usaha pengembangan restoran. Fluktuasi ini menimbulkan kondisi 

ketidakpastian ekonomi. Seringkali pelaku usaha maupun pihak manajemen yang 

ingin mengembangkan usahanya mengalami kesulitan dalam memprediksi tingkat 

keuntungan yang akan diperolehnya. 

 

4) Lingkungan Teknologi 

Kemajuan teknologi saat ini mengubah produk, jasa, pasar, pemasok, 

distributor, pesaing, pelanggan, proses manufaktur, posisi persaingan dan lainnya. 

Adaptasi tinggi terhadap perubahan teknologi akan membantu usaha restoran 

untuk menciptakan pasar baru, pengembangan produk, pengefektifan biaya serta 

keunggulan tersendiri (distinctive competitive) diantara pesaingnya. 

Perkembangan teknologi saat ini merupakan peluang besar bagi 

pengembangan usaha restoran. Saat ini, restoran tidak hanya berfungsi sebagai 

tempat makan, namun juga sebagai tempat berkumpul atau “nongkrong”. Karena 

itu banyak restoran yang menawarkan berbagai macam fasilitas, termasuk 

teknologi, untuk membuat pengunjung nyaman dan merasa betah. Perkembangan 

teknologi yang umumnya dipakai dalam restoran antara lain internet hotspot, 

music player, serta teknologi dalam administrasi dan manajemen. 

 

 

                                                  

4        Harian Kompas, 7 April 2008 halaman 10, Kolom Bisnis dan Keuangan. “Analisis 

Danareksa : Suku Bunga Tidak Harus Naik “. 

 62 

6.1.2. Lingkungan Industri 

Lingkungan industri menggambarkan posisi perusahaan di tengah 

persaingan yang ada di dalam industri yang digelutinya. Lingkungan ini 

dijelaskan oleh Model Lima Kekuatan Porter melalui kombinasi lima kekuatan, 

yaitu pendatang baru potensial, pesaing-pesaing industri, adanya produk 

pengganti/substitusi, kekuatan tawar menawar pemasok dan kekuatan tawar 

menawar pembeli. 

 

1) Persaingan Antar Industri 

Hingga tahun 2006 terdapat 248 buah usaha restoran dalam berbagai 

bentuk pengelolaan di Kota Bogor. Di Botani Square sendiri, jumlah cafe dan 

restoran terus meningkat. Cafe, restoran serta usaha makanan yang berada di 

dalam Botani Square yaitu  pesaing utama Restoran Rice Bowl. Jumlah ini 

diperkirakan akan semakin meningkat sehubungan dengan adanya perluasan 

gedung Botani Square. 

Jumlah restoran yang semakin banyak menyebabkan tingkat persaingan 

usaha restoran semakin tinggi. Kondisi ini merupakan ancaman bagi Restoran 

Rice Bowl Botani Square yang akan mempengaruhi jumlah konsumen restoran.   

 

2) Pendatang baru potensial 

Pendatang baru dalam industri restoran di kota Bogor cenderung dapat 

masuk dengan mudah tanpa hambatan yang berarti dan reaksi yang kurang dari 

restoran yang telah ada. Kemunculan pendatang baru menjadi ancaman bagi usaha 

restoran yang telah ada. 

Untuk industri restoran di kota Bogor dapat dianalisis sebagai berikut : 

a. Pendatang baru rata-rata memiliki skala ekonomis yang cukup besar 

b. Permodalan bagi usaha restoran sangat mudah, terutama di kota Bogor. 

Kemunculan sistem pengelolaan restoran dengan konsep waralaba 

memberi penawaran bagi masyarakat untuk mendirikan restoran dengan 

biaya yang rendah dan tingkat pengembalian tinggi. 

c. Regulasi pemerintah sangat mendukung pengembangan usaha restoran di 

kota Bogor. Hal ini didukung sejumlah kebijakan dan program Pemerintah 

Daerah untuk meningkatkan potensi pariwisata kota Bogor. 

d. Biaya beralih pembeli tidak ada, karena konsumen bebas untuk pindah dan 

mencoba pemasok (restoran) lain. 

e. Pendatang baru memiliki kemudahan akses distribusi. Usaha restoran di 

kota Bogor memiliki saluran distribusi yang sangat luas, sehingga 

pendatang baru dapat masuk ke saluran distribusi. 

 

3) Ancaman Produk Pengganti / Substitusi 

Restoran Rice Bowl Botani Square merupakan restoran penyedia makanan 

dengan menu oriental. Ancaman produk pengganti yang diperhitungkan oleh 

restoran ini yaitu  restoran tradisional dan restoran dengan masakan khas 

negara kita . Produk pengganti dalam lingkungan usaha restoran ini yaitu  Restoran 

Solaria dan Mister Baso. Selain itu produk substitusi dapat berupa restoran 

American fastfood seperti KFC serta A&W.  


4) Kekuatan Tawar Menawar Pemasok 

Restoran Rice Bowl Botani Square memperoleh pasokan bahan bakunya 

dari dua sumber, yaitu PT Frozen Food Pahala dan pasar tradisional di kota 

Bogor. Kekuatan tawar menawar pemasok tinggi, karena Restoran Rice Bowl 

Botani Square tidak pernah berganti ke pemasok lain untuk menjaga kualitas 

bahan baku. 

 

5) Kekuatan Tawar Menawar Pembeli 

Kekuatan tawar menawar pembeli sangat tinggi, karena jumlah alternatif 

restoran yang tersedia di kota Bogor sangat banyak, penawaran tinggi, biaya 

beralih ke restoran lain juga rendah. Konsumen bebas memilih restoran yang 

sesuai dengan kebutuhannya. 

 

6.2. Analisis Lingkungan Internal 

6.2.1. Manajemen dan Sumberdaya Manusia 

Restoran Rice Bowl Botani Square memiliki sistem manajemen yang 

terstruktur. Saat ini restoran memiliki 31 orang karyawan dibawah pimpinan 

Bapak Irpan Dodi sebagai store manager. Seluruh karyawan memiliki tingkat 

pendidikan lulusan SMU dengan umur rata-rata 21-30 tahun. Restoran ini sangat 

mengutamakan karyawan yang loyal serta terlatih. Karena itu, faktor utama yang 

menjadi pertimbangan dalam perekrutan karyawan yaitu  kemauan untuk belajar 

dan keterampilan, bukan tingkat pendidikan. 

 

 

Restoran Rice Bowl Botani Square melakukan perekrutan karyawan 

melalui dua sumber, yaitu : 

1. Sumber internal, yaitu karyawan berasal dari dalam perusahaan sendiri berupa 

alih tugas (tour of duty) atau alih tempat tugas (tour of area). Sumber internal 

merupakan PT RBI atau Restoran Rice Bowl lainnya. Karyawan yang berasal 

dari sumber internal biasanya tidak perlu mengalami masa training lagi atau 

sudah dalam kondisi siap bekerja. 

