Hoka Hoka Bento

 




Latar belakang Hoka Hoka Bento (hokben) 

 

Hokben (singkatan dari Hoka Hoka Bento) yaitu  restaurant cepat saji yang menyajikan 

makanan ala jepang yang variatif dengan harga yang terjangkau dan dengan restaurant yang 

nyaman.  Hokben  pertama kali di dirikan dibawah naungan PT. Eka Bogianti pada tanggal 18 

april 1985 dan pertama kali diresmikan di Jakarta oleh Hendra Arifin. Hendra arifin 

mengembangkan restaurant cepat saji ala jepang sebab  konsep ini  belum ada di negara kita , 

Hendra arifin lalu melakukan studi banding ke jepang dan lalu  membeli izin untuk 

memakai  merek  teknis Hoka Hoka Bento di negara kita , awalnya Hoka Hoka Bento di 

jepang berkonsep take away (bawa pulang) kini sesudah  hak cipta dipegang pleh PT. Eka 

Bogianti  konsep itu diganti dengan restaurant cepat saji  yang bisa dimakan ditempat. Sementara 

itu, usaha serupa dengan merek Hoka Hoka Bento sudah tidak ada lagi di jepang , meski 

masakan asli jepang dan dibawa dari jepang kepemilikan merek 100% dimiliki oleh negara kita , 

benar saja sesudah  diresmikan di negara kita ( Jakarta ) Hoka Hoka Bento disukai oleh semua 

kalangan sebab  rasanya yang pas dilidah warga lokal. 

 sesudah  sukses menjalankan restaurant di Jakarta Hoka Hoka Bento lalu membuka cabang 

di bandung pada tahun 1990 yang dimiliki oleh PT. Citra Boga Kumala, sampai saat ini Hoka 

Hoka Bento memiliki 27 cabang yang tersebar di semua lokasi di Jawa Barat. Hoka Hoka Bento 

juga membuka cabang disurabaya pada tahun 2005, malang pada tahun 2008  dan pada tahun 

2010 membuka cabang di wilayah Jawa tengah, Bali dan Yogyakarta  

 Pada tanggal 15 oktober  2013 Hoka Hoka Bento hadir  dengan nama baru yaitu HokBen 

dengan tampilan dan penawaran yang lebih baik. 

Pendekatan Brand Asset Valuator  yang dikembangkan oleh Young and Rubicam dengan 4 pilar 

yaitu : - diferensiasi (differentiaton) 

-relevansi ( relevance) 

-harga diri (esteem) 

-pengetahuan (knowledge) 

1)Diferensiasi (Differentiaton)   

yaitu  mengukur  tingkat sejauh mana merek dianggap berbeda dengan merek lain , diferensiasi 

memiliki 3 unsur yaitu different, unique dan distinctive. Seperti dilihat dari logo Hoka Hoka 

Bento yaitu dua anak laki laki dan perempuan yang memakai baju manga jepang bisa dilihat 

bahwa Hoka Hoka Bento yaitu  restaurant cepat saji yang memiliki konsep restaurant yang 

berbeda dari restaurant lainnya sebab  Hoka Hoka Bento menawarkan makanan khas jepang 

yang disesuaikan dengan lidah orang negara kita  dengan harga yang terjangkau dan memiliki 

restaurant yang nyaman Hoka Hoka Bento banyak disukai oleh warga  negara kita .  

Sesuai dengan namanya Hoka Hoka Bento yang berarti “makanan hangat dalam boks” 

berbeda dengan restaurant  cepat saji dengan menu yang menyuguhkan makanan yang ditaruh di 

dalam boks sehingga konsumen dalam suatu menu sudah memiliki berbagai varian makanan 

yang berbeda dan lebih murah. 

 Hoka Hoka Bento juga menawarkan menu asli negara kita  yaitu sambal dalam berbagai 

macam yang digabungkan dengan makanan khas jepang itu juga yang membedakan Hoka Hoka 

Bento dengan restaurant lain, keunikan lain yang terdapat di Hoka Hoka Bento yaitu cara 

penyajiannya tidak sama dengan restaurant cepat saji lain yang antri kebelakang, gerai Hoka 

Hoka Bento disusun memanjang seperti buffet kafetaria dimana pelanggar begerak sepanjang 

meja buffet baja antikarat berpemanas dan para konsumen bisa melihat langsung makanannya 

diluar kaca dan melihat para pegawai menyiapkan makanan , sambil memilih berbagai jenis 

pilihan makanan, minuman, dan hidangan penutup.  

Hoka Hoka Bento sering melakukan  promosi menarik dengan paket hadiah mainan anak-

anak dan balon balon dan juga Hoka Hoka Bento menyediakan paket ulang tahun , Hoka Hoka 

Bento juga memiliki keunikan dalam memilih atribut baik atribut para pegawainya yang 

memakai pakaian ala jepang dan konsep restaurant yang sangat nyaman cocok untuk anak anak 

 

2) Relevansi (Relevance) 

yaitu  rasa ketertarikan konsumen dari berbagai kalangan  pada suatu merek dan 

mengukur cakupan daya tarik merek. Hoka Hoka Bento yaitu  makanan ala jepang yang 

disesuaikan oleh lidah orang negara kita , sehingga dari semua kalangan baik dari anak kecil, 

dewasa maupun orang tua dapat menikmati Hoka Hoka Bento. 

 untuk anak kecil Hoka Hoka Bento memiliki menu paket kidzu yang sesuai dengan porsi 

anak anak dan juga didalam menu paket ini  mendapatkan mainan yang membuat anak anak 

tertarik untuk membelinya, untuk dewasa terdapat menu menu paket dan ala carte sedangkan 

untuk jenis sup sangat cocok untuk orang tua. Hoka Hoka Bento juga menghadirkan paket 

omiyage 4 dan omiyage 6 yang sangat pas  jika sedang berkumpul dengan keluarga dan teman 

karna porsi yang besar dan cocok untuk ber 4 dan 6 tentunya dengan harga yang lebih murah 

dibandingkan satuan.  

Masa demi masa hoka hoka bento terus berinovasi sesuai dengan perkembangan zaman, 

perkembangan zaman juga merubah selera warga  terhadaap makanan, maka dari itu hoka 

hoka bento harus terus berinovasi sesuai dengan apa yang sedang diminati. 

Dari slogan Hoka Hoka Bento “ada aja alasannya ke Hoka Hoka Bento” menandakan 

bahwa semua kalangan seperti pelajar mahasiswa dan pekerja bisa menikmati Hoka Hoka Bento 

karna harganya yang lumayan terjangkau. 

 

3)harga diri ( esteem ) 

yaitu  mengukur seberapa baik merek dihargai dan dihormati oleh para konsumennya. 

Maksud dari pengertian ini  yaitu  bahwa harga yang diberikan harus sesuai dengan kualitas 

dan kuantitas yang diterima. Dalam hal ini Hoka Hoka Bento sejak dari dulu memiliki standar 

dalam bentuk porsi ,penentuan mutu pangan dan resep yang digunakan dari dulu dan harga yang 

disesuaikan oleh para pelajar dan mahasiswa sehingga Hoka Hoka Bento tetap dengan kualitas 

dan kuantitas yang sama Hoka Hoka Bento juga berupaya agar pengeriman makanan dari pusat 

kecabang cabang Hoka Hoka Bento fresh dan steril untuk dikonsumsi ,untuk meningkatkan 

kualitas   akhir akhir ini Hoka Hoka Bento mengeluarkan menu baru yang identic dengan lidah 

negara kita  yang rata rata menyukai makanan pedas yaitu berbagai macam sambal yaitu sambal 

bawang, sambal matah dan sambal hijau yang membuat Hoka Hoka Bento meningkatkan 

kualitasnya lebih baik lagi. 

Menurut sebagian orang Hoka Hoka Bento masuk kedalam restaurant yang cukup 

terjangkau sebab  konsumen sudah dapat menikmati berbagai macam makanan dalam satu menu 

ditambah lagi dengan minuman dan juga Hoka Hoka Bento memberikan para konsumennya 

tempat yang nyaman seperti kursi dan meja yang nyaman dan tempat yang ber ac dan juga 

tersedia fasilitas Wifi untuk mengerjakan tugas maupun hanya sekedar bermain yaitu  nilai plus 

dalam restaurant ini sebab  mementingkan kualitas yang terbaik untuk para konsumennya. 

  

4) Pengetahuan  (knowledge) 

 yaitu  mengukur kadar keakraban dan keintiman konsumen dengan merek. 

Maksudnya yaitu  bagaimana merek ini  dikenal warga  luas dan bagaimana 

kesen pertama warga  mendengar merek ini . Mendengar kata Hoka Hoka Bento 

pasti hampir semua warga  negara kita  langsung mengenal merek  ini  yang identik 

dengan makanan cepat saji yang berkonsep makanan jepang yang terbungkus dalam boks 

dengan harga yang terjangkau, Hoka Hoka Bento sangat gampang diingat dan diketahui 

karna Hoka Hoka Bento merupakan makanan cepat saji yang pertama dan satu satunya di 

negara kita  sejak jaman dulu sehingga baik orang tua dewasa maupun anak kecil mengetahui 

merek Hoka Hoka Bento. 

 Untuk membuat konsumen tetap mengetahui tentang  merek Hoka Hoka Bento, 

perusahaan harus mengeluarkan menu menu terbaru dan promosi yang menarik agar Hoka 

Hoka Bento tetap diingat sepanjang masa 

 
Jenis perusahaan  : Restoran ( Japanese Fast Food Restaurant ) 
Nama Perusahaan  : PT. Eka Boga Inti (Hoka Hoka Ben to Restoran) 
Alamat Perusahaan  : Jl. Raya Poncol No. 2 RT 009/0 9 
      Cicadas, Jakatra Timur 
Direksi    : Bpk. Hendra Arifin 
      Bpk. Sutanto Joso 
Logo    :  
 
 
 
 
 
 
4.1.1.2 Sejarah Hoka Hoka Bento (PT Eka Boga Inti) 
 Hoka Hoka Bento petama kali didirikan tahun 1985, d i Kebon Kacang, 
Jakarta pada awal berdirinya Hoka Hoka Bento melakukan  bisnisnya dengan 
menyuplai produk ke supermarket-supermarket. Kemudian Hoka Hoka Bento 
membuka outlet yang sekaligus sebagai store pertama yaitu di Kebon Kacang. Hoka 
Hoka Bento berarti hangat hangat dalam boks, kata ini berasal dari bahasa Jepang. 
 
 
Hangat hangat dalam boks berarti pada saat penyajian menu, hangat dan 
dimasukan kedalam boks. Hal ini dimaksudkan untuk mempermudah pelanggan 
dalam pemesanan makanan. Hoka Hoka Bento mempunyai 83 store yang tersebar 
di seluruh Indonesia (jumlah ini tidak menutup kemungkinan akan bertambah), 
seperti disajikan pada Tabel 4.1. 
TABEL 4.1 
CABANG HOKA HOKA BENTO SELURUH INDONESIA 
No Nama Kota Jumlah Store 
1 Jakarta Pusat 14 
2 Jakarta Utara 4 
3 Jakarta Barat 7 
4 Jakarta timur 6 
5 Jakarta selatan 17 
6 Depok 3 
7 Cikarang 2 
8 Bekasi 3 
9 Tangerang 4 
10 Bogor 3 
11 Banten 1 
12 Bandung 11 
13 Surabaya 7 
14 Airport 1 
Total 83 
   Sumber: Hoka Hoka Bento 2008 
 
 Perkembangan Hoka Hoka Bento yang baik didukung ol eh kualitas SDM, 
rencana dan target yang jelas dari perusahaan, dari  masing-masing departemen. 
SDM yang berkualitas didapatkan dari sistem rekrut yang benar dan adanya traning 
yang diberikan kepada karyawan. Sedangkan rencana d an target perusahaan 
tertuang dalam misi dan visi dari masing-masing departemen yang mendukung 
tercapainya tujuan dan target perusahaan. 

 
 
4.1.1.3 Visi, Misi, Falsafah dan Goal Operasional Hoka Hoka Bento 
1. Visi 
Hoka Hoka Bento menjadi restoran fast food dengan ciri khas Jepang 
yang mengutamakan kualitas produk dan kualitas pelayanan yang terbaik 
sehingga Hoka Hoka Bento menjadi pilihan utama dan terkemuka dalam 
bisnis restoran. 
 2. Misi 
Kami memberikan solusi bagi pelanggan untuk mendapatkan 
makanan yang berkualitas dan variatif dengan mengutamakan pelayanan 
demi kepuasan pelanggan. Kami berkeyakinan bahwa ha nya dengan 
memaksimalkan pelayanan dan produktifitas kerja, kami bisa 
memaksimalkan ekuitas karyawan, kemampuan memperoleh keuntungan 
dan mencapai pertumbuhan. 
 4. Falsafah Hoka Hoka Bento 
a. Kepuasan pelanggan 
Memenuhi kebutuhan pelanggan adalah alasan utama keberadaan 
kami. Kami  benar-benar memperdulikan sikap pelanggan, kami 
memahami dan memperhitungkan kebutuhan pelanggan dan 
melayani sebaik baiknya. Baik karyawan maupun pemim pin 
mempunyai komitmen dengan kesadaran penuh dan bertanggung 
jawab untuk melayani customer, baik internal customer maupun 
external, sesuai dengan fungsi masing-masing demi tercapainya 
kepuasan pelanggan. 
 
 
b. Mutu 
Sebagaimana diukur dengan kepuasan pelanggan, karya wan dan 
masyarakat. 
c. Produktifitas kerja 
Kami merekrut, melatih dan mempromosikan orang yang tepat dan 
berkomitmen pada mutu, integritas, keterbukaan dan kerja keras. 
d. Intergritas 
Saling memperlakukan antar satu sama lain dengan rasa hormat dan 
martabat, menghargai perbedaan pandangan dan indivi dual. 
Berkomunikasi secara terbuka, saling mendengarkan lainnya tanpa 
memperdulikan tingkat atau kedudukan. Jujur dan bertanggung jawab 
pada tindakan dan kewajiban sebagai perusahaan dan sebagai 
individu. 
e. Kemampuan memperoleh keuntungan dan pertumbuhan 
Beroperasi untuk membina nilai perusahaan dalam jangka panjang, 
meningkatkan keuntungan dan pertumbuhan dalam bisnis. 
 5. Goal Operasional Hoka Hoka Bento 
a. Customer puas 
b. Target penjualan tercapai 
c. Kualitas produk terjaga 
d. Biaya efisien 
e. Cara kerja efektif 
f. Sikap mental positif 
 
 
4.1.1.4 Produk dan Jasa yang Ditawarkan Hoka Hoka Bento 
Hoka Hoka Bento mampu bertahan dan berkembang dalam bisnis restoran 
fast food karena didukung adanya service yang baik kepada customer. 
Perkembangan Hoka Hoka Bento selanjutnya ditentukan oleh kemampuan pekerja 
dalam mempertahankan dan mengembangkan service yang diberikan kepada 
customer. Service yang memuaskan kepada pelanggan akan memberikan dam pak 
positif, dampak positif itu tidak hanya dirasakan oleh Hoka Hoka Bento sebagai 
perusahaan dan diri karyawan itu sendiri. Pemahaman yang benar kepada 
pelanggan akan mampu mendorong setiap karyawan untuk memberikan pelayanan 
yang terbaik. Dasar pemahaman pelanggan ini diambil  dari falsafah Mahatma 
Gandhi yang menyebutkan: 
Pelanggan adalah seseorang yang paling penting disi si kita, ia tidak 
bergantung pada kita. Kitalah yang bergantung padan ya. Ia tidak menggangu 
pekerjaan kita. Untuknyalah kita bekerja. Ia bukan orang asing dalam bisnis 
kita. Ia adalah bagian dari kita. Kita tidak melayaninya karena kemurahan 
kita, ia lah yang memberikan kemurahan bagi kita de ngan memberikan 
kesempatan kepada kita untuk melayaninya.  
 
