merupakan kerupuk yang sangat familiar dan digemari oleh sebagian warga
pauk atau sebagai camilan. Pembuatan kerupuk ini relatif mudah dan murah bahan
yang dipakai juga mudah di dapat. Bahan pokok yang dipakai yaitu nasi,
berbagai macam produk makanan salah satunya yaitu tepung tapioka. Pada pembuatan
kerupuk karak, tepung tapioka memiliki peranan penting. pemakaian tepung
digoreng. Sementara, harga tepung tapioka hanyalah sebesar 60% - 75% dari harga
kulaitas beras menengah. Sehingga dengan demikian, pengeluaran biaya pada
pembuatan kerupuk karak dapat ditekan . Menurut Komposisi Bahan
Energi 352 (kal), Protein 0.5 (g), Lemak 0.3 (g) dan Karbohidrat 86,9 (g).
membentuk struktur sangat kuat. Adonan tepung tapioka berbentuk kental, mudah
kering dan kadar airnya berkurang sebab tepung tapioka bersifat higrokopis dan
menyerap air. Tepung tapioka tersusun atas dua komponen yang tidak larut dalam air
yaitu amilosa 23% dan amilopektin 77%. Dua komponen ini dapat menyerap air dan
mengembang jika ditambahkan dengan air dan dilakukan pemanasanan. Proses ini
dalam pangan. Boraks merupakan senyawa kimia yang yang berbentuk serbuk hablur
kristal transparan atau granul putih tak berwarna dan tak berbau serta agak manis Penambahan boraks pada makanan biasanya untuk meningkatkan
kekenyalan, kerenyahan, memberikan rasa gurih dan kepadatan terutama pada jenis
Menteri Kesehatan No. 722/MenKes/Per/IX/88 boraks dinyatakan sebagai bahan
A. Alat
B. Bahan
Bahan-bahan dapat di tambahkan sesuai kebutuhan.
Baskom = Rp. 15.000,-
Saringan besar = Rp. 60.000,-
Talenan = Rp. 40.000,-
Gilasan adonan = Rp. 32.000,-
Plastik cling warp =Rp. 22.000,-
Sarung tangan plastik = Rp. 5.000,-
Jumlah alat = Rp. 237.000,-
Bawang putih = Rp. 25.000,-
Garam = Rp. 10.000,-
Ketumbar bubuk = Rp. 12.000,-
Beras 10kg =Rp. 130.000,-
Jumlah modal = Rp. 420.000,-
Harga jual per- bungkus ( satu kilo) =Rp. 15.000,-
Penghasilan per- tiga hari = Rp. 450.000,-
Penghasilan per-minggu =Rp. 900.000,-
Tidak dihitung hari minggu sebab pada hari minggu tidak menerima pesanan.
Hasil penjualan per-bulan - Modal bahan = Rp. 1.800.000,- Rp. 183.000 =
Rp. 1.617.000-
Usaha Mikro, Kecil dan Menengah (UMKM) dalam perekonomian nasional
memiliki peran yang penting dan strategis. Namun demikian, UMKM masih memiliki
kendala, baik untuk mendapat pembiayaan maupun untuk mengembangkan
usahanya. Dari sisi pembiayaan, masih banyak pelaku UMKM yang mengalami
kesulitan untuk mendapat akses kredit dari bank, baik karena kendala teknis,
misalnya tidak mempunyai/tidak cukup agunan, maupun kendala non teknis, misalnya
keterbatasan akses informasi ke perbankan. Dari sisi pengembangan usaha, pelaku
UMKM masih memiliki keterbatasan informasi mengenai pola pembiayaan untuk
komoditas tertentu. Di sisi lain, ternyata perbankan juga membutuhkan informasi
tentang komoditas yang potensial untuk dibiayai.
Sehubungan dengan hal ini , dalam rangka menyediakan rujukan bagi
perbankan untuk meningkatkan pembiayaan terhadap UMKM serta menyediakan
informasi dan pengetahuan bagi UMKM yang bermaksud mengembangkan
usahanya, maka menjadi kebutuhan untuk penyediaan informasi pola pembiayaan
untuk komoditi potensial ini dalam bentuk model/pola pembiayaan komoditas
(lending model). Sampai saat ini, Bank negara kita telah menghasilkan 88 judul buku pola
pembiayaan komoditi pertanian, industri dan perdagangan dengan sistem pembiayaan
konvensional dan 21 judul dengan sistem syariah. Dalam upaya menyebarluaskan
lending model ini kepada masyarakat maka buku pola pembiayaan ini telah
dimasukkan dalam website Sistem Informasi Terpadu Pengembangan UKM (SI-PUK)
yang terintegrasi dalam Data dan Informasi Bisnis negara kita (DIBI) dan dapat diakses
melalui internet di alamat www.bi.go.id.
Dalam penyusunan buku pola pembiayaan ini, Bank negara kita bekerjasama
dengan Departemen Kelautan dan Perikanan Republik negara kita (DKP) dan
memperoleh masukan dari banyak pihak antara lain dari perbankan, lembaga/instansi
ii POLA PEMBIAYAAN USAHA KECIL
terkait lainnya, asosiasi dan UMKM. Untuk itu, kami mengucapkan terima kasih atas
segala bantuan dan kerjasamanya selama ini.
Besar harapan kami bahwa buku ini dapat melengkapi informasi tentang pola
pembiayaan komoditi potensial bagi perbankan dan sekaligus memperluas replikasi
pembiayaan oleh UMKM pada komoditi ini .
Udang merupakan kekayaan laut negara kita yang melimpah dan merupakan
bahan makanan yang tidak tahan lama (cepat busuk). Sehingga diperlukan penanganan
untuk memperlama masa penggunaannya. Beberapa cara dapat dilakukan antara lain
pembuatan terasi udang, pembuatan udang kering dan kerupuk udang. Pembuatan
kerupuk udang selain menambah lamanya penggunaan udang juga merupakan
salah satu cara untuk menambah variasi dari penggunaan udang, dimana udang
adalah merupakan hewan yang mengandung protein yang sangat tinggi yang sangat
dibutuhkan manusia. Dengan adanya kerupuk udang ini maka bagi orang yang tidak
menyukai konsumsi udang seraca langsung dapat pula menikmati udang dengan
adanya kerupuk udang. Kerupuk udang merupakan bahan makanan dengan bahan
baku udang dan tepung sagu yang telah diawetkan dengan cara dijemur sehingga
penggunaannya untuk jangka waktu yang lama, jika dijemur lagi setelah beberapa
waktu maka akan memperlama masa penggunaannya.
Photo 1.1. Kerupuk Udang
2 POLA PEMBIAYAAN USAHA KECIL
Usaha pembuatan kerupuk udang ini pada umumnya dalam skala kecil,
hal ini dikarenakan dalam proses pembuatan kerupuk udang tidak membutuhkan
modal yang besar. Namun jika usaha ini dikembangkan maka akan menjadi usaha
menengah bahkan usaha besar. Minat masyarakat terhadap kerupuk udang juga
cukup tinggi hal ini ditandai dengan tingginya permintaan akan kerupuk udang di
daerah atau lokasi survei. Sehingga potensi pasar untuk usaha ini masih sangat besar
untuk dikembangkan.
Teknologi yang dipergunakan dalam pembuatan kerupuk udang ini masih
mempergunakan teknologi yang sederhana terutama dalam proses pencampuran
bahan-bahan dan pengolahan bahan hanya dengan mempergunakan tenaga
manusia. Teknologi yang dipergunakan adalah pada proses penghancuran udang
yaitu dengan menggunakan mesin penghancur udang, dan proses mencampur udang
dengan bumbu-bumbu mempergunakan mixer khusus. Dalam proses pengeringan
juga masih mengandalkan kekuatan sinar matahari, belum mempergunakan mesin
pengering.