2. Sumber eksternal, yaitu perekrutan karyawan dilakukan sendiri oleh Restoran 

Rice Bowl Botani Square. Karyawan yang direkrut dengan sistem ini akan 

mengikuti training class di kantor pusat selama satu hingga dua minggu, 

kemudian akan training on store di outlet masing-masing. Proses training 

karyawan biasanya selama tiga bulan, namun dapat dipercepat tergantung 

keterampilan dan peningkatan prestasi karyawan training. 

Upah karyawan (selain bidang managerial) yaitu  sebesar 973.000 

rupiah/bulan dan untuk karyawan training sebesar 37.000 rupiah/hari yang 

dibayarkan sesuai kehadiran. Upah karyawan terdiri dari gaji pokok, tunjangan 

makan, tunjangan transpor dan tunjangan jabatan (untuk jabatan tertentu). Selain 

itu setelah masa kerja selama tiga bulan, karyawan akan mendapatkan tunjangan 

kesehatan yang akan dibayarkan bersama upah bulanan. Karyawan juga 

mendapatkan tunjangan untuk kelahiran maupun bantuan uang duka maksimal 

sebesar satu juta rupiah. Karyawan dengan masa kerja diatas satu tahun juga 

berhak mendapatkan cuti tahunan maupun cuti khusus. 

Pembagian tugas dan tanggung jawab dalam manajemen Restoran Rice 

Bowl sudah cukup baik. Setiap karyawan memiliki tugas masing-masing tanpa 

ada tumpang tindih pekerjaan. Namun pada waktu-waktu sibuk, seperti akhir 

pekan dan hari libur, biasanya para karyawan dapat melakukan banyak pekerjaan 

sesuai kebutuhan. Manajemen Restoran Rice Bowl Botani Square juga memiliki 

Standar Operasional Perusahaan (SOP) yang jelas dan terarah.  

Restoran Rice Bowl Botani Square dihadapkan pada kondisi persaingan 

yang semakin ketat. Karena itu dibutuhkan adanya strategi khusus untuk 

memasarkan produknya sehingga lebih unggul diantara pesaingnya. Saat ini, 

manajemen restoran belum memiliki divisi riset pemasaran, seluruh kebijakan 

pemasaran diputuskan oleh PT RBI dan store manager. Hal ini kurang efektif 

mengingat karakteristik lingkungan usaha yang dihadapi tiap outlet berbeda-beda.  

 


Produk (product) 

Restoran Rice Bowl Botani Square merupakan pionir restoran oriental 

semi fastfood di negara kita . Berdasarkan konsep ini, konsumen akan mendapatkan 

pesanannya dalam waktu singkat namun dalam keadaan fresh (baru matang). Saat 

ini Rice Bowl merupakan salah satu restoran dengan citra merk yang unggul.  

Menu yang ditawarkan oleh Restoran Rice Bowl terdiri dari tiga jenis, 

yaitu food (makanan), beverages (minuman) dan dessert (makanan penutup). 

Menu makanan juga dikelompokkan menjadi tiga jenis menurut cara 

penyajiannya, yaitu : 1) Ala rice bowl, yaitu nasi dan lauk dihidangkan dalam satu 

mangkuk; 2) Ala BBQ, yaitu daging ayam atau bebek panggang; dan 3) Ala Sapo, 

yaitu makanan dimasak dan disajikan langsung dalam wadah yang terbuat dari 

tanah liat. Menu oriental yang ditawarkan di restoran ini merupakan menu-menu 

andalan Hongkong Executive Chef  yang telah berpengalaman selama puluhan 

tahun.  

Sebagian besar konsumen  melakukan pesanan dine-in (makan di tempat). 

Menu andalan restoran ini yaitu  BBQ, bebek dan seafood. Menu andalan ini 

merupakan ciri khas dari Restoran Rice Bolw di seluruh negara kita . Selain itu, 

terdapat pula menu favourites, yaitu menu yang paling banyak dipesan oelh 

pengunjung dan jenisnya pasti berbeda untuk tiap outlet. Menu favourites di 

Restoran Rice Bowl Botani Square dapat dilihat pada Lampiran 2. 

Penyajian produk memakai  mangkuk dan peralatan makan ala 

oriental. Untuk makanan yang dibawa pulang (take away), kemasan memakai  

lunch box yang terbuat dari bahan plastik yang memiliki daya tahan baik dan 

water resistant. Kemasan take away dilengkapi label restoran dan nama menu 

pesanan. Restoran ini juga memberikan jaminan produk bagi konsumen, dimana 

konsumen boleh mengembalikan atau tidak perlu membayar apabila konsumen 

merasa tidak puas. 

Restoran Rice Bowl Botani Square juga menyediakan layanan outside 

catering untuk rapat dan pesta ulangtahun. Untuk waktu tertentu selain akhir 

pekan dan hari libur, restoran juga menyedikan tempat untuk penyelenggaraan 

acara khusus, misalnya pesta ulangtahun anak-anak. Layanan ini belum 

dipublikasikan meluas pada konsumen, sehingga biasanya dilakukan bila 

konsumen bertanya dan ada permintaan. 

Restoran Rice Bowl Botani Square belum memiliki sertifikasi halal dari 

MUI sebagai jaminan kehalalan produknya. Menurut pihak manajemen, hal ini 

tidak terlalu mempengaruhi niat konsumen untuk datang ke restoran. Jaminan 

keamanan konsumsi pangan ditunjukkan Restoran Rice Bowl melalui label 

“Tidak Mengandung Babi” pada bagian depan. Selain itu, konsep open kitchen 

juga membuktikan pada konsumen akan keamanan produksi makanan yang 

dilakukan oleh restoran selama ini, 

 

Harga (price) 

Harga produk yang ditawarkan ditentukan oleh PT RBI dan berlaku umum 

di seluruh outlet Restoran Rice Bowl di seluruh negara kita . Akan tetapi, setiap 

outlet dapat menetapkan kebijakan harga tertentu untuk produk tertentu sesuai 

kebutuhan masing-masing. Harga ditampilkan dengan jelas pada daftar menu. 

Konsumen akan dikenakan pajak sebesar 10 persen dari total harga pesanan. 

Penetapan harga yang dilakukan Restoran Rice Bowl yaitu  penetapan 

harga psikologis. Hal ini merupakan strategi yang dilakukan untuk mempengaruhi 

pikiran konsumen bahwa harga produk tidak terlalu mahal. Menurut pihak 

manajemen, harga menu oriental yang ditawarkan di Rice Bowl tergolong lebih 

murah diantara restoran sejenis. Strategi harga ini menjadi kekuatan bersaing 

restoran diantara para pesaingnya. 

Dalam penetapan harga dilakukan proses planning product. Dalam proses 

ini, PT RBI akan meramalkan kondisi perekonomian untuk satu tahun ke depan, 

sehingga harga yang ditetapkan akan mampu memberi keuntungan pada jangka 

waktu tertentu. Perubahan harga akan dilakukan setiap periode satu tahun bila 

diperlukan. 