Selain service eksternal yang baik Hoka Hoka Bento sangat memperh atikan 
service internal atau yang dikenal dengan internal quality service (IQS) yang 
merupakan hubungan kerjasama antar anggota kelompok organisasi yang 
berpengaruh terhadap kualitas service yang diberikan kepada konsumen 
eksternalnya. Dasar terbentuknya IQS adalah kepedul ian, kerjasama dan 
komunikasi. Dasar ini menjadi acuan sevice Hoka Hoka Bento agar terjaga 
kualitasnya secara konsisten, untuk menjaga kualitas pelayanan Hoka Hoka Bento 
membuat suatu standar service. Standar service adalah suatu pedoman yang 
dijadikan peuntun terhadap pelaksanaan service yang diterapkan di store Hoka 
 
 
Hoka Bento. Tujuan adanya standar service adalah agar terjadi service yang sama 
atau seragam di seluruh cabang Hoka Hoka Bento, mem permudah pelaksanaan 
service dan meminimalkan komplain pelanggan. Hoka Hoka Bento menetapkan 
standar dalam operasional. Standar tersebut meliputi standar layanan kerja, 
pengucapan dan penampilan. 
Selain memperhatikan kualitas pelayanan hal yang ha rus diperhatikan 
adalah kualitas produk, Hoka Hoka Bento menawarkan banyak variasi menu. Secara 
umum produk-produk yang ditawarkan Hoka Hoka Bento dikelompokan ke dalam 
beberapa kelompok, yang akan disajikan dalam Tabel 4.2. 
TABEL 4.2 
JENIS JENIS PRODUK YANG DIJUAL 
Kelompok Keterangan 
 Kelompok menu pokok 
Menu Hoka Hoka Bento yang biasa dikonsumsi dengan 
nasi. Ada dua jenis menu pokok yaitu menu kering da n 
menu basah. 
 Kelompok menu snack Menu yang biasa dikonsumsi tanpa nasi dan sebagai 
cemilan 
 Kelompok menu soup Menu pokok yang biasa dikonsumsi dengan nasi dan 
ada kuahnya 
 Kelompok menu dessert Menu yang biasa dikonsumsi setelah mengkonsumsi 
menu pokok atau sebagai pencuci mulut 
 Kelompok minuman Terdiri dari minuman dalam kemasan merek tertentu 
yang telah bekerjasama dengan Hoka Hoka Bento 
 Kelompok juice Bermacam-macam Juice segar dari buah-buahan 
pilihan 
Kelompok menu  paket Menu yang digabungkan secara p aket 
Sumber: Training center Hoka Hoka Bento 2007 
 
Secara lengkap produk-produk yang ditawarkan Hoka H oka Bento  disajikan 
dalam Tabel 4.3. 

 
 
TABEL 4.3 
PRODUK-PRODUK YANG DITAWARKAN HOKA HOKA BENTO 
No 
Kelompok menu 
pokok Kelompok menu snack Kelompok 
minuman dan juice 
Kelompok menu 
paket 
1 Egg chicken roll Ebi fried Jus tomat ice/no Hoka Hemat 1 
2 Chicken katsu Ebi shumay Jus melon ice/no Hoka Hemat 2 
3 Ebi katsu Shumay Furai  Jus apel ice/no Hoka Hemat 3 
4 Spicy chicken Gyoza & tori popcorn Jus semangka ice/no Hoka Hemat 4 
5 Ekkado Kelompok menu soup Jus lemon Paket A 
6 Kani roll Chicken tofu Jus orange ice/no Paket B  
7 Shrim roll Shrimp ball Jus wortel ice/no Paket C 
8 Tori baaga Shrimp dumpling Jus marquisa ice/no Paket D 
9 Beef yakiniku Kelompok menu dessert Jus special mix Bento special 1 
10 Beef teriyaki Caramel puding  Bento special 2 
11 chicken  yakiniku Coklat puding  Bento special 3 
12 chicken teriyaki Mocca puding  Bento special 4 
13 Sukiyaki Sarang burung 
*Produk ini dapat bertambah atau berubah sewaktu-
waktu 14 Ebi furai Delima 
15  Ebi teriyaki ogura 
Sumber: Hoka Hoka Bento 
 
4.1.1.5 Program Layanan Seven Romancing Moments 
Program layanan sevent romancing moments adalah tindakan yang 
dilakukan  penyedia jasa dalam menyampaikan layanan  pokok dari mulai tamu 
datang sampai dengan meninggalkan restoran, dan  me rupakan saat-saat 
perjumpaan antara karyawan kontak dengan customer pada waktu mereka 
menyampaikan layanan, (Prosedur Service  Hoka Hoka Bento:1). “ Romance is an 
emotional or aura belonging to an esp. Heroic era, adventure, or acrivity, to 
exaggerate or invent details or incident, to try to influence by lavishing personal 
attention, gifts.” (Merrian Webster’s Dictionary).  
Hoka Hoka Bento mengolah berbagai macam produk dan layanan serta 
menyajikanya secara menarik sehingga pelanggan akan  kembali lagi untuk  
menikmati pelayanan dan kelezatan menu Hoka Hoka Be nto. Program Layanan 
Seven Romancing Moments terdiri dari 7 service action. 
77 
 
 
1.  Irasshaimase (Greeting); menyambut tamu dan memberikan senyum sapa salam 
kepada tamu dengan tulus dan hangat yang dilakukan oleh petugas greeter. 
2. Mobile service;  Pelayanan penuh dan berkesinambungan yang dilakukan  
petugas counter  dengan sikap ramah, senyum hangat dan antusias sa at 
melayani tamu. 
3. Pembayaran di kasir ( collect payment); kemampuan petugas saat menarik 
pembayaran tamu secara akurat dan cepat dengan sikap ramah, senyum hangat 
dan tulus. 
4. Greeting customer di loby; Kemampuan petugas dalam menyampaikan atau 
menerima informasi dari tamu yang dilakukan dengan penuh perhatian, antusias, 
senyum dan sopan. 
5.  Menawarkan dan mengantarkan menu ; Upaya untuk mengembangkan pesanan   
6.  Take away ; Layanan pemesanan untuk di bawa pulang / take order. 
7. Arigato Gozaimatsu; Mengucapkan terima kasih kepada tamu dan selalu 
berupaya untuk menyempurnakan  pelayanan. 
Pelaksanakan program layanan sevent romancing moments perlu adanya 
koordinasi dan kontrol dari tim manajemen, menjalankan dan menerapkan program 
ini dengan baik harus dimulai dengan membentuk lingkungan yang baik pula, 
menjaga dan memperbaiki internal quality service (IQS) menciptakan lingkungan 
kerja yang produktif salah satu caranya yaitu dengan adanya role model para 
karyawan bisa mencontoh tindakan-tindakan  dari para atasan yang dapat 
meningkatkan pelayanan secara konsisten. 
78 
 
 
4.1.2  Profil Pelanggan Berdasarkan Karakteristik Demografi, Pengalaman dan 
Penilaian terhadap Restoran Hoka Hoka Bento 
4.1.2.1 Jenis Kelamin dan Usia 
Hasil pengolahan data dari 100 pelanggan Hoka Hoka Bento cabang 
Setiabudi Bandung menggambarkan bahwa karakteristik demografis pelanggan 
Hoka Hoka Bento berdasarkan jenis kelamin dan usia adalah sebagai berikut. 
TABEL 4.4 
PROFIL PELANGGAN BERDASARKAN JENIS KELAMIN DAN USIA 
Jenis Kelamin 
 
Usia 
Total 
17 - 23 24 -30 31 - 36 37 - 42 43 - 48 
Pria 
Wanita 
21 18 6 5 1 51 
20 19 7 3 0 49 
Total 41 37 13 8 1 100 
 Sumber: Hasil pengolahan data 2008 
 Tabel 4.4 menunjukan bahwa terdapat 51 pelanggan ya ng berjenis kelamin 
pria dan 49 pelanggan berjenis kelamin wanita. Hasil ini menunjukan bahwa jumlah 
pelanggan pria dan wanita yang datang ke Hoka Hoka Bento hampir seimbang, ini 
dikarenakan produk Hoka Hoka Bento digemari baik oleh pria maupun wanita dari 
berbagai usia. Umumnya pelanggan Hoka Hoka Bento se banyak 41 orang berusia 
antara 17-23 tahun dan sebanyak 37 orang berusia an tara 24-30. Hal ini sesuai 
dengan target Hoka Hoka Bento yaitu menciptakan produk yang bisa dinikmati oleh 
berbagai usia khususnya oleh remaja. Lebih jelasnya , hasil pengolahan data 
tersebut disajikan pada Gambar 4.1 berikut ini. 
79 
 
 
 
GAMBAR 4.1 
PROFIL PELANGGAN BERDASARKAN JENIS KELAMIN DAN USIA 
 
4.1.2.2 Pendidikan Terakhir dan Pekerjaan 
Hasil pengolahan data dari 100 pelanggan Hoka Hoka Bento cabang 
Setiabudi Bandung menggambarkan bahwa karakteristik demografis pelanggan 
Hoka Hoka Bento berdasarkan pendidikan terakhir dan  pekerjaan adalah sebagai 
berikut. 
TABEL 4.5 
PROFIL PELANGGAN BERDASARKAN PENDIDIKAN TERAKHIR 
DAN PEKERJAAN 
Pendidikan 
Pekerjaan 
Total 
Pelajar/Mahasiswa Pegawai 
Negeri 
Pegawai 
Swasta Wiraswasta Lainnya 
SMP/SMA 
DIPLOMA 
SARJANA 
PASCASARJANA 
27 0 7 5 0 39 
5 0 10 9 1 25 
5 9 11 5 1 31 
0 3 1 0 1 5 
Total 37 12 29 19 3 100 
Sumber: Hasil pengolahan data 2008 
80 
 
 
 Tabel 4.5 menunjukan bahwa sebagian besar pelangga n Hoka Hoka Bento 
memiliki pekerjaan sebagai pelajar/mahasiswa yaitu sebanyak 39 orang, sebesar 27 
orang menempuh jenjang pendidikan SMA, dan masing-m asing 5 orang menempuh 
jenjang pendidikan Diploma dan Sarjana. Sebanyak 29  orang pelanggan memiliki 
pekerjaan sebagai pegawai swasta dengan pendidikan terakhir SMA sebanyak 7 
orang, diploma sebanyak 10 orang, sarjana sebanyak 11 orang dan pascasarjana 
sebanyak 1 orang. Lainnya sebanyak 3 orang adalah p elanggan yang memiliki 
pekerjaan sebagai ibu rumah tangga. Lebih jelasnya,  hasil pengolahan data tersebut 
disajikan pada Gambar 4.2 berikut ini. 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
GAMBAR 4.2 
PROFIL PELANGGAN BERDASARKAN PENDIDIKAN TERAKHIR 
DAN PEKERJAAN 
 
4.1.2.3 Jenis Kelamin dan Waktu Kunjungan terhadap Frekuensi Kunjungan ke 
Hoka Hoka Bento 
Profil pelanggan berdasarkan jenis kelamin dan waktu kunjungan terhadap 
frekuensi kunjungan ke Hoka Hoka Bento dimaksudkan untuk menganalisis 
81 
 
 
apakah pelanggan pria atau wanita yang lebih sering  datang ke Hoka Hoka Bento 
dan kapan waktu kunjungan yang paling ramai, sehing ga perusahaan dapat 
mempersiapkan kebutuhan pelanggan pada waktu kunjungan yang  ramai 
tersebut. Berdasarkan hasil pengolahan data diperoleh hasil sebagai berikut.  
TABEL 4.6 
PROFIL PELANGGAN HOKA HOKA BENTO BERDASARKAN JENIS 
KELAMIN DAN WAKTU KUNJUNGAN TERHADAP FREKUENSI KUNJUNGAN 
Jenis kelamin Waktu Kunjungan 
Frekuensi 
Total 
1 Kali 2 Kali 3 Kali Lainnya 
 Pria 
  Senin-Jumat 11.00-14.00 11 5 1 0 17 
Senin-Jumat 15.00-21.00 0 0 3 1 4 
Weekend 11.00-14.00 10 5 7 1 23 
weekend 15.00-21.00 0 2 3 2 7 
 Total 21 12 14 4 51 
Wanita 
  Senin-Jumat 11.00-14.00 1 7 5 2 15 
Senin-Jumat 15.00-21.00 1 2 3 1 7 
weekend 11.00-14.00 6 11 2 1 20 
weekend 15.00-21.00 2 2 3 0 7 
 Total 10 22 13 4 49 
Sumber: Hasil pengolahan data 2008 
Tabel 4.6 menunjukan bahwa pada umumnya pelanggan   wanita datang 
dua kali dalam satu bulan ke Hoka Hoka Bento  pada waktu akhir pekan (Sabtu-
Minggu) dan hari libur pada jam makan siang yaitu 11.00-14.00, sebanyak 11 
pelanggan pria datang  satu kali dalam satu bulan dengan rata-rata kunjungan  hari 
Senin-Jumat pada waktu 11.00-14.00 untuk makan siang. Pelanggan yang datang 
3 kali dalam satu bulan memiliki waktu kunjungan yang beragam, kunjungan 
terbanyak untuk pria yaitu dengan frekuensi 10 pada hari libur baik untuk makan 
82 
 
 
siang maupun makan malam sedangkan 8 pelanggan wanita lebih banyak pada 
hari kerja pada saat makan siang maupun makan malam.  
Waktu kunjungan yang paling sepi didatangi oleh pel anggan Hoka Hoka 
Bento yaitu Senin-Jumat pada jam 15.00-21.00 dengan  frekuensi kunjungan 4 
untuk yang berjenis kelamin pria dan 7 untuk wanita. sebanyak 4 pelanggan pria 
dan 4 pelanggan wanita yang menjawab lainnya menyat akan datang ke Hoka 
Hoka Bento lebih dari 3 kali dalam satu bulan untuk makan siang/makan malam 
baik pada hari kerja maupun hari libur. 
Berdasarkan Tabel 4.6 diketahui pula  bahwa baik pe langgan  berjenis 
kelamin pria dan wanita mengunjungi Hoka Hoka Bento paling sering pada saat 
akhir pekan atau hari libur pada jam makan siang. H al ini berarti produk-produk 
yang ditawarkan Hoka Hoka Bento  digemari oleh pria  maupun wanita dan cocok 
dihidangkan untuk makan siang maupun makan malam karena Hoka Hoka Bento  
menawarkan berbagai jenis menu maupun paket yang se suai dengan selera 
masyarakat pada umumnya.  
Waktu kunjungan akhir pekan  pada jam makan siang l ebih ramai dikunjungi 
karena pelanggan libur dari aktifitas kerja dan memilih untuk berkumpul makan 
siang dengan keluarga. Tempat yang luas dan nyaman serta ditambah dengan 
fasilitas tempat bermain untuk anak menjadi pilihan untuk tempat berkumpul 
makan siang dengan keluarga, sehingga pada saat itu  kunjungan dari pelanggan 
lebih ramai dari hari biasanya. 
 