Gambaran tentang industri kerupuk udang yang disajikan dalam buku lending
model berdasar survei yang dilakukan di Provinsi Jambi ini meliputi aspek pasar dan
pemasaran, aspek produksi, aspek keuangan, aspek ekonomi dan aspek lingkungan.
Dalam rangka menyebarluaskan hasil-hasil penelitian kepada masyarakat luas, maka
buku pola pembiayaan kerupuk udang ini akan ditransformasi dalam Sistem Informasi
Terpadu Pengembangan Usaha Kecil (SI-PUK) yang dapat diakses melalui website
Bank negara kita .
Industri kerupuk udang merupakan salah satu jenis industri makanan yang
umumnya berbentuk usaha perorangan dan usaha dagang berskala mikro dan kecil.
Bahan baku yang dipergunakan dalam industri kerupuk udang ini adalah udang. Bahan
baku lainnya adalah tepung sagu sebagai bahan baku tambahan untuk pembuatan
kerupuk udang.
Di Kecamatan Tungkal Ilir Kabupaten Tanjung Jabung Barat merupakan
penghasil udang terbesar di daerah Jambi, sehingga hal ini dipergunakan sebagai
alasan mengapa banyak bermunculan industri-industri kecil yang menghasilkan
kerupuk udang. Pengelola usaha ini umumnya adalah keluarga dengan pelaksana
usaha dilakukan sendiri. Tiap pengusaha rata-rata memiliki 4 orang karyawan (tenaga
kerja) dan sebagian merupakan anggota keluarganya. Terdapat beberapa industri
kecil yang tidak hanya membuat kerupuk udang, tetapi mereka juga membuat terasi
udang, petis, dan udang kering. Tetapi proporsi kerupuk udang merupakan yang
terbesar dibandingkan dengan produk lainnya.
Teknologi yang diperlukan untuk memproduksi kerupuk udang secara umum
merupakan teknologi yang sederhana. Oleh karena itu tidak terdapat perbedaan
pada proses hanya perbedaan bumbu-bumbu dan pelengkapnya saja, ada yang
mempergunakan bumbu penyedap dan pelengkap daun seledri, cabe dan garam.
Adapula yang mempergunakan pelengkap hanya cabe saja.
Alasan para pengusaha UMKM yang bergerak di bidang kerupuk udang
dalam menekuni usaha ini adalah karena dari sisi pemasaran terjamin dalam
artian sudah jelas pembelinya (biasanya adalah para pedagang yang akan menjual
kembali ke daerah lain bahkan sampai ke Singapura). Pasar bagi kerupuk udang ini
sudah jelas, jadi setiap berproduksi sudah ada yang memesan. Alasan lain adalah
4 POLA PEMBIAYAAN USAHA KECIL
karena turun temurun dari para orang tua mereka yang sudah lama menekuni bisnis
ini sehingga dilanjutkan oleh anaknya, banyaknya sumberdaya yang mempunyai
keterampilan dalam pembuatan kerupuk udang ini juga merupakan faktor banyaknya
pengrajin kerupuk udang ini, serta dekatnya lokasi pabrik (industri) dengan sumber
bahan baku dan ketersediaan bahan baku selalu ada.
Penanganan industri kerupuk udang ini juga ditunjang dengan adanya sebuah
koperasi yang bernama LEPP Mitra Mandiri. Koperasi ini didirikan dengan
maksud agar terjalin kerjasama yang baik antar sesama UMKM penghasil kerupuk
udang. Setiap pertemuan anggota akan membahas permasalahan-permasalahan
yang muncul sehingga antar anggota mempunyai pendapat dalam penyelesaian
masalah. Selain itu diharapkan dengan adanya koperasi ini akan memperluas daerah
pemasaran dan memudahkan pembinaan dari Dinas Perikanan dan Kelautan, dimana
koperasi ini sebagai tempat berkumpulnya para pengusaha UMKM yang mengolah
hasil laut termasuk udang.
Perkembangan industri kerupuk udang menjadikan para nelayan yang
mendapat hasil laut seperti udang, mudah untuk memasarkan karena setiap hari
hasil laut yang didapat langsung dapat dipasarkan. Bahkan mereka tidak perlu jauh-
jauh memasarkan karena permintaan akan udang di Kuala Tungkal sangat tinggi, hal
ini dikarenakan banyaknya industri pembuatan kerupuk udang. Jadi masing-masing
kelompok pengrajin kerupuk udang sudah mempunyai pemasok yang tetap, sehingga
mereka tidak kesulitan dalam pengadaan bahan bakunya. Seperti Kelompok Juwita
yang memproduksi kerupuk udang setiap hari membutuhkan 20 kg udang segar.
Untuk menjamin ketersediaan bahan baku, maka biasanya mereka menyimpan udang
ini dalam freezer, menyiasati pada saat musim-musim udang sepi, sehingga
mereka bisa terus berproduksi.
2.2. Pola Pembiayaan
Pola pembiayaan usaha kerupuk udang dapat berasal dari pengusaha sendiri,
dana bergulir dari dinas terkait seperti Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) maupun
dari kredit bank dengan proporsi yang sangat beragam antar pengusaha. Dana bergulir
PROFIL USAHA DAN POLA PEMBIAYAAN
5BANK negara kita
INDUSTRI KERUPUK UDANG
yang rata-rata diterima oleh para pengusaha UMKM kerupuk udang adalah berkisar
Rp 5.000.000 – Rp 10.000.000, dimana proses pengembaliannya adalah dalam jangka
waktu 5 tahun, namun tidak ditentukan secara pasti cicilan per bulannya, karena
tergantung dari perolehan pendapatan pengusaha. Sebagian besar dana bergulir
ini dipergunakan untuk modal kerja. DKP selain memberikan dana bergulir
juga memberikan pinjaman alat berupa mesin penggiling. Sedangkan investasi yang
lain sebagian besar berasal dari modal sendiri. Pengembalian dana bergulir biasanya
dilakukan setiap bulan sekali, mereka diwajibkan membuat pencatatan, berapa
banyak kerupuk yang diproduksi dan dijual, kemudian berapa nilai penjualan, berapa
biaya produksi dan berapa keuntungan yang diperoleh.
Adapun persayaratan UMKM yang mendapat bantuan dana bergulir adalah
kelompok yang sudah memiliki usaha, merupakan binaan DKP dan selalu mengikuti
pembinaan, menjadi anggota koperasi dan khusus untuk mesin penggiling adalah
untuk pengusaha kerupuk udang, namun karena jumlah mesin penggiling baru
tersedia 15 sehingga baru 15 kelompok yang mendapat pinjaman mesin penggiling.
Skim kredit yang tersedia pada lokasi usaha antara lain skim kredit usaha
Kecil (KUK) dan KMKP dari BPR Tanggo Radjo yang merupakan BPR yang dimiliki oleh
Kabupaten Tanjung Jabung Barat telah memberikan kredit kepada beberapa pengrajin
kerupuk udang. Skim KUK yang diberikan adalah untuk kredit modal kerja dan atau
modal investasi. Bank juga mempunyai persepsi bahwa usaha ini layak dibiayai karena
prospeknya sangat baik.
berdasar pengalaman beberapa pengusaha UMKM kerupuk udang
yang sudah mendapat kredit selama ini belum pernah terjadi penunggakan
pembayaran angsuran kreditnya. Dengan adanya pinjaman ini para pengusaha
UMKM kerupuk udang dapat meningkatkan produksinya, sehingga meningkatkan
pula penjualannya.
Bank tidak mensyaratkan secara khusus untuk usaha kerupuk udang ini, jadi
prosedur sama dengan pengajuan pinjaman lainnya. Adapun beberapa prosedur yang
harus dilalui dalam calon nasabah memperoleh kredit, adapun prosedur yang harus
dilalui adalah sebagai berikut :
6 POLA PEMBIAYAAN USAHA KECIL
Calon debitur mengajukan surat pengajuan kredit kepada pihak bank.1.