 

Promosi (promotion) 

Restoran Rice Bowl Botani Square hingga saat ini belum melakukan 

strategi khusus untuk mempromosikan restoran. Sejak awal berdiri pada tahun 

2006, restoran ini mengaku tidak kesulitan dalam menarik perhatian konsumen. 

Hal ini merupakan keuntungan dari letaknya yang berada di pusat perbelanjaan 

terbesar di kota Bogor, sehingga tidak dibutuhkan promosi yang terlalu besar.  

Kegiatan promosi yang aktif dilakukan hingga saat ini yaitu  penyebaran 

leaflet bagi para pengunjung di depan pintu masuk Botani Square. Restoran juga 

menawarkan potongan harga (diskon) pada menu atau paket makanan tertentu. 

Salah satunya yaitu  Program Red Spot bekerjasama dengan Telkomsel, dimana 

konsumen mendapatkan potongan harga 25 persen dengan menunjukkan short 

message service (sms) promo yang diterima. Promo ini berlaku untuk seluruh 

outlet Rice Bowl di negara kita . 

 70 

Restoran Rice Bowl Botani Square saat ini juga memberikan menu Paket 

Sensasi, yaitu menyediakan menu makanan perorangan dengan harga 6969 rupiah 

(belum termasuk pajak). Potongan harga juga diberikan bagi para pemegang kartu 

anggota Restoran Rice Bowl sebesar 15 persen. Promosi harga yang ditawarkan 

tidak dapat digabungkan dengan promosi lainnya. 

Kegiatan promosi yang dilakukan Restoran Rice Bowl Botani Square 

hingga saat ini cenderung masih bergantung pada PT RBI. Restoran ini belum 

memiliki strategi untuk mempromosikan produknya secara meluas bagi 

masyarakat kota Bogor, misalnya menjadi sponsor pada acara tertentu, 

pemasangan spanduk atau billboard, serta pemasangan iklan pada surat kabar, 

majalah atau radio. 

 

Distribusi (place) 

Restoran Rice Bowl Botani Square menawarkan produknya secara 

langsung pada konsumen. Pesanan dine in maupun take away diambil langsung 

oleh konsumen ke restoran. Restoran ini sebenarnya sudah memiliki layanan 

delivery service, akan tetapi layanan ini hanya dilakukan jika ada pesanan pada 

waktu dan jarak tertentu. Jangkauan wilayah delivery service berada di sekitar 

wilayah Baranangsiang saja. Akan tetapi layanan delivery service ini belum benar-

benar dimantapkan, dan hanya dilakukan jika ada konsumen yang meminta.  

Layanan distribusi produk di luar restoran masih kurang dan cenderung 

hanya sebagai fasilitas tambahan saja, sehingga pelaksanaannya belum dilakukan 

dengan serius. Padahal saat ini kebutuhan layanan di luar restoran sangat tinggi, 

mengingat waktu konsumen yang terbatas untuk datang ke restoran. Letaknya 

 71 

yang sangat strategis dan mudah dijangkau menjadi kekuatan restoran dalam 

melakukan distribusinya. 

Restoran Rice Bowl Botani Square tidak kesulitan dalam memperoleh 

bahan baku. Bahan baku utama, seperti daging bebek, saus dan bumbu oriental 

diperoleh dari PT. Frozen Food Pahala yang juga merupakan sister company dari 

PT RBI. Bahan baku lainnya, seperti daging ayam, telur, sayuran, es krim dan 

bumbu dapur, diperoleh dari pasar tradisional di Bogor. Sistem penyimpanan 

bahan baku yang dimiliki juga sudah memadai. 

 

6.2.3. Produksi dan Operasi 

Pemesanan dan Penerimaan Barang dan Bahan Baku 

Restoran Rice Bowl Botani Square memenuhi kebutuhan bahan baku 

melalui PT Frozen Food Pahala dan pasar tradisional di kota Bogor. PT Frozen 

Food Pahala yaitu  pemasok bahan baku utama bagi selururuh outlet Rice Bowl 

di negara kita . Bahan baku utama yaitu  bahan baku yang menjadi ciri khas 

Restoran Rice Bowl, sehingga kualitas dan standarnya harus benar-benar terjaga. 

Bahan baku utama antara lain daging bebek, saus dan rempah-rempah oriental 

khas Rice Bowl (condiment). Pemesanan bahan baku utama dilakukan dua kali 

seminggu, jumlah pesanan dilakukan sesuai kebutuhan Restoran Rice Bowl 

Botani Square. 

Bahan baku lainnya seperti daging ayam, sayuran, buah-buahan dan 

bumbu dapur, diperoleh dari pasar tradisional di kota Bogor. Pemesanan 

dilakukan melalui seorang pemasok lokal setiap hari. Untuk es krim dipesan dua 

kali seminggu, dan minuman botol dipesan melalui perusahaan masing-masing. 

Pemesanan dilakukan dengan metode inventory fast assets control (IFAC), yaitu 

kuantitas yang dipesan ditentukan berdasarkan jumlah bahan baku yang habis 

pada hari sebelumnya. Seluruh bahan baku yang dipesan akan dimasukkan dalam 

bon faktur, yang kemudian dibayarkan oleh PT RBI. 

Bahan baku yang datang dari supplier akan melalui proses sortir, yaitu 

pemilahan bahan baku sesuai ketentuan yang berlaku. Pemeriksaan ini bertujuan 

untuk memastikan bahwa pesanan yang datang telah sesuai dengan standar 

kualitas dan kuantitas yang diinginkan. 

 

Penyimpanan dan Penggunaan Bahan Baku 

Restoran Rice Bowl Botani Square sangat memperhatikan prosedur 

penyimpanan bahan baku. Penggunaan bahan baku memakai  metode first in 

first out (FIFO). Bahan baku dan barang yang datang terlebih dahulu harus 

diproses paling awal. Penyimpanan barang dan bahan baku juga disesuaikan 

dengan jenis, bentuk dan fungsinya masing-masing. Metode ini disebut decoy 

system. Barang dan bahan baku yang kadaluarsa, tidak layak pakai karena salah 

penanganan, atupun sisa dari persiapan penjualan harus dievaluasi untuk 

meminimalisir kontribusi negatif terhadap pencapaian food cost yang ada. Proses 

ini disebut left over. 

Bahan baku daging, seafood, saus maupun bumbu dapur setengah jadi 

akan disimpan dalam freezer dengan suhu penyimpanan -17 sampai -23

o

(pembekuan). Sementara bahan lain seperti sayuran, buah dan telur disimpan 

dalam chiller dengan suhu 3 sampai 7 oC (pendinginan). Untuk bahan kering 

disimpan dalam box dengan suhu ruangan 25oC. Untuk es krim disimpan dalam 

ice bin, dan es batu diproduksi secara kontinu dengan alat khusus ice maker.  

Bahan baku yang disimpan dalam freezer dan chiller memiliki masa 

tenggang (holding time). Rata-rata holding time bahan baku yang disimpan di 

freezer yaitu  6 bulan, sedang  bahan baku di chiller hanya bertahan 48 jam. 