83 
 
 
4.1.2.4  Usia dan Pekerjaan Terhadap Menu yang Dipilih 
Profil pelanggan berdasarkan usia dan pekerjaan ter hadap menu yang dipilih 
dimaksudkan untuk menganalisis bagaimana pilihan menu pelanggan berdasarkan 
pekerjaan dan usia. Berdasarkan hasil pengelolahan data diperoleh hasil sebagai 
berikut. 
TABEL 4.7 
PROFIL PELANGGAN HOKA HOKA BENTO BERDASARKAN 
USIA DAN PEKERJAAN TERHADAP MENU YANG DIPILIH 
Usia Pekerjaan 
Menu Pilihan 
Total 
Hoka Hemat Paket ABCD Bento Special Lainnya 
17 - 23 
  Pelajar/Mahasiswa 28 3  2 33 
Pegawai Swasta 0 5  0 5 
Wiraswasta 0 2  0 2 
Lainnya 0 1  0 1 
 Total 28 11  2 41 
24 -30 
  Pelajar/Mahasiswa 1 1 0 0 2 
Pegawai Negeri 0 1 0 1 2 
Pegawai Swasta 6 10 4 1 21 
Wiraswasta 0 1 3 7 11 
Lainnya 0 1 0 0 1 
 Total 7 14 7 9 37 
31 - 36 
  Pelajar/Mahasiswa 2 0 0 0 2 
Pegawai negeri 1 3 2 2 8 
Pegawai swasta 0 0 1 0 1 
Wiraswasta 0 1 1 0 2 
 Total 3 4 4 2 13 
37 - 42 
  Pegawai Negeri 1 0 0 1 2 
Pegawai Swasta 0 2 0 0 2 
Wiraswasta 0 0 2 1 3 
Lainnya 0 0 0 0 0 
 Total 1 2 2 2 7 
43 - 48 
  Wiraswasta   2  2 
 Total   2  2 
Sumber: Hasil pengolahan data 2008 
 
84 
 
 
Tabel 4.7 menunjukan bahwa sebagian besar (41) pela nggan Hoka Hoka 
Bento berusia antara 17-23 tahun dengan mayoritas p ekerjaan sebagai 
pelajar/mahasiswa memilih Paket Hoka Hemat sebagai menu pilihan. Ini 
dikarenakan Paket Hoka Hemat sangat terjangkau untuk kalangan pelajar hanya 
dengan harga Rp. 10.000,- / paket. Hal ini sesuai d engan tujuan utama Hoka Hoka 
Bento dalam menciptakan Paket Hoka Hemat yaitu agar masyarakat dari berbagai 
kalangan dapat menikmati menu di Hoka Hoka Bento dengan harga yang 
terjangkau. 
 Sebanyak 37 Pelanggan yang berusia 24-30 pada umum nya memiliki 
pekerjaan sebagai pegawai swasta memilih Paket ABCD  sebagai menu pilihan. 
Sebanyak 13 pelanggan yang berusia 31-36 pada umumn ya memiliki pekerjaan 
sebagai pegawai Negeri memiliki pilihan yang beragam mulai dari Paket Hoka 
Hemat, Paket ABCD, Bento Special 1234 hingga menu l ainnya. Sebanyak 7 
Pelanggan yang berusia 31-36 dan 2 pelanggan berusi a 43-48 pada umumnya 
memiliki pekerjaan sebagai Wiraswasta memilih paket Bento Special 1234 sebagai 
menu pilihan. Sedangkan 11 pelanggan dari beragam u sia dan pekerjaan lebih 
memilih menu lainnya sebagai pilihan, menu lainnya tersebut diantaranya, ekkado, 
chicken katsu, spicy chicken dan sukiyaki. 
Paket ABCD dan Bento Special 1234 lebih diminati ol eh pelanggan yang 
memiliki pekerjaan sebagai pegawai swasta, hal ini disebabkan karena harga Paket 
ABCD dan Bento Special 1234 berkisar antara Rp. 22. 500 – Rp. 29.000 cukup 
terjangkau untuk pegawai swasta yang telah memiliki penghasilan cukup. Selain itu 
85 
 
 
Paket ABCD dan Bento Special 1234 menawarkan varias i menú yang lebih lengkap 
sehingga cocok untuk pelanggan yang berusia antara 24-42 tahun. 
4.1.2.5 Pendidikan Terakhir dan Penghasilan/Uang Saku  terhadap Jumlah 
Pembelian 
Profil pelanggan berdasarkan pendidikan terakhir dan uang saku  terhadap 
jumlah pembelian dimaksudkan untuk menganalisis daya beli pelanggan 
berdasarkan tingkat pendidikan tertentu dan yang dimilikinya dan penghasilan/uang 
saku perbulan. Berdasarkan pengolahan diperoleh has il sebagai berikut. 
TABEL 4.8 
PROFIL PELANGGAN HOKA HOKA BENTO BERDASARKAN 
PENDIDIKAN TERAKHIR DAN UANG SAKU  TERHADAP JUMLAH PEMBELIAN 
Pendidikan Pendapatan/ 
uang saku 
Jumlah Pembelian/Kunjungan 
Total 
<Rp 50.000 50.000-100.000 100.000-200.000 >200.000 
SMP/SMA 
< 1000.000 
1000.001 - 2000.000 
2000.001 - 3000.000 
3000.001 - 4000.000 
Total 
27    27 
2 4   6 
1 3   4 
0 0   0 
30 7   37 
DIPLOMA 
< 1000.000 
1000.001 - 2000.000 
2000.001 - 3000.000 
3000.001 - 4000.000 
Total 
0 2 0 0 2 
3 5 2 0 10 
0 2 0 0 2 
0 2 0 1 3 
3 11 2 1 17 
SARJANA 
< 1000.000 
1000.001 - 2000.000 
2000.001 - 3000.000 
3000.001 - 4000.000 
Total 
0 2 0  2 
3 12 1  16 
2 15 1  18 
0 0 0 5 5 
5 29 2 5 41 
PASCASARJANA 
 2.000.001 – 3.000.000  1 0 0 1 
3.000.001 – 4.000.000  2 1 1 4 
Total  3 1 1 5 
Sumber: Hasil pengolahan data 2008 
 
86 
 
 
Berdasarkan hasil pengolahan data pada Tabel 4.8 te rsebut diperoleh hasil 
bahwa hampir setengahnya yaitu 41 orang pelanggan b erpendidikan terakhir 
sebagai sarjana dengan penghasilan rata-rata Rp. 2. 000.000-Rp. 3.000.000/bulan, 
biaya yang dihabiskan untuk sekali kunjungan yaitu Rp.50.000-Rp.100.000. 
sedangkan untuk yang berpenghasilan Rp. 3.000.000-R p.4.000.000 menghabiskan 
lebih dari Rp. 200.000 untuk tiap kunjungan. Sebany ak 37 pelanggan dengan 
pendidikan terakhir SMA yang berpenghasilan/uang saku < Rp. 1.000.000 
menghabiskan kurang dari Rp. 50.000,- untuk setiap kujunganya. 
Berdasarkan hasil temuan tersebut maka diketahui sebagian besar 
pelanggan Hoka Hoka Bento berasal dari kalangan men egah ke atas, dan dapat 
dilihat pula bahwa semakin tinggi penghasilan seseorang maka akan semakin tinggi 
biaya yang dikeluarkan untuk mengkonsumsi sesuatu. Salah satu indikator kelas 
sosial adalah pekerjaan dan penghasilan. Hal terseb ut sesuai dengan pendapat 
Engel (1994:126), bahwa: “Analisis konsumen mempert imbangkan pekerjaan 
sebagai indikator tunggal terbaik mengenai kelas sosial“. Kemudian Engel  
(1994:121) juga mengemukakan bahwa: “Namun, determinan dari apa yang dapat 
dibeli oleh konsumen ditentukan oleh kelas sosial yaitu pendapatan atau kekayaan 
konsumen yang bersangkutan “. 
4.1.2.6  Pengalaman Pelanggan Berdasarkan Alasan Mengunjungi Hoka Hoka 
Bento dan Penilaian Pelanggan terhadap Layanan Hoka Hoka Bento 
4.1.2.6.1 Pengalaman Pelanggan Berdasarkan Alasan Mengunjungi Hoka Hoka 
Bento 
87 
 
 
Berdasarkan pada penilaian pelanggan pada atribut-a tribut produk Hoka 
Hoka Bento yang mendasar atau menjadi alasan berkun jung maka diperoleh hasil 
sebagai berikut. 
TABEL 4.9 
PENGALAMAN PELANGGAN BERDASARKAN  
ALASAN MENGUNJUNGI HOKA HOKA BENTO 
Peringkat Keterangan Persentase 
1 Harga terjangkau 51% 
2 Rasa makanan enak 29% 
3 Pelayanan yang memuaskan  13% 
4 Tempatnya nyaman 6% 
5 Promosi yang menarik 2% 
Total 100 % 
 Sumber: Hasil pengolahan data 2008 
 
Berdasarkan hasil pengolahan pada Tabel 4.9 diketah ui bahwa lebih 
setengahnya pelanggan yaitu 51% memilih mengunjungi  Hoka Hoka Bento 
dikarenakan harga yang murah. Hal ini didasarkan ka rena Hoka Hoka Bento 
menetapkan harga  yang cukup murah dibandingkan res toran Jepang lainnya seperti 
Gokana atau Hanamasa yang pada umumnya menetapkan h arga di atas Rp. 
15.000,-. Sedangkan harga yang ditawarkan Hoka Hoka  Bento berkisar antara Rp. 
6000,- untuk menu dessert dan Rp. 10.000,- untuk menu paket dan sudah termas uk 
nasi, selain itu Hoka Hoka Bento terus menciptakan paket-paket yang sangat 
terjangkau salah satunya adalah paket setto terdiri dari  chicken setto, seafood setto 
dan mix setto. Paket ini untuk dua orang lengkap dengan nasi dan minum serta 
pilihan jenis menu didalamnya, dengan harga Rp.20.0 00,-/ orang. 
Peringkat selanjutnya pelanggan memilih mengunjungi Hoka Hoka Bento 
dikarenakan rasa makananya yang enak, hal ini dikar enakan walaupun Hoka Hoka 
Bento menjual makanan berciri khas Jepang akan tetapi cita rasa yang ditawarkan 
88 
 
 
sesuai dengan selera Indonesia. Ini dikarenakan Hok a Hoka Bento adalah restoran 
asli dari Indonesia sehingga mereka mengetahui betul selera masyarakat  Indonesia. 
Hanya sebagian kecil saja memilih mengunjungi Hoka Hoka Bento dikarenakan 
promosi yang menarik atau sekitar 2%, pada umumnya Hoka Hoka Bento hanya 
mempromosikan produk/paket baru lewat TV ataupun dengan media lainya dengan 
waktu yang tayangan yang jarang sehingga Hoka Hoka Bento lebih mengutamakan 
promosinya melalui penawaran paket yang murah dan produk yang variatif. 
4.1.2.6.1  Penilaian Pelanggan terhadap Layanan Hoka Hoka Bento 
 Hoka Hoka Bento merupakan restoran fastfood dengan ciri khas Jepang 
yang mengutamakan kualitas produk dan kualitas pelayanan yang terbaik. Berikut ini 
merupakan hasil penilaian pelanggan mengenai ciri khas Jepang yang paling 
melekat di Hoka Hoka Bento: 
TABEL4.10 
PENILAIAN PELANGGAN TERHADAP CIRI KHAS JEPANG YANG PALING 
MELEKAT DI  HOKA HOKA BENTO 
Peringkat Keterangan Persentase 
1 Menu-menu yang disajikan 53% 
2 Suasana Restoran  21% 
3 Pelayanannya 11% 
4 Penampilan Petugas 9%  
5 Lainnya 6% 
Total 100 % 
  Sumber: Hasil pengolahan data 2008 
 
Berdasarkan hasil perhitungan skor peringkat yang diketahui, sebanyak 53% 
dari 100 pelanggan Hoka Hoka Bento menilai ciri khas Jepang melalui menu-menu 
yang disajikan sebagai peringkat pertama. Hal ini dikarenakan seluruh menu yang 
ada di Hoka Hoka Bento diadaptasi langsung dari Jepang, sehingga ciri khas 
89 
 
 
Jepang dalam menu Hoka Hoka Bento sangat kental terasa, hal ini bisa dilihat dari 
nama-nama produknya yang menggunakan bahasa Jepang seperti ebi katsu, 
sukiyaki, teriyaki tori no teba dan lainya.  
Peringkat kedua yang dinilai pelanggan adalah suasa na restoran yaitu sebesar 
21%, hal ini memang cukup terasa dengan nuansa alam i kayu dan unsur-unsur lain 
yang menujukan ciri khas Jepang. Pelanggan menilai pelayanan sebesar 11%, 
petugas yang ada Hoka Hoka Bento menyapa pelanggan dengan bahasa Jepang, 
seperti mengucapkan salam dan terimakasih, penampilan petugas dinilai 9%, ciri 
khas dari penampilan petugas yaitu untuk petugas wanita Hoka Hoka Bento 
menetapkan standar penampilan yaitu dengan potongan rambut “bob“ sesuai 
dengan lambang boneka wanita yang ada di Hoka Hoka Bento dan lainnya berupa 
atribut produk sebanyak 6%. 
4.2  Pelaksanaan Program Layanan Seven Romancing Moments 
4.2.1 Irasshaimase 
Irasshaimase merupakan strategi perusahaan dalam rangka membuat kontak 
yang bersifat pribadi dengan pelanggan, lewat memberikan senyum sapa salam 
kepada tamu dengan tulus, hangat dan penampilan yan g baik dari petugas. 
Irasshaimase menempatkan 5 indikator (teridiri dari 5  item pertanyaan), yang terdiri 
dari menyambut kedatangan tamu, memberikan senyum, memberikan salam, 
kerapihan petugas, dan kebersihan pakaian petugas. 
90 
 
 
TABEL 4.11 
TANGGAPAN PELANGGAN TERHADAP PROGRAM LAYANAN  
SEVEN ROMANCING MOMENTS MELALUI IRASSHAIMASE 
 
No 
 
Keterangan 
Sangat 
Tinggi Tinggi Cukup 
tinggi 
Tidak 
Tinggi 
Sangat  
tidak 
tinggi 
Jumlah 
f % f % f % f % f % Total skor 
1 Menyambut 
kedatangan tamu  13 13 42 42 33 33 12 12 0 0 100 356 
2 Memberikan 
senyum 
13 13 53 53 30 30 4 4 0 0 100 375 
3 Memberikan 
salam 0 0 36 36 41 41 23 23 0 0 100 313 
4 Kerapihan petugas 2 2 38 38 36 36 24 24 0 0 100 318 
5 Kebersihan 
pakaian petugas 16 16 51 51 33 33 0 0 0 0 100 383 
Sumber: Hasil pengolahan data 2008 
Berdasarkan Tabel 4.11 dapat diketahui bahwa indika tor yang mendapat 
skor terbesar adalah kebersihan pakaian petugas yaitu mendapatkan skor 383 yang 
terdiri dari 16 pelanggan menyatakan kebersihan pakaian petugas sangat tinggi, 
sebanyak 51% pelanggan menyatakan tinggi, sebanyak 33% pelanggan 
menyatakan  cukup tinggi dan tidak ada pelanggan yang menyatakan tidak tinggi 
atau sangat tidak tinggi. Kebersihan pakaian petugas sangat diperhatikan, dan 
merupakan unsur yang penting dalam bisnis restoran. Hal ini diperkuat dengan data 
pada Tabel 4.12. 
 