Pengumpulan data (karakter debitur, data keuangan dan jaminan).2.
Analisa kredit oleh 3. Account Officer.
Jika sudah terpenuhi semua persyaratan diatas maka segera dicairkan, 4.
biasanya dalam waktu 5 – 10 hari.
Persyaratan lain yang perlu dilakukan oleh debitur adalah mereka harus
mempunyai rekening di bank ini , hal ini untuk mempermudah pencairan
dan pembayaran pinjaman. Biaya yang ditanggung oleh debitur adalah biaya
pengikatan jaminan yang besarnya antara Rp100.000 – Rp210.000, biaya provisi
sebesar 1%, biaya administrasi sebesar 0,5% dan biaya notaris. Kriteria yang menjadi
pertimbangan bank dalam melakukan analisis kredit kepada debitur adalah 5C yaitu
Character (watak), capacity (kemampuan), capital (permodalan), collateral (jaminan)
dan condition (kondisi).
Permintaan produk ini sangat besar, hal ini ditandai dengan banyaknya pesanan
yang datang kepada para pengrajin kerupuk udang. Para pengrajin kerupuk udang lebih
banyak menerima pesanan dibandingkan dengan produksi untuk persediaan. Hanya
terdapat satu UMKM yang membuat dalam jumlah yang banyak selain dari pesanan
yang ada. Dalam industri ini terdapat beberapa kelompok kerja. Salah satu kelompok
kerja dalam industri ini yang bernama Juwita setiap hari memproduksi dengan kapasitas
29 kg dimana merupakan hasil pencampuran 20 kg udang dan 20 kg tepung sagu.
Data mengenai permintaan kerupuk udang secara kuantitatif belum dilakukan,
sehingga permintaan lebih banyak karena para pengusaha setiap hari berproduksi dan
setelah menjadi kerupuk udang kering sudah datang para pemesan dan pedagang
yang akan membawa produk mereka ke luar dari Kuala Tungkal. berdasar data
pesanan yang datang kepada para pengusaha UMKM kerupuk udang dari tahun 2003
– 2007 semakin meningkat, dari mulai 100 kg per bulan menjadi 350 di tahun 2007,
sedangkan tahun 2008 meningkat menjadi 580 kg per bulan (Grafik 1). Kenaikan
permintaan kerupuk udang di tahun 2008 disebabkan permintaan dari pusat oleh-
oleh dan intensifnya keikutsertaan pengusaha dalam pameran diluar daerah dengan
pembinaan dari Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP). Para pengusaha UMKM kerupuk
udang setiap berproduksi selalu habis terjual karena sebagian besar adalah pesanan.
Analisa pasar terhadap penawaran kerupuk udang secara langsung masih
belum dilakukan secara nasional. Perhitungan tidak langsung dapat dilakukan dengan
memperkirakan prosentase jumlah produksi kerupuk udang dari para pengrajin.
Kebanyakan dari pengusaha kerupuk udang adalah menerima pesanan dari
para pemesan yang biasanya adalah para pedagang, pusat oleh-oleh, instansi dan
perusahaan. Mereka seringkali memesan kerupuk udang asli dari Kuala Tungkal, karena
memang dari komposisi dan rasa sangat berbeda dengan di daerah lain. Beberapa
pengrajin sudah secara tetap menerima pesanan dari beberapa perusahaan seperti
perusahaan kertas, mereka memesan untuk dibagikan kepada para karyawan.
Karena sebagian besar pengusaha berproduksi berdasar pesanan maka
dari sisi penawaran tidak berbeda jauh dari permintaan, hanya terdapat beberapa
pengusaha yang membuat kerupuk udang untuk persediaan, apalagi menjelang
bulan Ramadhan biasanya permintaan sangat tinggi, sehingga penawarannya pun
mengikuti tinggi pula selama masih dalam kapasitas maksimal yang dapat dilakukan
oleh pengusaha.
3.1.3. Analisis Persaingan dan Peluang Pasar
Persaingan bisnis diantara para pengusaha UMKM kerupuk udang tidak
terlalu tinggi, karena masing-masing sudah memiliki pelanggan tetap. Masing-masing
ASPEK PASAR DAN PEMASARAN
INDUSTRI KERUPUK UDANG
9BANK negara kita
pengusaha sudah memiliki pemesan dan pelanggan yang loyal maka diantara mereka
bahkan saling mendukung, disamping itu mereka juga dalam pembinaan instansi
yang sama yaitu Dinas Kelautan dan Perikanan Kabupaten Tanjung Jabung Barat.
Perluasan pasar umumnya dilakukan dengan pencarian pelanggan baru. Hal
ini dilakukan dengan cara mengikuti pameran yang sering dilakukan oleh dinas-
dinas terkait seperti Dinas Kelautan dan Perikanan, dan Dinas Koperasi. Pameran
yang dilakukan sampai ke luar Propinsi Jambi seperti di Batam, Jakarta, dan kota-
kota lainnya untuk memperkenalkan kerupuk udang ini ke luar Jambi. Hal ini terbukti
setelah banyak pameran yang dilakukan banyak pesanan dari daerah. Disamping itu
yang menjadi keunggulan adalah karena rasa kerupuk udang Jambi sangat berbeda
dengan di daerah lain.
Harga dari kerupuk udang semakin tahun semakin naik, hal ini dikarenakan
kenaikan dari bahan baku dan bahan pembantu. Kenaikan harga berkisar Rp 5.000 –
Rp10.000 per tahun (Tabel 3.1). Kenaikan harga pada tahun 2008 lebih dipicu karena
kenaikan bahan bakar.
Tabel 3.1. Perkembangan Harga Kerupuk Udang
Tahun Bentuk Kerupuk Harga
2005
Batang Korek Api-
Bulat-
Rp15.000
2006
Batang Korek Api-
Bulat-
Rp20.000
2007
Batang Korek Api-
Bulat-
Rp25.000
2008
Batang Korek Api-
Bulat-
Rp35.000
10 POLA PEMBIAYAAN USAHA KECIL
3.2.2. Jalur Pemasaran Produk
Jalur pemasaran kerupuk udang mempergunakan dua pola, yaitu langsung
dan tidak langsung. Penjualan kerupuk udang ini dapat dilakukan sendiri oleh
pengusaha maupun melalui jasa agen penjualan, dengan pembeli konsumen
langsung, perusahaan dan perkantoran. Pola pemasaran kerupuk udang ini secara
umum terbagi tiga, yaitu :
Pengusaha menjual langsung produknya ke konsumen akhir yaitu rumah a.
tangga dan biasanya adalah konsumen langsung yang dekat dengan tempat
memproduksi kerupuk udang ini, tetapi beberapa konsumen rumah tangga
membawa kerupuk udang ini sebagai oleh-oleh untuk keluar daerah.
Pengusaha bekerja sama dengan beberapa pusat oleh-oleh d para pedagang b.
untuk memasarkan produknya.
Pemesanan langsung dari perkantoran dan beberapa perusahaan besar seperti c.
perusahaan yang menghasilkan kertas biasanya seringkali memesan kerupuk
udang untuk para karyawan dan relasi.
Dari ketiga jenis pemasaran di atas, di daerah penelitian selama ini para
pengusaha tidak dikenakan biaya transportasi, karena para pemesan dan konsumen
akhir langsung datang ke tempat produksi kerupuk udang ini. Namun bisa juga pada
saat pelanggan tidak bisa mengambil maka produk diantar ke tempat si pemesan,
sehingga memerlukan biaya transportasi. Pembayaran yang dilakukan oleh para
pemesan biasanya memberikan uang muka sebesar 30% dari total harga pesanan,
kemudian sisanya akan dibayar setelah produk diterima. Jalur pemasaran kerupuk
udang secara rinci dapat dilihat pada gambar 3.1.