Untuk daging ayam dan bebek di freezer memiliki holding time hanya 7 hari, dan 

secara holding time rata-rata bahan baku lain di Rice Bowl yaitu  20-40 menit. 

Seluruh bahan baku yang disimpan akan diberi label nama dan tanggal 

kedatangan. Untuk bahan baku yang telah dibuka atau dithawing harus disertakan 

tanggal kadaluarsanya. 

 

Pengolahan Bahan Makanan 

Restoran Rice Bowl Botani Square mengolah bahan baku menjadi 

makanan siap saji yang dalam keadaan fresh. Artinya seluruh bahan masakan 

tersebut hanya akan dimasak setelah ada pesanan konsumen. Sebelum beroperasi 

setiap hari, karyawan melakukan persiapan penjualan yang dilakukan pada malam 

sebelumnya.  

 Proses pengolahan menu restoran harus melalui serangkaian tahap yang 

telah diatur dalam SOP, yaitu : 

b. Proses soaking, yaitu proses perendaman peralatan makan dan minum dengan 

air hangat setelah dibersihkan dan dicuci. Proses ini dilakukan selama 8-12 

jam untuk menjaga kesterilan peralatan tersebut. Setelah disoaking, peralatan 

tersebut kembali dicuci dan dikeringkan. 

c. Proses thawing, yaitu proses melunakkan suatu bahan beku menjadi 

fresh/lunak agar siap diolah menjadi makanan, dengan cara menaikkan suhu 

sesuai waktu yang ditentukan. Jumlah bahan beku yang dithawing diprediksi 

untuk mencukupi kebutuhan keesokan harinya. Proses thawing dilakukan 

dengan memindahkan bahan beku ke chiller selama 8-12 jam.  

d. Proses dusting, yaitu pelapisan daging dan seafood dengan tepung tapioka. 

e. Proses parting dan boneless, yaitu proses pemotongan atau pembagian bahan 

baku yang disesuaikan dengan jenis potongan yang akan diproses. Boneless 

yaitu  pemotongan daging bebek dan ayam tanpa tulang. Hasil akhir proses 

parting dan boneless harus sesuai dengan SOP yang berlaku. 

f. Proses saute, yaitu proses memasak bahan baku dalam kuali teflon dengan 

minyak goreng sedikit selama 5-15 menit.  

g. Proses duck and chicken roaster, yaitu memanggang daging bebek dan ayam. 

h. Proses topping, yaitu bahan jadi, potongan daging matang, kacang tanah 

goreng maupun es krim yang diletakkan diatas makanan atau minuman.  

i. Proses garnish, yaitu potongan beberapa jenis bahan baku yang dibentuk 

sedemikian rupa dan diletakkan diatas atau disamping makanan jadi. 

Bertujuan untuk memperindah penampilan makanan jadi. 

Proses produksi yang dilakukan Restoran Rice Bowl Botani Square sangat 

terjamin keamanan dan kebersihannya. Hal ini diatur dalam SOP perusahaan yang 

juga mengatur standar kebersihan lingkungan dan karyawannya. 

 

Pelayanan Konsumen 

Konsumen yang datang akan disambut oleh greeter dan diantarkan ke 

meja kosong yang tersedia sesuai jumlah konsumen. Kemudian pemesanan akan 

dilayani oleh waiter/ss dengan layanan table service. Waiter/ss akan menuju kasir 

dan menunjukkan bill pesanan. Bon pesanan terdiri dari tiga rangkap, yaitu untuk 

bagian makanan, minuman dan konsumen. Sistem pengolahan pesanan 

memakai  metode first order first served. Bill (tagihan) akan diantarkan 

setelah konsumen selesai makan dan langsung dibayarkan pada waiter/ss. 

Dalam kegiatan operasionalnya, terkadang pihak manajemen 

mendapatkan keluhan dari konsumen. Apabila ada complain dari konsumen, 

misalnya kesalahan taking order atau konsumen menunggu terlalu lama, akan 

langsung ditangani oleh store manager.  

 

6.2.4. Keuangan 

Restoran Rice Bowl Botani Square memiliki kondisi keuangan yang baik. 

Sebagai restoran yang dikelola dengan sistem owner, modal pendirian usaha 

sepenuhnya ditanggung oleh PT RBI. Modal usaha awal untuk restoran tipe 

independent ini sebesar 900 juta rupiah. Hal ini sangat menguntungkan karena 

Restoran Rice Bowl dapat melakukan kegiatan operasionalnya tanpa terkendala 

dengan masalah pembayaran hutang modal usaha. 

PT RBI memegang hak penuh untuk keberadaan dana Restoran Rice Bowl 

Botani Square. Pihak manajemen restoran ini hanya bertanggung jawab untuk 

melaporkan kondisi keuangan restoran dalam bentuk laporan, serta menetapkan 

target penjualan  yang akan dicapai dalam periode satu tahun. 

Pihak manajemen Restoran Rice Bowl Botani Square memberi laporan 

keuangan setiap bulan pada PT RBI. Laporan keuangan yang disampaikan terdiri 

dari beberapa jenis laporan, yaitu : 

1. Laporan Kas Harian dan Slip Setoran Sales 

 Laporan Kas Harian yaitu  form data transaksi penjualan harian yang 

telah diinput oleh kasir. Laporan ini dilengkapi dengan slip setoran sales 

berupa bukti pembayaran memakai  voucher, kartu kredit, maupun 

pembayaran dengan uang tunai. Laporan ini dikerjakan oleh kasir dibantu 

oleh captain. 

2. Petty Cash, Laporan Kas Kecil dan Bukti Pembelian Cash  

 Petty Cash yaitu  pencatatan jumlah uang receh (uang logam) yang 

dimiliki oleh restoran. Laporan Kas Kecil yaitu  form transaksi pembelian 

bahan baku maupun kebutuhan restoran yang harus disertai dengan bukti 

pembelian cash. Laporan kas kecil merupakan laporan kegiatan pembelian 

atau pengeluaran yang dilakukan oleh restoran.  

Saat ini Restoran Rice Bowl Botani Square memiliki return of investment 

(ROI) yang cukup tinggi. Restoran ini telah mencapai break even point (BEP),  

dengan rata-rata peningkatan ROI yaitu  18 persen per tahun. Namun tingkat 

pendapatan per bulan cenderung berfluktuasi dan tidak stabil. Menurut pihak 

manajemen, hal ini disebabkan oleh terjadinya peningkatan jumlah restoran di 

Botani Square. Store manager menetapkan target peningkatan penjualan sebesar 

15 persen untuk tahun ini. Pencapaian target pendapatan yang belum stabil ini 

menjadi kelemahan Restoran Rice Bowl Botani Square. 

Sebagai restoran yang dikelola dengan sistem owner, Restoran Rice Bowl 

Botani Square sangat terjamin kondisi keuangannya. Segala kebutuhan dan 

pengeluaran ditanggung oleh PT RBI, sehingga restoran ini cukup leluasa dalam 

mengembangkan usahanya tanpa takut akan terkendala masalah uang. Hal inilah 

yang menjadi salah satu kekuatan restoran ini. 