TABEL 4.12 
KETERKAITAN ANTARA JENIS KELAMIN DAN PENDIDIKAN TERAKHIR 
TERHADAP PROGRAM LAYANAN SEVEN ROMANCING MOMENTS 
MELALUI IRASSHAIMASE 
Jenis Kelamin Pendidikan 
Irasshaimase 
Total 
Tidak Tinggi Cukup Tinggi Tinggi 
Pria 
SMP/SMA 8 7 4 19 
Diploma 3 8 1 12 
Sarjana 4 9 5 18 
Pascasarjana 1 1 0 2 
Total 16 25 10 51 
91 
 
 
Jenis Kelamin Pendidikan 
Irasshaimase 
Total 
Tidak Tinggi Cukup Tinggi Tinggi 
Wanita 
SMP/SMA 2 16 2 20 
Diploma 3 6 4 13 
Sarjana 1 7 5 13 
Pascasarjana 0 1 2 3 
Total 8 28 13 49 
Sumber: Hasil pengolahan data 2008 
Kebersihan pakaian petugas sangat diperhatikan, pen ilaian ini diperoleh 
paling banyak oleh pelanggan wanita sebanyak 28 ora ng dengan latar belakang 
pendidikan yang beragam. Sesuai dengan kodratnya, w anita menyukai keindahan, 
kerapihan dan kebersihan. Hoka Hoka Bento mewajibka n seluruh pegawainya untuk 
mengganti seragam setiap hari, upaya ini diimbangi dengan pemberian minimal 4 
buah seragam untuk setiap karyawan agar kebersihan pakaiannya terjamin. 
Pelanggan berjenis kelamin pria dengan pendidikan S MA menilai kebersihan 
dengan nilai yang tidak tinggi (8 orang), pria yang  berpendidikan diploma dan 
sarjana cenderung memperhatikan dan menilai kebersihan dengan cukup tinggi, hal 
ini berarti tingkat pendidikan dapat mempengaruhi penilaian seseorang terhadap 
sesuatu. Yazid (2005:19) mengemukakan, semua sikap dan tindakan karyawan, 
bahkan cara berpakaian karyawan dan penampilan kary awan mempunyai pengaruh 
terhadap persepsi konsumen. 
Sedangkan yang mendapat skor terkecil adalah member ikan salam yang 
terdiri dari 36% pelanggan menyatakan keramahan pet ugas dalam memberikan 
salam tinggi, sebanyak 41% menyatakan keramahan pet ugas dalam memberikan 
salam cukup tinggi, dan sebanyak 23% menyatakan petugas tidak ramah dal am 
memberikan salam. Perbedaan penilaian seperti ini sangat mungkin terjadi, pada 
92 
 
 
saat jam kunjungan ramai  ada beberapa pelanggan ya ng kurang diperhatikan dan 
tidak disambut dengan salam oleh petugas hal ini terjadi karena keterbatasan jumlah  
petugas yang ada, selain itu petugas sibuk melakuka n aktifitas lain seperti clear up 
meja, mengantarkan pesanan dan mobilitas lainya.  
Hal ini tidak mempengaruhi keramahan petugas yaitu dengan memberikan 
senyum, sebanyak 53% pelanggan baik pria dan wanita  menilai keramahan petugas 
saat memberikan senyum tinggi. Menurut Lovelock (2007:199) keramahan adalah 
sekelompok jasa pelengkap yang menambah nilai dengan cara memperlakukan 
para pelanggan seperti tamu dan menyediakan perleng kapan kenyamanan yang 
mampu mengantisipasi kebutuhan selama berinteraksi dengan penyedia jasa. 
4.2.2 Mobile Service 
Mobile Service merupakan pelayanan penuh dan berkesinambungan yang  
dilakukan petugas counter  dengan sikap ramah, senyum hangat dan antusias sa at 
melayani tamu. Mobile Service menempatkan 6 indikator (teridiri dari 6  item 
pertanyaan), yang terdiri dari menyambut tamu, mena warkan menu, membantu 
dalam pemilihan menu, menyampaikan informasi, melayani pesanan, dan 
menyajikan menu.  
TABEL 4.13 
TANGGAPAN PELANGGAN TERHADAP PROGRAM LAYANAN 
SEVEN ROMANCING MOMENTS MELALUI MOBILE SERVICE 
 
No 
 
Keterangan 
Sangat 
Tinggi Tinggi Cukup 
tinggi 
Tidak 
Tinggi 
Sangat  
tidak 
tinggi 
Jumlah 
f % f % f % f % f % Total skor 
Petugas counter 
menyambut 
tamu 
5 5 70 70 25 25 0 0 0 0 100 380 
 
2 Petugas counter 4 4 54 54 41 41 1 1 0 0 100 361 
93 
 
 
 
No 
 
Keterangan 
Sangat 
Tinggi Tinggi Cukup 
tinggi 
Tidak 
Tinggi 
Sangat  
tidak 
tinggi 
Jumlah 
f % f % f % f % f % Total skor 
menawarkan 
menu 
 
Petugas counter 
membantu 
dalam pemilihan 
menu 
6 6 55 55 38 38 1 1 0 0 100 366 
 
Petugas counter 
menyampaikan 
informasi 
3 3 49 49 48 48 0 0 0 0 100 355 
 
Melayani 
pesanan 
5 5 46 46 48 48 1 1 0 0 100 355 
 
Kerapihan 
Menyajikan 
menu 
4 4 33 33 60 60 3 3 0 0 100 338 
 
Sumber: Hasil pengolahan data 2008  
Berdasarkan Tabel 4.13 diperoleh data bahwa respon petugas counter dalam 
menyambut tamu tinggi yaitu dengan skor 380, dari skor tersebut sebagian besar 
responden (70%) menyatakan bahwa petugas counter ramah dalam menyambut 
tamu. Sebanyak 25% menyatakan petugas counter cukup ramah dalam menyambut 
tamu. Hoka Hoka Bento menetapkan suatu standar pelayanan untuk setiap petugas 
sesuai dengan bagiannya, standar ini meliputi standar pelayanan, standar 
pengucapan dan standar penampilan, standar ini diikuti dengan 5 sikap service yaitu 
senyum, menatap customer, suara ramah, pelayanan cepat dan berkomunikasi. 
Skor terkecil yang diperoleh dari pengolahan data y aitu sebesar 338 dalam 
menyajikan menu, 60% menyatakan tingkat kerapihan p etugas cukup tinggi dalam 
menjajikan menu sedangkan 3% dari total 100 pelangg an menyatakan petugas tidak 
rapih dalam penyajian menu. Hal ini bisa terjadi pada saat menyajikan menu 
penataanya tidak standar ataupun nampak tidak bersih sehinggan pelanggan 
menyatakan ketidakpuasan dalam menyajikan makanan. 
94 
 
 
 Lovelock (2007:77) menyatakan bahwa ” Lingkungan j asa meliputi semua 
karakteristik lingkungan yang berwujud di mana penyerahan jasa berlangsung. 
Fasilitas dan perlengkapan, suasana perusahaan (ter masuk kebersihan, kerapihan), 
dan pelanggan lain semua dapat mempengaruhi apa yan g diharapkan pelanggan 
selama pertemuan jasa dan persepsi tentang kualitas jasa.” 
Hasil pengumpulan data dari 100 pelanggan Hoka Hoka Bento menyatakan 
54% pelanggan menilai keramahan petugas counter tinggi dalam menawarkan 
menu, sebanyak 1% dari pelanggan menyatakan petugas  tidak ramah dalam 
menawarkan menu, dalam bidang jasa sekecil apapun k eluhan atau ketidakpuasan 
dari pelanggan akan mengakibatkan dampak yang buruk  bagi keberlangsungan 
perusahaan ini, maka dari itu dibuatlah standar pelayanan yang berguna untuk 
memperkecil kemungkinan akan adanya keluhan. 
 Sebagian besar pelanggan (55%) menyatakan tingkat keramahan petugas 
cukup tinggi dalam membantu pemilihan menu. Sebanyak 38% pelanggan 
menyatakan petugas counter  cukup baik dalam memberikan informasi mengenai 
menu, harga dan informasi lainya.  
Menurut Joko Suyono (2004:38) sebagai frontliners petugas restoran mutlak 
harus mengetahui produk makanan dan minuman yang dijual, baik mengenai bahan 
yang digunakan, cara memasak, lama waktu yang diper lukan untuk memasak, 
ukuran porsi ataupun cara penyajiannya. Biasanya ta mu memerlukan sedikit waktu 
untuk mempelajari menu sebelum memesan.  
 
95 
 
 
TABEL 4.14 
KETERKAITAN ANTARA JENIS KELAMIN DAN PENDAPATAN/UANG 
SAKUTERHADAP PROGRAM LAYANAN SEVEN ROMANCING MOMENTS 
 MELALUI MOBILE SERVICE 
Jenis 
kelamin Pendapatan/uang saku 
Mobile srvice 
Total 
Tidak tinggi Cukup 
tinggi Tinggi 
Pria 
< 1000.000 
1000.001 - 2000.000 
2000.001 - 3000.000 
3000.001 - 4000.000 
2 15 2 19 
2 18 2 22 
0 8 0 8 
0 2 0 2 
Total 4 43 4 51 
Wanita 
< 1000.000 
1000.001 - 2000.000 
2000.001 - 3000.000 
3000.001 - 4000.000 
1 13 3 17 
3 11 2 16 
3 9 0 12 
2 2 0 4 
Total 9 35 5 49 
 Sumber: Hasil pengolahan data 2008  
Tabel 4.14 menunjukkan bahwa sebagian besar pelangg an Hoka Hoka Bento 
Menilai pelaksanaan program layanan seven romancing moments melalui Mobile 
service cukup tinggi penilaian terbanyak dilakukan oleh pelanggan berjenis kelamin 
Pria dengan penghasilan Rp.1.000.000- Rp. 2.000.000 ,- sedangkan untuk yang 
berjenis kelamin wanita penilaian cukup tinggi diberikan oleh pelanggan yang 
memiliki penghasilan <Rp.1.000.000,-. Penilaian yan g terendah diberikan oleh 
wanita yang berpenghasilan Rp. 3.000.000-Rp.4.000.0 00,-. 
 Secara umum program ini dinilai cukup tinggi oleh pelanggan, program ini 
membantu pelanggan dalam mengetahui Flow of Service. Kriteria ini meliputi 
prosedur pelayanan dari mulai tamu datang sampai dengan meninggalkan restoran. 
pelanggan mengharapkan agar para petugas dalam memberikan pelayanan 
didasarkan pada alur yang jelas, sehingga setiap or ang akan menjalankan secara 
96 
 
 
seragam. Berdasarkan uraian di atas maka terlihat perlunya Standard Operating 
Procedure (SOP)  dalam suatu usaha jasa pelayanan seperti restoran 
4.2.3 Pembayaran di Kasir (Collect payment) 
Pembayaran di kasir (collect payment) merupakan kemampuan petugas saat 
menarik pembayaran tamu secara akurat dan cepat dengan sikap ramah, senyum 
hangat dan tulus. Pembayaran di kasir (collect payment)  menempatkan 5 indikator 
(teridiri dari 5 item pertanyaan), yang terdiri dari menghitung  jumlah pembelian, 
transaksi yang dilakukan petugas kasir, ketepatan uang kembali, memberikan bukti 
pembayaran, dan mengucapkan selamat makan. Tanggapa n pelanggan mengenai 
pembayaran di kasir disajikan dalam Tabel 4.15 berikut ini. 
TABEL 4.15 
TANGGAPAN PELANGGAN TERHADAP PROGRAM LAYANAN SEVEN 
ROMANCING MOMENTS MELALUI PEMBAYARAN DI KASIR  
(COLLECT PAYMENT) 
 
No 
 
Keterangan 
Sangat 
tinggi Tinggi Cukup 
tinggi 
Tidak 
tinggi 
Sangat  
tidak tinggi Jumlah 
f % f % f % f % f % Total Skor 
1 Menghitung  
jumlah pembelian  
48 48 49 49 3 3 0 0 0 0 100 345 
 
2 Transaksi yang 
dilakukan petugas 
kasir 
3 3 41 41 50 50 6 6 0 0 100 341 
 
3 Ketepatan uang 
kembali 0 0 15 15 64 64 20 20 1 1 100 293 
 
4 Memberikan bukti 
pembayaran 2 2 30 30 56 56 12 12 0 0 100 322 
 
5 Mengucapkan 
selamat makan 2 2 33 33 50 50 15 15 0 0 100 321 
 
Sumber: Hasil pengolahan data 2008  
Hasil dari pengolahan data menunjukan skor tertinggi yaitu 345 pada 
penghitungan jumlah pembelian, sebanyak 49% pelangg an menilai keakuratan 
petugas dalam menghitung jumlah pembelian cukup tinggi dan 48% lainnya 
97 
 
 
menyatakan sangat tinggi. Hal ini membuktikan bahwa petugas telah teliti dalam 
menghitung jumlah pembelian, jika petugas tidak sigap dan teliti dalam menghitung 
jumlah pembelian pelanggan ini akan berakibat tingginya angka kehilangan produk 
yang nantinya akan berdampak pada pencapaian target  dan pendapatan 
perusahaan.  
Kecepatan petugas dalam  melakukan transaksi dinilai pelanggan cukup 
tinggi yaitu dengan persentase 50%, sebanyak 6% lai nnya menyatakan petugas 
tidak cepat dalam melakukan transaksi, hal ini bisa terjadi karena banyaknya 
pesanan pelanggan sehingga dibutuhkan waktu yang le bih lama dalam melakukan 
penghitungan. 
Skor terendah yang diperoleh dari pengolahan data y aitu sebesar 293 dalam 
ketepatan uang kembali, sebanyak 20% pelanggan mera sa petugas tidak tepat 
dalam memberikan uang kembalian, bukti yang ada di lapangan menunjukan bahwa 
hal tersebut kadang terjadi dikarenakan sulitnya pihak perusahaan dalam 
mendapatkan uang kecil pecahan Rp. 500,- hal ini be rdampak pada ketidaktepatan 
atau kekurangan dalam memberikan uang kembali. Pelanggan yang memiliki 
pekerjaan sebagai pelajar/mahasiswa dengan frekuensi kunjungan 1 - 3 kali dalam 
sebulan menilai ketepatan uang kembali sangat diperlukan berapapun kecilnya 
selisih ketidaktepatan itu, karena pada dasarnya para pelajar belum memiliki 
penghasilan sendiri, sehinga kesalahan pada uang ke mbalian sangat besar 
pengaruhnya.  
Ketidak tepatan uang kembali tidak sering terjadi hal ini terbukti karena 64% 
pelanggan yang diantaranya berprofesi sebagai pegawai swasta (23 orang) dengan 
98 
 