3.2.3. Kendala Pemasaran
Kendala pemasaran yang dihadapi oleh industri kerupuk udang adalah adanya
para pedagang yang mengambil kerupuk udang dan dijual kembali dengan merek
dari para pedagang sehingga daerah asal pembuatan kerupuk udang tidak dikenal
oleh konsumen akhir. Di samping itu belum banyak agen penjualan di luar Propinsi
Jambi, sehingga daerah pemasaran belum terlalu luas, maka biasanya disiasati oleh
para pengrajin dengan mengikuti pameran yang dilakukan di luar Propinsi Jambi
untuk memperkenalkan produknya, namun masih kurang efektif karena frekuensi
dari pameran masih kurang, dalam satu tahun hanya 2 – 4 kali saja.
Lokasi usaha pembuatan kerupuk udang pada umumnya lebih memilih
kedekatan dengan bahan baku atau pasar. Para Pengusaha UMKM kerupuk udang
di daerah Jambi lebih memilih kedekatan dengan bahan baku, hal ini dikarenakan
bahan baku dari kerupuk udang ini tidak dapat bertahan lama jika tidak disimpan
dalam lemari pendingin. Alasan lainnya adalah para pengusaha lebih memilih
mempergunakan udang segar dibandingkan dengan udang yang sudah dibekukan
demi mempertahankan mutu kerupuk udangnya. Alasan lain kedekatan dengan
sumber bahan baku adalah harga bahan bakunya tidak terlalu mahal karena jika
jauh maka akan dibebani dengan biaya transportasi. Di Kecamatan Tungkal Ilir
adalah daerah yang paling banyak pengusaha UMKM kerupuk udang, karena laut
di Kecamatan Tungkal Ilir banyak menghasilkan udang dibandingkan dengan daerah
lain. Sebagian besar pengusaha kerupuk udang tinggal di sekitar pantai. Dalam
pembuatan kerupuk udang tidak banyak air yang dibutuhkan, sehingga kedekatan
dengan adanya air bersih tidak menjadi hal yang utama. Keberadaan listrik untuk
usaha ini sangat dibutuhkan terutama untuk lemari es sebagai penyimpan udang
segar dan penggunaan alat mixer dalam menghaluskan udang. Kemudahan sarana
transportasi dibutuhkan pada saat pengantaran produk, namun karena selama ini
para pedagang dan pemesan yang langsung mengambil sehingga tidak menjadi
hal yang utama, namun tetap dibutuhkan sarana transportasi untuk memperlancar
distribusi produk.
4.2. Fasilitas Produksi dan Peralatan
Fasilitas produksi dan peralatan yang diperlukan dalam memproduksi
kerupuk udang adalah meliputi :
14 POLA PEMBIAYAAN USAHA KECIL
ASPEK TEKNIS PRODUKSI
Tabel 4.1. Fasilitas Produksi dan Peralatan
No Alat Fungsi
I Fasilitas Produksi
1. Bangunan Tempat Proses Produksi
2. Meja
Tempat mengaduk bahan baku dan memotong
batangan kerupuk udang
3. Rak Jemur Tempat menjemur kerupuk udang
4. Kulkas Tempat menyimpan udang segar
II Peralatan
1. Kipas Untuk mendinginkan batangan kerupuk udang
2. Wajan Besar bertutup Untuk mengukus batangan kerupuk udang
3. Kompor Untuk mengukus batangan kerupuk udang
4. Pisau Untuk memotong batangan kerupuk udang
5. Mesin giling Untuk menggiling udang
6. Baskom Tempat mengaduk bahan baku
7. Mixer Untuk menghaluskan udang giling
8. Sealer Untuk pengemasan
4.3. Bahan Baku
Bahan baku utama industri kerupuk udang adalah udang dan tepung sagu.
Untuk bahan baku udang diperoleh atau dibeli dari para nelayan yang baru pulang
dari laut dan langsung memasarkan udangnya dalam bentuk udang kupas, namun
ada juga para nelayan yang menjual udang belum dikupas kepada beberapa pengrajin
kerupuk udang. Untuk menjaga mutu dari kerupuk udang yang dihasilkan, maka
bahan baku kerupuk udang umumnya berupa udang segar dan tepung sagu yang
memiliki kualitas baik. Karena kualitas dari udang dan tepung sagu akan sangat
mempengaruhi kualitas dari kerupuk udang itu sendiri. Adapun bahan penolong
dalam pembuatan kerupuk udang ini adalah bumbu-bumbu, cabe, dan seledri.
INDUSTRI KERUPUK UDANG
15BANK negara kita
Standar mutu udang segar adalah bahan baku harus bersih, bebas dari
setiap bau yang menandakan pembusukan, bebas dari tanda dekomposisi dan
pemalsuan, bebas dari sifat-sifat alamiah lain yang dapat menurunkan mutu serta
tidak membahayakan kesehatan. Secara organoleptik bahan baku harus mempunyai
karakteristik kesegaran seperti berikut :
Tabel 4.2. Standar Mutu Bahan Baku Kerupuk Udang
Kriteria Ciri-ciri
Kenampakan Bening, cemerlang, antar ruas kokoh
Bau Segar
Tekstur Elastis, padat, dan kompak
Sumber : SNI 01-2728.2-2006.
Untuk penyimpanan udang segar harus disimpan dalam wadah yang baik dan
tetap dipertahankan suhunya dengan menggunakan es curai sehingga suhu bahan
baku mencapai suhu maksimal 50C, saniter dan higienis (SNI 01-2728.3-2006).
Peralatan yang digunakan dalam pengolahan udang segar harus memiliki
persyaratan mempunyai permukaan yang halus dan rata, tidak mengelupas, tidak
berkarat, tidak merupakan sumber cemaran jasad renik, tidak retak dan mudah
dibersihkan. Semua peralatan dalam keadaan bersih, sebelum, selama dan sesudah
digunakan.
4.4. Tenaga Kerja
Tenaga kerja yang terlibat dalam industri kerupuk udang sebanyak 2 sampai
4 orang dengan upah Rp 25.000 per hari/produksi. Pada umumnya tenaga kerja
ini berasal dari daerah sekitar lokasi usaha (ada ikatan keluarga atau tetangga).
Hal ini menjadikan pengangguran di daerah sekitar industri berkurang. Tenaga kerja
yang terlibat tidak harus memiliki keterampilan khusus, karena sebagian besar adalah
untuk bagian pemotongan dan pengemasan sehingga tidak memerlukan keahlian
khusus. Disamping itu sangat mudah mendapat tenaga kerja di daerah sekitar
industri kerupuk udang ini.
16 POLA PEMBIAYAAN USAHA KECIL
4.5. Teknologi
Teknologi yang diterapkan dalam pembuatan kerupuk udang adalah semi
mekanik. Teknologi yang diterapkan dalam pembuatan kerupuk udang adalah pada
teknik penghancuran udang dan menghaluskan udang agar lebih halus. Sebagian
besar mempergunakan mesin penggiling untuk langkah awal penghancuran udang,
kemudian untuk memperhalus udang dengan menggunakan mixer sebelum akhirnya
udang yang sudah dihaluskan akan dicampur dengan tepung sagu dan bumbu-
bumbu lainnya. Namun ada beberapa pengrajin yang tidak menggunakan mixer untuk
menghaluskan udang tetapi menggunakan alat tradisional dengan cara ditumbuk.
Teknik yang paling cepat untuk menghaluskan udang adalah dengan
menggunakan alat mixer khusus sehingga tidak sama dengan mixer yang dipergunakan
untuk membuat kue. Berbeda dari sisi ukurannya. Jika menggunakan mixer proses
menghaluskan udang menjadi singkat hanya membutuhkan waktu sekitar 20 menit
untuk satu kali adonan.