 

6.2.5. Penelitian dan Pengembangan 

Pihak manajemen Restoran Rice Bowl Botani Square diberi kepercayaan 

oleh PT RBI untuk melakukan pengembangan usaha Restoran Rice Bowl di Kota 

Bogor. Dalam hal ini, pihak manajemen Restoran Rice Bowl Botani Square 

seharusnya melakukan pengamatan dan kajian mengenai lingkungan usaha di 

Kota Bogor. Akan tetapi, hingga saat ini belum ada upaya yang kontinu untuk 

mencapai tujuan tersebut.  

Pihak manajemen restoran pernah membuka outlet di BTM, namun gagal 

dan tidak berproduksi lagi. Karena kegagalan ini, pihak manajemen sangat 

berhati-hati dalam membuat keputusan untuk mengembangkan usaha. Akibatnya 

hingga saat ini, pihak manajemen belum melakukan pengamatan dan kajian 

lingkungan usaha di Kota Bogor secara optimal. Hal ini menjadi kelemahan 

restoran, karena cukup menghambat restoran dalam mengembangkan usahanya. 

 

6.2.6. Sistem Informasi Manajemen 

Kemajuan teknologi dewasa ini menimbulkan perubahan besar-besaran 

dalam hidup manusia. Manusia dapat mengakses segala sesuatu dan memenuhi 

kebutuhannya dengan cepat. Industri pariwisata merupakan salah satu industri 

yang sangat peka akan perubahan teknologi, termasuk restoran. 

Restoran Rice Bowl Botani Square memiliki website yang berfungsi untuk 

memberikan informasi secara cepat pada konsumen. Website ini dapat diakses 

melalui situs www.ricebowl.com. Akan tetapi, situs ini belum dikelola dengan 

baik oleh, banyak menu yang kosong dan informasi tidak tersedia. Dengan 

demikian, website ini belum dapat memberikan manfaat yang optimal bagi 

restoran dalam penggunaannya. 

 

 

 

Formulasi strategi atau sering disebut perencanaan strategis merupakan 

proses penyusunan perencanaan jangka panjang. Formulasi strategi diperoleh 

melalui analisis visi misi perusahaan serta lingkungan eksternal dan internal 

perusahaan. Pengembangan visi misi perusahaan serta pengenalan akan faktor 

eksternal dan internal perusahaan akan menghasilkan strategi pokok yang perlu 

diimplementasikan oleh perusahaan. 

 

7.1. Tahap Masukan (Input) 

7.1.1. Identifikasi Faktor Eksternal dan Internal 

 

1. Visi, Misi dan Nilai Perusahaan 

Visi Restoran Rice Bowl Botani Square yaitu  “Menjadi Restoran 

Keluarga yang Terkenal dan Terbaik di negara kita ”, dan misinya yaitu  “Rice 

Bowl mempunyai komitmen untuk menyajikan masakan dengan kualitas dan 

citarasa tinggi, mutu pelayanan yang memuaskan dan lingkungan yang 

menyenangkan”.  

Restoran Rice Bowl memiliki nilai-nilai yang menjadi dasar perilaku 

perusahaan dalam menjalankan usahanya. Nilai-nilai ini sangat dipegang teguh 

oleh seluruh tim manajemen dan karyawan restoran, yaitu : (1) Sense of belonging 

(rasa memiliki); (2) Sense of Responsible (rasa tanggung jawab); (3) Openness 

(keterbukaan); (4) Team work (kerjasama); (5) Human relation (supel dan 

familiar); (5) Trust (dapat dipercaya). Kemampuan Restoran Rice Bowl dalam 

 79 

menggerakkan usahanya dikarenakan  adanya komitmen tinggi pada visi, misi dan 

nilai-nilai perusahaan.  

 

2. Identifikasi Peluang, Ancaman, Kekuatan dan Kelemahan 

Faktor peluang dan ancaman merupakan lingkungan eksternal perusahaan 

yang keberadaannya tidak dapat dikendalikan. Restoran Rice Bowl Botani Square 

harus mampu memanfaatkan peluang yang ada serta selalu siap untuk 

mengantisipasi ancaman. Tabel 16 menggambarkan faktor eksternal yang 

mempengaruhi perkembangan Restoran Rice Bowl Botani Square. 

 

a. Peluang (Opportunities) 

O1 Visit West Java Year 2008. Kegiatan ini merupakan kesempatan bagi 

restoran, sebagai salah satu sarana pendukung industri pariwisata, di 

kota Bogor untuk mempromosikan usahanya.  

O2 Keamanan lingkungan Kota Bogor. Peran Pemda Kota Bogor 

terhadap industri pariwisata dan sarana pendukungnya terlihat melalui 

peraturan dan perundang-undangan yang jelas. Hal ini menciptakan 

kondisi lingkungan usaha yang aman dan terjamin.  

O3 Pangsa pasar semakin luas. Jumlah penduduk kota Bogor yang 

semakin tinggi merupakan peluang bagi restoran untuk 

mengembangkan pangsa pasarnya ke skala yang lebih luas. 

O4 Perubahan gaya hidup masyarakat. Minat masyarakat terhadap 

kepraktisan dan perilaku belanja di mall mendorong pertumbuhan 

usaha restoran di kota Bogor. 

O5 Event dan exhibition di Botani Square. Kegiatan ini mampu 

mendatangkan pengunjung dalam jumlah jauh lebih besar, sehingga 

berdampak pada peningkatan penjualan produk restoran di Botani 

Square. 

O6 Peningkatan pendapatan daerah dan daya beli masyarakat. 

Pendapatan daerah kota Bogor yang semakin tinggi menggambarkan 

kesejahteraan rakyat yang semakin meningkat serta meningkatkan 

daya beli masyarakat.  

 81 

O7 Perkembangan kemajuan dan inovasi teknologi. Perkembangan 

teknologi yang semakin pesat banyak dimanfaatkan restoran untuk 

menciptakan keunggulan dibandingkan pesaingnya. 

 

b. Ancaman (Threats) 

T1 Isu flu burung yang masih marak hingga saat ini. Isu flu burung 

mempengaruhi kepercayaan konsumen akan keamanan dalam 

mengkonsumsi unggas. 

T2 Kenaikan harga bahan makanan. Kondisi ini akan menyebabkan 

kenaikan biaya produksi restoran, sehingga berdampak pada 

penurunan tingkat keuntungan dan pengurangan jumlah produksi. 

T3  Kelangkaan bahan bakar minyak tanah dan gas elpiji. Kondisi 

menjadi hambatan bagi kegiatan produksi restoran. Kelangkaan ini 

juga mengakibatkan kenaikan harga bahan bakar minyak dan elpiji. 