 
frekuensi kunjungan 1-3 kali dalam sebulan menyatakan cukup puas dengan 
ketepatan uang kembali yang diberikan petugas. Lebih lengkapnya hasil pengolahan 
disajikan dalam Tabel 4.16  
TABEL 4.16 
KETERKAITAN ANTARA PEKERJAAN DAN FREKUENSI KUNJUNGAN 
TERHADAP PROGRAM LAYANAN SEVEN ROMANCING MOMENTS 
MELALUI PEMBAYARAN DI KASIR (COLLECT PAYMENT) 
Pekerjaan Frekwensi Kujungan 
Pembayaran di Kasir 
Total 
Tidak Tinggi Cukup Tinggi Tinggi 
PELAJAR/MAHASISWA  
1 kali 
2 kali 
3 kali 
lainnya 
6 5 2 13 
2 11 1 14 
4 4 0 8 
0 2 0 2 
Total 12 22 3 37 
Pegawai Negeri 
1 kali 
2 kali 
3 kali 
1 1 0 2 
0 3 1 4 
1 3 2 6 
Total 2 7 3 12 
Pegawai Swasta 
1 kali 
2 kali 
3 kali 
lainnya 
1 7 0 8 
1 7 2 10 
0 5 1 6 
1 4 0 5 
Total 3 23 3 29 
Wiraswasta 
1 kali 
2 kali 
3 kali 
lainnya 
2 1 0 3 
1 4 1 6 
0 5 4 9 
0 1 0 1 
Total 3 11 5 19 
Lainnya 
1 kali 1 2  3 
Total 1 2  3 
Sumber: Hasil pengolahan data 2008  
 Joko Suyono (2004:36) mengemukakan;  dalam bisnis restoran pelayanan 
dilakukan sebelum, selama tamu berada di restoran dan setelah meninggalkan 
99 
 
 
restoran, demikian seterusnya selama bisnis restoran tersebut masih berjalan, 
sehingga setiap proses yang ada didalamnya menjadi suatu kesinambungan. Tabel 
4.14 menunjukkan bahwa sebagian besar pelanggan Hok a Hoka Bento Menilai 
pelaksanaan program layanan seven romancing moments melalui pembayaran 
dikasir cukup tinggi, sebagian besar pelanggan dari berbagai jenis pekerjaan 
menyatakan progran ini cukup tinggi, penilaian terbesar diberikan oleh pelanggan 
yang memiliki pekerjaan sebagai pelajar yang frekwensi kunjunganya 2 kali dalam 
satu bulan, pelanggan yang hanya datang sekali dala m sebulan pun merasakan 
manfaat dari program ini. Pelanggan yang memiliki pekerjaan sebagai wiraswasta 
yang frekwensi kunjunganya 3 kali dalam sebulan menilai program ini sangat tinggi. 
Penilaian yang tidak tinggi datang dari pelajar/mahasiswa yang frekwensi 
kunjunganyan hanya sekali dalam sebulan. 
Interaksi antara penyedia jasa dan pelanggan merupa kan ciri khusus dalam 
pemasaran jasa. Keduanya mempengaruhi hasil ( outcome) dari jasa bersangkutan, 
dalam hubungan antara penyedia jasa dan pelanggan i ni, efektivitas individu yang 
menyampaikan jasa (contact-personel) merupakan unsur yang penting. Lovelock 
(2007:19) sebuah proses menjelasan metode dan urutan kerja dari sebuah sistem 
yang beroperasi. Proses yang desainnya buruk akan m engganggu pelanggan 
karena kelambatan, birokrasi dan penyampaian jasa y ang tidak efektif. 
4.2.4 Greeting customer di loby 
Greeting customer di loby merupakan kemampuan petugas dalam 
menyampaikan atau menerima informasi dari tamu yang dilakukan dengan penuh 
perhatian, antusias, senyum dan sopan. Greeting customer di loby menempatkan 4 
100 
 
 
indikator sebagai (teridiri dari 4 item pertanyaan), yang terdiri dari Petugas 
menawarkan bantuan, Petugas membantu tamu, Penangan an keluhan pelanggan, 
dan Mekanisme dan format keluhan pelanggan. Tanggapan pelanggan mengenai 
Greeting customer di loby disajikan dalam Tabel 4.17 berikut ini. 
TABEL 4.17 
TANGGAPAN PELANGGAN TERHADAP PROGRAM LAYANAN  
SEVEN ROMANCING MOMENTS MELALUI GREETING CUSTOMER DI LOBY 
 
No 
 
Keterangan 
Sangat 
Tinggi Tinggi Cukup 
tinggi 
Tidak 
Tinggi 
Sangat  
tidak 
tinggi 
Jumlah 
f % f % f % f % f % Total skor 
1 Petugas 
menawarkan 
bantuan  
8 8 33 33 50 50 9 9 0 0 100 340 
 
2 Petugas membantu 
tamu 9 9 39 39 46 46 5 5 0 0 100 351 
 
3 Penanganan 
keluhan pelanggan 7 7 49 49 40 40 4 4 0 0 100 359 
 
4 Mekanisme dan 
format keluhan 
pelanggan 
10 10 48 48 42 42 0 0 0 0 100 368 
 
Sumber: Hasil pengolahan data 2008  
Berdasarkan data di atas diketahui bahwa skor tertinggi diperoleh dari 
mekanisme dan format keluhan pelanggan yaitu sebesar 368, sebanyak 48% 
pelanggan menilai kemudahan penyampaian keluahan tinggi dan 10% lainya 
menyatakan sangat tinggi, hal ini terjadi karena Hoka Hoka Bento sangat terbuka 
terhadap berbagai masukan, kritik dan saran baik se cara langsung maupun melakui 
kartu saran yang tersedia. 
 Kemudahan dalam menyampaikan keluhan berakibat pad a cepatnya 
petugas menangapi keluhan tersebut 49% menilai kece patan petugas tinggi dalam 
menyelesaikan keluhan maupun permasalahan yang diha dapi pelanggan. Salah 
satu kemampuan yang harus dimiliki petugas restoran Menurut Martin (Joko 
101 
 
 
Suyono, 2004:54) yaitu handling complaint. Kemampuan dalam membantu 
memecahkan masalah seperti keluhan tamu terhadap pelayanan yang diberikan. 
Kesigapan petugas dalam membantu tamu dinilai cukup tinggi oleh 
pelanggan dengan persentase 46%, 9% dari total 100 pelanggan menyatakan 
sangat tinggi. Tabel 4.18 menunjukan bahwa walaupun pada hari dan jam 
kunjungan yang  ramai pelayanan tetap dilaksanakan semaksimal mungkin. Petugas 
selalu berupaya memenuhi keinginan dan kebutuhan pe langgan walaupun kondisi 
pelanggan sangat banyak. Pelanggan wanita yang data ng pada waktu makan siang 
pada hari kerja maupun hari libur tetap menilai petugas loby cukup tinggi dalam 
membantu tamu, misalnya pelanggan meminta perlengkapan makan, meminta 
tambahan mayones, meminta petugas menambahkan kursi bayi dan lainnya. 
TABEL 4.18 
KETERKAITAN ANTARA JENIS KELAMIN DAN WAKTU KUNJUNGAN 
PROGRAM LAYANAN SEVEN ROMANCING MOMENTS 
MELALUI GREETING CUSTOMER DI LOBY 
Jenis Kelamin Waktu Kujungan 
Greeting customer 
Total 
Tidak Tinggi Cukup Tinggi Tinggi 
Pria 
Senin-jumat 11.00-14.00 
Senin-jumat 15.00-21.00 
weekend 11.00-14.00 
weekend 15.00-21.00 
2 11 4 17 
0 3 1 4 
8 10 5 23 
2 5 0 7 
Total 12 29 10 51 
Wanita 
Senin-jumat 11.00-14.00 
Senin-jumat 15.00-21.00 
weekend 11.00-14.00 
weekend 15.00-21.00 
3 11 1 15 
0 6 1 7 
5 13 2 20 
3 1 3 7 
Total 11 31 7 49 
Sumber: Hasil pengolahan data 2008 
Skor terendah yaitu 340 dari petugas menawarkan ban tuan, setengah dari 
pelanggan menyatakan keramahan petugas cukup tinggi dalam menawarkan 
102 
 
 
bantuan dan 9% lainnya menyatakan keramahan petugas  rendah dalam 
menawarkan bantuan. Hal ini dinilai oleh pelanggan pria, sebanyak 12 orang 
pelanggan pria menilai tidak tinggi terhadap petugas dalam menawarkan bantuan. 
Petugas loby pada umumnya tidak membeda-bedakan baik pelanggan pria dan 
wanita akan tetapi pada umumnya yang lebih sering membutuhkan bantuan adalah 
pelanggan wanita, misalnya karena bawaannya terlalu  berat atau sedang 
mengendong bayi sehingga petugas berkewajiban menawarkan pertolongan. 
Tamu yang baru pertama kali datang ke restoran dapa t dikatakan masuk ke 
dalam lingkungan sosial baru. Untuk mengupayakan agar kebutuhan sosial tamu 
terpenuhi, petugas restoran harus menciptakan suasana yang memberi  kesan tidak 
asing ditempat tersebut. Kemampuan lain yang harus dimiliki oleh petugas restoran 
yaitu anticipation, istilah antisipasi digambarkan sebagai kemampuan petugas 
memenuhi keinginan tamu, sebelum tamu itu sendiri memintanya. Seperti misalnya 
mengganti asbak yang telah dipergunakan. accomodation, kemampuan petugas 
dalam menampung dan memenuhi keinginan tamu, seperti misalnya tamu meminta 
tambahan es.  
4.2.5 Menawarkan dan Mengantarkan menu 
Menawarkan dan mengantarkan menu merupakan  upaya untuk 
mengembangkan pesanan tamu dengan cara menawarkan makanan atau minuman 
lain sebagai pelangkap. Menawarkan dan mengantarkan menu menempatkan 3 
indikator (teridiri dari 3 item pertanyaan), yang terdiri dari menawarkan menu 
pelengkap.  Memahami kebutuhan dan keinginan pelanggan dan mengantarkan 
103 
 
 
pesanan sesuai dengan waktu yang dijanjikan. Tangga pan pelanggan mengenai 
Menawarkan dan mengantarkan menu disajikan dalam Tabel 4.19 berikut ini. 
TABEL 4.19 
TANGGAPAN PELANGGAN TERHADAP PROGRAM LAYANAN 
SEVEN ROMANCING MOMENTS MELALUI  MENAWARKAN DAN 
MENGANTARKAN MENU 
 
No 
 
Keterangan 
Sangat 
Tinggi Tinggi Cukup 
tinggi 
Tidak 
Tinggi 
Sangat  
tidak 
tinggi 
Jumlah 
f % f % f % f % f % Total skor 
1 Menawarkan 
menu pelengkap  10 10 36 36 44 44 10 10 0 0 100 346 
 
2 Memahami 
kebutuhan dan 
keinginan 
pelanggan 
7 7 52 52 40 40 1 1 0 0 100 365 
 
3 Mengantarkan 
pesanan sesuai 
dengan waktu 
yang dijanjikan 
7 7 39 39 45 45 9 9 0 0 100 344 
 
Sumber: Hasil pengolahan data 2008 
Tabel 4.19 menyatakan skor tertinggi diperoleh dari memahami kebutuhan 
dan keinginan pelanggan dengan total skor 365. Lebih dari setengah pelanggan 
(52%) menyatakan pemahaman petugas dalam memahami kebutuhan dan 
keinginan pelanggan tinggi dan 40% menyatakan cukup  tinggi. Pelanggan yang baru 
pertama kali datang biasanya bingung akan pilihan menu yang ada, petugas akan 
senang dalam membantu pelanggan dengan menawarkan beberapa pilihan menu, 
mengetahui keinginan pelanggan seperti apa, ada beb erapa pelanggan yang alergi 
seafood dan petugas membantu pelanggan dengan menawarkan produk dengan 
bahan dasar ayam atau daging sapi. Hal ini dikuatkan dengan data yang ada pada 
Tabel 4.20 berikut.  
 
 
104 
 
 
 
TABEL 4.20 
KETERKAITAN ANTARA JENIS KELAMIN DAN FREKUENSI KUNJUNGAN 
TERHADAP PROGRAM LAYANAN SEVEN ROMANCING MOMENTS MELALUI 
MELALUI  MENAWARKAN DAN MENGANTARKAN MENU 
Jenis Kelamin Frekuensi  
Kunjungan 
Menawarkan dan  
mengantarkan menu Total 
Tidak tinggi Cukup tinggi Tinggi 
Pria 
1kali 
2kali 
3kali 
lainya 
3 14 4 21 
5 4 3 12 
3 10 1 14 
1 3 0 4 
Total 12 28 8 51 
Wanita 
1kali 
2kali 
3kali 
lainya 
1 8 1 10 
6 14 2 22 
3 7 3 13 
0 3 1 4 
Total 10 32 7 49 
Sumber: Hasil pengolahan data 2008  
 rata-rata pelanggan pria dan wanita yang baru data ng atau melakukan 
kunjungan hanya 1 kali dalam sebulan menilai petugas dengan cukup tinggi dalam 
memahami kebutuhan dan keinginan pelanggan. Perhatian itulah yang membuat 
petugas memahami kebutuhan pelanggan. Menurut Lewis & Booms,1983 (Fandy 
Tjiptono, 2005:121) kualitas jasa bisa diwujudkan melalui pemenuhan kebutuhan 
dan keinginan pelanggan serta ketepatan penyampaian nya untuk mengimbangi 
harapan pelanggan.  
Sebanyak 44% dari pelanggan menilai petugas cukup b aik dalam 
menawarkan menu pelengkap atau tambahan, sebanyak 1 0% pelanggan 
menyatakan petugas tidak baik dalam menawarkan menu tambahan. Hal ini dapat 
105 
 
 
terjadi dalam kondisi yang ramai khususnya pada waktu week end atau jam makan 
siang/malam.  
Skor terkecil adalah dalam mengantarkan pesanan sesuai dengan waktu 
yang dijanjikan 45% menyatakan petugas cukup tepat dalam mengantarkan 
makanan dan 39% lainnya menyatakan ketepatan petuga s tinggi, sedangkan 9% 
menyatakan ketepatan petugas tidak tinggi. Beberapa jenis produk Hoka Hoka 
Bento mengunakan system by order, produk akan dimasak jika dipesan terlebih 
dahulu. petugas menjanjikan waktu pengantaran 5 menit akan tetapi dalam waktu 10 
menit pesanan baru di antarkan, hal ini mengakibatkan kekecewaan bagi sebagian 
pelanggan karena apa yang telah dijanjikan tidak se suai dengan kenyataan.  
Kriteria timelines menyangkut masalah waktu yang dipergunakan untuk 
memberikan pelayanan, seperti berapa lama tamu haru s menunggu untuk 
mendapatkan segelas Orange Juice, Coffee . Jika ternyata petugas dalam 
melaksanakan pekerjaannya tidak sesuai dengan waktu yang ditentukan, dapat 
diartikan ia lambat dalam memberikan pelayanan. Pentingnya pelayanan yang baik, 
cepat, ramah, teliti, dan akurat dapat menciptakan kepuasan dan kesetiaan 
pelanggan terhadap perusahaan yang akhirnya akan me ningkatkan nama baik 
perusahaan dikemukakan oleh Ratih Hurriyati (2005:6 3) 
4.2.6 Take Away 
Take away Layanan pemesanan untuk dibawa pulang atau take order,  
menempatkan 3 indikator (teridiri dari 3 item pertanyaan), yang terdiri dari Ketepatan 
petugas menuliskan pesanan take away, menyiapkan pesanan take away, dan 
106 
 
 
kerapihan dan kualitas menu dalam box. Tanggapan pe langgan mengenai Take 
away disajikan dalam Tabel 4.21 berikut ini. 
TABEL 4.21 
TANGGAPAN PELANGGAN TERHADAP PROGRAM LAYANAN 
SEVEN ROMANCING MOMENTS MELALUI  TAKE AWAY 
 