4.6. Proses Produksi
Proses pembuatan kerupuk udang pada umumnya adalah menggunakan
bahan baku udang dengan ditambah bumbu-bumbu/bahan pembantu lainnya
dengan melalui proses pengadonan, pencetakan, pengukusan, pemotongan dan
pengeringan. Fungsi dari teknoloi pembuatan kerupuk udang adalah sebagai upaya
untuk mendapat produk hasil perikanan yang mempunyai rasa renyah dan gurih
serta dapat memenuhi selera masyarakat. Komposisi kerupuk udang pada umumnya
adalah 1 : 3, jika satu kg udang maka tepung sagu 3 kg.
Proses produksi dalam pembuatan kerupuk udang di daerah penelitian agak
sedikit berbeda dalam hal komposisi, dimana perbandingan antara udang dengan
tepung sagu adalah 1 : 1. Proses pembuatan kerupuk udang ini dimulai dengan
penyiapan bahan baku, proses pencampuran dengan bahan pendukung yang lain
serta bumbu-bumbu yang diperlukan. Secara keseluruhan dalam pembuatan kerupuk
udang dari mulai pencampuran bahan baku sampai kerupuk udang dikemas dan siap
ASPEK TEKNIS PRODUKSI
INDUSTRI KERUPUK UDANG
17BANK negara kita
dipasarkan adalah 4-5 hari. Untuk proses penjemuran karena mengandalkan sinar
matahari sehingga dapat 2 hari atau bahkan sampai 4 hari, tergantung dari panas
atau teriknya sinar matahari. Untuk lebih jelasnya seperti terlihat dalam gambar 4.1.
Proses produksi kerupuk udang adalah sebagai berikut :
Udang segar dikupas.1.
Udang segar yang berasal dari laut yang merupakan hasil tangkapan para
nelayan dibersihkan dan dikupas, dengan cara dibuang kulitnya dan dicuci
bersih. Sebagian besar pengusaha membeli udang kupas.
Udang segar dibekukan jika tidak langsung diproses, jika langsung maka 2.
udang segar digiling.
Jika udang yang sudah dikupas dan dicuci bersih tidak langsung hari itu
diproses, maka akan disimpan di freezer terlebih dahulu. Namun jika
setelah dikupas dan dicuci bersih akan langsung diproses, maka tidak
perlu dilakukan penyimpanan di freezer.
Penghancuran udang dengan mesin penggiling.3.
Setelah udang dikupas dan dicuci dengan bersih, maka udang ini
akan dihancurkan dengan mesin penggiling. Penggilingan udang ini
membutuhkan waktu sekitar 20 menit. Mesin penggiling yang dimiliki
oleh para pengusaha adalah merupakan bantuan dari dana bergulir Dinas
Kelautan dan Perikanan.
Photo 4.1. Mesin Penggiling
18 POLA PEMBIAYAAN USAHA KECIL
Gambar 4.1. Diagram Alir Proses Pembuatan Kerupuk Udang
ASPEK TEKNIS PRODUKSI
udang segar
udang dibersihkan dan
dibuang kulitnya
pembekuan udang
penggilingan udang
pencampuran udang giling dan
bumbu dengan mixer
Pengadonan dengan tepung dan
pengalusan adonan kerupuk
Pembuatan batangan kerupuk
Pendinginan
Pemotongan
Penjemuran/Pengeringan
Pengemasan Kerupuk
INDUSTRI KERUPUK UDANG
19BANK negara kita
Pencampuran udang dengan bumbu.4.
Setelah udang dihancurkan dengan mesin penggiling maka proses
selanjutnya dalam pembuatan kerupuk udang adalah udang dicampur
dengan bumbu-bumbu dan bahan pelengkap lainnya seperti cabe, daun
seledri dan penyedap. Proses pencampuran ini dengan mempergunakan
mixer khusus (berbeda dengan yang biasanya dipergunakan untuk
membuat kue), agar udang lebih lembut dan lebih hancur, sehingga
akan menyatu pada saat nanti dicampur dengan tepung sagu. Proses
pencampuran udang dengan bumbu-bumbu ini memerlukan waktu 20
menit dengan mempergunakan tenaga manusia (laki-laki). Tenaga kerja
yang menangani proses ini tidak memerlukan keahlian khusus.
Photo 4.2. Proses Pencampuran Udang dengan Bumbu dan Bahan Pelengkap
Pencampuran udang yang sudah dicampur bumbu dengan tepung sagu.5.
Setelah udang dicampur dengan bumbu dan bahan pelengkap lainnya
dengan mempergunakan mixer kurang lebih selama 20 menit maka
campuran udang dengan bumbu tadi akan dicampur dengan tepung
sagu. Proses pencampuran tepung sagu dengan udang dimulai dengan
20 POLA PEMBIAYAAN USAHA KECIL
menambahkan 2 buah es batu ke dalam tepung dengan cara diaduk-
aduk dengan menggunakan tangan sampai tepung agak rekat, lalu
dicampur dengan udang yang sudah dicampur bumbu dan bahan
pelengkap lainnya, proses ini pun menggunakan tenaga manusia. Diaduk
terus sampai bisa dibuat bulatan panjang. Proses ini membutuhkan waktu
sekitar 30 menit.
Photo 4.3. Proses Pencampuran Udang Berbumbu dengan Tepung Sagu
Penghalusan adonan.6.
Adonan yang merupakan campuran antara udang berbumbu dengan
tepung sagu kemudian diaduk dan diuleni supaya menjadi adonan yang
halus agar dapat dibentuk bulatan panjang. Proses ini juga menggunakan
tenaga manusia. Disamping itu proses ini adalah agar semua bahan
tercampur dengan merata sehingga rasa dari semua kerupuk udang sama.
Proses ini membutuhkan waktu 20 menit.
Pembentukan adonan menjadi bulat panjang.7.
Adonan yang sudah halus akan dibentuk menjadi batangan panjang. Hal
ini untuk mempermudah dalam proses pemotongan.
Photo 4.4. Proses Pembentukan Batangan Kerupuk Udang
Pengukusan adonan yang sudah dibentuk bulat panjang.8.
Proses selanjutnya setelah adonan dibentuk bulat panjang adalah adonan
ini dikukus dengan menggunakan wajan yang satu paket dengan
tutupnya. Dalam proses pengukusan pada pinggiran tutup wajan diberi
kain agar uapnya tidak keluar karena akan menyebabkan adonan jadi
lembek dan akan sulit dibentuk. Untuk pengukusan adonan kerupuk
udang ini membutuhkan waktu 60 menit.
Photo 4.5. Proses Pengukusan Batangan Kerupuk Udang
22 POLA PEMBIAYAAN USAHA KECIL
Pendinginan.9.
Adonan yang dikukus dan sudah matang diangkat lalu diletakkan di
tempat yang dekat dengan tempat pengukusan. Pada umumnya untuk
mempercepat proses pendinginan digunakan kipas angin, karena jika
tidak dibantu dengan kipas angin akan membutuhkan waktu yang lama.
Setelah didinginkan di tempat terbuka dengan menggunakan alas yang
berupa anyaman dari bambu, maka batangan ini akan dibekukan
di lemari pendingin (kulkas) sebelum dilakukan pemotongan. Biasanya
pemotongan dilakukan keesokan harinya.
Photo 4.6. Proses Pendinginan Batangan Kerupuk Udang
Proses pemotongan.10.