T4 Tingkat inflasi yang berfluktuasi. Tingkat inflasi dalam 

perekonomian negara kita  yang berfluktuasi menimbulkan kondisi 

ketidakpastian. Hal ini menyulitkan usaha restoran dalam 

mengembangkan usahanya.  

T5 Persaingan dalam industri restoran tinggi. Peningkatan jumlah 

restoran di kota Bogor yang semakin tinggi menciptakan lingkungan 

persaingan yang semakin kompetitif. 

T6 Hambatan masuk industri sangat kecil. Pendatang baru dalam 

industri restoran dapat dengan mudah mendapatkan akses untuk 

masuk dalam industri. 


T7 Produk substitusi tersedia sangat banyak. Produk substitusi bagi 

restoran ini yaitu  restoran tradisional dan American fastfood. 

T8 Kekuatan tawar menawar konsumen sangat tinggi. Konsumen 

bebas memilih sesuai dengan kebutuhannya tanpa ada biaya peralihan. 

 

Faktor kekuatan dan kelemahan perusahaan merupakan faktor internal 

yang menjadikan suatu usaha berbeda dari pesaingnya. Tabel 17 menggambarkan 

faktor internal yang menjadi kekuatan dan kelemahan Restoran Rice Bowl Botani 

Square. 

 

c. Kekuatan (Strenghts) 

S1 Nilai perusahaan dan Konsep Oriental Semi Fastfood. Nilai-nilai 

yang dianut perusahaan serta konsep oriental semi fastfood merupakan 

keunggulan dan keunikan yang membedakan Restoran Rice Bowl dari 

usaha sejenis lainnya. 

S2 Standar Operasiona

 Perusahaan (SOP) yang jelas dan terarah. 

Adanya SOP perusahaan menjadi acuan bagi karyawan dalam bekerja  

sehingga diharapkan dapat menjada standar kualitas perusahaan. 

S3 Budaya dan moto kerja yang unik. Budaya kerja DQSC dan moto 

“CERIA” yaitu  pemicu semangat karyawan dalam bekerja. 

S4 SDM yang berkualitas dan terlatih. Adanya proses training 

karyawan yang dilakukan merupakan salah satu bentuk tanggung 

jawab restoran terhadap pengembangan kualitas karyawannya. 

S5 Keunggulan merk. Rice Bowl merupakan pionir restoran oriental 

fastfood. Hingga saat ini Rice Bowl memiliki citra merk yang unggul 

dan memiliki kualitas yang sangat baik.  

S6 Variasi menu unggulan oriental dari Hongkong Executive Chef. 

Menu yang disajikan di restoran ini sangat bervariasi, serta memiliki 

kekhasan dan ciri khas tersendiri. 

S7 Lokasi restoran strategis dan mudah dijangkau. Lokasi restoran di 

megamall Botani Square yang terletak di pusat kota Bogor, 

Baranangsiang merupakan mampu menarik banyak konsumen. 

S8 Strategi penetapan harga. Penetapan harga produk secara psikologis 

melalui proses planning product menjadikan Rice Bowl sebagai 

restoran yang memiliki daya tarik dari segi harga. 

S9 Metode pengelolaan barang dan bahan baku yang berkualitas. 

Pengelolaan barang dan bahan baku mencakup pemesanan, 

penyimpanan serta pengolahan dilakukan secara profesional. 

S10 Keterjaminan modal dan sumber keuangan. PT RBI sangat 

bertanggung jawab dalam memberikan kebutuhan modal maupun dana 

yang dibutuhkan Restoran Rice Bowl Botani Square dalam 

mengembangkan usahanya. 

 

d. Kelemahan (Weakness) 

W1 Belum melakukan pengamatan dan kajian lingkungan usaha 

secara optimal. 

W2 Belum memiliki sertifikasi halal MUI. Walaupun bukan suatu 

keharusan, namun adanya sertifikasi halal merupakan salah satu 

bentuk tanggung jawab restoran sebagai jaminan keamanan konsumsi 

produknya. 

W3 Kegiatan promosi keluar kurang gencar dilakukan. Kegiatan  

promosi yang dilakukan belum meluas di seluruh kota Bogor dan 

masih terkonsentrasi di dalam Botani Square saja. 

W4 Keterbatasan  kreativitas dan kemampuan inovasi produk. 

W5 Pencapaian target pendapatan yang belum stabil. Tingkat 

persaingan yang semakin tinggi mempengaruhi kemampuan untuk 

 85 

mencapai target. Akibatnya pencapaian target pendapatan seringkali 

tidak sesuai yang diharapkan. 

W6 Layanan distribusi produk masih kurang. Distribusi produk ke 

konsumen masih sangat terbatas dan kurang meluas. 

W7 Pengelolaan situs website belum optimal. Dalam situs website banyak 

informasi yang tidak tersedia, sehingga pemanfaatannya masih kurang. 

 

7.1.2. Matriks External Factor Evaluation (EFE) dan Internal Factor 

Evaluation (IFE)  

 

Pada Restoran Rice Bowl Botani Square, penilaian dilakukan oleh tiga 

orang responden, yaitu Store Manager, Assistant Store Manager dan Captain. 

Ketiga responden merupakan pihak manajemen restoran yang paling mengetahui 

kondisi internal dan eksternal perusahaan, selain itu ketiganya merupakan pihak 

yang berwenang dan bertanggung jawab dalam pelaksanaan kebijakan dan strategi. 

 

a. Matriks EFE 

Matriks EFE diperoleh melalui penilaian responden mengenai sejauh mana 

faktor-faktor strategis eksternal berpengaruh terhadap perusahaan. Setiap 

responden (pakar) memberikan penilaian bobot dan rating terhadap masing-masing 

faktor strategis eksternal perusahaan.  

Berdasarkan Tabel 18, analisis Matriks EFE yang dilakukan menghasilkan 

nilai tertimbang sebesar 2,545. Peluang utama dalam lingkungan usaha restoran ini 

ditunjukkan oleh faktor peluang dengan nilai tertimbang terbesar, yaitu event dan 

exhibition di Botani Square dengan nilai tertimbang sebesar 0,320. sedang  

 86 

ancaman utama ditunjukkan oleh faktor ancaman dengan nilai tertimbang terkecil, 

yaitu  kelangkaan bahan bakar minyak dan gas elpiji dengan nilai 0,112.  

 

b. Matriks IFE 

Matriks IFE diperoleh melalui penilaian responden mengenai sejauh mana 

faktor-faktor strategis internal berpengaruh terhadap perusahaan. Setiap responden 

(pakar) memberikan penilaian bobot dan rating terhadap masing-masing faktor 

strategis internal perusahaan.  

Berdasarkan Tabel 19, analisis matriks IFE menghasilkan total nilai 

tertimbang sebesar 2,770. Total nilai tertimbang IFE ini mengindikasikan bahwa 

kemampuan restoran dalam merespon lingkungan internalnya masih rata-rata. 

Kekuatan utama dari restoran ini yaitu  lokaasi restoran yang strategis dan mudah 

dijangkau, dengan nilai tertimbang tertinggi sebesar 0,244. sedang  kelemahan 

utama restoran yaitu  pencapaian target pendapatan yang belum stabil, dengan 

nilai tertimbang ancaman terkecil sebesar 0,070. 