No 
 
Keterangan 
Sangat 
Tinggi Tinggi Cukup 
tinggi 
Tidak 
Tinggi 
Sangat  
tidak 
tinggi 
Jumlah 
f % f % f % f % f % Total skor 
1 Ketepatan petugas 
menuliskan 
pesanan take 
away 
11 11 30 30 49 49 10 10 0 0 100 342 
2 Menyiapkan 
pesanan take 
away 
20 20 41 41 32 32 7 7 0 0 100 374 
3 Kerapihan dan 
kualitas menu 
dalam box 
13 13 41 41 39 39 7 7 0 0 100 360 
Sumber: Hasil pengolahan data 2008  
 Tabel 4.21 menunjukan bahwa skor tertinggi diperoleh dalam menyiapkan 
pesanan take away dengan skor 374. Sebanyak 41% pelanggan menyatakan  
kecepatan petugas dalam menyiapkan pesanan tinggi dan 20% pelanggan 
menyatakan kecepatan petugas dalam menyiapkan pesanan sangat tinggi, 
sebanyak 32% pelanggan menyatakan kecepatan petugas  dalam menyiapkan 
pesanan cukup tinggi dan sebanyak 7% menyatakan pet ugas lambat dalam 
menyiapkan pesanan. Kecepatan petugas dalam menyiap kan pesanan take away 
sangat dipengaruhi oleh banyaknya pesanan dari pela nggan, semakin banyak 
pesanan maka semakin lama waktu yang dibutuhkan untuk menyiapkan pesanan 
take away, ini terjadi karena keterbatasan jumlah petugas ya ng menangani pesanan 
take away. 
Tabel 4.22 menunjukan bahwa pelanggan wanita dan pr ia dengan jumlah 
pembelian yang relative rendah yaitu Rp.50.000-Rp.1 00.000,- menyatakan 
107 
 
 
kecepatan petugas dalam melayani pesanan take away dinilai cukup tinggi. 
Pelanggan pria dan wanita yang jumlah pembelianya t inggi > Rp.200.000,- menilai 
pelaksanaan take away di Hoka Hoka Bento tinggi. Ini berarti baik pelanggan yang 
jumlah pesananya sedikit maupun banyak merasa petugas cukup cepat dalam 
melayani pesanan take away. 
TABEL 4.22 
KETERKAITAN ANTARA JENIS KELAMIN DAN JUMLAH PEMBELIAN 
TERHADAP PROGRAM LAYANAN SEVEN ROMANCING MOMENTS 
MELALUI MELALUI  TAKE AWAY 
Jenis 
Kelamin Jumlah Pembelian 
Take Away 
Total 
Tidak Tinggi Cukup Tinggi Tinggi 
Pria 
< Rp. 50.000 
Rp 50.000-100.000 
Rp 100.000-200.000 
> Rp 200.000 
5 9 12 26 
4 13 3 20 
3 1 0 4 
0 0 1 1 
Total 12 23 16 51 
Wanita 
< Rp 50.000 
Rp 50.000-100.000 
Rp 100.000-200.000 
> Rp 200.000 
4 10 5 19 
4 7 14 25 
2 0 2 4 
0 0 1 1 
Total 10 17 22 49 
Sumber: Hasil pengolahan data 2008 
Hoka Hoka Bento menerapkan prinsip BERCERAH (bersih , cepat, rapih dan 
ramah) dalam kegiatan operasionalnya, prinsip ini menjadi patokan bagi petugas 
dalam memberikan pelayanan, sehingga penyajian pesa nan take away dapat 
disajikan tepat sesuai dengan  waktu yang dijanjikan. Kerapihan dan kualitas menu 
dalam box menjadi faktor penting lainya dalam menyiapkan pesanan take away, 
pelanggan menilai kerapihan dan kualitas menu dalam box tinggi yaitu dengan 41%, 
39% menyatakan cukup tinggi dan 7% menyatakan tidak  tinggi. Hal ini biasanya 
terjadi karena jika dalam waktu yang cukup lama menu dibiarkan dalam box kondisi 
108 
 
 
menu tidak akan sebagus biasanya, tekstur yang lemb ut dan tidak panas 
menyebabkan citarasa dari produk itu berkurang.  
Skor terendah diperoleh dari ketepatan menuliskan pesanan 10% dari 
pelanggan menyatakan ketepatan petugas dalam menulis pesanan tidak tinggi. 
Pelanggan yang jumlah pembelianya rendah yaitu Rp.5 0.000-Rp.100.000,- dan 
Pelanggan yang jumlah pembelianya tinggi > Rp.200.0 00,- memiliki kemungkinan 
yang sama, petugas bisa melakukan kesalahan dalam m enuliskan jenis pesanan 
atau jumlah pesanan.  
Paling penting diperhatikan adalah communication kemampuan dalam 
menyampaikan atau menerima informasi dari pelanggan ataupun teman sekerja. 
Menurut Yazid (2005:161) pada berbagai situasi, konsumen sering harus hadir di 
tempat jasa diproses, berinteraksi dengan karyawan dan dengan konsumen lain 
untuk memproduksi hasil akhir suatu jasa. Konsekuensinya adalah partisipasi dan 
interaksi dengan konsumen lain dapat mempengaruhi apakah jasa yang 
disampaikan sesuai dengan yang diinginkan konsumen. 
4.2.7 Arigato Gozaimatsu 
Arigato gozaimatsu, mengucapkan terima kasih kepada tamu dan selalu 
berupaya untuk menyempurnakan  pelayanan. Arigato gozaimatsu menempatkan 3 
indikator (teridiri dari 3 item pertanyaan), yang terdiri dari petugas greeter 
mengucapkan terimakasih, Petugas counter mengucapkan terimakasih, Petugas 
loby mengucapkan terimakasih. Tanggapan pelanggan mengenai Arigato 
gozaimatsu disajikan dalam Tabel 4.23 berikut ini. 
 
109 
 
 
TABEL 4.23 
TANGGAPAN PELANGGAN TERHADAP PROGRAM LAYANAN 
SEVEN ROMANCING MOMENTS MELALUI ARIGATO GOZAIMATSU 
 
No 
 
Keterangan 
Sangat 
Tinggi Tinggi Cukup 
tinggi 
Tidak 
Tinggi 
Sangat  
tidak 
tinggi 
Jumlah 
f % F % F % f % F % Total skor 
1 Petugas greeter 
mengucapkan 
terimakasih  
9 9 50 50 36 36 5 5 0 0 100 363 
 
2 Petugas counter 
mengucapkan 
terimakasih 
10 10 44 44 40 40 6 6 0 0 100 358 
 
3 Petugas loby 
mengucapkan 
terimakasih 
8 8 45 45 42 42 5 5 0 0 100 356 
Sumber: Hasil pengolahan data 2008  
Tabel 4.23 menunjukan bahwa sebagian besar pelangga n menyatakan 
petugas greeter lebih ramah dalam mengucapkan terima kasih kepada pelanggan 
dengan skor 363, persentase tertinggi yaitu 50% men yatakan keramahan petugas 
greeter  tinggi, sebesar 36% menyatakan keramahan petugas greeter  cukup tinggi. 
Sebanyak 9% menyatakan keramahan petugas greeter  sangat tinggi. 
Ketidakpuasan akan keramahan petugas paling tinggi yaitu 5% pada petugas 
counter. Merupakan keharusan dalam bisnis restoran untuk selalu mengucapkan 
terima kasih kepada tamu yang telah berkunjung.  
Ucapan terima kasih harus disampaikan secara tulus, karena bisnis restoran 
tidak akan ada artinya tanpa kehadiran tamu. Customers feedback dengan selalu 
berupaya untuk menyempurnakan pelayanan berdasarkan  hasil penilaian tamu, 
seperti  misalnya menanyakan kepada tamu mengenai makanan yang dihidangkan, 
apakah tamu menikmati makanannya.selain itu untuk menjaga kualitas palayanan 
harus ada supervision atau pengawasan dari pihak atasan selama kegiatan di 
restoran. 
110 
 
 
TABEL 4.24 
KETERKAITAN ANTARA JENIS KELAMIN DAN USIA 
TERHADAP PROGRAM LAYANAN SEVEN ROMANCING MOMENTS 
MELALUI MELALUI  ARIGATO GOZAIMATSU 
Pendidikan 
Terakhir Frekwensi 
Arigato Gozaimatsu 
Total 
Tidak Tinggi Cukup Tinggi Tinggi 
SMP/SMA 
1kali 
2kali 
3kali 
0 8 4 12 
2 12 1 15 
2 9 1 12 
Total 4 29 6 39 
Diploma 
1kali 
2kali 
3kali 
lainnya 
1 7 1 9 
0 5 2 7 
0 5 2 7 
0 2 0 2 
Total 1 19 5 25 
Sarjana 
1kali 
2kali 
3kali 
lainnya 
3 3 3 9 
4 6 2 12 
1 4 0 5 
0 2 3 5 
Total 8 15 8 31 
Pascasarjana 
1kali 
3kali 
lainnya 
0  1 1 
1  2 3 
0  1 1 
Total 1  4 5 
Sumber: Hasil pengolahan data 2008 
Berdasarkan data di atas diperoleh hasil bahwa pelanggan dengan 
pendidikan terakhir SMA, Diploma, dan Sarjana baik yang sekali dalam sebulan 
maupun lebih merasa tingkat keramahan petugas cukup baik dalam menyampaikan 
ucapan terimakasih. Hal ini menjadi pertimbangan yang penting bagi perusahaan 
untuk menciptakan pelayanan yang baik agar pelangga n dapat kembali lagi untuk 
melakukan pembelian ulang. 
Hoka Hoka Bento menghormati pelanggan yang datang, manajer atau staf 
lain turut menyapa dan berterima kasih, interaksi ini lah yang menciptakan 
111 
 
 
customers feedback. Selalu berupaya untuk menyempurnakan pelayanan 
berdasarkan hasil penilaian tamu, seperti  misalnya menanyakan kepada tamu 
mengenai makanan yang dihidangkan, apakah tamu meni kmati makanannya. 
TABEL 4.25 
KETERKAITAN ANTARA JENIS KELAMIN DAN PEKERJAAN 
TERHADAP PROGRAM LAYANAN SEVEN ROMANCING MOMENTS 
Jenis Kelamin Pekerjaan 
Program Layanan Seven Romancing Moments 
Total 
Tidak Tinggi Cukup  Tinggi Tinggi 
Pria 
SMP/SMA 
Diploma 
Sarjana 
Pascasarjana 
0 9 10 19 
1 2 9 12 
1 8 8 18 
0 1 1 2 
Total 2 20 29 51 
Wanita 
SMP/SMA 
Diploma 
Sarjana 
Pascasarjana 
0 11 9 20 
1 4 8 13 
0 10 3 13 
0 1 2 3 
Total 1 26 22 49 
Sumber: Hasil pengolahan data 2008 
Tabel 4.25 menunjukkan bahwa sebagian besar pelangg an pria (29 orang) 
menilai program layanan seven romancing moments  dengan tinggi, pelanggan pria 
dengan pendidikan terakhir SMP/SMA hingga pascasarjana mempunyai penilaian 
yang sama. Sedangkan pelanggan wanita (26 orang) me nilai program layanan 
seven romancing moments cukup tinggi, dan 22 diantaranya menyatakan program 
ini tinggi. Program layanan seven romancing moments merupakan suatu rangkaian 
proses dalam penyampaian jasa di Hoka Hoka Bento, p roses ini merupakan faktor 
utama di dalam bauran pemasaran jasa, karena para p elanggan akan sering 
mempersepsikan sistem penyampaian jasa sebagai bagian dari jasa itu sendiri. 
 
112 
 
 
4.2.8 Rekapitulasi Tanggapan Pelanggan Tentang Program Layanan Seven 
Romancing Moments 
Berdasarkan hasil pengumpulan data, diperoleh rekap itulasi tanggapan 
pelanggan terhadap program layanan seven romancing moments sebagai berikut:   
TABEL 4.26 
REKAPITULASI TANGGAPAN PELANGGAN TENTANG PROGRAM LAYANAN 
SEVEN ROMANCING MOMENTS 
 
Sumber: Hasil pengolahan data 2008 
Tabel 4.26 menunjukan bahwa dimensi yang memperoleh skor tertinggi 
adalah Mobile service dengan perolehan skor sebesar 360 atau 14,7%. Mobile Service 
merupakan pelayanan penuh dan berkesinambungan yang  dilakukan petugas 
counter  dengan sikap ramah, senyum hangat dan antusias sa at melayani tamu, 
proses ini menjadi bagian yang sangat penting karena merupakan inti dari kegiatan 
pelayanan yang diberikan Hoka Hoka Bento dari mulai  pelanggan memesan 
makanan hingga petugas menyajikan pesanan. Tanggapa n pelanggan yang 
terendah adalah pada dimensi pembayaran di kasir de ngan skor 324 atau 13,2% 
 
 
No Dimensi Perolehan Skor % 
1 Irasshaimase 349 14,2 
2 Mobile service 360 14,7 
3 Pembayaran di kasir 324 13,2 
4 Greeting customer di loby 355 14,4 
5 Menawarkan dan mengantarkan menu 351 14,3 
6 Take away  358 14,6 
7 Arigato gozaimatsu 359 14,6 
Total skor 2456 100 
113 
 
 
4.3 Pembelian Ulang 
Salah satu upaya mempertahankan palanggan yang tela h ada dengan menarik 
pelanggan melakukan pembelian ulang (Kotler&Keller 2009:57). Tangapan 
pelanggan mengenai pembelian ulang disajikan dalam Tabel 4.27 
TABEL 4.27 
TANGGAPAN PELANGGAN TERHADAP PEMBELIAN ULANG 
Keterangan  
Sangat 
puas Puas  Cukup 
puas 
Tidak 
puas  
Sangat tidak 
puas Total 
f % f % f % f % f % % Skor 
Kepuasan pada kualitas 
menu 7 7 28 28 58 58 7 7 0 0 100 335 
Kepuasan pada pelayanan 
petugas greteer 5 5 42 42 47 47 6 6 0 0 100 346 
Kepuasan pada pelayanan 
petugas counter 23 23 58 58 16 16 3 3 0 0 100 401 
Kepuasan pada pelayanan 
petugas kasir 13 13 41 41 42 42 4 4 0 0 100 363 
Kepuasan pada pelayanan 
petugas loby 
4 4 49 49 37 37 10 10 0 0 100 347 
Kepuasan pada fasilitas 
yang diberikan 11 11 44 44 45 45 0 0 0 0 100 366 
 