Setelah batangan kerupuk udang dibekukan di lemari pendingin, maka
proses selanjutnya adalah pemotongan. Untuk proses pemotongan
karena masih manual yaitu menggunakan pisau dapur biasa sehingga
dibutuhkan beberapa tenaga kerja. Pada umumnya tenaga kerja yang
dibutuhkan adalah untuk proses pemotongan dan pengemasan. Biasanya
4 tenaga kerja untuk proses pemotongan ini. Bentuk potongan kerupuk
udang ini ada dua bentuk yaitu bentuk bulat dan bentuk batangan seperti
batangan korek api. Keduanya sangat disukai oleh para konsumen, karena
mereka tidak melihat bentuk tetapi lebih terhadap rasa. Sebenarnya
terdapat pisau pemotong yang merupakan bantuan dari Dinas Kelautan
dan Perikanan yang diharapkan dapat mempercepat proses pemotongan.
Namun menurut pengusaha pisau pemotong ini sulit digunakan
bahkan bentuk kerupuk jadi rusak. Sehingga sebagian besar alat ini
tidak digunakan.
Photo 4.7. Pisau Pemotong Kerupuk Udang
Proses penjemuran/pengeringan.11.
Setelah batangan kerupuk udang dipotong dengan dua bentuk yaitu
bulat dan batang korek api, maka proses selanjutnya adalah penjemuran/
pengeringan. Proses penjemuran ini masih mengandalkan sinar matahari,
belum ada pengusaha yang menggunakan mesin pengering. Proses
pengeringan ini biasanya memakan waktu antara 2 sampai 4 hari
tergantung dari panas tidaknya sinar matahari.
Photo 4.8. Proses Penjemuran/Pengeringan Kerupuk Udang
Proses pengemasan.12.
Proses terakhir sebelum kerupuk udang siap dijual adalah proses
pembungkusan atau pengemasan. Kemasan yang biasanya dibuat adalah
kemasan 1 kg dan ½ kg, tetapi proporsi yang lebih banyak adalah kemasan
1 kg. Untuk pengemasan diperlukan alat yaitu sealer untuk menutup
plastik sehingga kerupuk dapat tahan lama.
Photo 4.9. Sealer
4.7. Jumlah, Jenis dan Mutu Produksi
Kerupuk udang yang diproduksi oleh pengusaha sebagian besar tergantung
dari permintaan atau pesanan dari para konsumennya. Walaupun ada beberapa
pengusaha selain make to order (MTO) mereka juga melakukan make to stock (MTS).
berdasar penelitian dan pengamatan di lapang rata-rata sekali berproduksi
pengusaha menghasilkan 29 kg kerupuk udang kering yang siap dipasarkan, rata-
rata mereka melakukan proses produksi dalam satu bulan adalah 20 kali sehingga
total kerupuk yang diproduksi dalam satu bulan adalah 580 kg.
4.8. Produksi Optimum
Tingkat produksi ditentukan oleh ketersedian bahan baku. Bahan baku kerupuk
udang adalah udang yang ketersediaannya sangat tergantung dari hasil tangkapan
nelayan dan musim. Jika air laut pasang maka biasanya nelayan tidak melaut, sehingga
pasokan bahan baku sedikit berkurang. Secara teknis berdasar skala usaha yang
ada maka produksi kerupuk udang sebanyak 580 kg per bulan menjadi produksi
optimum usaha ini.
4.9. Kendala Produksi
Faktor kritis industri kerupuk udang ini adalah ketersediaan dan kontinuitas
bahan baku, dimana bila terjadi air pasang dan dalam jangka yang panjang maka
akan sangat mengganggu kelancaran dalam pembuatan kerupuk udang. Dengan
adanya kelangkaan udang pada saat air pasang akan menyebabkan harga udang
juga naik, sehingga sangat dibutuhkan keberadaan lemari es/pendingin sebagai
penyimpan udang. Walaupun udang segar ini dapat disimpan dalam lemari es,
namun memiliki keterbatasan waktu, pada saat udang sudah tercium bau busuk
maka tidak bisa digunakan untuk membuat kerupuk udang ini. Karena hal ini akan
sangat mempengaruhi mutu dari kerupuk udang ini .
5.1. Pemilihan Pola Usaha
Pembuatan kerupuk udang dilakukan dalam skala rumah tangga, masih
dalam skala usaha kecil dengan produksi per bulan 580 kg kerupuk udang. Usaha ini
dilakukan oleh 4 orang tenaga kerja yang terdiri dari 2 orang tenaga kerja produksi
dan 2 orang tenaga pengemasan. Satu kali produksi kerupuk udang membutuhkan
bahan baku utama 20 kg tepung sagu dan 20 kg udang yang akan menghasilkan 29
kg kerupuk udang. Pengolahan dilakukan tidak setiap hari, rata-rata hanya 20 hari
produksi. Pembiayaan dari usaha ini dilakukan dari modal sendiri, baik untuk investasi
maupun untuk modal kerja.
5.2. Asumsi dan Parameter Untuk Analisis Keuangan
Untuk penyusunan pola pembiayaan usaha kecil diperlukan adanya beberapa
asumsi mengenai parameter teknologi proses maupun biaya. Beberapa asumsi dalam
penentuan parameter didasarkan pada hasil pengamatan di lapangan, masukan dari
instansi terkait dan pustaka yang mendukung. Asumsi ini dapat dilihat pada
Tabel 5.1.
Tabel 5.1. Asumsi Untuk Analisis Keuangan
No Asumsi Satuan Nilai / Jumlah
1 Periode proyek tahun 3
2 Hari kerja per bulan hari 20
3 Bulan kerja per tahun tahun bulan 12
4 Output, Produksi dan Harga:
a. Produksi kerupuk udang per bulan kg 580
b. Produksi kerupuk udang per tahun kg 6.960
c. Harga penjualan kerupuk udang Rp/kg 35.000
5 Suku Bunga per Tahun % 14%
6 Jangka Waktu Kredit
a. Investasi tahun 3
b. Modal Kerja tahun 1
Pemilihan periode proyek selama 3 tahun berdasar umur ekonomis
peralatan yang digunakan dalam proses produksi. Hari kerja produktif adalah selama
20 hari, Kerusakan produk selama proses produksi adalah sebesar 0%, hal ini
dikarenakan kerupuk udang dijemur sampai kering. Asumsi dan parameter keuangan
secara lebih rinci terdapat pada Lampiran 1.
5.3. Komponen dan Struktur Biaya Investasi dan Biaya Operasional
5.3.1. Biaya Investasi
Biaya investasi yang dibutuhkan untuk memulai usaha kerupuk udang
meliputi perizinan, tanah dan bangunan serta mesin dan peralatan. Biaya investasi
harus dikeluarkan pada tahun ke 0 sebelum melakukan usaha. Jumlah biaya investasi
yang diperlukan adalah sebesar Rp 57.860.000. Komponen terbesar adalah tanah
yaitu sebesar 35%. Sedangkan untuk perizinan sebesar 4% (Tabel 5.2.). Kebutuhan
biaya investasi usaha kerupuk udang secara rinci terdapat pada Lampiran 2.
Tabel 5.2. Komposisi Biaya Investasi (Rp)
No Komponen Biaya Jumlah Prosentase
1 Perizinan 2.500.000 4
2 Bangunan 12.500.000 22
3 Tanah 20.000.000 35
4 Alat Produksi dan Pengemas 12.860.000 22
5 Alat Transportasi 10.000.000 17
Jumlah 57.860.000 100
5.3.2. Biaya Operasional
Biaya operasional merupakan biaya yang diperlukan dalam memproduksi
produk kerupuk udang. Komponen biaya operasional ini meliputi biaya variabel dan
biaya tetap. Biaya variabel terdiri dari biaya bahan baku, biaya bahan pembantu, biaya
INDUSTRI KERUPUK UDANG
29BANK negara kita
bahan pengemas dan biaya tenaga kerja langsung. Biaya tetap meliputi biaya listrik,
telepon, ATK, perawatan alat dan ruangan, serta biaya lainnya sebesar 8,41% dari
biaya tetap. Biaya lainnya ini meliputi, iuran kebersihan, PBB, dan untuk sumbangan.