 

7.2. Tahap Pencocokan 

7.2.1. Analisis Matriks Internal External (IE) 

Analisis Matriks IE digunakan untuk mengetahui posisi perusahaan saat ini. 

Matriks IE didasarkan pada nilai tertimbang yang diperoleh pada matriks EFE dan 

IFE. Nilai tertimbang sebesar 2,545 diperoleh dari matriks EFE yaitu , sedang  

matriks IFE menghasilkan nilai tertimbang sebesar 2,770. Melalui nilai tertimbang 

dalam matriks EFE dan IFE, maka dapat digambarkan posisi perusahaan dalam 

matriks IE dibawah ini. 

 

Pada analisis matriks IE Restoran Rice Bowl Botani Square (Gambar 6), 

posisi perusahaan terletak pada sel V (hold and maintain). Sel V menggambarkan 

kemampuan perusahaan dalam merespon lingkungan eksternal dan internalnya 

masih dalam tingkat rata-rata.  

Posisi Restoran Rice Bowl Botani Square dalam tahap hold and maintain 

(jaga dan pertahankan) menentukan strategi yang akan diterapkan perusahaan. 

Strategi yang sebaiknya diterapkan restoran pada posisi ini yaitu  strategi penetrasi 

pasar dan pengembangan produk. Strategi penetrasi merupakan upaya peningkatan 

pangsa pasar untuk produk atau jasa melalui upaya pemasaran yang lebih besar. 

Strategi pengembangan produk merupakan upaya peningkatan penjualan dengan 

memperbaiki atau memodifikasi produk atau jasa saat ini (David, 2006). 

Strategi penetrasi pasar dan pengembangan produk merupakan strategi 

intensif, artinya dibutuhkan usaha yang intensif dan kontinu untuk unggul dalam 

lingkungan kompetitif perusahaan. Strategi yang diperoleh melalui matriks IE 

bersifat umum. Karena itu dilakukan analisis Matriks SWOT untuk mendapatkan 

strategi yang lebih spesifik dan nyata. 

 

7.2.2. Analisis Matris SWOT 

Analisis Matriks SWOT disusun berdasarkan identifikasi faktor lingkungan 

eksternal dan internal Restoran Rice Bowl Botani Square. Analisis Matriks SWOT 

yang dilakukan menghasilkan delapan macam strategi yang dikelompokkan dalam 

empat sel, yaitu Strategi S-O, Strategi S-T, Strategi W-O dan Strategi W-T. 

 

Strategi S-O 

1) Strategi SO-1, yaitu membuka outlet baru di pusat perbelanjaan lain di kota 

Bogor. Kualitas SDM dan keterjaminan modal dan keuangan menjadi kekuatan 

bagi restoran untuk memperluas pangsa pasarnya. Strategi ini didukung oleh 

pesatnya pertumbuhan pusat perbelanjaan di kota Bogor.  

 

2) Strategi SO-2, yaitu mensponsori event atau exhibition di Botani Square. Event 

dan exhibition yang sering diadakan di Botani Square merupakan peluang besar 

bagi Restoran Rice Bowl untuk menarik konsumen lebih banyak. Mensponsori 

event atau exhibition di Botani Square merupakan salah satu strategi untuk 

meningkatkan penjualan serta sebagai upaya promosi yang efektif.  

 

Strategi W-O 

1) Strategi WO-1, yaitu menyediakan layanan pesan antar dan paket menu khusus. 

Strategi ini bertujuan untuk menjangkau pangsa pasar yang lebih luas dan lebih 

praktis. Penyediaan paket menu khusus juga sebagai salah satu upaya 

 90 

diversifikasi produk, misalnya paket untuk anak-anak atau paket hari raya 

tertentu. 

2) Strategi WO-2, yaitu mengoptimalkan kegiatan promosi melalui iklan, media 

dan website. Strategi ini merupakan upaya promosi yang sebaiknya dilakukan 

lebih intensif oleh Restoran Rice Bowl Botani Square. Misalnya dengan 

pemasangan spanduk, billboard, iklan di majalah serta pengoptimalan fungsi 

website dalam memberikan informasi bagi konsumen. 

 

Strategi S-T 

1) Strategi ST-1, yaitu mempertahankan strategi penetapan harga. Target pasar 

Restoran Rice Bowl yaitu  konsumen golongan menengah keatas. Strategi 

penetapan harga psikologis yang dilakukan selama ini mampu menciptakan 

harga yang tepat bagi konsumen. Dimana strategi ini mempengaruhi pikiran 

dan pendapat konsumen bahwa harga produk Rice Bowl tidak tergolong mahal. 

2) Strategi ST-2, yaitu menjaga hubungan baik dengan pemasok  untuk menjaga 

kualitas bahan baku. Restoran Rice Bowl saat ini telah memiliki pemasok yang 

mampu menyediakan kebutuhan barang dan bahan baku berkualitas. Kualitas 

barang dan bahan baku yang digunakan merupakan faktor kunci kualitas 

produk yang dihasilkan oleh Rice Bowl. Strategi ini mampu menjamin 

ketersediaan dan kontinuitas bahan baku sesuai SOP. 

3) Strategi ST-3, yaitu menjaga kualitas produk makanan dan pelayanan 

konsumen. Strategi ini merupakan salah satu cara untuk mempertahankan 

loyalitas konsumen kepada Rice Bowl. Produk yang bermutu dan pelayanan 

yang memuaskan akan membuat konsumen merasa nyaman dan aman dengan 

suasana restoran. 

 

Strategi W-T 

1) Strategi WT-1, yaitu melakukan evaluasi dan kajian kemampuan restoran 

dalam menghadapi persaingan. Evaluasi ini dapat dilakukan oleh pihak 

manajemen restoran secara berkala, misalnya bulanan atau kuartalan. Dengan 

evaluasi dan kajian yang dilakukan, diharapkan pihak manajemen akan mampu 

senantiasa melakukan perbaikan kelemahan dan kekurangan restoran secara 

kontinu. Strategi ini juga membantu restoran dalam mengenali kondisi 

lingkungan eksternal, internal serta kondisi persaingan yang ada di sekitarnya. 

 

7.3. Tahap Keputusan 

Tahap keputusan merupakan tahapan membuat peringkat strategi untuk 

menghasilkan daftar berprioritas (David, 2006). Dalam penelitian ini digunakan 

Analisis Quantitative Strategic Planning Matrix (QSPM) sebagai tahap keputusan 

dalam perumusan strategi pengembangan Restoran Rice Bowl Botani Square. 

 

7.3.1. Quantitative Strategic Planning Matrix (QSPM) 

Analisis QSPM mampu menentukan daftar prioritas pelaksanaan strategi 

dengan menentukan daya tarik relatif (Attractiveness Score-AS) dari alternatif 

tindakan yang layak. Teknik ini secara objektif mengindikasikan alternatif strategi 

mana yang terbaik untuk dilakukan perusahaan. 