Selalu  
(>3 kali) 
Sering  
(3 kali) 
Kadang-
kadang 
(2 kali) 
Jarang 
(1 kali) 
Tidak 
pernah Total 
f % f % f % f % f % % Skor 
Melakukan pembelian di 
Hoka Hoka Bento dalam 
satu bulan 
7 7 40 40 44 44 9 9 0 0 100 345 
 
 
Sangat banyak 
(>100.000) 
Banyak 
(50.000-
100.000) 
Cukup 
banyak 
(30.000-
50.000) 
Sedikit 
(10.000-
30.000) 
Sangat 
sedikit 
(<10.000) 
Total 
f % f % f % f % f % % Skor 
Jumlah pembelian dalam 
satu kali transaksi 7 7 46 46 46 46 1 1 0 0 100 359 
 
Sangat tinggi Tinggi Cukup 
tinggi 
Tidak 
tinggi 
Sangat 
Tidak tinggi Total 
f % f % f % f % f % % Skor 
Keinginan untuk kembali 
ke Hoka Hoka Bento 
7 7 41 41 50 50 2 2 0 0 100 353 
 
Sangat 
seringi Seringi Cukup 
seringi Kadang Tidak 
pernah Total 
f % f % f % f % f % % Skor 
Menceritakan hal-hal yang 
positif tentang restoran 
Hoka Hoka Bento 
6 6 30 30 46 46 18 18 0 0 100 324 
Merekomendasikan Hoka 
Hoka Bento kepada orang 
lain 
2 2 34 34 63 63 1 1 0 0 100 337 
Sumber: Hasil pengolahan data 2008 
114 
 
 
Berdasarkan Tabel 4.27 skor tertinggi 401 yaitu kepuasan pada pelayanan 
petugas counter. Pelanggan menilai 58% puas terhadap pelayanan yang diberikan  
petugas counter, alur pelayanan yang utama di Hoka Hoka Bento terle tak pada saat 
pelanggan memesan makanan hingga membayar di kasir,  dalam proses ini petugas 
counter memiliki peran yang sangat besar untuk kepuasan pe langgan. Adanya 
standar pengucapan dan pelayanan membuat kemungkinan adanya komplain 
menjadi rendah,  Martin (Joko Suyono, 2004:54) mengatakan bahwa kualitas 
pelayanan selalu merupakan fungsi dari faktor kelancaran (procedural dimension) 
keramahtamahan petugas terhadap konsumen (conviviality dimension). Jadi  untuk 
menciptakan kepuasan bagi pelanggan tidak cukup hanya faktor kelancaran saja 
akan tetapi dibutuhkan keramahtamahan petugas.  
Konsumen yang merasa puas terhadap produk atau mere k yang dikonsumsi 
atau dipakai akan membeli ulang produk tersebut. Skor terendah dalam indikator 
kepuasan adalah 335 yaitu kepuasan terhadap kualita s menu yang dihidangkan, 
58% pelanggan menyatakan cukup puas akan menu yang disajikan 7% lainya 
menyatakan ketidakpuasan terhadap menu yang disajikan. 
 Standar mutu produk sangat diperhatikan karena mempengaruhi kualitas dari 
produk itu sendiri, setiap petugas harus mampu menangani produk Hoka Hoka 
Bento dengan benar, diantaranya produk yang diserah kan oleh cook untuk display, 
harus dikontrol kesesuaian mutunya oleh petugas sebelum didisplay, produk boleh  
display bila suhu didisplay telah mencapai suhu yang ditetapkan. Produk display 
yang melewati holding time yang telah ditentukan, harus di waste, untuk menjamin 
115 
 
 
mutu produk yang didispay, tidak boleh menyampur produk baru dengan produk 
yang lama. Kotler dan Armstrong (2008:34) menyatakan bahwa 
Jika pelanggan merasa puas terhadap kinerja produk maka mereka akan 
melakukan pembelian ulang dengan melakukan pemanfaatan produk 
berulang-ulang, bahkan lebih jauh lagi, mereka akan  melakukan promosi dari 
mulut ke mulut kepada orang lain. Maka setiap perusahaan harus mempunyai 
keunggulan dalam bersaing.  
Pelanggan rata-rata datang ke Hoka Hoka Bento 2 kal i dalam sebulan 
(kadang-kadang) yaitu sebesar 44% dan 40% menyataka n sering datang ke Hoka 
Hoka Bento 3 kali dalam sebulan, sebanyak 7% lainny a menyatakan selalu datang 
Hoka Hoka Bento dengan frekuensi kunjungan lebih da ri 3 kali (sering). Jumlah 
pembelian pelanggan dalam satu kali transaksi berkisar antara Rp.30.000-Rp.50.000 
dan Rp. 50.000- Rp. 100.000 memiliki kesamaan jumla h persentase yaitu 46%, 
sebesar 7% menyatakan sangat banyak atau lebih dari  Rp. 100.000 dan 1% 
menyatakan hanya berkisar antara Rp.10.000-Rp.30.00 0. 
Berdasarkan hasil di atas diketahui bahwa setengah (50%) dari total 100 
pelanggan mempunyai keinginan yang cukup tinggi untuk kembali ke Hoka Hoka 
Bento. Pelanggan yang memiliki keinginan cukup tinggi untuk melakukan pembelian 
ulang adalah pelanggan yang memiliki pekerjaan seba gai pelajar/mahasiswa 
dengan rentang usia 17-23 tahun dan pelanggan yang memiliki pekerjaan sebagai 
pegawai swasta dengan rentang usia 24-30. Penilaian  yang cukup rendah dalam 
melakukan pembelian ulang yaitu pada pelanggan yang  memiliki pekerjaan sebagai 
pegawai negeri yang berusia 31-36 tahun. Tabel 4.28  menjelaskan hasil keterkaitan 
antara pekerjaan dan usia terhadap pembelian ulang.   
 
 
116 
 
 
TABEL 4.28 
KETERKAITAN ANTARA PEKERJAAN DAN USIA TERHADAP  
PEMBELIAN ULANG 
Pekerjaan Usia 
Pembelian Ulang 
Total 
Tidak Tinggi Cukup Tinggi Tinggi 
Pelajar/Mahasiswa 17 - 23 
24 -30 
31 - 36 
9 19 5 33 
0 1 1 2 
0 0 2 2 
Total 9 20 8 37 
Pegawai Negeri 24 -30 
31 - 36 
37 - 42 
1 1 0 2 
5 2 1 8 
0 2 0 2 
Total 6 5 1 12 
Pegawai Swasta 17 - 23 
24 -30 
31 - 36 
37 - 42 
0 5 0 5 
4 14 3 21 
0 0 1 1 
1 1 0 2 
Total 5 20 4 29 
Wiraswasta 17 - 23 
24 -30 
31 - 36 
37 - 42 
43 - 48 
1 1 0 2 
1 7 3 11 
1 1 0 2 
0 3 0 3 
0 1 0 1 
Total 3 13 3 19 
lainnya 17 - 23 
24 -30 
37 - 42 
1 0  1 
0 1  1 
1 0  1 
Total 2 1  3 
Sumber: Hasil pengolahan data 2008 
Sebesar 46% pelanggan menyatakan cukup sering mence ritakan hal-hal 
yang positif tentang Hoka Hoka Bento, 30% lainnya m enyatakan sering 
menceritakan hal-hal yang positif tentang Hoka Hoka Bento. Lebih dari setengah 
pelanggan (63%) menyatakan cukup sering merekomenda sikan Hoka Hoka Bento 
kepada orang lain dan 34% menyatakan sering merekom endasikan Hoka Hoka 
Bento kepada orang lain. 
117 
 
 
 Memiliki konsumen yang loyal adalah sesuatu hal yang sangat berharga 
bagi suatu perusahaan, Zeithaml dan Bither (2006:21 0) menyatakan bahwa 
karakteristik loyalitas pelanggan yang didasarkan pada dimensi perilaku dan sikap 
salah satunya adalah; Menceritakan hal-hal positif tentang perusahaan kepada 
orang lain dan Refers other (merekomendasikan kepada orang lain). 
4.4  Pengaruh Kinerja Kualitas Pelayanan Melalui Seven Romancing Moments 
terhadap  Pembelian Ulang  
 Pengujian hipotesis dilakukan untuk menguji besarnya pengaruh program 
layanan seven romancing moments (X) yang terdiri dari Irasshaimase (X1), mobile 
service (X2), pembayaran di kasir (X3), greeting customer di loby (X4), menawarkan 
dan mengantarkan menu (X5), take away (X6), arigato gozaimatsu (X7) dan 
pembelian ulang. Hasil korelasi antara program layanan seven romancing moments  
dan pembelian ulang disajikan dalam Tabel 4.29. 
TABEL 4.29 
MATRIK KORELASI ANTARA DIMENSI PROGRAM LAYANAN SEVEN 
ROMANCING MOMENTS DENGAN PEMBELIAN ULANG 
 Pembelian 
ulang 
(Y) 
Irasshaimase 
X1 
mobile 
service 
X2 
pembayaran 
di kasir  
X3 
greeting 
customer di loby 
 X4 
menawarkan dan 
mengantarkan menu 
X5 
take away 
 X6 
arigato 
gozaimatsu 
X7 
Pembelian ulang(Y) 1.000 .058 .532 .203 .449 .518 .090 .333 
Irasshaimase (X1) .058 1.000 .326 .328 .296 .103 .108 .062 
mobile service (X2) .532 .326 1.000 .269 .313 .361 .119 .165 
pembayaran di kasir( X3) .203 .328 .269 1.000 .050 .070 .046 .126 
greeting customer di loby ( X4) .449 .296 .313 .050 1.000 .452 .128 .209 
menawarkan dan 
mengantarkan menu (X5) 
.518 .103 .361 .070 .452 1.000 .030 .117 
take away (X6) .090 .108 .119 .046 .128 .030 1.000 .019 
arigato gozaimatsu ( 
X7) 
.333 .062 .165 .126 .209 .117 .019 1.000 
Sumber: Hasil pengolahan data 2008 
118 
 
 
 Berdasarkan hasil matrik korelasi dimensi-dimensi antara program layanan 
seven romancing moments terhadap pembelian ulang diperoleh hasil korelasi secara 
berurutan yaitu 1) Mobile service (0,532) 2) Menawarkan dan mengantarkan menu 
(0,518) 3) Greeting customer di loby (0,449) 4) Arigato gozaimatsu (0,333) 5) 
Pembayaran di kasir (0,203) 6) Take Away (0,090) dan 7) Irasshaimase (0,058).  
 Mobile service memperoleh korelasi terbesar hal ini terjadi karena mobile 
service merupakan inti dari kegiatan pelayanan yang ada di  Hoka Hoka Bento. 
Kegiatan pelanggan memilih dan memesan makanan serta pelayanan petugas saat 
menawarkan dan menyajikan makanan merupakan suatu kesatuan yang 
mempengaruhi penilaian pelanggan dalam melakukan pembelian ulang.  
Sedangkan yang memiliki nilai korelasi terendah yai tu Irasshaimase (0,058), 
kegiatan ini mencakup menyambut tamu oleh petugas serta kemenarikan dan 
kerapihan pakaian petugas. Secara lengkap pengaruh masing-masing dimensi 
program layanan seven romancing moments terhadap pembelian ulang disajikan 
dalam Gambar 4.3 sebagai berikut: 

   
   
GAMBAR 4.3 
DIAGRAM JALUR PENGUJIAN HIPOTESIS 
Berdasarkan hasil korelasi selanjutnya akan dilakukan uji F untuk 
mengetahui hasil hipotesis. Besarnya nilai korelasi di atas dibuktikan dengan 
penolakan Ho yang dilakukan dengan uji F tingkat si gnifikan (sig) sama dengan 
0,000. atau lebih kecil dari 0,05.  
Berdasarkan diagram jalur pengujian hipotesis pada Gambar 4.3 maka 
dilakukan perhitungan untuk mengetahui pengaruh langsung dan tidak langsung 
antara dimensi-dimensi yang disajikan dalam Table 4.30 
 
0.191 
0.154 
0.288 
0.253 
0.182 
0.360 
0.218 
Irasshaimase 
(X1) 
Arigato 
gozaimatsu 
(X7) 
Take away    
(X6) 
Menawarkan dan 
mengantarkan 
menu 
(X5) 
Greeting 
customer di 
loby 
(X4) 
Pembayaran 
di kasir  
(X3) 
Mobile 
service 
(X2) 
PEMBELIAN 
ULANG 
 
0,326 
0,050 
0,328 
0,296 
0,103 
0,108 
0,062 
0,313 
0,361 
0,119 
0,165 
0,269 
0,452 
0,030 
0,019 
0,070 
0,128 
0,117 
0,046 
0,209 
0,126 
120 
 
 
 
TABEL 4.30 
HASIL PENGUJIAN KOEFISIEN JALUR PENGARUH LANGSUNG DAN  
TIDAK LANGSUNG DARI PROGRAM LAYANAN SEVEN ROMANCING 
MOMENTS TERHADAP PEMBELIAN ULANG PADA HOKA HOKA BENTO 
CABANG SETIABUDI BANDUNG 
Sumber: Hasil pengolahan data 2008 
Hasil pengujian koefisien jalur menunjukan bahwa semua dimensi pada  
program layanan seven romancing moments memiliki nilai signifikan yang lebih kecil 
dari 0,05. Hal ini berarti hipotesis yang diajukan “tidak terdapat pengaruh yang positif 
antara program layanan seven romancing moments terhadap pembelian ulang pada 
restoran Hoka Hoka Bento cabang Setiabudi Bandung” ditolak. 
Besarnya pengaruh langsung pada pembelian ulang, me nunjukan mobile 
service memiliki pengaruh yang lebih tinggi dibandingkan dengan dimensi-dimensi 
lain yaitu sebesar 13%. Sedangkan pengaruh tidak la ngsung antara mobile service 
dan greeting customer di loby sebesar 11,3%, dan pengaruh tidak langsung antara 
mobile service dan menawarkan dan mengantarkan menu sebesar 3,8%. Total 
pengaruh mobile service secara langsung dan tidak langsung sebesar 21,9%.  
Pengaruh 
Langsung 
Terhadap 
Pengaruh Tidak Langsung Total 
Pengaruh 
t tabel 
1,988 Sign 
Keputusan 
X1 X2 X3 X4 X5 X6 X7 t hitung Alpha 
0,05 
X1 0,048 _ 0,026 0,013 0,016 0,007 0,036 0,024 0,122 2,746 0,007 Ho Ditolak 
X2 0,130 0,026 _ 0,018 0,113 0,038 0,007 0,017 0,219 4,377 0,000 Ho Ditolak 
X3 0,033 0,013 0,018 _ 0,005 0,004 0,002 0,005 0,047 2,357 0,021 Ho Ditolak 
X4 0,065 0,016 0,113 0,005 _ 0,035 0,005 0,015 0,189 3,017 0,003 Ho Ditolak 
X5 0,083 0,006 0,038 0,004 0,035 _ 0,004 0,006 0,093 3,487 0,001 Ho Ditolak 
X6 0,024 0,036 0,004 0,007 0,005 0,004 _ 0,005 0,061 2,174 0,032 Ho Ditolak 
X7 0,033 0,024 0,017 0,005 0,015 0,006 0,005 _ 0,072 2,500 0,014 Ho Ditolak 
 