Total biaya tetap per bulan adalah sebesar Rp.830.000. Besarnya biaya operasional
per bulan dengan kapasitas 100% dapat dilihat pada Tabel 5.3.
Tabel 5.3. Komposisi Biaya Operasional per Bulan
No Uraian Total Biaya
1 Biaya Variabel
- Biaya bahan baku 10.800.000
- Biaya bahan pembantu 3.580.000
- Biaya bahan pengemas 96.000
- Biaya tenaga kerja langsung 1.500.000
2 Biaya Tetap 830.000
Jumlah 16.806.000
Pada Tabel 5.3 di atas, terlihat bahwa komponen biaya paling besar adalah
biaya bahan baku yang besarnya mencapai 64% dari seluruh biaya operasional.
Rincian biaya variabel per tahun dapat dilihat pada Lampiran 4 dan rincian biaya tetap
per tahun dapat dilihat pada Lampiran 5.
5.4. Kebutuhan Dana Investasi dan Modal Kerja
Kebutuhan dana usaha kerupuk udang terdiri dari dana investasi dan modal
kerja yang diperoleh dari dana sendiri. Kebutuhan investasi usaha kerupuk udang
adalah sebesar Rp 57.860.000 diasumsikan 60% berasal dari kredit (Rp 34.716.000)
dan sebesar 40% berasal dari modal sendiri (Rp 23.144.000). Sedangkan untuk
kebutuhan modal kerja dibutuhkan dana sebesar Rp 16.806.000 diasumsikan 60%
berasal dari kredit (Rp 10.083.600) dan sebesar 40% (Rp6.722.400) berasal dari modal
sendiri. Kebutuhan modal kerja yang diperlukan selama 1 bulan produksi dengan
pertimbangan penerimaan hasil penjualan diterima setelah 2-3 minggu. Dengan
30 POLA PEMBIAYAAN USAHA KECIL
ASPEK KEUANGAN
pertimbangan ini kebutuhan bantuan modal kerja bulan-bulan berikutnya dapat
dipenuhi dari hasil penjualan pada bulan pertama. Rincian komponen dan struktur
biaya proyek dapat dilihat pada Tabel 5.4.
Tabel 5.4. Komponen dan Struktur Biaya Proyek
No Komponen Biaya Proyek Persentase Total Biaya
1 Biaya Investasi
- Bersumber dari kredit 60% 34.716.000
- Dari dana sendiri 40% 23.144.000
Total Biaya Investasi 57.860.000
2 Biaya Modal Kerja
- Bersumber dari kredit 60% 10.083.600
- Dari dana sendiri 40% 6.722.400
Total Biaya Modal Kerja 16.806.000
3 Total Dana Proyek
- Bersumber dari kredit 60% 44.799.600
- Dari dana sendiri 40% 29.866.400
Jumlah Dana Proyek 57.860.000
5.5. Produksi dan Pendapatan
Produksi kerupuk udang per bulan adalah sebesar 580 kg. Produksi dan
pendapatan usaha diproyeksikan dengan asumsi bahwa pada tahun 1 usaha
beroperasi (berproduksi) pada kapasitas 80%, tahun ke 2 kapasitas 90%, tahun
ke 3 beroperasi pada kapasitas 100%.
Proyeksi pendapatan dengan harga jual Rp 35.000 per kg, maka diperoleh
pendapatan pada tahun 1 adalah sebesar Rp 194.880.000, pada tahun 2 adalah
sebesar Rp 219.240.000, pada tahun ke 3 adalah sebesar Rp 243.600.000. Proyeksi
pendapatan selama 3 tahun dapat dilihat pada Tabel 5.5.
INDUSTRI KERUPUK UDANG
31BANK negara kita
Tabel 5.5. Proyeksi Produksi dan Pendapatan Usaha
No Uraian
Tahun
1 2 3
1 Kapasitas 80% 90% 100%
2 Penerimaan (Rp) 194.880.000 219.240.000 243.600.000
5.6. Proyeksi Rugi Laba Usaha dan Break Even Point
Hasil proyeksi rugi laba menunjukkan usaha kerupuk udang dapat
menghasilkan laba bersih pada tahun 1 pada kapasitas 80% sebesar Rp 29.880.920
dengan nilai profit on sales 15,33%. Laba di tahun 1 lebih tinggi dibandingkan laba
ditahun 2 dan 3 karena beban operasional satu bulan dikeluarkan di tahun ke 0.
Dengan memperhitungkan hasil penjualan, biaya variabel, dan biaya tetap industri
kerupuk udang diperoleh rata-rata BEP sebesar Rp 87.730.631 atau setara dengan
2.507 kg kerupuk udang. Potensi laba bersih ini terus meningkat setiap tahun,
hingga tahun ke 3 diperoleh laba sebesar Rp 27.820.888 dengan profit on sales
mencapai 11,42%.
Rata-rata laba bersih usaha kerupuk udang selama periode proyek adalah
Rp 26.578.383 dengan rata-rata profit on sales sebesar12,27%. berdasar informasi
yang disajikan pada Lampiran 8, secara garis besar proyeksi laba rugi usaha dan BEP
usaha dapat dilihat pada Tabel 5.6.
32 POLA PEMBIAYAAN USAHA KECIL
Tabel 5.6. Proyeksi Pendapatan dan Laba Rugi Usaha (Rp)
No Uraian
Tahun
1 2 3
1 Total Penerimaan 194.880.000 219.240.000 243.600.000
2 Total Pengeluaran 159.725.976 193.318.423 210.869.543
3 R/L Sebelum Pajak 35.154.024 25.921.577 32.730.457
4 Pajak (15%) 5.273.104 3.888.237 4.909.569
5 Laba Setelah Pajak 29.880.920 22.033.340 27.820.888
6 Profit on Sales 15,33% 10,05% 11,42%
7 BEP: Rupiah 75.707.185 97.545.271 89.939.438
8 Kg 2.163 2.787 2.570
5.7. Proyeksi Arus Kas dan Kelayakan Proyek
Analisis keuangan digunakan untuk menganalisa kelayakan suatu proyek
dari segi keuangan. Proyek dikatakan layak dari segi keuangan, jika dapat memenuhi
kewajiban finansial serta dapat mendatangkan keuntungan yang layak bagi
perusahaan. Untuk mengkaji kemampuan usaha memenuhi kewajiban finansialnya
disusun proyeksi arus kas yang dapat dilihat pada Lampiran 9.
Analisis kelayakan finansial dilakukan dengan menilai kriteria investasi untuk
mengukur kelayakan pendirian usaha kerupuk udang yaitu NPV (Net Present Value),
IRR (Internal Rate of Return), Net B/C (Net Benefit/Cost) Ratio. Nilai NPV usaha kerupuk
udang ini adalah Rp 19.167.531. Nilai IRR adalah 26,45%, yang menunjukkan usaha
ini masih layak sampai pada tingkat suku bunga mencapai 26,45%. Nilai Net B/C
Ratio adalah 1,26 dengan Pay Back Period (PBP) 2,23 tahun, sehingga usaha ini layak
untuk dilaksanakan. Secara ringkas kriteria kelayakan dan nilainya dapat dilihat pada
Tabel 5.7.