Analisis QSPM dilakukan berdasarkan delapan alternatif strategi yang ada. 

Penilaian dilakukan oleh tiga orang responden yang memiliki pengaruh terbesar 

dalam perusahaan dalam pengambilan keputusan. Hasil total TAS dari setiap 

responden untuk masing-masing strategi akan dirata-ratakan untuk menentukan 

urutan prioritas strategi yang akan dilaksanakan.  

 93 

Berdasarkan hasil analisis QSPM pada Tabel 21, terlihat bahwa strategi 

yang menjadi prioritas untuk dilakukan saat ini yaitu  menjaga kualitas produk 

makanan dan layanan konsumen dengan total TAS tertinggi sebesar 5,897. Urutan 

prioritas strategi pengembangan Restoran Rice Bowl Botani Square yaitu  sebagai 

berikut : 

1. Menjaga kualitas produk makanan dan layanan konsumen (TAS = 5,979) 

2. Melakukan evaluasi dan kajian kemampuan restoran dalam menghadapi 

persaingan (TAS = 5,313) 

3. Mengoptimalkan kegiatan promosi melalui iklan, media, website (TAS = 

5,256) 

4. Mensponsori event dan exhibition di Botani Square (TAS = 5,159) 

5. Menyediakan layanan pesan antar dan paket menu khusus (TAS = 5,042) 

6. Membuka outlet baru di pusat perbelanjaan lain di kota Bogor (TAS = 4,553) 

7. Mempertahankan strategi penetapan harga (TAS = 4,306) 

8. Menjaga hubungan baik dengan pemasok untuk menjaga kualitas bahan baku 

(TAS = 4,148). 

 

1. Restoran Rice Bowl Botani Square merupakan pionir oriental semi 

fastfood restaurant. Hingga saat ini restoran masih cenderung terlalu 

berhati-hati dalam melakukan upaya pengembangan usaha. Selain itu, 

restoran juga belum memanfaatkan lingkungan usahanya dengan 

optimal. Strategi yang selama ini dilakukan sebagian besar berupa 

strategi promosi harga melalui paket menu murah. Selain itu dilakukan 

juga promosi melalui pembagian leaflet.  

2. Faktor peluang yang dimiliki oleh Restoran Rice Bowl Botani Square 

yaitu  Visit West Java Year 2008, keamanan lingkungan Kota Bogor, 

pangsa pasar semakin luas, perubahan gaya hidup masyarakat, event 

dan exhibition di Botani Square, peningkatan pendapatan daerah dan 

daya beli masyarakat dan perkembangan kemajuan dan inovasi 

teknologi. sedang  faktor ancaman yang dihadapi yaitu  isu flu 

burung, kenaikan harga bahan makanan, kelangkaan bahan bakar 

minyak tanah dan gas elpiji, tingkat inflasi yang berfluktuasi, 

persaingan dalam industri restoran tinggi, hambatan masuk industri 

sangat kecil, produk substitusi tersedia sangat banyak, dan kekuatan 

tawar menawar konsumen sangat tinggi. 

3. Faktor kekuatan yang dimiliki Restoran Rice Bowl Botani Square 

yaitu  nilai perusahaan dan konsep oriental semi fastfood, Standar 

Operasional Perusahaan (SOP) yang jelas dan terarah, budaya dan 

 95 

moto kerja yang unik, SDM yang berkualitas dan terlatih, keunggulan 

merk, variasi menu unggulan oriental dari Hongkong Executive Chef, 

lokasi restoran strategis dan mudah dijangkau, strategi penetapan 

harga, metode pengelolaan barang dan bahan baku yang berkualitas 

dan keterjaminan modal dan sumber keuangan. sedang  faktor 

kelemahannya yaitu  belum melakukan pengamatan dan kajian 

lingkungan usaha secara optimal, belum memiliki sertifikasi halal 

MUI, kegiatan promosi keluar kurang gencar dilakukan, keterbatasan  

kreativitas dan kemampuan inovasi produk, pencapaian target 

pendapatan yang belum stabil, layanan distribusi produk masih kurang 

dan pengelolaan situs website belum optimal. 

4. Berdasarkan total nilai tertimbang pada matriks EFE sebesar 2,545 

dan matriks IFE sebesar 2,770 diperoleh gambaran posisi perusahaan 

saat ini dalam pemetaan matriks IE. Restoran berada pada sel V, yaitu 

tahap hold and maintain (jaga dan pertahankan), dengan alternatif 

strategi penetrasi pasar dan pengembangan produk. Analisis SWOT 

menghasilkan delapan buah strategi yang diurutkan prioritas 

pelaksanaannya dengan analisis QSPM. Urutan prioritas strategi yang 

dilaksanakan yaitu  menjaga kualitas produk makanan dan layanan 

konsumen (TAS = 5,979), melakukan evaluasi dan kajian kemampuan 

restoran dalam menghadapi persaingan (TAS =5,313), 

mengoptimalkan kegiatan promosi melalui iklan, media, website (TAS 

= 5,256), mensponsori event dan exhibition di Botani Square (TAS = 

5,159), menyediakan layanan pesan antar dan paket menu khusus 

 96 

(TAS = 5,042), membuka outlet baru di pusat perbelanjaan lain di kota 

Bogor (TAS = 4,553), mempertahankan strategi penetapan harga 

(TAS = 4,306) dan menjaga hubungan baik dengan pemasok untuk 

menjaga kualitas bahan baku (TAS = 4,148). 

8.2. Saran 

1. Restoran Rice Bowl Botani Square sebaiknya tetap mempertahankan 

kualitas produk dan layanan konsumen yang menjadi keunggulannya 

hingga saat ini. Strategi ini mampu mengatasi salah satu kelemahan 

utama restoran, yaitu belum memiliki sertifikasi halal MUI. Akan 

tetapi untuk jangka panjang, ada baiknya pihak manajemen 

mengusahakan adanya label sertifikasi halal. Adanya sertifikasi halal 

MUI akan menjamin keamanan pangan, sehingga konsumen akan 

benar-benar yakin akan produk yang ditawarkan. 

2. Menggencarkan upaya promosi dan iklan, baik di dalam maupun di 

luar lingkungan Botani Square. Langkah-langkah yang dapat 

dilakukan antara lain pemasangan billboard dan spanduk di tempat-

tempat strategis, iklan di surat kabar atau majalah serta melakukan 

promosi pada radio-radio kota Bogor. 

3. Pemanfaatan SDM dan manajemen sebaiknya dilakukan lebih optimal. 

Mengingat keterbatasan dalam inovasi produk, sebaiknya Restoran 

Rice Bowl Botani Square kreatif dalam menciptakan paket menu atau 

variasi menu yang membedakannya dari restoran sejenis. Paket menu 

yang dapat diciptakan antara lain paket khusus anak-anak (kids menu), 

paket hemat dengan beragam jenis menu serta paket khusus hari raya.