R
2  0,793  
121 
 
 
Penolakan terhadap hipotesis didukung dengan fakta yang ada di lapangan 
bahwa Hoka Hoka Bento merancang program ini dengan dasar need and want dari 
pelanggan, banyaknya menu serupa yang ditawarkan re storan Jepang lainnya 
membuat  Hoka Hoka Bento merasa tidak cukup hanya dengan menjaga kualitas 
peroduk dan menambah variasi menu, salah satu faktor yang membedakan Hoka 
Hoka Bento dengan restoran Jepang lain adalah kuali tas layanan terhadap 
pelangganya melalui program layanan seven romancing moments. 
Adrian Payne (2004:121) mengemukakan bahwa ” perusa haan jasa harus 
berfokus secara khusus pada layanan pelanggan dan m empertahankan  tingkat 
kepuasan pelanggan berdasarkan kajian yang berkesin ambungan. Perusahaan jasa 
harus terus beradaptasi dengan kebutuhan pelanggan yang selalu berubah dalam 
hal layanan pelanggan.”  
Kotler dan Armstrong (2008:34) menyatakan bahwa 
Jika pelanggan merasa puas terhadap kinerja produk maka mereka akan 
melakukan pembelian ulang dengan melakukan pemanfaatan produk 
berulang-ulang, bahkan lebih jauh lagi, mereka akan  melakukan promosi dari 
mulut ke mulut kepada orang lain. Maka setiap perusahaan harus mempunyai 
keunggulan dalam bersaing.  
 Berdasarkan hasil perhitungan di atas dapat diketahui bahwa pengaruh 
program layanan seven romancing moments terhadap pembelian ulang adalah 
sebesar 0,793 sedangkan koefisien jalur variabel la in di luar variabel program 
layanan seven romancing moments dengan dimensi Irasshaimase, mobile service, 
pembayaran di kasir, greeting customer di loby, menawarkan dan mengantarkan 
menu, take away, arigato gozaimatsu ditentukan dengan rumus: 
 
 
 
 
)7.1.....2.1,1.1(
2
ε
1 XXXYZ RP −=  
      =   793.0-1  
      =  0,455 
 
 Hal tersebut berarti bahwa X1.1 sampai dengan X1.7 bersama-sama 
mempengaruhi pembelian ulang pelanggan Hoka Hoka Be nto sebesar 79,3% dan 
sisanya sebesar (0,455) 2 = 0,207 x 100% = 20,7% dipengaruhi oleh variabel l ain 
yang tidak termasuk dalam penelitian ini seperti promosi melalui periklanan, karena 
Hoka Hoka Bento jarang mempromosikan produknya di media cetak maupun 
elektronik kecuali jika ada produk-produk baru 
. Adapun pengaruh kualitas pelayanan dalam program layanan seven romancing 
moments terhadap pembelian ulang dikemukakan oleh Hermawan Kartajaya 
(2005:97) Kualitas pelayanan yang baik merupakan la ngkah awal untuk membuat 
konsumen melakukan pembelian ulang. (Kotler&Keller 2009:57) menyatakan bahwa  
“ Salah satu upaya mempertahankan palanggan yang te lah ada adalah dengan 
menarik pelanggan melakukan pembelian ulang. 
 Hal ini diperkuat dengan  penelitian terdahulu Wisnalmawati (UPN 
Yogyakarta:2004) dengan judul “Pengaruh persepsi di mensi kualitas layanan 
terhadap pembelian ulang pada swalayan mirota”. Hasil penelitian menunjukkan 
bahwa variabel persepsi kualitas layanan berpengaru h terhadap pembelian ulang. 
Variabel Persepsi kualitas layanan dan variabel kep uasan secara bersama 
berpengaruh pada pembelian ulang. Variabel persepsi  kualitas layanan berpengaruh 
pada pembelian ulang pada toko Swalayan Mirota Kampus di Gejayan Yogyakarta  

 
 
4.5 Implikasi Hasil Penelitian  
4.5.1 Implikasi Hasil Temuan Penelitian 
4.5.1.1 Temuan yang Bersifat Empirik  
a) Program layanan seven romancing merupakan serangkaian  tindakan nyata 
yang dilakukan  Hoka Hoka Bento dalam menyampaikan layanan pokok dari 
mulai tamu datang sampai dengan meninggalkan restoran, program tersebut 
meliputi Irasshaimase, mobile service, pembayaran di kasir, greeting 
customer di loby, menawarkan dan mengantarkan menu, take away, arigato 
gozaimatsu. Dari faktor-faktor pembentuk tersebut mobile service merupakan 
faktor yang paling tinggi dalam menentukan pembelian ulang pelanggan 
Hoka Hoka Bento cabang Setiabudi Bandung. 
b) Faktor pembentuk pembelian ulang pelanggan Hoka Hoka Bento cabang 
Setiabudi Bandung yang memiliki nilai yang paling tinggi yaitu kepuasan, 
untuk menciptakan kepuasan bagi pelanggan tidak cukup hanya faktor 
kelancaran saja akan tetapi dibutuhkan keramahtamahan petugas. 
Konsumen yang merasa puas terhadap produk atau mere k yang dikonsumsi 
atau dipakai akan membeli ulang produk tersebut 
4.6.1.2 Temuan yang Bersifat Teoritik  
a) Berdasarkan hasil temuan penelitian penulis melakukan modifikasi konsep 
program layanan seven romancig moments menggunakan konsep dimensi 
kualitas pelayanan, menurut Fandy Tjiptono  dan Gre gorius Chandra 
(2005:133) terdiri dari: Irasshaimase berkenaan dengan tangibles (tampilan 
fasilitas fisik, peralatan, karyawan, dan bahan-bah an promosi) dan 

 
 
responsiveness (kesediaan untuk membantu konsumen dan menyampaikan 
pelayanan secara cepat dan tepat terkait dengan per mintaan, kesulitan, dan 
keluhan konsumen); Mobile service berkenaan dengan reability (kemampuan 
untuk memenuhi janji) dan responsiveness (kesediaan untuk membantu 
konsumen dan menyampaikan pelayanan secara cepat da n tepat terkait 
dengan permintaan, kesulitan, dan keluhan konsumen) ; Pembayaran di kasir 
berkenaan dengan assurance (jaminan) dan responsiveness; Greeting 
customer di loby berkenaan dengan empathy (perhatian), assurance (jaminan) 
dan responsiveness; Menawarkan dan mengantarkan menu berkenaan dengan 
assurance (jaminan) dan responsivenes; Take away  berkenaan dengan  
reability (kemampuan untuk memenuhi janji) dan responsiveness (kesediaan 
untuk membantu konsumen dan menyampaikan pelayanan secara cepat dan 
tepat terkait dengan permintaan, kesulitan, dan keluhan konsumen); Arigato 
Gozaimatsu berkenaan dengan empathy (perhatian) dan responsiveness 
b) Berdasarakan hasil temuan penelitian penulis memodifikasi konsep Lewis & 
Booms, dalam Fandy Tjiptono dan Gregorius Chandra ( 2005:121), oliver (1981 
dalam Djati, 2004) bahwa Kualitas pelayanan sebagai  ukuran seberapa bagus 
tingkat layanan yang diberikan mampu sesuai dengan ekspektasi pelanggan 
dan menghubungkan kepuasan pelanggan terhadap peril aku pembelian ulang 
dan loyalitas pelanggan adalah yang paling sering d igunakan sebagai referensi 
Berdasarkan temuan-temuan tersebut, maka diyakini h asil penelitian mampu 
memberikan sumbangan ilmiah bagi pengembangan ilmu manajemen pemasaran 

 
 
khususnya kualitas pelayanan dan pembelian ulang da n juga sebagai masukan yang 
konstruktif dan inspiratif bagi perusahaan yang bergerak pada bidang restoran. 
4.6.2 Implikasi Penelitian pada Pendidikan Manajemen Bisnis 
 Penelitian ini bertujuan untuk memperoleh temuan mengenai program 
layanan seven romancing moments terhadap pembelian ulang. Berdasarkan hasil 
penelitian pada industri restoran fast food Hoka Hoka Bento menemukan hasil 
bahwa program layanan seven romancing moments yang merupakan implementasi 
dari konsep kualitas pelayanan terbukti berpengaruh terhadap peningkatan 
pembelian ulang. Konsep ini dapat juga diterapkan di dalam dunia pendidikan, 
karena memiliki karakteristik yang sama yaitu bergerak di bidang jasa. 
 Pendidikan merupakan salah satu bidang yang sangat  penting dan strategis 
dalam pembangunan nasional. Pendidikan yang berkual itas dapat mengantarkan 
Indonesia menjadi bangsa yang modern, maju, makmur dan sejahtera yang 
tercermin pada keungulan dan kemampuan bersaing dengan bangsa-bangsa lain di 
dunia.  
Data Balitbang Depdiknas 2007 menunjukan bahwa seca ra kuantitatif 
fasilitas layanan pendidikan sudah cukup baik seperti terlihat pada rasio murid per 
ruang kelas sebesar 25,4 untuk SD/MI, untuk SMP/MTS  sebanyak 39,7 dan 36 
untuk SMA/SMK/MA. Meskipun demikian, kualitas pendidikan masih terbatas karena 
dukungan fasilitas yang belum memadai, disamping kualitas guru yang masih 
rendah. 
Dunia pendidikan di Indonesia sedang berjuang demi peningkatan kualitas, 
berbagai institusi pendidikan mulai berbenah diri dalam melakukan perubahan-

 
 
perubahan demi meningkatkan kualitas institusinya. Salah satu lembaga pendidikan 
yang sedang berbenah yaitu adalah sekolah menengah kejuruan SMK, bagaimana 
mempersiapkan tamatan yang siap  menghadapi persaingan pasar bebas 
ketenagakerjaan. SMK mengambil bagian dalam upaya m engembangkan 
keunggulan kompetitif, dengan cara menata dan mengembangkan kelembagaan 
yang berorientasi pada peningkatan mutu tamatan, yang memiliki  kompetensi 
terstandar sesuai dengan permintaan pelanggan.  
Suatu organisasi (satuan pendidikan) potensial memiliki keunggulan apabila 
dapat menciptakan dan menawarkan nilai pelanggan yang lebih (superior customer-
value) atau kinerjanya lebih baik dibandingkan dengan ya ng lain. Untuk menciptakan 
nilai yang lebih baik perlu diadakan perbaikan dala m lembaga pendidikan khususnya 
SMK, dalam penelitian ini mencoba menerapkan model SERVQUAL di dalam dunia 
pendidikan khususnya SMK. Faktor-faktor yang harus diperbaiki oleh lembaga 
sekolah menengah kejuruan (SMK) meliputi : 
Faktor-faktor yang 
harus diperbaiki 
Indikator Kinerja maksimal 
Berwujud (tangible) - Sarana dan Prasarana 
 
 
 
 
- Memenuhi Standar Guru 
 
 
- Memenuhi Standar 
Tenaga Kependidikan 
- Sarana dan prasarana yang 
memadai, refresentatif dan sesuai 
dengan standar kelayakan sebuah 
ruang ataupun laboratorium. 
 
 
- Guru telah memiliki sertifikasi atau 
menempuh pendidikan maksimal S1 
 
- Guru mata pelajaran inti kejuruan 
mampu menguasai bahasa 
Inggris 
 
- Kepala Sekolah telah 
berpendidikan S2 dari Perguruan 

 
 
Faktor-faktor yang 
harus diperbaiki 
Indikator Kinerja maksimal 
Tinggi yang program studinya 
berakreditasi A dan telah 
menempuh pelatihan kepala 
Sekolah SMK  
Keandalan (reliability) - Kurikulum 
 
 
 
 
 
 
 
- Memenuhi Standar  Isi 
 
 
 
- Memenuhi Standar 
Kompetensi Lulusan 
 
- Menerapkan Kurikulum Tiingkat 
Satuan Pendidikan (KTSP). 
- Menerapkan sistem satuan kredit 
semester di SMA/SMK/MA/MAK. 
- Pembuatan kompetensi passpor ( 
untuk mata pelajaran adaptif dan 
normatif) dan skill passport (inti 
kejuruan) 
- Muatan mata pelajaran setara 
atau lebih tinggi dari muatan 
pelajaran yang sama pada 
sekolah unggul 
- Menerapkan standar kelulusan 
dari sekolah yang lebih tinggi dari 
Standar Kompetensi Lulusan 
Daya tanggap 
(responsiveness) 
- Partnership 
 
 
 
- Penempatan Lulusan  
 
 
 
- Kerjasama dengan lembaga atau 
industi lain untuk 
mengembangkan kemampuan 
siswa. 
- Lulusan yang berperstasi akan di 
tempatkan ke luar negri untuk 
melanjutkan studi atau bekerja 
- Tersedianya fasilitas Standard 
Training Workshop untuk 
Program keahlian tertentu 
Jaminan (assurance) - Akreditasi 
 
- Berakreditasi minimal A dari 
Badan Akreditasi Nasional – 
Sekolah dan Madrasah (BAN – 
S/M), Semua program keahlian 
sudah terakreditasi A 
Empati (emphaty) - Memenuhi Standar  
Pembiayaan 
 
- Konseling 
- Menerapkan model pembiayaan 
yang efisien untuk mencapai 
berbagai target Indikator Kunci 
- Mampu memahami masalah 
 
 
Faktor-faktor yang 
harus diperbaiki 
Indikator Kinerja maksimal 
 
yang timbul dari siswa dan 
bertindak demi kepentingan 
sekolah juga siswanya, serta 
memberikan perhatian secara 
individu melalui guru kepada para 
siswa. 
  
Perbaikan pada faktor-faktor tersebut akan memperbaiki kualitas lembaga 
pendidikan khususnya SMK, dalam menghadapi persaing an dan tuntutan 
konsumen. Untuk merumuskan suatu strategi dalam meningkatkan kualitas 
pelayanan di bidang pendidikan, perlu dikaji landas an teori yang tepat. Tjiptono dan 
Chandra (2005:120) menyatakan bahwa kualitas pelaya nan berkontribusi signifikan 
bagi penciptaan diferensiasi, positioning, dan strategi bersaing bagi setiap 
organisasi, baik organisasi manufaktur maupun industri penyedia jasa, seperti 
industri pendidikan. Kualitas pelayanan pada akhirnya juga dapat menciptakan 
hubungan yang harmonis antara penyedia jasa dengan pelanggan, memberikan 
dasar yang baik bagi terciptanya loyalitas pelanggan dan membentuk suatu 
rekomendasi dari mulut ke mulut (word of mouth) yang menguntungkan bagi 
penyedia jasa tersebut.