Tabel 5.7. Kelayakan Industri Kerupuk Udang
Kriteria kelayakan Nilai
Justifikasi
Kelayakan
NPV (20%) Rp 19.167.531 > 0
IRR 26,45% > 14 %
Net B/C Ratio 1,26 > 1,00
PBP (Tahun) 2,44 < 3
5.8. Analisis Sensitivitas Kelayakan Usaha
Analisis sensitivitas dilakukan untuk melihat seberapa jauh proyek dapat
dilaksanakan mengikuti perubahan harga, baik biaya produksi maupun harga jual
produk ataupun kelemahan estimasi hasil produksi. Analisis sensitivitas dilakukan
pada tiga skenario. Skenario I penurunan harga jual kerupuk udang sementara biaya
investasi dan biaya variabel tetap; skenario II, kenaikan biaya produksi (biaya variabel)
sementara biaya investasi dan penjualan tetap dan skenario III kompilasi skenario I
dan II (kenaikan biaya variabel dan penurunan harga jual kerupuk udang).
Pada skenario I, Pada penurunan pendapatan proyek layak sampai
pendapatan kerupuk udang turun sebesar 5%. Penurunan pendapatan lebih besar
dari 5% menyebabkan proyek sudah tidak layak dilaksanakan. Seperti dapat dilihat
pada Tabel 5.8, penurunan pendapatan kerupuk udang sebesar 6% menyebabkan
nilai NPV negatif, IRR lebih kecil dari 14% dan Net B/C lebih kecil dari 1.
Tabel 5.8. Hasil Analisis Sensitivitas Penurunan Pendapatan
No Kriteria Turun 5% Turun 6%
1 NPV (Rp) 3.155.887 -1.477.914
2 IRR (%) 16,11 13,01
3 Net B/C Ratio 1,04 0,98
4 Pay Back Period (tahun) 3,11 3,37
34 POLA PEMBIAYAAN USAHA KECIL
Pada skenario II, pada saat biaya variabel naik sebesar 7%, sementara
pendapatan tetap, proyek masih layak dilaksanakan. Kenaikan biaya variabel di atas
7% menyebabkan proyek tidak layak lagi dilaksanakan. Pada tabel 5.9 dapat dilihat
kenaikan biaya variabel sebesar 8% menyebabkan nilai NPV negatif, IRR lebih kecil
dari 14%, Net B/C kecil dari 1 dan PBP melebihi umur proyek.
Tabel 5.9. Hasil Analisis Sensitivitas Kenaikan Biaya Variabel
No Kriteria Naik 7% Naik 8%
1 NPV (Rp) 1.137.621 - 2.450.469
2 IRR (%) 14,77 12,34
3 Net B/C Ratio 1,02 0,97
4 Pay Back Period (tahun) 3,23 3,45
Pada skenario III, pada saat penurunan pendapatan kerupuk udang dan
kenaikan biaya variabel masing-masing sebesar 3%, usaha ini masih layak
dilaksanakan. Pada tabel 5.10 dapat dilihat jika penurunan pendapatan kerupuk
udang turun dan biaya variabel naik masing-masing sebesar 4%, maka usaha ini tidak
layak dilaksanakan karena NPV negatif, IRR lebih kecil dari suku bunga yaitu 14%,
Net B/C Ratio kurang dari satu dan PBP melebihi umur proyek.
Tabel 5.10. Hasil Analisis Sensitivitas Kombinasi
No Kriteria
Biaya variabel
naik 3% dan
pendapatan turun
3%
Biaya variabel
naik 4% dan
pendapatan turun
4%
1 NPV (Rp) 1.420.456 - 6.801.435
2 IRR (%) 14,96 9,38
3 Net B/C Ratio 1,02 0,91
4 Pay Back Period (tahun) 3,21 3,75
6.1. Aspek Ekonomi dan Sosial
Dilihat dari aspek ekonomis, keberadaan industri kerupuk udang di Kabupaten
Tanjung Jabung Barat (Kuala Tungkal) telah membawa dampak positif bagi masyarakat
sekitar, walaupun industri kerupuk udang ini bukanlah usaha yang banyak menyerap
tenaga kerja, karena pada umumnya masih berskala mikro. Di Kuala Tungkal industri
kerupuk udang merupakan usaha yang telah dijalani sebagian masyarakat secara
turun temurun. Untuk masyarakat anggota masyarakat sekitarnya juga memperoleh
dampak positif baik penyerapan tenaga kerja dan peningkatan pendapatan. Secara
ekonomis usaha industri kerupuk udang cukup menguntungkan, dengan demikian
pada dasarnya industri kerupuk udang merupakan alternatif pekerjaan yang baik,
karena bahan baku udang pada dasarnya sangat mudah diperoleh di daerah ini.
6.2 Aspek Dampak Lingkungan
Berbeda dengan industri lainnya, industri kerupuk udang di Kuala Tungkal
ini hampir tidak menghasilkan limbah, karena pada umumnya mereka membeli
udang yang telah di kupas kulitnya, walaupun kadang ada juga udang yang belum
di kupas kulit dan kepalanya dapat dijual lagi pada pengusaha lain untuk di jadikan
terasi, petis dan sebagainya. Maka dari sudut pandang lingkungan, industri ini tidak
membahayakan karena tidak menghasilkan limbah yang berbahaya.
a. Potensi pengembangan industri kerupuk udang di Kuala Tungkal, cukup besar
karena tersedia bahan baku udang yang melimpah di daerah ini. Sampai saat ini
pola pengelolaan industri kerupuk udang umumnya masih bersifat usaha kecil
dengan pola tradisional. Hal ini disebabkan untuk mencapai usaha yang lebih
maju diperlukan modal yang relatif besar.
b. Di wilayah penelitian (Kuala Tungkal) ada satu bank yang memberikan kredit
untuk usaha kerupuk udang yakni BPR Tanggo Radjo. Namun demikian pemberian
kredit ini masih belum sepenuhnya berdasar industri kerupuk udang
tetapi kredit umum, yakni kredit yang mensyaratkan adanya barang jaminan.
c. Peluang pasar masih sangat terbuka untuk dikembangkan karena kerupuk
udang di Kuala Tungkal ini mempunyai rasa yang khas karena perbandingan
tepung dan udang 1 : 1, jadi rasa udangnya sangat terasa.
d. Secara teknis, industri kerupuk udang masih sederhana. Lebih mengutamakan
tenaga manusia.
e. berdasar analisis kelayakan finansial terhadap industri kerupuk udang
dengan discount rate 14% memberikan NPV sebesar Rp 19.167.531, IRR
sebesar 26,45%, Net B/C ratio sebesar 1,26, dan Pay Back Period ratio selama
2,23 tahun. Hal ini menunjukkan bahwa usaha ini layak untuk dibiayai kredit.
f. Untuk analisis sensitivitasnya, pada sisi pendapatan, usaha ini sensitif pada
penurunan pendapatan kerupuk udang sampai 5%. Sedangkan dari sisi kenaikan
biaya variabel, usaha ini sensitif pada kenaikan biaya variabel sampai 3%. Pada
penurunan pendapatan yang juga diikuti oleh kenaikan biaya variabel usaha
ini sensitif sampai penurunan pendapatan dan kenaikan biaya variabel masing-
masing sebesar 3%.
g. Industri kerupuk udang ini tidak menghasilkan limbah berbahaya.
a. Industri kerupuk udang memerlukan bantuan modal dalam mengembangkan
usahanya, karena selama ini para pengusaha kesulitan mendapat bantuan
modal dari perbankan.
b. Peran pemerintah daerah masih sangat diperlukan dalam pemberian bantuan
peralatan dan penerapan gugus kendali mutu, sehingga pengrajin dapat bekerja
secara efisien dan efektif.
c. Diperlukan sarana yang bisa menghubungkan produsen dan konsumen secara
langsung, karena biasanya produksi dari kerupuk ini di beli langsung oleh
pedagang tertentu dan di buatkan merek tertentu lalu di jual ke pasaran.
d. Diperlukan promosi yang mampu menguatkan daya tawar produk kerupuk
udang Kuala Tungkal karena dari segi kualitas tidak kalah dari produk-produk
daerah lainnya.